Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 16 - plan....



"bagaimana kabar Zahid?" tanya Dzaky


"Alhamdulillah, katanya sudah baikan"


"cuman katanya, dia masih izin" jawab Zahwa


"waktu pas diperiksa dokter bagaimana?" tanya dzaky lagi kepada Zahwa


"kata dokter kalau tak salah…" ucap imam sambil mengingat-ingat kembali


"hmm… tulang rusuknya ada yang retak, karena terkena benturan"


"Mashaa Allah, keren ya"


"kayak mana itu rasanya?" tanya Dzaky


"sini biar ku buat kau merasakannya" kata Zahwa pada dzaky


"ngomong-ngomong udah ada kabar tentang amirah sama Syakirah nggak?" tanya Dzaky mengalihkan pembicaraan


"nggak tau sih"


"tapi kenapa mereka berdua bisa tidak masuk berbarengan?"" tanya Imam mengenai Amirah dan Syakirah


"aku harap nggak ada hal buruk terjadi pada mereka berdua lah" sambung Zahwa


"hei Zahid, where are you?"


"i think there are something problem with your friend ( Syakirah and Amirah )"


"just you can end that's problem"


"please hurry up for feel good and then please enter the classroom again" batin Zahwa di dalam hati


*****


hachiiu…


entah kenapa aku tiba-tiba merasa menggigil. aku bersin-bersin terus, badan ku sangat dingin


"kenapa ini?"


"kayaknya ada yang sedang membicarakan ku" perasaanku


kabar Syakirah dan Amirah yang tidak hadir cukup lama sudah sampai kepadaku. aku yakin pasti ada masalah dengan mereka berdua


untuk syakirah aku sudah mengetahui apa masalahnya, pernikahan nya dengan si bajingan itu


pernikahannya akan di adakan seminggu lagi mulai dari sekarang


syukurlah aku sudah menyusun rencana tentang masalah pernikahannya Syakirah, benar-benar libur yang bermanfaat ya


tapi yang aku masih heran. kenapa Amirah tidak hadir, sakit tidak, aku merasa tidak ada hal lain yang dapat membuatnya tidak masuk kelas selain sakit


"aku yakin pasti ada hal serius yang terjadi dengannya" kataku kepada diriku sendiri


ku ambil handphone ku yang tergeletak di samping tempat tidurku, hanya untuk melihat apakah ada notif yang masuk ke hp


ku baringkan badanku sambil berpikir tentang segala hal


"kenapa kau mau melakukan nya, kenapa kau mau ikut campur dalam kehidupan dan permasalahan orang lain sampai sejauh ini? "


tiba-tiba kalimat itu muncul di dalam pikiranku, entah bagaimana aku bisa terpikir


"kalau nggak salah ini kan…" kataku sambil mengingat siapa yang mengatakan kalimat tersebut


"N…"


"N…"


"oh ya!!, Nun…" kataku setelah mengingatnya


"ngomong-ngomong waktu itu aku berada di mana?" tanyaku pada diriku sendiri mulai kebingungan


tak ingin repot berpikir, aku mencoba melupakan hal tesebut


"tapi apa yang terjadi waktu itu terasa seperti nyata ya…"


"kenapa kau mau melakukan nya, kenapa kau mau ikut campur dalam kehidupan dan permasalahan orang lain sampai sejauh ini? "


lagi-lagi kalimat itu muncul di pikiranku


aku mencoba berpikir sebentar


"kalau di tanya kepadaku 'kenapa kau mau melakukannya' "


"mungkin karena mereka sahabatku" kataku sendiri


"terus…"


"pertanyaan kedua 'kenapa kau mau ikut campur urusan orang lain sampai sejauh ini?' "


aku berpikir keras untuk menjawab pertanyaan ini


"aku tak tahu" kataku pasrah


"aku tak tahu kenapa?"


mataku mulai berkaca-kaca entah kenapa tiba-tiba perasaan ini menjadi sedih


"bukan…"


"bukan aku yang ingin melakukannya"


"tapi…"


"entah…"


"entah kenapa diriku ini spontan ingin membantu mereka"


kataku mulai mengalirkan air mata, tidak tau kenapa aku merasakan penyesalan yang mendalam, penyesalan bersalah atas tindakan ku selama ini


"hiks…"


hanya kesedihan ini yang mungkin dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu


*****


"Dzak…"


"hmm…"


"hoi Dzaky, are you hear me?"


"of course i hear you, what's the matter?" tanya Dzaky ke Jundi yang dari tadi memanggilnya


"lihat tuh" kata Jundi dengan menunjuk ke arah Zahwa dan Imam


"wah makin deket aja ya" jawab ku tersenyum


"what's you see" tiba-tiba Hanif menghampiri mereka berdua


"udah-udah, yang udah punya sana pergi aja"


Jundi mengangguk yang berarti mendukung apa yang di katakan oleh ku


mencurigai mereka berdua, Hanif melihat ke sekitar kelas mencari sumber tontonan kami berdua


radar sensornya langsung mengarah ke dua orang gadis yang berada di bangku seberang


"owh…" katanya tersenyum


"emang kalau udah pakar gini dia" kata Jundi ke Hanif


"ehm…"


"ehm, ehm…" tegur Hanif yang mencoba merusak kemesraan mereka


mata mereka berdua langsung tertuju ke arah kami


terlihat mereka berdua tersenyum ke arah kami, lalu kembali berbicara tanpa mengatakan sepatah kata pun


"wuih…"


"hebat kali nih anak"


"udah putus saraf malunya" puji Hanif melihat tingkah mereka


"tapi katanya Imam udah nggak mau pacaran lagi" kata Jundi


"mang nggak mau pacaran lagi, dia konsisten"


"cuman katanya dia udah serius sama tuh anak"


"mungkin tamat nanti bakal di nikahi nya" kata ku menjelaskan


"tau dari mana?" tanya Hanif kepada ku


"dari lord Zahid lah, si pakar pembuat hubungan dan juga pakar perusak hubungan, kita sebut juga the 'master of grand master fall in love' " kata ku bercanda


sambil mengangkat ke dua tangannya dan menyatukan keduanya, Hanif mengangkat wajah nya lalu berkata


"salam saya kepada master of grand master fall in love" katanya bercanda


kami tertawa mendengar penuturan yang di ucapkan Hanif barusan


*****


hachiiu…


"ya Allah kenapa nih?"


"badanku agak merinding nih"


"sebaiknya aku istirahat lebih dulu"


** 5 p.m **


"assalamualaikum, halo Zahwa" ucapku salam dari telepon


"walaikumsalam"


"udah ada kabar tentang Amirah"


"belum ada"


"oh belum yah, ya udah thanks ya"


"assalamualaikum" ucapku sembari menutup panggilan dengan Zahwa


"ayolah Amirah, what happened with you huh"


"now i'm worried with you"


"i hope you always fine"


aku hanya berharap agar tak ada masalah yang terjadi dengan Amirah


sudah cukup lama tidak ada kabar tentangnya


tapi sekarang ada masalah yang harus ku tuntaskan dulu


"i'm sorry Amirah, i'll search you after end this problem, i'm promise"


aku kembali ke kamar mencari kertas yang pernah di berikan kak Aisyah, kakak nya syakirah


"hah ini dia"


ku baca kembali kertas itu


isinya


...Hari/Tanggal : Selasa, 22 Februari 2022...


...lokasi : Grand Citra Hotel...


...waktu : 10:45 WIB...


"ok sekarang hari Selasa tanggal 15, seminggu lagi acara Syakirah berlangsung"


sebenarnya tak ada perencanaan khusus dalam membatalkan pernikahan Syakirah


aku cukup membunuh Raihan saja sebagai kepastian agar dia tidak menikahi Syakirah


"membunuh Raihan…"


"Raihan di bunuh…"


"masa Raihan aja kan"


kataku merasa ada yang kurang


"huh… kayak mana kalau keluarga nya juga"


kataku yang tiba-tiba terlintas di pikiran untuk menghabisi keluarganya juga


tapi, itu semua hanya angan-angan ku saja, kan gak mungkin aku membunuh mereka


aku gak mau ni novel jadi genre pembunuhan


nggak banyak yang dapat aku lakukan untuk membatalkan pernikahan mereka. tapi yang pasti akan ku buat Raihan menyesal karena udah bermain-main dengan ku dan dengan sahabat-sahabat ku


"see you next week Raihan"


"and get ready for your time"


dari apa yang bakal ku perbuat dia tidak akan bertahan lama sih, tapi kita tunggu aja


"just wait and see"


"just wait and see…"


*****


in this episode (Dzaky be come the main character for a moments)