
aku hanya terdiam setelah mendengar pernyataan Amirah, mungkin ini hanya sebuah kekeliruan yang di katakannya
" maaf maksudnya bagaimana ya ? " tanyaku memastikan
" please marry me " katanya to the point'
kak Aisyah dan Syakirah yang mendengar pernyataan Amirah barusan terdiam tak berkata, mereka tidak menyangka akan mendengarkan sebuah kalimat sakral yang tidak boleh di katakan oleh sembarang orang
" hahaha… " tawaku lepas
" jangan bercanda Mir "
" nggak kok, serius… " jelas Amirah dengan wajah serius
" serius… maksudnya bagaimana ? " tanyaku pada diri sendiri
tak terasa waktu sudah cukup lama berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 15:00 WIB, para pengunjung mall mulai ramai berdatangan
terlihat dari kejauhan orang tua Amirah dan Aisyah seperti sudah akan menyelesaikan pembicaraan mereka
" maaf Zahid izin bentar " kataku berbohong pada mereka lalu pergi meninggalkan mereka bertiga
aku berjalan menuju kamar mandi cafe tersebut, entah apa yang ada di pikiranku, pikiranku kacau karena perkataan Syakirah tadi
" ahh… " jeritku lepas setiba sampai di kamar mandi cafe tersebut
ku basuh wajahku untuk menenangkan diriku yang tak karuan ini
" hei Amirah "
" kenapa kau terlalu memaksa dirimu " ucapku pada diriku sendiri
cukup lama aku berada di kamar mandi mencoba menenangkan pikiran dan hati ini
" apa yang harus ku katakan nanti sama Amirah " kataku bingung sambil mencoba memikirkan jawaban atas pernyataan Amirah
" huh… sudahlah " kataku pasrah karena tak dapat berpikir lagi
aku memutuskan untuk kembali karena sudah cukup lama aku pergi takutnya mereka kecarian nanti
" ouch… panas " ucapku terkejut saat segelas kopi panas tumpah mengenai tanganku
" eh… maaf kak " ucap seorang gadis di depanku
" maaf kak… " kata perempuan itu meminta maaf kepadaku
" eh… oh iya nggak apa-apa "
perempuan itu membungkukkan sebagian badannya untuk mengambil talenan dan cangkir kopi yang tumpah tersebut
aku yang tak menyadari hal itu, segera saja berinisiatif untuk membantunya
" ah… "
" eh… maaf " ucapku terkejut saat kedua tangan kami saling bersentuhan
karena teriakan perempuan itu, kami menjadi bahan tontonan para pengunjung kafe ini
" eh… maaf semua, ada kesalahan teknis, maaf atas gangguannya " ucap perempuan itu menjelaskan keadaan yang sebenarnya
tidak perlu waktu lama untuk membuat mereka mengerti, seketika suasana kafe kembali menjadi normal
" maaf ya kak " kata perempuan itu meminta maaf kepadaku untuk kesekian kalinya
" eh iya… nggak apa-apa kak " kataku yang tidak mempermasalahkan hal ini
" eh kak itu bajunya kena " katanya sembari mengeluarkan kain yang berada di kantongnya lalu membersihkan bajuku
" udah kak nggak apa-apa "
tak menghiraukan perkataanku, dia berusaha membersihkan bajuku yang terkena tumpahan kopi yang di bawanya tadi
" udah kak makasih " kataku dengan tersenyum
" tapi kak itu bekas nya masih ada "
" kalau nggak biar saya cuci bawa pulang, nanti saya kirimkan ke tempat tinggal kakak " pintanya
" nggak nggak, udah nggak apa-apa kak, cuman dikit aja kok " ucapku menolak
" ya udah makasih ya kak, saya harus kembali sekarang soalnya takut nanti ada yang nyariin " kataku undur diri
" oh baik kak, sekali lagi maaf ya kak "
" iya nggak apa-apa " ucapku sambil berjalan meninggalkannya
" ngomong-ngomong kak, saya boleh tahu nama kakak " katanya dengan suara yang sedikit di naikkan karena takut kalau aku tidak akan mendengarnya
" Zahid " teriakku keras lalu pergi jauh meninggalkannya
" kok lama ? " tanya Syakirah khawatir setibanya aku kembali
terlihat kedua orang tua Amirah dan Syakirah sudah berkumpul di tempat kami
" duduk nak " perintah Abi nya Syakirah menyuruhku untuk duduk di bangku ku
segera ku ambil posisi dudukku semula
" jadi nak bagaimana ? " tanya ummi Syakirah
aku yang merasa aneh dengan sikap Abi dan ummi nya Syakirah yang tiba-tiba menanyakan hal yang tidak jelas
" bagaimana apa nya ya ummi ? " tanyaku bingung
" tolong jaga putriku " sambung ummi Amirah yang mengatakan hal tidak jelas
" jaga, putriku. maaf Zahid nggak paham, ada apa sebenarnya shera, Amirah ? " tanyaku kepada Syakirah dan Amirah
Syakirah hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak ingin memberitahukannya, sama halnya dengan Amirah dengan muka nya yang kemerah-merahan, dia menundukkan sedikit pandangannya dariku, sehingga aku tak dapat melihat jelas tatapan matanya itu
" sebenarnya ada apa ummi, Abi ? " tanyaku bergantian
mereka hanya tersenyum kepadaku tanpa mengatakan satu patah kata pun
" hei Zahid, kalian sudah saling kenal dari kecil, dan om percaya sama kamu. tapi dia adalah putriku, aku yang pertama kali menciumnya, aku yang pertama kali menjaganya, dan aku yang pertama kali yang memeluknya. tapi aku ingin kau melakukan hal yang sama seperti ku " jelas ayah Amirah mengatakan sesuatu yang tidak ku pahami
" tunggu, apa maksud semua ini, kenapa tidak ada satu orang pun yang mau menjelaskannya ke Zahid "
" ayolah, setidaknya ada satu kata yang dapat menjelaskan ini semua kan "
"ummi… Abi… shera… Amirah… "
" oh, kak Aisyah, tolong kak jelaskan maksud semua ini " kataku berharap pada kak Aisyah untuk menjelaskan maksud dari perkumpulan besar ini
" dasar Zahid, peka dong " ucapnya tersenyum
" gini nak… "
" kami ingin Zahid menjadi suaminya Amirah " seru Abi Syakirah membuatku terkejut
" tunggu… , apa maksud dari ' suaminya amirah ' Zahid… Zahid nggak paham ? "
terasa hawa di sekitarku mulai panas, keringat tanpa henti terus bercucuran ke bawah, membasahi baju Kemeja yang kupakai hari ini, entah kenapa aku merasa sangat tegang karena seperti sedang di adili atas perbuatan kejahatan yang pernah ku lakukan
" nak… " panggil ummi amirah dengan nada lembut
" maaf tiba-tiba mengatakan hal ini "
" bagaimana menurutmu tentang Amirah ? " tanya ummi kepadaku tentang pendapat ku terhadap Amirah
" Amirah, maaf ummi bagaimana apanya ya ? " tanyaku kembali
" ya menurut nak Zahid amirah itu bagaimana, mulai dari sikapnya, perilakunya, atau hal-hal lain yang mungkin ada penilaian tersendiri dari Zahid " kata ummi Amirah memberikan penjelasan lebih detail
" Amirah ya…, Amirah itu… " kataku sambil berpikir
" Amirah baik, soalnya dia selalu ngurus Zahid ketika Zahid tinggal sendiri di kost-an sekarang "
" cantik, dengan wajahnya yang imut dan tingginya yang pendek, soalnya perempuan yang pendek itu menurut Zahid imut sih "
" Amirah Sholehah, paham tentang agama, dan Amirah mungkin lebih banyak tahu di banding Zahid tentang agama "
" terus… pintar masak, sebelum Zahid pindah ke sini, Zahid selalu beli makana, tapi semenjak Amirah yang sering berkunjung ke tempat Zahid, amirah sering masak makanan untuk Zahid, jadi sekaligus bisa menghemat uang bulanan lah "
aku menjelaskan semua yang aku ketahui tentang Amirah mulai dari dirinya hingga hal-hal terkecil dari dirinya
Amirah yang mendengarkan ku hanya tertunduk malu dangan pandangan menghadap ke bawah
" itu semua ? " tanya ayah Amirah
" sebenarnya masih banyak lagi sih, tapi Zahid nggak tau harus mengatakannya bagaimana "
" tapi pokok nya, itu semua sebagian kecil pandangan Zahid terhadap Amirah "
" nak kami ridho… " ucap orang tua Amirah bersamaan
" ridho… untuk apa ya "
" tolong jaga anak ku, kau adalah imam baginya tolong ajari dia, bimbing dia, jaga dia, sayangi dia, dan bersikap adil lah terhadap mereka berdua "
" maksudnya bagaimana, tolong jelaskan sama Zahid ada apa sebenarnya "
" nak ini dari keputusan kami semua, maaf tanpa sepengetahuan mu, dan Syakirah pun sudah setuju. kami ingin menjodohkan Zahid dengan Amirah " kata ummi Syakirah sambil memegang pundak ku
" jodoh, hah… " kataku terkejut