
"jadi apa isi kotak itu?" tanyanya masih penasaran
"baiklah Zahid nyerah"
"sebenarnya Zahid pun nggak tau sih"
"soalnya ada seseorang yang ngasih ini ke Zahid terus berikan ke Amirah" kataku mengatakan semuanya
"owh…"
"benar ya, awas bohong" ucap Syakirah sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arahku
"iya shera"
tok… tok… tok
terdengar suara seseorang yang sedang mengetuk pintu kamarku
"wah wah"
"udah main di kamar-kamar aja ya" kata seseorang yang tadi mengetuk pintu kamarku
"apaan sih kak" timpal Syakirah
"hahaha"
"udah yuk makan" ajak kak Aisyah
"duluan aja" kataku meminta mereka untuk makan duluan
"ya udah nanti nyusul ya" pesan kak Aisyah
aku hanya menganggukkan kepalaku sebagai isyarat 'baiklah'
mereka pergi meninggalkanku di kamar sendiri
setelah merasa aman aku meraih kotak yang berada di belakang ku
tanpa pikir panjang aku simpan kotak itu ke dalam lemari lalu mengunci nya begitu rapat agar tak ada seorang pun dapat mengambilnya terutama Syakirah, bisa bahaya nanti
aku bergegas menuju ke bawah menyusul kak Aisyah sama Syakirah ke ruang makan
"cepat hid duduk" perintah kak Aisyah
terlihat hidangan yang lezat sudah tertata rapi di atas meja hidangan
"makan Hid" perintah kak Aisyah
"kak"
"kakak yang masak ini semua ?" tanyaku
"ehem… iyalah" ucap kak Aisyah bangga
"bener…" kataku ragu
"hehehe"
"jelas lah kalau bukan kakak siapa lagi" kata kak Aisyah angkuh
"udah bisa masak, tapi kok masih jomblo kak" kataku mempermainkannya
"huh… mau kayak mana lagi"
"kakak kalah cepat sama Syakirah" sambung Syakirah
"ish kamu ni…" ucap kak Aisyah sambil mencubit pelan pipi Syakirah
"udah ayo makan" ajakku yang sudah dari tadi menahan rasa lapar
"jadi…"
"kayak mana kabar Amirah itu?" tanya kak Aisyah sambil melahap makanan yang ada di mulutnya
aku hanya tersenyum kecil dan berkata
"insyaallah"
makanan yang tertata rapi di atas meja mulai berkurang, ku santap makanan perlahan sambil menikmati rasanya yang sangat lezat
** after having lunch **
dret… dret… dret…
terasa ada getaran di kantong celanaku, kupikir mungkin hanya sebuah pesan yang terkirim ke hp
ku rogoh saku celanaku dan mengambil hp di dalam sana
terdapat sebuah pesan dari Syifa, isinya
"assalamualaikum hid"
"besok kau harus datang"
"wajib!"
"assalamualaikum"
hanya sebuah pesan singkat dari Syifa yang terkirim ke hp
"besok?"
"datang?"
"wajib?"
entah apa maksud pesan dari Syifa, aku membalasnya dengan pesan yang begitu singkat
"baik" balasku singkat
"besok…"
"hari senin"
tak tahu ada apa dengan hari esok tapi entah kenapa aku sangat menantikan datangnya hari esok
"yuk sher"
"temani Zahid…"
merasa bosan di rumah aku mengajak Syakirah menemaniku untuk pergi ke mall, hanya sekedar melihat-lihat, dan berniat membeli sesuatu sebagai hadiah untuk syakirah atas permintaan maaf ku padanya
"mau ngapain?" tanyanya
"nggak apa-apa, ikut aja lah"
dia hanya mengangguk yang bermakna setuju, dengan segera dia bergegas pergi ke kamarnya untuk bersiap
"cepat ya" kataku teriak dari bawah
seperti yang kita ketahui kalau perempuan udah make up-an pasti lama lah
"yuk kak, ikut juga" ajakku pada kak Aisyah
"hmm…"
"nggak lah"
"Kakak nggak mau ganggu kencan kalian" katanya menolak
"huh…"
"terserah kakak lah mau manggil kami bagaimana" kataku pasrah atas panggilan yang di ucapkan kak aisyah
"udah…"
"yuk Hid" panggil Syakirah sambil menarik lenganku
Syakirah yang terlihat cantik dengan menggunakan gamis berenda dengan corak kotak-kotak serta jilbab biru Dongker yang masuk dengan warna gamis yang di pakainya
"wah-wah"
"you look so beautiful honey" kataku menggodanya
mukanya tiba-tiba terlihat memerah saat mendengar perkataanku
"hei" panggilku dengan menundukkan setengah badanku lalu melihat wajahnya dari arah bawah
"kenapa sher" tanyaku saat melihatnya tertunduk ke bawah
"hmm…"
"nggak" katanya dengan menaikkan kembali pandangannya perlahan
"cium…"
"cium…"
"cium…" bisik kak Aisyah berkali-kali
"apaan sih kak…" kataku menolak
"seorang suami boleh mencium istrinya tanpa izin darinya" kata kak Aisyah ngelantur entah ke mana
"kakak…!" ucap Syakirah malu
"kami belum nikah lo"
"tapi insyaallah kalau Allah berkehendak" ucapku tegas
"ih nggak seru ah" kata kak Aisyah kecewa
"huh…"
"ya udah kami berangkat dulu ya kak" kata ku pamit
jam masih menunjukkan pukul 15 : 05 WIB, keadaan di luar tidak terlalu terik untuk bepergian
"naik mobil aja ya Hid" request Syakirah untuk mengendarai mobil pergi ke sana
"terserah Syakirah"
"ya udah yuk kakak antar kan" tawar kak Aisyah untuk mengantarkan kami berdua
"thanks kak"
** in the car **
"Hid"
"telepon mu, ada yang nelpon" panggil kak Aisyah
"siapa kak?" tanya ku menghampiri kak Aisyah
"nggak tahu"
"nomor tak di kenal" kata kak Syakirah menyodorkan hp ke arahku
"ha"
"nomor tak di kenal, siapa?" ucapku sendiri
aku meraih hp dari kak Aisyah lalu mengangkat telepon dari seseorang yang tak di kenal
"halo"
"assalamualaikum" ucapku salam memulai pembicaraan
"walaikumsalam"
"ini Zahid?" tanyanya memastikan siapa yang mengangkat telepon ini
"suara ini" gumamku dalam hati
"Amirah" panggilku keras dari telepon
"ya saya"
"amirah kenapa?"
"maaf amirah nggak ada bilang apa-apa sama Zahid" katanya meminta maaf
"apa kabar?"
"sehat kan"
"keluarga mu kayak mana…"
"sehat juga kan"
"sekarang di mana?"
"kok dari hari itu nggak…"
"maaf Hid" katanya memotong pembicaraan ku
aku hanya menghela napas panjang
"maaf Amirah"
"kore ga watashi no sei desu"
"maaf apa?" tanyanya
"eh ku kira paham" kataku bercanda
"watashi ga wakarimasu kedo sukoshi dake" kata Syakirah yang memahami sedikit perkataanku tadi
"pakai bahasa Indonesia aja kenapa" katanya sedikit jengkel
"hai-hai" ucapku dalam bahasa Jepang yang artinya 'baik, baik'
"Zahid lah, bikin amirah.jengkel aja"
"ya ya maaf"
"jadi tadi mau bilang apa?" tanya Syakirah padaku
"maaf kalau ini semua salahku"
"salah?"
"salah kenapa?" tanyanya
"maaf waktu itu Zahid bikin amirah kesal"
"hah, Amirah…"
"kesal…"
"kapan ya?" tanyanya
"waktu kejadian yang di UKS itu" kataku menjelaskan sama syakirah
"owh yang waktu itu" kata amirah kemudian terdiam
cukup lama dia terdiam dan tak mengatakan apapun
"halo Amirah"
"Amirah" panggilku
"ya saya" jawabnya
"maaf ya"
"nggak mau" ucapnya tiba-tiba menolak permintaan maaf ku
"huh… sudah kuduga" kataku sambil menghela napas panjang
"Amirah"
"ya saya"
"bisa kita jumpa"
"jumpa?"
"eh… mau ngapain"
"mau marahin Amirah ya"
"iya deh, amirah maafin"
"tolong jangan marahin Amirah" katanya
"huh…"
"siapa juga yang mau marahin Amirah"
"jadi…?"
"ya… pengen jumpa aja"
"mau ngucapin selamat tinggal pada teman kecil Zahid"
"kan udah mau pergi" kataku sambil tersenyum di balik layar hp
"huh… seneng kali kalau amirah pergi ya" katanya sangat pelan
"apa?" tanyaku yang pura-pura tak mendengarnya
"eh… yaudah kapan?"
"sekarang…" pinta ku
"eh mendadak ya"
"mau ngapain?" tanyanya
"ada yang mau Zahid sampaikan sama ada barang yang harus Zahid serahkan" ucapku memberi alasan
"mau jumpa di mana?" tanya amirah memberi saran lokasi tempat bertemu
"sekarang Zahid lagi di perjalanan mau ke Manhattan mall"
"Manhattan ya…"
"Manhattan…" katanya sambil memikirkan sesuatu
"kenapa nggak bisa ya?" tanyaku
"nggak apa-apa sih"
"soalnya amirah pun lagi di sini"
"ya allah"
"kenapa nggak bilang dari tadi"
"ngapain di sana?" tanyaku
"mau belanja untuk pindahan nanti"
"owh…" kataku datar
"sendirian?"
"nggak sih, kami sekeluarga"
"owh…"
"tapi Zahid…"
"ok lah, nanti ya habis Zuhur aja kita jumpa"
"di cafe ayah"
"udah ya"
"assalamualaikum"
"hei, Zah…"
kataku memotong pembicaraan lalu menutup pembicaraan
"siapa Zahid?" tanya Syakirah mengenai orang yang meneleponku barusan
"Amirah" kataku senang
"thanks Amirah you never lie me" kataku bahagia dalam hati