Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 18 - take action...



Syakirah keluar memakai sebuah gamis putih, penampilannya pada pagi hari ini cukup anggun, tampak di sampingnya ibu dan ayahnya mendampinginya, kak Aisyah berjalan mengikuti Syakirah dengan belakang


"wah wah wah… cantik sekali" kataku pelan


dari arah yang berbeda tampak Raihan juga keluar beserta keluarganya yang mendampinginya, dengan stel jas dan dasi, muka nya yang terlihat angkuh membuatku ingin cepat-cepat menendangnya dari ruangan ini


"wah-wah Raihan"


"masih sempat kau tersenyum angkuh"


"kau tak menyadari kalau sebentar lagi semua kedok mu akan terbongkar"


kedua mempelai tersebut duduk di sebuah meja resepsi, saling berhadapan


seorang penghulu dengan stel jas berpeci duduk di antara mereka berdua


"bismillahirrahmanirrahim"


tampaknya acara sudah di mulai, dengan mulai membaca basmallah lalu puji syukur kepada Allah SWT dan sholawat atas Rasulullah SAW


"kita berkumpul di sini…" cerita penghulu panjang lebar


cukup lama juga basa basi tuh penghulu


"woi cepat napa"


"udah laper nih nunggu hidangan utama" kataku yang tak sabaran


"sekarang pada hari Selasa, tanggal 22 Februari 2022"


"kita mengadakan sebuah peristiwa penting bagi setiap umat manusia"


"peristiwa yang kita anggap sangat sakral"


"yang dapat terjadi hanya setahun seumur hidup"


"yaitu peristiwa di mana kita akan mempersatukan kedua makhluk oleh untuk menggapai Ridha Allah dan sunah Rasulullah SAW" ucapnya


tampaknya acara sudah mau di mulai


"Syifa kau siap"


"aku selalu siap kapan saja"


"hei siap apa?"


"apa maksud aku selalu siap kapan saja?" tanya Dzaky kebingungan saat melihat tingkah kami berdua


"sekarang tepat di depan kita"


"mereka akan menggapai keridhaan Allah dan sunah Rasulullah"


"mereka akan membentuk sebuah tali hubungan yang sangat erat untuk selamanya"


"dari pihak pria, saudara Raihan Syah dan dari pihak wanita, saudari Syakirah Ramadhani"


"pada hari ini mereka akan membuat sebuah janji, janji yang begitu penting bagi mereka berdua"


"dengan kehadirat Allah SWT dan pada hari ini putri kami Syakirah Ramadhani akan membentuk sebuah hubungan dengan Raihan Syah dan dengan izin Allah kami berharap hubungan ini terus berlanjut hingga kalian bersatu menjadi sebuah keluarga yang sakinah mawadah warahmah" kata ayah Syakirah dengan mengatakan sebuah janji dan doa atas mereka


"saya Raihan Syah menerima tali hubungan dengan putri Syakirah Ramadhani dan dengan izin Allah semoga kami bisa menjadi sebuah keluarga yang sakinah mawadah warahmah"


jawab Raihan menerima lamaran tersebut dengan menjabat tangan ayahnya Syakirah


"bagaiman hadirin?"


"sah?" tanya penghulu pada para tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut


mendengar hal itu spontan aku berdiri dari posisi dudukku


"plakk… plakk… plakk…"


bukan sebuah jawaban yang ku berikan tapi sebuah tepukan tangan yang membuat para tamu undangan melihat ke arahku


"hei Zahid"


""apa yang kau lakukan?" tanya Dzaky berbisik ke telingaku


"wah wah Raihan"


"kau terlihat tampan hari ini ya" kataku basa basi


"kau!"


"siapa yang mengundangmu ke sini?" tanyanya padaku


ku ambil surat undangan khusus dari dalam saku lalu ku lemparkan ke arahnya


aku berjalan menuju ke arahnya


"mau apa kau?" tanyanya geram


"nggak mau apa-apa sih"


"cuman mau minta kau membatalkan semua ini" pintaku kepadanya


"apa maksud kau?"


"hei siapa kau, berani-berani nya kau merusak pesta lamaran putri kami" kata ayah Syakirah turun tangan


"pa dia hanya pengacau di sini, tidak perlu di urusin"


"kita lanjutkan saja" kata Raihan sok akrab dengan memanggil ayah Syakirah dengan sebutan 'papa'


"kau cukup akrab ya Raihan"


"belum lagi kau menikahi Syakirah, tapi kau sudah berani memanggil ayah Syakirah dengan sebutan 'papa' " kataku memuji keberaniannya


"hei nak apa mau mu?" tanya ibu Raihan turun tangan


""eh Tante"


"nggak ada mau apa-apa kok, cuman mau mengacau sedikit"


"perkenalkan aku Zahid, dengan kedatanganku hanya ingin mengacau"


"tidak lebih dari itu" kataku memperkenalkan diri


"Zahid ada pertanyaan buat ayah sama mama nya syakirah?"


"apa yang kau ingin tanyakan nak?" tanya ibu Syakira


"Tante, Tante kan mau nikahin putri Tante"


"udah izin belum sama putri tante?"


"kalau dia mau menikah dengan anak itu" tanyaku menunjuk ke Raihan


"apa maksudnya nak?" tanyanya bingung


"simpelnya, udah nanya sama Syakirah belum tentang pernikahan ini"


"apakah dia mau menikah dengan anak itu?" tanyaku lebih spesifik


"sial kau Zahid mau apa kau?" tanya Raihan menerjang ke arahku lalu mengangkat kerah bajuku


"hei"


"keep calm brother, stay cool" kataku tenang


"hei syakirah"


"kau mau menikah sama Raihan?" tanyaku kepadanya


Raihan masih mencengkram kerah baju ku


"nggak" katanya pelan


"apa?" tanyaku lagi pura-pura tak mendengar apa yang di katakannya


"nggak…" jeritnya hingga terdengar satu ruangan tersebut


keadaan mulai memanas, reaksi para tamu undangan mulai membicarakan kami berdua


"apa maksudnya nak?" tanya ibu Syakirah kepadanya


"aku nggak mau menikah dengannya"


"nggak mau" kata Syakirah mulai menitikkan air mata


"tapi waktu itu…"


"itu sudah lama" jawab Syakirah memotong perkataan ibunya


"itu sudah cukup lama"


"itu saat aku masih terlihat bodoh, tidak mengetahui tentang hubungan percintaan"


"tidak mengetahui apa arti dari mencintai seseorang" tutur Syakirah menjelaskan panjang lebar


"tapi nak waktu itu kan Syakirah udah…"


"itu waktu Syakirah kecil dan nggak tau apa-apa" sambung Syakirah memotong perkataan ayahnya


"hei shera udah jangan nangis" kata ku mulai menenangkan Syakirah yang mulai menitikkan air matanya


"sialankau, kau diam aja" bentak Raihan lalu melempar ku ke belakang


dengan posisi siap aku mengambil kuda-kuda berdiri


"hei Raihan sekali lagi kutanya"


"kau mau membatalkan nih lamaran atau…"


"kau selamanya takkan pernah lagi menunjukkan batang hidungmu untuk selamanya?"


"owh keluargamu juga bakal malu nanti" tawar ku kepadanya


"monggok dipilih atuh" kata ku


tak ada jawaban yang di berikannya


"ok"


"10…"


"9…"


"8…"


"sial kau Zahid" katanya dengan mencoba melayangkan pukulan ke arahku


melihat hal itu Dzaky bergerak cepat ke arahku dan menepis pukulan Raihan yang mengarah kepadaku


"kau selalu paham ya Dzak?" puji ku padanya


"owh… pantas aja kau mengajakku" kata Dzaky sambil berdiri di depanku


"tolong yah" mintaku tolong ke Dzaky


"yosh… serahkan aja padaku" katanya semangat


"berapa tadi ya…"


"oh ya…"


"emm… 6…"


"hei kau"


"kau tadi baru menghitung Samapi 8"


"kenapa sekarang sudah 6"


"kau buta angka ya?" tanya Raihan mengejek


"5…" aku terus menghitung tanpa memedulikan pertanyaannya


"kau jawab dulu…" bentak nya ke padaku


merasa kasihan dengan mukanya yang terlihat mulai khawatir


aku menjawab pertanyaannya


"aku siapa?" tanyaku padanya


"kau Zahid"


"kau siapa?" tanyaku lagi pada Raihan


"aku Raihan" jawabnya meladeni permainanku


"sekarang aku yang…?"


"menghitung" sambung Raihan


"dan kau yang…?"


"dihitung" sambung nya lagi


"jadi…"


"jadi kenapa?"


"ya jadi terserah aku lah mau hitung dari berapa aja"


"2…" kataku lanjut menghitung


"kurang ajar kau" gerutu Raihan


"1…"


"Yeay Times it's over" kataku senang


"jadi karena kau tak memberi jawaban satu pun"


"aku punya pertunjukkan untuk mu"


"eh… bukan untuk mu aja"


"untuk para tamu juga" jeritku dengan rasa puas


"Syifa bisa di mulai sekarang" pintaku kepada Syakirah


"baik" jawabnya


*****


..." halo sayang, santai aja nanti setelah kunikahi Syakirah dan setelah ku rebut semua yang dimilikinya akan kubuat dia sengsara seumur hidup"...


..."setelah itu kita bisa menikmati waktu kita bersama"...


terdengar suara audio yang datang dari segala penjuru arah


suara Raihan yang memenuhi ruangan membuat para tamu mulai membicarakan isu-isu tentangnya


"hei Syifa bisa kau keraskan lagi suaranya"


"aku tak bisa mendengarnya" mintaku untuk meninggikan volume audio tersebut


"tentu saja boleh" katanya lalu meninggikan volume hingga maksimal


cukup lama audio tersebut di putar berulang-ulang kali


aku duduk kembali ke meja tamu lalu menikmati pemandangan ini sembari menghabiskan makanan yang belum sempat ku cicipi


** 5 minutes later **


" kayak mana Raihan"


terlihat dia hanya berdiri mematung, tak menyangka hal ini akan terjadi di saat yang penting


"aku sempat merekam apa yang pernah kau katakan padaku"


"kau…" kata Raihan geram


"kenapa…"


"kau pikir aku akan melakukan semua ini tanpa persiapan?" kataku memancing emosinya


"ayolah ini hanya sebuah audio"


"kalau rekaman suar kau dapat mengeditnya kan" katanya mencoba mengelak


"sial memang benar kalau audio dapat di edit"


"lagi-lagi dia satu langkah di depanku" kataku yang salah perhitungan


"jadi tuan…"


"apa lagi yang bisa kami bantu…" kata Raihan puas


"kayak nya udah waktunya ya" jerit Syifa kepadaku


"waktu apa" pikirku bingung


"dan ini kejutan dariku…"


"salam dari syifa…" kata Syifa menjerit di tengah kerumunan para tamu undangan


dia memunculkan sebuah sensor gambar, terlihat sebuah foto panas dan video yang di putar Syifa


terlihat orang di foto tersebut merupakan Raihan dan seorang perempuan yang tak di kenal sedang melakukan perbuatan panas


"jadi ini yang kau bilang kejutan itu ya" batinku


"dasar, aku tak salah menyerahkan semua ini kepadamu Syifa" kataku pelan


para penonton yang melihat foto dan video tersebut mulai memunculkan sebuah ekspresi jijik dan ingin muntah


"Raihan…" jerit seorang laki-laki yang terlihat seperti ayahnya sendiri


belum sempat mengatakan apapun sebuah Bogeman mentah melayang di muka anak itu hingga membuatnya terjatuh dan mimisan


"apa itu…" tanya ayahnya membentak


"ayah aku dapat men…"


"menjelaskan apa, dasar kau anak laknat" kata ayahnya memotong perkataan Raihan


"pak Rizal, sepertinya kami akan membatalkan lamaran anak kami ini" kata ayah Syakirah memotong pembicaraan antara ayah dan anak tersebut


"tapi pak tol…"


"maaf pak kami tidak bisa melanjutkan nya lebih jauh lagi setelah mengetahui kalau keadaanya menjadi seperti ini" perjelas ayah Syakirah


Syakirah bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arahku, tampak senyum kebahagiaan terpancar dari wajahnya atas kejadian yang terjadi hari ini


"cukup Syifa matikan" perintahku pada Syifa untuk mematikan video adegan panas tersebut


"jadi kayak mana Raihan" tanyaku tanpa maksud apa-apa


dia berdiri dan terdiam dengan pandangan tertunduk kebawah dia tidak mengatakan apapun


"kan tadi udah ku kasih dua pilihan"


"tapi kau malah memilih pilihan yang buruk"


"ya jadi itu semua salahmu" kataku menghinanya


para tamu mulai berbisik membicarakan perbuatan Raihan yang buruk


"kau…" katanya tertunduk


"kalau aku tidak bisa dengannya…"


"kalau gitu kau juga nggak boleh dengannya" kata Raihan dengan berlari cepat ke arah Syakirah dengan menggenggam pisau yang di ambilnya dari meja tamu undangan


dia menerjang ke arah Syakirah dan mengarahkan pisaunya ke syakirah


"Syakirah awas…"