
" Zahid... "
" Zahid... " panggil Syakirah
dengan segera ku simpan lembaran tersebut ke dalam saku ku
" Zahid, ngapain ? " tanya Syakirah
" nggak… nggak ngapa-ngapain "
" terus itu apa ? " tanya Syakirah melirik ke arah saku ku
" apa apanya ? " tanyaku pura-pura tak tahu
" itu yang Zahid kantongi " tunjuk Syakirah ke arah saku ku
"nggak ada apa-apa, udah yuk " seruku lalu mendorong Syakirah dari belakang menuju ruang tamu
" eh… i… iya, tapi itu apaan sih " seru Syakirah masih penasaran
" nggak apa-apa sayang " ucapku sambil mendorongnya menuju ruang tamu
aku tak menyangka dengan apa yang kutemukan barusan, secarik foto dengan sebuah pesan yang tertulis di belakangnya, memang tulisan nya belum sempat aku baca tetapi foto itu walaupun hanya sekilas aku mengenali isi foto tersebut
" nggak… nggak mungkin dia kan " batinku dengan pikiran yang campur aduk
" Zahid dari mana ? " tanya kak Aisyah
aku yang dari tadi terus berpikir tak menyadari kalau sekarang sudah berada di ruang tamu
" itu minum " pinta kak Aisyah untuk meminum minuman yang sudah di buat untukku
" ya kak, siapa yang buat ? " tanyaku sambil menyeruput coklat panas yang berada di depanku
" Amirah "
" owh… thanks Mir " ucap ku berterima kasih pada Amirah
hanya senyuman yang di berikan Amirah pada ku
" jadi mau ngapain sekarang, udah mau pagi " kata kak Aisyah dengan melihat jam yang terdapat di handphone nya
aku melirik ke arah jam yang tergantung di dinding, yang benar saja waktu telah berlalu begitu cepat. jarum pendek tertuju ke arah jam 3 yang menunjukkan malam yang hampir menjelang pagi.
"eh kalian belum tidur " kata seseorang dari jauh
" belum mi " jawab Amirah
aku melirik ke arah sumber suara, terlihat ummi yang baru keluar dari kamar
" bentar ya "
" ke mana lai Hid ? " tanya Syakirah
" yuk tahajjud " ajak ku pada mereka ber tiga
" Hem " jawab mereka dengan mengangguk kecil
malam yang begitu singkat bagiku, suasana sejuk dan tentram menyelimuti diri ini
sajadah ku bentangkan, ku usap wajah ku yang basah dengan air wudhu. Syakirah, Amirah dan kak Aisyah yang mengenakan telekung menandakan sudah siap untuk melaksanakan ibadah Sunnah ini
" Allahuakbar " takbir ku memimpin solat Sunnah malam ini
hati yang tenang dan tentram, ayat-ayat pendek ku lantunkan dengan penuh khusyuk
setelah 2 rakaat ku tunaikan, aku berdzikir menyebut asma Allah dan berdoa dengan penuh pengharapan
kami kembali berkumpul ke ruang keluarga menunggu datangnya waktu subuh
pikiranku yang tadi tenang entah kenapa tiba-tiba kembali memikirkan tentang hal itu, sebuah foto yang kutemukan di ruangan dekat sudut rumah
" Amirah… " panggilku
" ya saya "
" itu kamar apa ? " tunjukku ke arah kamar yang terdapat di sudut rumah tersebut
" enggak tau, soalnya udah lama juga nggak k terbuka, ayah sama ummi pun nggak kasih tau apa-apa tentang ruangan itu " kata Amirah melihat ke arah kamar yang ku maksud
" ummi sama Abi cuman ngingetin Amirah jangan masuk situ, katanya ada dokumen-dokumen penting di situ " sambungnya
" dokumen ? "
" iya… seperti surat tanah, surat rumah, dan dokumen-dokumen lain yang berharga lah " kata Amirah terus terang
" sudah kuduga ayah sama ummi Amirah pasti menyembunyikan sesuatu dari kami, dan respon mereka saat mendengar nama Zahra… "
" …itu terkesan pelik " gumamku sendiri
" kenapa Hid sama ruangan di situ ? " tanya Amirah khawatir melihatku memikirkan sesuatu
" nggak soalnya tadi… " kataku sambil merogoh saku ku untuk mengambil foto yang ku temukan tadi
" tadi kenapa ? " tanya kak Aisyah penasaran
" nggak apa-apa " kataku mengurungkan niatku untuk mengatakan perihal foto ini
" kenapa Hid, soalnya sejak tadi Syakirah perhatiin Zahid kayak ada yang Zahid pikirkan, sebenarnya ada apa ? " sambung Syakirah yang menaruh curiga dengan sikap ku
mata mereka yang tertuju padaku seakan-akan menunggu jawaban yang keluar dari mulutku, aku merasa terpojokkan dengan keadaanku saat ini
" nggak apa-apa " kataku coba mengelak
" tolong jangan ada yang Zahid sembunyikan
dari kami dong " desak Amirah
" bagaimana ini… kalau aku mengatakan semuanya bakal susah nyari tau kebenarannya " batinku dalam hati
keringat terus bercucuran membasahi keningku hingga mengalir lalu jatuh ke bawah, keadaan yang tak menguntungkan bagimu
" cerita lah Hid, sebenarnya kenapa ? " desak Syakirah pula
" nggak ada pilihan lain " batinku dalam hati
" sebenarnya… " ucapku sambil melirik ke arah jam yang tergantung di dinding
" sebenarnya kenapa ? "
" Allahuakbar Allahuakbar "
terdengar suara azan yang berkumandang begitu keras
" udah azan " kataku dengan cepat beranjak dari tempat duduk
" eh… Zahid tunggu… "
" …Zahid "
" Alhamdulillah ya Allah, makasih… " ucapku bersyukur
keadaan yang tidak mendukungku tapi waktu masih berpihak padaku
" Alhamdulillah " ucapku lagi sambil menuju ke kamar mandi
" dasar Zahid apaan sih " ucap Syakirah penasaran
" lah belum tidur " kata seseorang mengejutkan kami
" eh… ummi, ini mau wudhu " jawabku bergegas masuk kamar mandi
" owh ya udah, berjamaah ya " pinta ummi lalu kembali masuk ke kamar
" iya mi " jawab amirah singkat
kami bergantian mengambil wudhu lalu solat subuh bersama
" jadi mau sarapan apa nih " tawarku pada mereka berdua
" sarapan ? "
" Zahid bisa masak ? " tanya Amirah ragu
" hehehe sepele anda " tawaku
" yuk " ajakku pada mereka ke dapur untuk bantu-bantu
" kalian ajalah, kakak bantu makan " kata kak Aisyah
" dasar kakak " jawab Syakirah lalu pergi meninggalkan kak Aisyah
" jadi mau apa ? " tawarku lagi pada mereka berdua
" hmm… "
" cepat sebelum ummi keluar " desakku pada mereka berdua
" nasi goreng aja Hid, biar nggak terlalu berat nanti orang ummi sama ayah dalam perjalanan
" boleh "
sebenarnya aku tak memiliki bakat dalam memasak, mungkin ini adalah kali pertamaku. entah apa yang akan terjadi
" bismillah " ucapku mengawali kegiatan kami pagi hari ini
" mau lauk apa ? " tanyaku sambil mengaduk nasi yang sedang ku masak
" ada telor, sosis, ayam " ucap Syakirah mengatakan semua bahan yang ada di kulkas
" telur sama sosis aja, keluarin ya habis itu di rendam biar cepat cair " pinta ku memberi komando pada mereka berdua
" yup "
sosis yang sudah di rendam ku potong menjadi dua bagian, telur ku masak jadi telur ceplok dan mata sapi, mana tau selera mereka berbeda-beda
" oke… dah siap " ucapku mematikan kompor
" tinggal di angkat… "
" kalian ngapain ? " tanya ummi yang tiba-tiba muncul di dapur
" nggak ada mi, cuman masak-masak aja " jawabku
" masak ? bisa rupanya Zahid masak " tanya ummi
" hehehe nggak semahir ummi sih, tetapi makanan simple inshaa Allah Zahid bisa " kataku terus terang
" ummi kira Zahid cuman bisa masak air doang " ledek ummi bercanda
" hahaha " tawaku yang mendengar ledekan ummi
" ya udah yuk lah makan bareng " ajak ummi
" ya mi ini mau kami angkat ke depan " jawabku sambil menyiapkan beberapa piring untuk makan
" ini mau di bawa ke depan Hid ? " tanya Amirah mengangkat piring yang sudah ku siapkan di atas meja
" ya, hati-hati ya "
" sher itu gelasnya, pelan-pelan " pintaku pada Syakirah untuk membawa gelas ke depan
setelah semua alat masak ku bersihkan aku menyusul mereka berdua ke depan, terlihat banyak tas-tas sudah tersusun rapi di ruang tamu
" cepat Hid " seru kak Aisyah yang terlihat kelaparan
aku bergabung bersama mereka menyantap hidangan yang ku buat sendiri, entah apa rasanya tak peduli lagi rasanya yang ke asinan atau kurang asin yang penting makan
" siapa masak ? " tanya ayah Amirah sambil menyantap nasi goreng dengan lahap
" menantu ayah lah tuh " jawab ummi
" aduh apalah rasanya, maaf yah " batinku dalam hati
" enak " ucap ayah tiba-tiba
" eh… "
" tuh Amirah calon suami mu aja bisa masak, masak Amirah nggak bisa " ledek ayah bercanda
" kan masih belajar yah " jawab Amirah dengan ekspresi malu
" hahaha " tawa ayah yang melihat ekspresi lucu putrinya itu
" jadi, bagus-bagus lah kalian belajar ya " ucap ayah yang tiba-tiba memberikan nasehat pada kami
" inshaa Allah yah "