Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 37 - love in silence



" Zahra "


" Zahra ! " kata kak Aisyah mengulang kalimat yang kukatakan


" ya… Zahra "


" kenapa kak ? " tanya ku heran melihat kak Aisyah yang terkejut mendengar nama Zahra


" eh… enggak apa-apa sih… "


" …cuman… " ucap kak Aisyah terputus, seperti ada yang di sembunyikannya dari ku


" cuma… kenapa kak ? " tanyaku penasaran dan curiga


" enggak jadi, enggak apa-apa " sambung kak Aisyah yang tidak jadi mengatakan sesuatu


sikap kak Aisyah yang tak acuh ini membuatku sangat penasaran dan penuh curiga terhadap Zahra


" kenapa kak Aisyah tiba-tiba bersikap begini, Zahra sebenarnya siapa kamu sebenarnya " batinku dalam hati dengan penuh penasaran dengan sosok teman sekelasku ini


" ngomong-ngomong Zahid nama panjangnya siapa ? " tanya kak Aisyah yang terlihat seperti ingin memastikan sesuatu


" namanya… "


" …Zahra Khairina Latifah "


" sudah kuduga " sambung kak Aisyah tak tenang


" apa maksud kakak, kakak kenal Zahra ? " tanyaku makin penasaran


" sudah kuduga anak itu… " batin kak Aisyah dalam hati


" kak… "


" kak… "


" tapi kenapa… "


" kak Aisyah ! " jeritku mencoba menyadarkan kak Aisyah dari lamunannya


" eh… owh iya… kenapa Hid ? " tanya kak Aisyah bingung


" kak… sadar kak, nanti melamunnya kita masih di jalan "


" owh iya… maaf-maaf " seru kak Aisyah kembali fokus dengan kemudinya


terlihat kak Aisyah yang dari tadi terus melirik-melirik ke arahku


" untuk Zahra kita bahas nanti lagi " kataku pada kak asiyah


" masih jauh kak ? " tanyaku dengan melirik Ke luar kaca mobil


" nggak itu di depan "


" Shera, Mira bangun yuk udah sampai "


ku goyang pelan tubuh Syakirah dan Amirah yang tertidur di pundak dan pangkuanku


" bentar… lagi " oceh Syakira dalam tidur nya


" Amirah… yuk bangun "


" udah sampe Hid ? " tanya Amirah yang baru saja terbangun dari tidurnya


" iya udah " jawabku pelan


terlihat di depan gerbang ayah dan ummi nya Aisyah menyambut kedatangan kami


" shera… "


" shera… " seru kak Aisyah mencoba membangunkan Syakirah


" haduh… kayak mana nanti jadi istri nih… "


" …nanti bukan istri yang membangunkan suami, malah suami yang bangunkan istri " keluh kak Aisyah terhadap Syakirah


" hihihi " tawa kecil Amirah yang melihat tingkah seniornya


" ayo bangun, nggak malu sama Amirah tuh " seru kak Aisyah, lagi-lagi mencoba membangunkan Syakirah


" udah kak nggak apa-apa, nanti biar di gendong sama Zahid " sambung Amirah


" ya udah " jawab kak Aisyah pasrah melihat tingkah adiknya yang satu ini


" kami turun dulu ya kak " kata Amirah membuka pintu mobil lalu keluar


" ya hati-hati " sambung kak Aisyah


" ayah… ummi… " panggil Amirah lalu menyalami mereka berdua


" kok lama keluarnya " seru ayah amirah khawatir terhadap kami


" nggak apa-apa yah, ada sedikit kendala " kata ku sambil menggendong Syakirah di pundak ku


" mashaa Allah itu Syakirah ? " tanya ummi amirah terkejut melihat seorang perempuan yang ku gendong di pundak ku


" iya mi, payah di bangunin… "


" …terus tadi di perjalanan Syakirah agak hangat badannya " kata ku menjelaskan keadaan Syakirah saat ini


" owh… ya udah bawa langsung aja ke kamar, biar enak istirahatnya " perintah ummi Syakirah kepadaku


" iya mi " jawabku lalu segera menggendong Syakirah ke kamar yang sudah di persiapkan untuk kami


" Aisyah… masukkan aja langsung " seru ayah Amirah menyuruh kak Aisyah memarkirkan mobilnya langsung ke dalam garasi


** in the bedroom **


" bismillah " ucapku sambil meletakkan syakirah di atas ranjang yang sudah di persiapkan untuk kami


" huh… " nafasku yangngos-ngosan karena baru saja mengendong Syakirah ke kamar yang berada di lantai dua


" istirahat ya " kata ku pelan dengan mengecup lembut kening Amirah


ku tinggalkan Syakirah yang tertidur pulas di atas hangatnya ranjang


aku keluar dari kamar Syakirah, terlihat ayah, ummi, dan Kak Aisyah yang sedang berkumpul di ruang keluarga


" ummi, ayah " sapaku sambil menuruni anak tangga satu persatu


" Zahid… "


" …sini " panggil ayah Amirah


" iya yah, kenapa ? " tanyaku mempercepat langkah ku ke tempat ayah Amirah berada


" jadi bagaimana menurutmu Amirah ? " tanya ummi Amirah memulai pembicaraan


" ya kayak biasa mi nggak ada yang berubah " jawab ku singkat


" hmm… "


" jadi Hid, kayak mana ke depannya ? " tanya ayah Amirah kepadaku


" ke depannya kayak mana, maksudnya apa yah ? " tanyaku kembali


" ya… rencana Zahid, sekarang sudah SMA tinggal 2 tahun lagi, habis itu Zahid mau ngapain ? " tanya ayah Amirah serius


" untuk itu Zahid belum tau mau ngapain, mau lanjut kuliah atau nyari kerja, belum Zahid putuskan "


" sebenarnya orang tua Zahid suruh Zahid fokus belajar aja dulu yang berarti lanjut kuliah, tapi… "


" tapi… kenapa ? " tanya kak Aisyah


" bagaimana keadaan Syakirah sama Amirah nanti, waktu perjanjian hari itu pertunangan ini hanya terbatas sampai 2 tahun saja "


" misalnya Zahid lanjut study berarti mereka yang sudah terhubung sama Zahid akan lepas begitu saja " kata ku lemas


" nak… kami tidak ingin egois, Zahid memiliki hal yang harus Zahid raih, ayah nggak mau nanti gara-gara Amirah impian Zahid tidak tercapai "


" sama kakak juga, sebenarnya rencana tunangan kalian itu masih hanya sebatas pembicaraan, kalau di bilang hubungan kalian itu masih sekedar hubungan seperti seorang teman "


" jadi… misalnya apa… "


" …tidak apa-apa kalau Zahid mau menyerahkan mereka kembali, demi kebaikan Zahid " nasehat ayah amirah kepadaku


" entahlah yah, tengok nanti lah, Zahid pun bingung kalau bahas hal itu "


" ya udah nanti aja di pikirin lagi, 2 tahun lagi kok " sambung ummi Amirah


" ke pembahasan utama " sambung ayah amirah dengan mode serius


" Zahid… " panggil ayah Amirah dengan tatapan serius


terlihat kak Aisyah dan ummi yang juga melihatku dengan tatapan serius


glek…


entah kenapa suasana di sini mendadak dingin, keringat dingin mulai bercucuran dari atas kepala membasahi kening hingga ke dagu


" jadi Zahid… " ucap ummi dengan menghela nafas panjang


" ada nggak… "


deg… deg… deg…


jantungku yang berdetak begitu kencang tak lagi mengikuti irama detak nya


" ada nggak… "


" seseorang yang Zahid sukai ? " tanya ummi kepadaku


" eh… seriusan nih "


" apa-apaan pertanyaan ummi ini, seriusan ? " batinku dalam hati saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan ummi Amirah kepadaku


" iya… kata Kak Aisyah Zahid ada suka sama seseorang " sambung ayah Amirah


" kak Aisyah apa yang telah kau katakan pada mereka " keluhku dalam hati dengan menatap wajah kak Aisyah yang merasa tidak bersalah


" ng… nggak ada kok mi "


" serius ? " tanya ummi


" duarius " jawab ku bercanda


" nggak apa-apa nak kami cuman ingin tahu aja " pinta ayah Amirah mengatakan yang sebenarnya


" huh… "


" baiklah kalau begitu… " ucapku pasrah


" sebelum ini Zahid pernah suka sama dia "


" dia siapa ? " tanya ummi Amirah fokus mendengarkan ceritaku


" dia… ya dia… pastinya seorang wanita lah " ucapku tak menjelaskan siapa orang itu


" terus kenapa sama dia ? " tanya ummi lagi


" nggak ada apa-apa sih… "


" …udah gitu aja " kata ku menjelaskan dengan singkat perjalanan masa laluku


" masa cuman gitu aja, pastinya kan ada sesuatu yang menarik " ucap ayah Amirah


" nggak ada yah, cuman itu aja… "


" betul lah ? " tanya ayah Amirah yang tak percaya dengan penjelasan singkat ku


" ya… "


" terus katanya Zahid suka sama dia, tapi dia nggak suka sama Zahid, itu kayak mana ceritanya " sambung ummi Amirah menginterogasi diriku


" owh… ehehe… itu ceritanya… "


" ceritanya… "


" apa ceritanya ? " tanya kak Aisyah penasaran


" huh… ya udah Zahid suka sama dia, dia nggak suka sama Zahid "


" Zahid biarin ajalah "


" apa susahnya " ucapku tegas


" jadi… ?? "


" jadi… ya… "


" …Zahid menerapkan sistem 'love in silence' lah "


" that's all " jelasku menjelaskan semua kebenaran


" ha… 'love in silence' " ucap ayah dan ummi Amirah bersama saat mendengar istilah percintaan yang ku katakan


" apa itu ? " tanya ummi Amirah menatapku lekat


" itu… "