Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 25 - your wish



"amirah…" panggilku lembut


"ya, saya"


"maaf yang tadi Amirah bilang itu kebalikannya kan?" tanyaku memastikan jawaban kedua yang di tegaskan nya tadi


"nggak"


"jadi maksudnya kayak mana?" dengan pura-pura bodoh aku bertanya kepadanya seperti aku tak memahami apa yang di katakannya


"amirah mau" katanya pelan dengan wajah yang tertunduk ke bawah


"amirah mau sama Zahid" katanya mengulang kalimat yang sama


tidak seperti yang ku bayangkan, semua yang di katakan amirah bukanlah sebuah kekeliruan melainkan kebenaran


aku terdiam untuk beberapa saat


perasaan hati ku yang tiba-tiba tak karuan setelah mendengar pernyataan Amirah, mulai dari rasa bahagia hingga khawatir teraduk menjadi satu


tapi perasaan bahagia ku terasa lebih besar dari pada perasaan-perasaan lainnya


tanganku ku letakkan di atas kerudungnya sambil mengelus lembut kepalanya


perlahan kepalanya mulai terangkat dan matanya yang menatap wajahku, hanya senyuman yang dapat ku lontarkan padanya


"boleh, tapi janji jangan pergi lagi ya" kataku bahagia sambil mengelus kepalanya


"hmm… makasih" ucapnya sangat bahagia


"tapi…"


"ini kan di dunia roh…"


"amirah nggak tahu keadaan di dunia kita"


"mungkin amirah nggak bakal mengingat semua hal yang pernah terjadi saat ini" katanya pasrah dengan ekspresi cemberut yang tergambar di wajahnya


"kalau gitu…" kataku sambil mendekatkan wajahku tepat di depan wajahnya


"biar Zahid yang buat Amirah ingat semuanya" ucapku sambil menyentil pelan hidungnya


"ouch, sakit…" katanya kesakitan karena ku sentil hidungnya


" janji ya"


"janji" jawabku meyakinkan dirinya


"hmm…"


"kalau gitu Amirah pamit dulu ya, udah waktunya"


"ingat ya Zahid, awas kalau sampai lupa" katanya sebelum dia pergi meninggalkanku


"hmm"


"tunggu aja"


perlahan bayangan amirah mulai menghilang, kini hanya tinggal jiwaku dan ruang kosong


"wah wah wah"


"perpisahan yang bahagia ya" kata seseorang yang tiba-tiba muncul entah dari mana


"huh… kau lagi" kataku kesal


"jadi apa kata-kata terakhirnya yang dia bilang ke kau"


kuberikan senyuman sebagai jawaban dari pertanyaan yang dia tanyakan padaku


"siapa bilang perpisahan…"


"ini adalah pertemuan…"


"ini adalah permulaan…"


"kata siapa kata-kata terakhir…"


"ini merupakan salam perkenalan antara kami berdua…"


"dan sebuah simbol janji antara kami berdua"


kataku tenang dan bahagia


jiwa ku yang lain tiba-tiba melihat perubahan sikapku yang hampir 360° hanya terdiam tak berkutik


"kalau gitu cepat kembalikan aku, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan" kataku semangat


"hmm… boleh juga semangatmu itu" katanya dengan senyuman yang sama tergambar di wajah nya


"baiklah mari kita mulai"


"ini dia…" ucapnya dengan menjentikkan jarinya


"dan ingat Zahid"


"ini pesanku untukmu…" katanya yang ingin memberitahukan sebuah pesan penting kepadaku


"jangan sampai terjadi untuk kedua kalinya, the decided in your, you decided where do you think good and you decided where do you think not good for do that, you Will be a leader in the future, you Will be the leader for your wive and children, so i hope after this problem you can more better for thinking about anything"


dengan senyuman kecil ku berikan padanya sebagai balasan dariku atas nasehat yang di utarakannya


perlahan bayanganku mulai menghilang di mulai dari kaki hingga ke atas


"oh ya"


"dan satu lagi"


"kau jangan ter…" sambung nya saat aku mulai menghilang


tak terdengar jelas apa yang di katakannya, hanya beberapa kalimat yang dapat tertangkap jelas oleh telingaku


"kau jangan ter…"


"apa tadi ya" kataku mencoba kalimat berikutnya


** real life **


"Zahid"


"Zahid"


terdengar suara seorang wanita sedang memanggil namaku


"hei Zahid bangun cepat"


perlahan ku coba membuka mataku, sinar lampu yang mengenai mataku membuatku silau


"huh"


aku langsung bangkit dari posisi tidurku


"hah… hah… hah…" gumamku setengah sadar


"kenapa Hid?" tanya seorang wanita yang membangunkan ku tadi


"eh, kak Aisyah, kenapa kak?" tanyaku sambil mengatur tempo pernapasanku agar kembali normal


"nggak apa-apa, itu napasnya kok kelihatan abis di kejar hantu"


"eh, nggak apa-apa kak" kataku sambil menarik napas perlahan


"terus tadi ngomong apa?" tanyanya seperti menyelidiki ku


"ngomong, ngomong apa kak?" tanyaku bingung


"nggak, soalnya tadi Zahid pas lagi tidur ada bilang sesuatu"


"kalau nggak salah tadi Zahid bilang 'kau jangan ter…' "


"ngomong?" tanyaku pada diri sendiri


perlahan ku coba mengingat kejadian yang terjadi saat aku tidur tadi


"kayaknya nggak adalah kak" jawabku sedikit ragu


"owh…" respon kak Aisyah data


"ya udah, kakak keluar dulu ya" kata kak Aisyah lalu pergi meninggalkan kami


"owh ya kak" jawabku mempersilahkan kak Aisyah pergi meninggalkanku


"tunggu, kayaknya aku pernah dengar kalimat yang di bilang kak Aisyah barusan"


"kau jangan terla…"


"terla…"


"terla…"


"aduh apaan sih kata berikutnya" keluhku sambil memegang kepalaku


tangan kananku yang berada di atas kasur seperti menangkap sesuatu benda


aku ambil barang itu lalu ku lihat dengan seksama, sebuah kotak


"kotak merah…" kataku terkejut seolah aku pernah memilikinya


"kotak merah…"


kuputar otak ini, untuk mengingat-ingat sesuatu hal yang terasa terlupa olehku


"kau jangan ter… dan sebuah kotak kecil berwarna merah" ke dua hal itu membuatku mengingat sedikit tentang sesuatu hal yang sudah terjadi di saat aku tertidur barusan


"Amirah…"


"eh…"


"Amirah…" teriakku tiba-tiba


"ada apa?" tanya seseorang yang berlari menuju kamar kami


"ada apa Zahid?"


tanya seorang gadis yang jauh-jauh datang dari kamarnya yang hanya untuk menanyakan keadaaan ku


"eh Syakirah"


"nggak apa-apa" kataku yang tidak mempermasalahkan jeritan ku barusan


terlihat mata Syakirah tertuju ke arah kotak yang terdapat di sebelah kanan tanganku


"apa itu Hid" tanya Syakirah mencurigai keberadaan kotak yang entah tiba-tiba sudah berada di samping ku


"bukan hal penting" jawabku tersenyum sembari menyimpan kotak tersebut


"hmm… mencurigakan" balas Syakirah yang makin mencurigai perbuatanku


"Zahid…"


"Zahid udah nggak percaya lagi ya sama Syakirah?" tanyanya memelas


"bukan kayak gitu maksudnya"


"Zahid masih marah sama syakirah?" tanyanya sedih


"eh, enggak kok"


"terus kenapa zahid menyembunyikan sesuatu tanpa sepengetahuan Syakirah"


"bukan gitu" kataku menyangkal perkataannya barusan


"terus, kenapa Zahid tadi sembunyikan sesuatu dari Syakirah"


aku hanya terdiam, tak dapat memberikan jawaban atas apa yang di katakan Syakirah


"Zahid…" panggil Syakirah


"maaf"


"eh…"


"maaf…"


"maaf kenapa?" pikirku dalam hati


"maaf kenapa shera ?" tanyaku dengan memanggil nama panggilannya


"maaf yang tadi pagi"


"tiba-tiba Syakirah nampar Zahid gitu aja"


ucapnya menjelaskan alasan dia meminta maaf


"hmm" gumamku sendiri


"malas… gak mau"


"sakit loh tamparannya tadi" ucapku menjahilinya


"maaf dong" pintanya lagi


"nggak mau"


terlihat mata Syakirah mulai berkaca-kaca


"maaf dong, Syakirah nggak maksud kayak gitu" ucapnya mulai menangis


"kayaknya aku kelebihan" kataku dalam hati


"eh nggak"


"canda doang"


"jangan nangis dong"


"nanti ummi bisa marah sama Zahid loh"


"nanti ummi bilang 'kayak mana nya, seorang suami bisa bikin istrinya menangis' "


"nanti ummi batalin pernikahan kita kayak mana" ucap ku meminta Syakirah untuk berhenti menangis


"hiks… hiks…"


"cup… cup… cup"


ku raih tangan Syakirah lalu ku tarik hingga tubuhnya berada di depanku, ku bentangkan lenganku kemudian ku lingkarkan tanganku ke tubuhnya


"udah berhenti"


"jangan nangis dong" kataku dalam keadaan memeluknya


perlahan tangisannya mulai mereda


"maaf ya" kataku meminta maaf pada syakirah


"maaf kenapa?" tanyanya padaku


"maaf karena nggak peka" ucapku padanya


"he he he, tau aja" katanya tertawa setelah tangisnya berhenti


aku hanya tersenyum melihat tawanya yang softy bagiku


*****


#peka_yuk