Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 29 - may i get her



" maaf " kataku meminta maaf dengan tulus


" hei nak… " panggil ummi heran


" maaf mi, karena Zahid udah buat ummi marah, Zahid bukannya mau… " kataku terputus


" sebenarnya kenapa nak ? " tanya ummi pelan


" sebenarnya Zahid ke sini mau minta maaf sama Amirah dan semuanya "


" sama mau tanya kebenaran masalah pindahnya Amirah nanti " kataku menjelaskan maksud tujuanku bertemu dengan amirah dan semuanya, sebenarnya masih ada tujuan lain yang belum ku katakan, mungkin bentar lagi saja pikirku


" oh duduk dulu nak " perintah ummi Amirah kepadaku


" jadi kenapa rupanya kalau Amirah pindah ? "


" nggak apa-apa, tapi saya merasa ada yang kurang aja misalnya dia pindah " kataku


" kurang bagaimana ? "


" ya ummi, selama ini kan sebelum Zahid pindah ke rumah syakirah… "


" kan Amirah yang selalu membantu Zahid "


" mulai dari masak, ngurusin rumah, sama… "


" dia selalu menghibur saya ketika saya murung, dia selalu mendukung saya ketika saya banyak masalah, dan dia… berarti dalam hidup saya " kataku malu dengan nada yang pelan


" hei, calon istrimu ada di sini loh " kata ummi mengingatkanku


" selama Zahid bahagia itu udah cukup buat shera " sambung Syakira dengan menggenggam tanganku


" cukup berarti ya… " kata ayah Amirah


terlihat Amirah tersipu malu mendengar pernyataanku barusan, mukanya yang memerah dengan wajah nya yang tertunduk ke bawah


" jadi sekarang mau Zahid apa ? " tanya ummi Amirah kepadaku


" langsung ke intinya aja ya mi " kataku ingin berbicara langsung to the point'


" iya udah "


" serahkan Amirah kepada Zahid " kataku langsung di depan mereka orang tua Amirah


" sial kau, siapa yang ngajari kau hah… beraninya kau menduai anakku, kau udah punya satu istri, masih kurang kau rasa ya " ucap ayah amirah marah sambil mengangkat kerah bajuku ke atas


aku tau bakal begini, aku tau konsekuensinya, aku tahu akibatnya, tapi inilah keputusanku, aku tak mau hanya berkata tapi tak bisa berbuat, aku tak ingin jadi lelaki munafik


cukup lama ayah Amirah mencengkram bajuku, biasanya ummi Amirah yang mencoba menenangkan suaminya itu kini tak berbicara sepatah kata pun


" Amirah mau " kata Amirah yang tiba-tiba memecah kebuntuan masalah ini


" Amirah mau "


kedua tatapan orang tuanya tertuju ke Amirah, karena merasa ada yang tak beres dengan putrinya atas jawaban yang di katakannya


" apa nak, ummi nggak dengar tadi " minta ummi Amirah untuk mengatakan sekali lagi apa yang di katakan amirah untuk memastikan kalau tidak ada kesalahan dari kalimat yang amirah katakan


" Amirah mau " ucap Amirah jelas


" mau apa Mir ? " tanya ayah Amirah kepadanya


" Amirah mau sama Zahid "


" Amirah masih ingin di sisi Zahid "


" Amirah nggak mau pindah " ucapnya sambil menangis


melihat putrinya yang menangis, ummi amirah memeluknya dengan memberi kehangatan seorang ibu kepada putrinya


" hei nak, apa yang udah kau perbuat pada anakku ? " tanya ayah Amirah kepadaku


" tidak ada " jawabku singkat


" Amirah nggak mau pindah " rengek amirah di dalam dekapan umminya


" tapi nak, ayah mu kan bertugas di sana "


" jadi mau nggak mau kan " kata ummi Amirah menjelaskan alasan kepindahannya


" ya udah ummi sama ayah aja yang pindah, Amirah masih mau di sini " kata amirah memohon


" nggak bisa nak… "


" kalau Amirah nggak ikut siapa yang ngurus Amirah ? "


" siapa yang bantu Amirah nanti kalau amirah sendiri di sini "


" amirah nanti mau tinggal di mana ? " kata ummi Amirah menjelaskan baik-baik kepada putrinya


" wah wah wah, rame ya "


terdengar suara seseorang yang familiar bagiku, segera ku tolehkan pandanganku ke arah suara yang barusan bicara


aku yang tak menduga hal ini akan terjadi, terlihat Abi dan ummi Syakirah berdiri di belakang kami


" ummi, Abi " sapa Syakirah kepada mereka berdua


" eh… bang Zul, apa kabar ? " tanya Abi Syakirah kepada ayahnya Amirah


" Alhamdulillah sehat bang, Abang bagaimana ? , udah lama aku nggak dengar kabar Abang " kata ayah Amirah senang


" Alhamdulillah sehat " jawab Abi Syakirah


" nak, kalian sini dulu ya " ucap Abi Syakirah kepada kami berempat


" sini aja bang " panggil ayah ayah amirah untuk duduk di bangku yang sedikit berjauhan dari kami


" ya bang bentar "


" Zahid, this is your turn " kata Abi Syakirah kepadaku dengan tersenyum seperti sudah mengetahui apa yang harus aku lakukan


" ya udah tinggal dulu ya " ucap Abi Syakirah lalu pergi meninggalkan kami berempat


*****


suasana yang baru saja memanas seketika berubah dingin, Amirah yang duduk tepat di depanku dengan hadapan yang tertunduk ke bawah, kak Aisyah yang dari tadi asyik sendiri menikmati minumannya dan Syakirah yang terus memerhatikan kami berdua, entah kenapa aku merasa canggung sekali


" Zahid… " panggil Amirah memulai percakapan


" ya… saya " jawabku singkat


" Zahid ngapain ke mall sini ? " tanya Amirah


" emm… nggak apa-apa sih, cuman lagi pingin ke sini aja "


" kami sekeluarga mau belanja untuk kebutuhan pindahan nanti " kata amirah menjelaskan


" owh… "


tiba-tiba pembicaraan kami kembali terputus, terasa hawa-hawa dingin menyelimuti sekitaran kami kembali, tak tahu apa lagi yang bisa di bahas ataupun di bicarakan


" Amirah… ? " panggil Syakirah


" hmm… iya kenapa ? " tanyanya kembali


" Amirah teman masa kecilnya Zahid ya ? " tanya Syakirah yang seperti tentang diriku


" hmm, iya… " kata Amir singkat


" sejak kapan ? "tanya Aisyah kembali


" sejak Zahid pindah ke Indonesia "


" terus… " sambung Syakirah yang sibuk bertanya tentang masa masa lalu kami


" dulu Zahid, orangnya bodoh, jelek, nggak tau apa-apa " ucap Amirah yang mengatakan semua hal buruk ku di masa lalu


" apa lagi dia itu dulu lebih kecil dariku " kata amirah sambil tertawa kecil


setelah sekian lama tak bertemu dengannya, baru kali ini Amirah tampak begitu bahagia


" hei… Amirah " panggilku


" kenapa ? " tanya Syakirah kepadaku


" kan yang ku panggil hanya Amirah tapi kenapa malah anak ini yang jawab " pikirku dalam hati


" kenapa Hid ? " tanya Amirah


" eh… nggak apa-apa "


entah kenapa rasanya aku tak tahu apa yang harus ku katakan kepada Amirah, padahal sejak tadi ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya


" huh, dasar Zahid… " ucap Syakirah ngambek


" kenapa shera ? "


" huft… "


" hihihi… " tawa amirah kecil


" itu kenapa ? " tanyaku kepada Amirah dengan menunjuk ke arah Syakirah


" Zahid, Zahid " panggil amirah dengan senyuman


" hmm… masa nggak paham sih "


" calon istri Zahid loh "


" masih belum peka juga " kata amirah memberikan clue kepadaku


" owh… " ucapku dengan tawa kecil


" biar aja, ngapain pula di manja-manja " kataku bercanda sembari melihat ke arah Syakirah


" huh, ya udah nggak usah " kata Syakirah dengan marah


" Zahid… " panggil Amirah


" baik-baik "


aku keluar dari tempat duduk ku dan berputar menuju mereka berdua


" maaf-maaf " pintaku memohon maaf kepada Syakirah


ku elus lembut kepala Syakirah yang di tutupi oleh kerudung berwarna biru muda yang di pakainya


Amirah yang berada di samping Syakirah hanya melihat kami bermesraan, dengan wajahnya yang kembali datar


tidak tau apa niatku, tiba-tiba saja aku mengelus gantian kepala Amirah, tidak tahu apa yang bakal di lakukannya kepadaku


" ya sudahlah terima aja " batinku dalam hati kalau sekiranya Amirah marah kepadaku karena aku yang tiba-tiba mengelus kepalanya gantian


" Za… za… za… Zahid " panggil amirah terbata


aku membungkukkan sedikit tubuh ku dan wajahku ku dekatkan dengan wajahnya


" kenapa Mirah ? " tanyaku dari samping wajahnya


terlihat suasana hati Amirah yang tadinya tenang tiba-tiba berubah menjadi tak karuan


melihat diriku yang menjahili Amirah, Syakirah tertawa saat melihat reaksi amirah yang tak biasa itu


" hei, Amirah mau nggak jadi istri Zahid " bisikku pelan tanpa sepengetahuan Syakirah


mukanya yang tadi memerah terlihat semakin memerah sambil berusaha menahan perasaan malu


aku kembali ke duduk di bangku ku


cukup lama Amirah tertunduk malu, melihat sikap Amirah yang berubah Syakirah mulai mencurigai ku


" hei Zahid "


" ya kenapa ? " tanyaku


" apa yang Zahid katakan sama Amirah ? " tanyanya curiga


" emm… nggak ada sih, bukan hal penting " kataku


" huh… dasar Zahid " kata syakirah sambil menghela nafas


" Syakirah… " panggil Amirah dengan suara yang pelan dan pandangan yang masih tertunduk ke bawah


" ya " jawab Syakirah cepat


" Amirah boleh nggak minta sesuatu… " kata Amirah yang ingin meminta sesuatu dari Syakirah


" ya boleh… " jawab Syakirah menyetujui permintaan nya Amirah


" Amirah boleh nggak jadi bagian dari kehidupan Zahid… " ucap Amirah dengan suara yang sangat pelan dan tatapan mata yang menatap mata Syakirah yang berkata seperti memohon sangat kepadanya


" hah… ? " ucap Syakirah dan kak aisyah terkejut bersamaan


kak Aisyah yang tadinya fokus dengan minuman dan hp nya, kini fokusnya mengarah kepada kami


" maksud amirah bagaimana ya ? " tanya kak Aisyah


" izin kan Amirah… " ucap amirah memohon dengan sangat dalam