
bruk…
suara benturan yang begitu keras
"hei, apa maksud kau"
"apa yang kau lakukan sama Shakirah?" tanya Raihan
dia mendorongku begitu keras hingga menabrak pintu, lalu mencekik ku dan mengangkat ku
"sial anak ini" kata ku yang kesulitan bernafas karena cekikan nya
"apa yang kau lakukan sama Syakirah, huh…" tanyanya lagi dengan nada emosi
aku tidak memedulikan pertanyaan itu karena posisiku yang dalam keadaan bahaya, prioritas utamaku sekarang bukanlah menjawab pertanyaan itu tapi melepaskan cekikan si bodoh ini
ku raih lengannya dan kucoba untuk mendorongnya, tapi sia-sia usahaku tak membuahkan hasil, melihat aku yang terus memberontak dia makin memperkuat cekikan ya padaku
"sial, kalau begini terus aku bisa gawat" pikirku
muka ku mulai terlihat pucat, aku berusaha tetap menjaga pola pernapasanku, seberapa udara yang dapat ku hirup maka sebanyak itulah yang harus aku olah agar aku dapat tetap bernapas
"hei biadab" katanya padaku
"kau udah bermain-main denganku ya"
"kau lihat aja mereka yang kubilang waktu itu"
"jangan harap kau pernah melihat ekspresi mereka lagi" katanya emosi sambil melepaskan cengkeramannya di leherku perlahan
"hahh… hahh… hahh…" suara nafas yang terengah-engah seperti baru berlari cukup jauh
"sekali lagi kutanya kau"
"kenapa Syakirah sekarang bisa melonjak denganku" tanya nya sekali lagi
karena nafas ku yang tak teratur, aku tak menjawab pertanyaannya itu
brukk…
pukulan yang keras melayang tepat ke muka ku, dan membuatku tumbang. aku merasakan ada sesuatu yang mengalir dari kepala dan hidungku
"kau, kau…" kata Raihan dengan emosinya
"hei… sekali lagi ku tanya baik-baik ya"
"apa yang kau perbuat pada Syakirah, ngapain kau ke rumahnya segala" tanya nya sambil mengangkat kepala ku dengan cara menjambak rambut
dengan tubuh yang berbaring dan berlumuran darah aku hanya tersenyum kecil
"kenapa aku harus mengatakannya" kataku yang hampir tak mengeluarkan suara
"huh…"
tak kunjung mendengar jawaban yang dia inginkan dariku dia menginjak perutku tiba-tiba, terlihat darah ikut keluar bercampur dengan air liurku
merasa kurang puas atas penyiksaan nya dia menambahkan sentuhan terakhirnya dengan sepakan yang mendarat di kepalaku
aku terlempar beberapa centi dari tempatku sebelumnya
akibat sepakannya yang begitu keras kepalaku terguncang begitu keras, aku melihat ke arah Raihan, terlihat bayang-bayang nya berada dekat dengannya, lalu dia pergi meninggalkanku di ruangan ini sendiri
"dasar manusia sial, sampai mati pun tak kan kubiarkan kau mengganggu mereka"
kataku setelah dia keluar dengan nada yang tak terdengar
"astaghfirullah, kayak nya aku bakal mati di sini" kataku bercanda
"lebih baik aku istirahat dulu" kataku sambil memejamkan kedua kelopak mataku
aku mengistirahatkan badan ini, badan yang terkena gimbalan habis-habisan dari orang yang tak menyadari kalau hidupnya bakal berakhir beberapa hari lagi
terlihat tubuh yang terbaring istirahat sedang tergeletak dengan lumuran darah yang keluar dari kepala, hidung dan mulutnya
*****
"bagaimana?" tanya shelter
"mau di cabut gak tuh manusia"
Nun hanya duduk dan mengamati seorang manusia bodoh yang tergeletak di bawah sana
"bisa-bisanya tuh anak, tergeletak di situ" kata Nun bingung
"sekarang mau di cabut gak tuh nyawa anak"
"nggak semudah itu lah ferguso" kata Nun pada shelter dengan mengarahkan telapak tangan nya yang mengisyaratkan tidak
"jadi…"
"nggak enak kalau dia mati begitu saja kan?" kata Nun dengan niat terselubung
"jadi mau nya mati kayak mana?"
"ya kasih lah micin dikit biar nampak enak" katanya sambil beranjak dari posisinya lalu turun ke bumi
"mau kau apakan dia?" tanya shelter sebelum Nun turun ke bawah
"ya, main-main dikit lah…" udah lama gak pernah mempermainkan manusia sekarat katanya semangat
"ajak main FF" sambung shelter
"main FF untuk apa, itu kan untuk bocil, kita mainnya yang agak dewasa dikit lah" kata Nun bergegas untuk turun
"sip" respon shelter dengan mengacungkan jempolnya isyarat setuju kepada Nun
"hati-hati ya…" ucap shelter sambil melambaikan tangannya pada Nun
*****
"huh…"
"apa ini, gelap ya"
"ya seperti dugaan ku…"
"MATI…"
kataku pasrah karena tidak mengetahui keadaan ku yang sekarang entah berada di dunia mana
"maaf mengganggu" kata seseorang yang terlihat sedang membuka pintu dari bayangan kegelapan
"eh…"
"ehh…" ucapku terkejut
"woi woi woi… seriusan nih?"
"barusan tadi aku jalan-jalan loh, gak ada apa-apa di sana"
"tapi bagaimana nih orang bisa masuk pakai pintu?" pikirku bingung
aku yang tidak mengetahui kalau dia itu Nun seorang malaikat pencabut nyawa, dia berjalan ke arahku dengan membawa sabit yang di seret sabit yang memiliki bentuk seperti lengkungan bulan sabit
srett…
suara sabit yang terseret membuat ku makin nambah bingung
"keren juga nih orang"
"cosplay nya keren, sangat mendalami peran nih" kataku yang tidak menyadari kalau yang aku puji tuh merupakan seorang malaikat maut yang kedatangannya mau mencabut nyawaku
cukup lama dia berjalan ke arahku, aku yang lelah berdiri merasa lelah karena menunggunya karena itu aku duduk manis untuk menunggu kedatangannya
"Hei…" jerit Nun dari kejauhan
aku yang merasa dia sedang berbicara denganku, lalu aku bangkit dari posisi dudukku untuk mendengar apa yang di katakan nya
"hei…" panggilnya lagi
karena tak mendengar apa yang di katakan nya, aku tak tau harus menjawab apa
"apa…?" tanyaku dengan mengarahkan kupingku ke arahnya
"siapa namamu…?" tanyanya padaku
"apa…?" tanyaku mencoba mendengarkan apa yang di bilangnya
"ku tanya siapa namamu…?" tanya nya lagi dengan suara yang terdengar sedikit keras
" apa… aku gak dengar …?" kataku yang tidak mengetahui apa yang ingin di katakannya itu
"dasar nih anak…?" keluh Nun
tak melihat tanda dia akan berbicara lagi, aku kembali ke posisi dudukku
"dia model apa sih?" tanyaku pada diri sendiri
terlihat dia masih berjalan ke arahku dengan menyeret sabitnya
"bang cepat dikit bang, lari, lari" jeritku ke arahnya
tak ada respon yang di berikannya
karena lelah menunggu cukup lama aku putuskan untuk menidurkan badan ini sebentar
** 1 hour leter **
"huah…" nguapan ku yang menandakan tidur ku yang cukup nyenyak
aku terkejut saat menyadari kalau tuh orang masih berjalan ke sini
"hei bang… yang betul aja lah…"
"udah satu jam lebih abang berjalan kesini" kataku pada diriku sendiri
karena lelah menunggu dia datang, aku putuskan untuk gantian mendatanginya
** 5 minutes leter **
"loh…"
"bang…" panggilku saat berada tepat di depannya
dia yang tak menyadari kehadiran ku, terkejut saat aku berada tepat di depannya
"loh udah sampe rupanya…" katanya tenang
"sampe apa bang, aku yang sampe ke tempat abang" kataku ceplos tanpa menyadari kalau aku sedang berbicara dengan seorang makhluk yang cukup di takuti, seorang pencabut nyawa legendaris si Nun dengan julukannya DIS ( Death Is Beautiful )
"jadi…"
"ente siapa?" tanyaku memulai pembicaraan
"aku Nun, malaikat pencabut nyawa, sudah banyak nyawa jatuh ke tanganku" katanya memperkenalkan diri dengan bangga
"maaf nggak kenal" kataku dengan ekspresi datar
"apa-apaan coba, malaikat pencabut nyawa" gerutu ku dalam hati
"jadi mau apa ke sini?" tanyaku kepadanya alasan kedatangan nya ke padaku
"ya udah waktunya…" katanya dengan memberikan alsan yang tidak jelas
"???" tanpa mengatakan apapun hanya ekspresi bingung yang tergambar di wajahku
"ya… dengan kata lain, kau kan udah mati"
"jadi… aku mau cabut nyawamu" katanya menjelaskan lebih lanjut
"owh…" hanya respons datar yang dapat ku berikan untuk menjawab pertanyaan
"lagian apa-apaan kau ini, bisa pula mati gara-gara di siksa"
"lawan kenapa" ceramahnya padaku
"mau kayak mana lagi, aku mana bisa bertarung, kalau di bilang ya… fisik lemah, otak standar, ya gitulah" kataku pasrah kepada seorang yang mengakui dirinya malaikat pencabut nyawa
"owh…"
"mau ku kasih ke ajaiban nggak ?" tanya nya padaku dengan menawarkan sesuatu
"sorry bang, ini novel genrenya school, romance. kan aneh nanti kalau ni novel ada genre magicnya, over powernya, kalau ini novel isekai nggak apa-apa bang"
"kalau sempat masuk magic nanti kesini, kayak mana bang ?, pada pergi semua lah nanti para pembacanya"
"kan kasihan nanti author nya, capek-capek dia konsisten untuk update tiap hari"
"rela loh bang dia begadang tiap malam demi para pembaca"
"aduh… aku aja bersyukur bang, author nya memilihku jadi MC di sini"
"sebelumnya dia mau milih imam atau Jundi bang"
"tapi karena hasil syuro' bersama, akhirnya aku yang jadi MC nya bang"
"Alhamdulillah kali bang"
kataku dengan menjelaskan panjang, lebar plus tinggi
tapi kayak mana coba, kalau sempat nih novel ada genre magicnya. wah bakal nggak nyambung nih.
"iya juga ya" katanya sambil mencerna penjelasan yang barusan ku katakan padanya
"eh…"
"sudah-sudah, bukan itu tujuanku ke sini" katanya untuk mengalihkan pembicaraan
"aku ke sini mau bawa jiwamu"
"jiwa yang mana bang?" tanyaku dengan melihat di sekelilingku
hanya ruang kosong dan gelap yang aku lihat, tak ada secercah cahaya pun di sini
"hei, kaulah jiwa itu" jawabnya
"fisikmu udah mati jadi tinggal jiwamu" tunjuk nya ke arahku
"kayak mana ya, kalau di bilang aku nggak mau mati itu mustahil sama juga kalau aku minta kematian ku di undur pasti sama saja, sama-sama nggak bisa" ucapku pasrah
"jadi mau bagaimana…?" tanyanya kepadaku
"tapi…"
"aku…"
"tapi aku masih ada janji yang harus ku tepati, setidaknya biarkan aku menyelesaikan janji itu" kata ku dengan memohon kepadanya
"hmm…"
dia hanya berpikir dan terdiam cukup lama dia berpikir
** 1 hour leter **
"ok lah…" katanya tiba-tiba
"ok…ok kenapa bang?" tanyaku kepadanya
"kan tadi kau bilang ada janji, kau ingin meminta waktu untuk menuntaskan janjimu dulu"
"ya udah kau tuntaskan janji mu itu" katanya dengan memberikan jawaban yang baik
katanya lalu beranjak pergi meninggalkanku
"aku yang dari awal tidak memahami kejadian ini, hanya bisa berdiri kebingungan seperti orang bodoh
"tapi Zahid…"
"kenapa kau lakukan sejauh ini" dia berhenti dan berkata sambil menoleh pandangannya ke arahku
"maksudnya, sejauh ini?"
"kenapa kau mau melakukan nya, kenapa kau mau ikut campur dalam kehidupan dan permasalahan orang lain sampai sejauh ini?" tanyanya dengan lebih spesifik
"itu… itu…"
aku tak tau harus mengatakan apa, aku pun baru menyadari memang selama ini aku telah mencoba masuk dalam kehidupan seseorang
"itu karena, mereka sahabatku" kataku dengan memberikan alasan yang asal-asalan
"selain itu…?" tanyanya lagi padaku
"selain itu…"
"aku tak tau…" kataku tertunduk
tak mendapatkan jawaban dariku, dia melanjutkan perjalanannya untuk keluar dari ruang kegelapan ini
"apa maksud pertanyaanmu itu?" tanyaku penasaran atas pertanyaan yang di lontarkan ya kepadaku
"untuk itu… kau akan tahu sendiri" katanya lalu menghilang seketika
entah apa maksudnya, tak satupun yang di katakannya aku pahami
"benar-benar aneh" kataku aneh yang tertuju ke orang tersebut
*****
entah kenapa tiba-tiba perutku mual, kepalaku pusing, kaki gemetaran
karena tak sanggup menopang tubuh ini, aku pun terbaring, kesadaran ku mulai menghilang
"sial kali kehidupanku"
"udah mati, mati lagi" keluhku sambil memejamkan mata ini