Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab - 28 courage



" hei Zahid… " panggil Syakirah


" kenapa ? "


" masih lama ? " keluh Syakirah


" bentar ya " ucapku meminta Syakirah untuk menunggu lebih lama lagi


" huft "


" hehehe, bentar ya " kataku sambil mengusap kepalanya yang di tutupi kerudung hitam


sedangkan di sisi lain, terlihat kak Aisyah dengan santai menikmati kentang goreng yang di pesannya


" kak… "


" hei kak… " panggilku


" ya kenapa ? " tanyanya


" nggak apa-apa sih, cuman manggil aja "


belum terlihat tanda-tanda kehadiran Amirah, memang waktu belum menunjukkan pukul 01:15 jadi kami harus menunggu lebih lama


kring… kring…


suara telepon ku yang berdering di saku celanaku, ku rogoh saku ku untuk menjawab panggilan yang berbunyi


" siapa Hid ? " tanya kak Aisyah mengenai orang yang meneleponku


" nomor tidak di kenal kak… " kataku yang kemudian panggilan tersebut mati karena tak kunjung ku angkat


kring… kring…


kembali nada dering ponsel ku berbunyi lagi untuk kedua kalinya


" cepat angkat hid " perintah Syakirah


" baik, baik"


ku angkat panggilan tersebut, terdengar suara yang cukup ribut di sana


" assalamualaikum, halo "


" ini siapa ? " tanyaku pada seseorang yang berada di dalam telepon


" ini Amirah " katanya mengenalkan dirinya


" owh, ya amira " tanggapan ku


" jadi… ? " tanya amirah mengenai pertemuan yang kami janjikan


" jadi kenapa ? " tanyaku kembali


" emm… maksudnya, jadi kita ketemu "


" iya jadi " jawabku singkat


" Amirah sekarang lagi di mana ? "


" Amirah sekarang lagi di kafe nih, sedang istirahat " kata amirah yang menjelaskan posisinya sekarang


" oh, cafe mana ? "


" cafe ayah " jawabnya singkat


" cafe ayah, di mananya ? " tanyaku sambil melihat ke sekeliling cafe


" di dalamnya nih "


" Zahid lagi di mana ? " tanya amirah mengenai posisi ku


" owh lagi di cafe " ucapku mempermainkannya


"cafe, di mana nya ? "


tampak dari kejauhan, seorang gadis berdiri dari bangkunya dengan telepon yang tertempel di telinga nya seperti sedang menelepon, dia melihat ke sekeliling kafe yang tampak sedang mencari seseorang


melihat hal itu aku mengangkat tanganku sebagai isyarat keberadaan ku


" Zahid, Zahid " panggil Amirah ketakutan


" ya kenapa ? "


" ada orang sedang mengangkat tangannya dan menunjuk-nunjuk ke arah Amirah "


orang yang di maksud amirah adalah diriku, melihat sikapnya yang was-was, aku mempermainkannya


" hati-hati Amirah " kataku berbohong padanya


" ok udah dulu ya amirah, dan hati-hati "


" assalamualaikum " ucapku menutup pembicaraan


aku keluar dari bangkuku dan bejalan perlahan ke arah Amirah


"Zahid, mau ke mana ? " tanya Syakirah sambil memegang lenganku agar tak pergi


" udah, ayo " ajakku kepasa Syakirah dan kak Aisyah


" mau ngapain Hid ? tanya kak Syakirah sambil beranjak dari tempat duduknya


" itu Amirah " tunjuk ku dari kejauhan ke arah seorang gadis yang memakai gamis merah


" oh, yaudah ayo lah " ucap Syakirah setuju kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu menggapai lenganku dan merangkulnya di celah lengan tangan


Syakirah berjalan di depan kami berdua, dia menarik lenganku yang di rangkulnya


" pelan-pelan aja shera " ucapku memberi peringatan


nih anak nggak ada kapoknya nya, padahal tadi pagi habis di marahin sekarang di buat lagi


terlihat dari jarak hanya beberapa meter, amirah dan 3 orang lainnya sedang menikmati makan yang tersaji di atas meja saji mereka


kami bertiga menghampiri mereka


" permisi " kataku memohon maaf atas waktu yang kami sita


" eh Zahid " kata seorang perempuan yang menyambut kami


" kamu Zahid ? " tanya seseorang perempuan yang terlihat umurnya sudah tua


" ya buk " jawabku singkat


" dan ini Syakirah dan kak Aisyah " tunjukku ke arah Syakirah dan kak Aisyah yang berdiri di belakangku


" saya umminya Amirah "


" oh umminya Amirah ya "


kalau barusan itu ummi nya Amirah, berarti tidak lain dan tidak bukan kalau pria yang duduk di hadapan kami adalah ayahnya Amirah


" duduk Zid " kata Syakirah dengan menunjuk bangku yang telah di sediakan untuk kami


" thanks Mir " ucapku berterima kasih padanya lalu duduk


" jadi… " tanya ummi amirah memulai percakapan


" ehh… nggak apa-apa sih mi, cuman pengen jumpa doang sama Amirah " kata ku tersenyum sambil melihat ke arah Amirah


" hmm "


" jadi, bagaimana ya… "


" ummi, Zahid panggil ummi nya Amirah dengan sebutan apa ya " tanyaku kepada ummi Amirah


" hmm… kenapa ? " tanya nya kembali


" nggak apa-apa sih "


" panggil aja ummi " kata ummi syakirah yang mengizinkanku memanggilnya dengan sebutan yang sama seperti yang di panggil Amirah


" sebenarnya ada apa ? " sambung ayah amirah menanyai maksud pertemuan kami


" pengen jumpa aja om " jawabku singkat


entah kenapa suasana menjadi hening, dan terasa dingin, tak ada satu suara atau kata pun yang terdengar di sini, dan di dukung dengan suasana cafe yang terasa di


" hei nak, sebenarnya apa mau mu ? " tanya ayah Amirah dengan menatap tajam mataku


" nggak ada apa-apa pak " kataku mengelak


" kau yang serius… !!! "


tidak tahu ada masalah apa, ayah amirah yang sebelumnya berbicara santun seketika membentak ku dan memukul meja makanan di hadapannya


aku yang tidak tahu permasalahannya, hanya terdiam tak berkutik, mungkin kalau bicara sedikit aja dapat berakibat fatal untukku


" ayah, tenang dulu… " ucap ummi amirah mencoba menenangkan suaminya yang tiba-tiba marah tanpa sebab


ayah Amirah kembali duduk di bangkunya, entah apa yang kurasakan tapi sepertinya terasa hawa di cafe mulai terlihat memanas


" maaf mi, sebenarnya ada apa ya ? " tanya Syakirah yang menyokong ku dari belakang


" ummi pun kurang paham sih, nggak tau sebenarnya apa permasalahan nya "


"mungkin hanya hal sepele sih bagi ummi " jawab ummi menjelaskan permasalahan yang terjadi


" sepele bagaiman ummi ? " tanyaku gantian


mendengar apa yang ku tanyakan, ayah Amirah yang tenang dan duduk di bangkunya tiba-tiba berdiri dan dengan cepat mencengkram kerah bajuku


" hei, kau jangan pura-pura nggak tau ya " ucap ayah Amirah tepat di depan mukaku


" ayah… "


" cukup dong… " bentak ummi Amirah kembali


" huh… " hela an nafas ayah amirah sembari mendorongku menjauh dari nya


aku memperbaiki kerah bajuku yang acak karena cengkeramannya tadi


" sebenarnya ada apa mi ? " tanya Syakirah mulai geram


" langsung saja ya " kata ummi mengatakan hal yang tak jelas


" maksudnya ? " tanyaku heran dengan suara pelan


" Zahid " panggil ummi


" bagaimana menurutmu tentang Amirah ? " tanya ummi kepadaku


" Amirah, tentang amirah yang bagaimana ya mi ? " tanyaku meminta keterangan lebih jelas


" ya… , menurut Zahid amirah itu orangnya bagaimana ? "


" apakah baik, buruk, dan lainnya " kata ummi menjelaskan


" tentang Amirah ya… "


" menurut Zahid Amirah itu baik, pintar, alim " ucapku memberikan jawaban atas pertanyaan yang di lontarkan padaku


" oh, gitu " respon ummi Syakirah santai


" sekarang Zahid tinggal di mana ? " tanya ummi amirah mengenai tempat tinggal ku saat ini


" di rumah Syakirah tapi kadang… " jawabku singkat


" kau… " bentak ayah amirah setelah mendengar jawabanku


" ayah tenang dulu dong " pinta ummi Amirah untuk bersikap lebih tenang


" lanjutkan hid… " pinta ummi untuk melanjutkan perkataanku


" kan Zahid sekarang sudah bertunangan sama Syakirah, jadi orang tuanya mengizinkan Zahid untuk tinggal di sana, sebenarnya Zahid pun segannya, tapi karena terus di paksa, ya mau tidak mau " kataku menjelaskan semuanya


" Syakirah udah resmi menjadi istrimu ? " tanya ummi


" insyaallah, kalau Allah memperkenankan kami untuk bertemu di atas pelaminan "


merasa geram dengan pernyataan ku, ayah Amirah tiba-tiba melemparkan gelas yang berada di depannya hingga pecah


" ya udah, pergi aja kau sana… " bentak ayah Amirah kepadaku


" pergi kau dan bawa istri kau tuh jauh-jauh "


" jangan kau berani dekati Amirah lagi "


aku yang merasa aneh dari tadi karena sejak awal tiba-tiba di perlakukan buruk olehnya mulai geram, kesabaran ku yang dari tadi ku coba pertahankan kini sudah sampai batasnya, apalagi aku tak bisa tinggal diam di perlakukan seperti ini di depan Syakirah dan kak Aisyah


" om… apa maksud semua ini ? " tanyaku dengan nada tinggi


" ada masalah apa rupanya Zahid sama om ? "


" kau diam, udah berani kau buat Amirah menangis, masih bertanya kau tentang kesalahan kau " katanya menyanggah pertanyaanku


" dan masih berani kau memintanya untuk berjumpa " sambungnya


mendengar pernyataan yang di katakan ayah Amirah, aku paham akan kesalahanku, aku melihat ke arah Amirah, terlihat butiran-butiran air mata berjatuhan dari kelopak matanya


sepertinya aku tak dapat untuk melanjutkan pembicaraan ini


" kau paham kan sek… "


"maaf " ucapku memotong perkataan ayahnya Amirah


" eh… "


" maaf kan Zahid " u kataku ke dua kalinya


" eh, he… " gumam semua orang yang mendengar ucapanku