
"monggok di pilih atuh…"
"mau yang kanan apa kiri?" tanya ummi Syakirah dengan memegang dua senjata tajam di kedua tangannya
"tak ada pilihan lain, hanya ini yang dapat menyelamatkan ku" kataku setelah mendapatkan suatu ide
"cep…"
aku melompat ke depan mereka dan bersujud
"maaf maksudnya bukan seperti itu"
"ummi, Abi, Syakirah"
"dengarkan dulu penjelasan Zahid" pintaku berkompromi pada mereka bertiga
mereka terdiam melihat perbuatanku yang tak terduga
"jadi apa yang mau di jelaskan?" tanya ummi Syakirah kepadaku
"sebenarnya… waktu itu…"
"Syakirah sangat terbebani atas pernikahannya dengan Raihan, baik dari pikiran, fisik, dan juga mentalnya"
"dia menolak pernikahan ini, tetapi ummi dan Abi menentang permintaan Syakirah untuk membatalkan pernikahannya"
"Zahid mengetahui permasalahan Syakirah, ketika Raihan baru masuk ke sekolah sebagai anak baru"
"saat itu Raihan mengakui dirinya sebagai tunangan syakirah"
"saat Zahid melihat ke arah Syakirah, Zahid melihat sebuah penyesalan dari diri Syakirah"
"Syakirah meminta tolong sama Zahid atas masalah ini"
"sebenarnya Zahid enggan menolong Syakirah"
"tapi hati Zahid tidak sepemikiran dengan pikiran zahid"
"akhirnya Zahid membantu Syakirah dan berjanji untuk menyelesaikan masalahnya hingga tuntas" kataku.menjelaskan panjang lebar
"owh… terus…?" tanya ummi kepadaku
"i… i… itu semuanya mi" jawabku terbata-bata
"yakin…?" tanya ummi tidak puas atas penjelasan yang ku katakan
"ngomong-ngomong mana bagian cerita yang Zahid bilang bakal melindungi Syakirah?" tanya ummi kepadaku
"lupa mi" kataku pura-pura melupakan
"oh lupa ya…" kata ummi sambil mengganti senjata di sebelah tangan kanannya dengan sebuah teflon
"kalau pakai ini bisa ingat nggak?" tanya ummi sambil mengarahkan teflon yang dipegangnya ke arahku
"owh… Zahid dah ingat mi" kataku cepat
"bisa gila aku nih kalau sekali kena pentung" batinku dalam hati
"waktu itu di kamar Syakirah" sambung ku mengatakan semuanya
"di… di… di… di… di kamar Syakirah kamu bilang"
"a… a… a… apa yang kau lakukan di kamar Syakirah?" tanya ummi Syakirah semangat
"nggak ada cuma menenangkannya aja"
"cu… cu… cu… cuman menenangkannya saja"
"hoi nak apa yang telah kau lakukan pada putri ku" kata abi Syakirah turun tangan berbicara dengan ku
"Syakirah, bisa kau bantu aku nggak jelaskan semuanya" pintaku pada Syakirah
no respon dari Syakirah
"hei syakirah…"
"Syakirah… are you hear me?"
tak kunjung ada jawaban yang ku dengar
aku melihat ke arah Syakirah, apa yang sedang di lakukannya di sana
puft…
"hei shera"
"apa-apaan mukamu itu" kataku saat melihat muka Syakirah yang merah padam
"hoi nak"
"hei Zahid anakku…"
"bisa kau katakan apa yang telah kau perbuat pada putriku?" tanya ummi Syakirah menanyaiku baik-baik sambil mengarahkan celurit ke arah leherku
"kak Aisyah… kak!"
"kakak waktu itu ada di situ kan…" kataku mencoba meminta bantuan kak Aisyah
"tak… tak kusangka adikku mendapatkan pengalaman pertamanya sebelum aku" kata kak Aisyah dramatis sambil tersenyum mempermainkanku
"ini orang sama saja"
"nih satu keluarga kacau juga ya" kataku dalam hati
"Zahid nggak ngelakuin apa-apa sama Syakirah"
"Zahid cuman kasih kata-kata penyemangat aja buat Syakirah" kataku berteriak
"hmm… iya nya" kata ummi ragu
"ummi bisa baca sendiri di chapter 13 - explanation" pintaku untuk membuktikan apa yang kukatakan
"bentar ya…"
ummi merogoh kantongnya lalu mengeluarkan hp
"chapter berapa tadi?"
"13 ummi"
** ummi read the novel **
tak butuh waktu yang lama, ummi kembali menyimpan hp nya di dalam sakunya
"maaf kan ummi Zahid kenapa dari tadi Zahid tak menjelaskan ke ummi tentang semuanya" kata ummi sambil memelukku
"kan udah Zahid jelaskan ta…"
"Zahid jangan sedih Zahid gak bersalah kok" kata ummi memotong perkataanku
"nggak, kan dari tadi Zahid udah bilang kalau Zahid nggak…"
"udah Zahid tenang ya, Zahid nggak di salahkan kok" kata ummi Syakirah lagi memotong perkataanku
"ya sudahlah" kataku pasrah
memang menghadapi keluarga seperti ini nggak bakalan menang
"jadi apa yang Zahid ketahui tentang Amirah?" tanya ummi kepadaku
"tidak ada…"
"hanya…"
"tetangganya amirah mengatakan kalau dia keluar negeri karena urusan pekerjaan ayahnya"
"terus katanya dia akan pindah dan menetap di sana" kataku menunduk lemas
"sudah di hubungi Amirah nya?" tanya Syakirah
"kalau hubungi sud…"
"eh…"
"jangan bilang kalau Zahid belum menghubunginya sama sekali" kata Abi Syakirah
ya Allah betapa bodohnya aku, kenapa aku tidak memikirkan nya dari awal
segera ku ambil hp dari saku ku dan membuka fitur aplikasi WhatsApp
"assalamualaikum Amirah" kataku memulai pembicaraan dari chating
"sekarang Amirah di mana?"
hanya tanda check list satu yang berarti pesan terkirim
"udah?" tanya ummi syakirah
"sama aja mi"
"gak ada balasan" kataku lalu memasukkan hp ke dalam saku
"andaikan waktu itu aku menjawab pertanyaannya" kataku menyesal
"emangnya apa yang ia tanyakan padamu?" tanya Syakirah kepadaku
"dia bertanya 'bagaimana kalau aku berada di posisi Syakirah Zahid masih mau menolong Amirah emangnya?' "
"owh…" kata ummi Syakirah dengan sebuah senyuman yang menunjukkan paham atas apa yang di katakan Amirah
"hmm… sepertinya bakal ada saingan nih Syakirah" kata ummi ke Syakirah
"owh ummi nih…" marah Syakirah karena di godain umminya
"terus apa yang Zahid jawab?" tanya Syakirah ingin mengetahui kejadian berikutnya
"Zahid cuman diam"
"karena pertanyaannya tak kunjung Zahid jawab, dia menangis dan menampar Zahid lalu pergi meninggalkan Zahid di UKS"
Syakirah datang menghampiriku dengan muka geram dan tangan yang di kepal kuat
plakk…
tamparan melayang di kanan pipiku
"nak…" panggil ummi Syakirah terkejut karena tiba-tiba menamparku
"bodoh…"
"Zahid bodoh…" teriak Syakirah di depan mukaku
Syakirah tiba-tiba menangis, air matanya yang keluar dan membasahi kedua pipinya lalu mengalir hingga ke ujung dagunya yang lancip
"Zahid gak tau apa yang di rasakan Amirah" teriak Syakirah sambil menangis
"ku pikir Zahid itu orangnya pekaan terhadap perempuan"
"tapi kenyataannya tidak sama sekali"
"maaf" ucapku merasa bersalah
"bukan maaf yang Syakirah butuhkan sekarang" teriaknya dengan suara yang mulai serak
Syakirah pergi menuju kamar meninggalkanku begitu saja dengan perasaan bersalah
"Zahid" panggil ummi Syakirah
"perempuan itu emang rumit"
"mereka tak bisa memahami tapi mereka ingin di pahami"
tak tahu apa maksud dan tujuan dari apa yang ummi Syakirah katakan, aku hanya terdiam dan bersedih sambil mencoba memahami kata-kata yang di pesankan ummi Syakirah kepadaku
"ya udah nak…"
"sekarang pergilah ke kamar dan beristirahatlah" perintah Abi Syakirah padaku
"ya Abi"
"makasih"
aku pergi meninggalkan ummi dan Abi Syakirah berdua di ruang tamu
ceklekk…
suara gagang pintu terbuka
"jadi menurut Abi bagaimana?" tanya ummi Syakirah pada Abi, seperti sedang membahas sesuatu
aku masuk ke kamar dan bersender ke pintu untuk mendengar apa yang sedang di bicarakan mereka
"Abi sih Ridha aja…"
"tapi inikan semua tergantung sama Zahid"
"Abi pengen dia bisa bersikap adil dengan mereka berdua nanti" kata Abi mengatakan suatu hal
"hah…"
"Ridha…?"
"adil…?"
"apa maksudnya, apa yang mereka bicarakan?" tanyaku pada diri sendiri
klekk…
suara pintu yang ku rapatkan
rasa lelah menghampiriku, ku baringkan tubuh ini di atas kasur empuk dan hangat dengan suasana hujan yang bikin ruangan semakin adem, rasa kantuk ku tak dapat tertahan perlahan mataku mulai menutup dan jiwa ini pergi ke dunianya untuk berjalan-jalan
** in Shakira's room **
"bodoh…"
"Zahid bodoh…"
"jadi selama ini apa yang dia lakukan…"
"aahh…" teriak Syakirah kencang di dalam kamar