
merasa tubuh sudah fit kembali seperti semula, aku kembali beraktifitas seperti biasanya. pergi ke sekolah dan lainnya
"jadi belum ada kabar dari Syakirah" tanya Dzaky tentang Syakirah
mereka belum mengetahui tantang permasalah Syakirah
"belum" kataku pura-pura tak tahu
besok adalah puncak nya aku dah tak sabar menanti hari esok
"Dzak besok temani aku ya" pintaku padanya
"temani ke mana?"
"besok Selasa kan masih sekolah" katanya padaku
dengan bangga ku rogoh saku celanaku lalu mengeluarkan secarik kertas, lalu ku berikan padanya
"surat apa ini?" tanya Dzaky setelah menerima surat yang ku berikan
"hehe… baca aja sendiri" pintaku bangga
dia buka lipatan kertas tersebut dan mulai membacanya dengan seksama
"eh…"
"hei Zahid, dari mana kau dapat surat izin ini" tanyanya keheranan sambil menyerahkan kembali surat yang kuberikan kepadanya
"itu… rahasia"
"aku juga udah meminta Syifa ikut"
"lah ngapain ngajak Syifa dia kan udah lama nggak hadir, hari ini aja dia nggak hadir, kalau besok dia nggak hadir kayak mana?" tanyanya meminta penjelasan dari ku
"keep calm brother, i have arrenge everything" kataku memberikan jawaban dari penjelasan yang di mintanya
"up to you lah Zahid" katanya yang menyerahkan semua urusannya padaku
** tomorrow **
"ok tinggal tunggu Syifa ya" kataku sambil melihat-melihat ke sekeliling mencari keberadaan Syifa
"tuh kan dah ku bilang dia nggak bakal datang" sambung Dzaky mengeluh
"yakin?" tanyaku padanya
"kalau bukan karena Dzaky ikut, mana mungkin dia nggak datang"
"tuh anaknya" kataku sambil menunjuk ke arah jauh
terlihat Syifa berjalan dengan menjinjing tas kecilnya, dengan jilbab merah dan gamis yang panjang serta kaca mata bulat yang terpasang di matanya membuat nya terlihat sangat cantik
Dzaky melihat ke arahnya tak berkutik, seperti baru melihat sebuah ke ajaiban yang terjadi, aku sudah mengetahui kalau Dzaky dan Syifa saling menyukai
tapi mereka terus memendam perasaan mereka satu sama lain
"Wii sadar woi" kataku menyadarkan Dzaky yang terus menatap Syifa dari kejauhan
"Mashaa Allah cantiknya" puji Dzaky
"mau nembak dia?" tanyaku mempermainkannya
"ne…ne…ne…nembak"
"nggak lah" katanya salah tingkah
aku hanya tertawa melihat tingkah nya itu
"ya udah sana jemput dia"
"eh… jemput dia ngapain" tanyanya menolak permintaanku
"yah nggak mungkin perempuan berjalan sendiri kan?"
"ya udah jemput sana" pintaku lagi sambil mendorongnya ke arah datangnya Syifa
dia memutar kepalanya melihat ku, hanya respon senyum dan anggukan kecil ku berikan padanya sebagai isyarat 'kau bisa Dzak'
perlahan tapi pasti Dzaky berjalan menuju Syifa
"wah…"
"benar-benar pasangan yang serasi ya"
"tapi sayang mereka nggak mau saling mengungkapkan nya"
terlihat dari kejauhan Dzaky dengan sikap canggungnya berjalan di sebelah Syakirah, entah kenapa Syakirah juga tiba-tiba terlihat canggung saat tahu yang menjemputnya adalah Dzaky
terlihat mereka saling bicara satu sama, seperti membahas suatu hal, entahlah…
"maaf lama Hid" kata Syifa saat tiba
"nggak, kita masih punya banyak waktu" kata ku
"yuk berangkat" ajakku
pergi dengan mobil menuju kediaman Raihan
** in the car **
"jadi kayak mana?" tanyaku
"aman" jawab Syakirah sambil menyatukan jari jempol dengan telunjuk membentuk lingkaran yang berarti semuanya berjalan baik
"nice" kata ku puas
Dzaky hanya melihat ke arah kami, tak memahami apa yang kami bicarakan dia hanya terdiam dan tak berbicara
"ini semua berkas-berkasnya?" kata Syifa seraya menyerahkan sebuah map yang berisi kertas-kertas penting
"dapat dari mana semua nih?"
"dari sumber terpercaya lah, ada yang dari kakak nya syakirah juga sih" katanya memberikan penjelasan mengenai berkas-berkas yang sedang ku baca
"ok…"
cukup lama memakan waktu perjalanan ke lokasi
** arrived **
terlihat sebuah hotel penginapan yang cukup mewah berlantai lebih dari lima dan di depannya terjejer papan-papan bunga yang bertuliskan ucapan-ucapan selamat atas lamaran antara Syakirah dengan Raihan
sebenarnya sekarang bukan acara pernikahannya, mereka mengadakan lamaran untuk sesi yang kedua
soalnya lamaran pertama itu sudah lama sekali dan berpikir itu sudah basi
ini merupakan kesempatan emas buatku
terlihat para penjaga mengawasi di luar hotel, agar lamaran dapat berlangsung dengan khidmat dan tanpa kendala
"dasar…"
"orang kaya mang bebas" keluhku saat melihat penjagaan ketat di luar hotel ini
aku menyerah kan tiket khusu kepada para penjaga, seperti nya tiket yang ku dapat dari kak Aisyah merupakan tiket untuk pihak keluarga
setelah memeriksa ke aslian tiket tersebut aku pun di antar ke tempat di mana Syakirah berada
"kalian masuk aja duluan"
"Syifa ambil posisi enak ya" mintaku saran pada Syifa
"ok"
aku di antar ke sebuah ruangan di depan pintu tersebut terdapat tulisan "ruang riasan", aku mengetuk pintu tersebut lalu mengucapkan salam dan masuk, terlihat hanya Syakirah yang sedang berada di ruangan tersebut
"Zahid" kata Syakirah senang
"ya ini Zahid"
"wah wah cantiknya" puji ku yang melihat penampilannya memakai baju kebaya
"ini beneran lamaran kan?"
"kok bisa mewah kali" tanyaku mengenai acara lamaran ini
"ini semua permintaan keluarga Raihan, kami hanya menurutinya saja" tuturnya
"jam 10:45 ya mulainya?" tanyaku
"ya"
"ya udah Syakirah ikuti aja dulu, biar Zahid yang urus dari belakang" kataku agar membuatnya tenang
"thanks Zahid" katanya mengucapkan terima kasih ke padaku lalu pergi
Syakirah pergi menuju tempat acara berlangsung
"halo assalamu'alaikum syifa"
"Syifa kayak mana udah" tanyaku dari telepon
"kamu lama kali padahal udah dari tadi siapnya"
"ya, ya maaf" kataku dengan menunjukkan rasa puas
"ya udah aku tutup ya teleponnya" pinta Syifa untuk mengakhiri panggilan ini
"ya, assalamualaikum" ucapku salam mengakhiri pembicaraan ini
"ok Raihan selamat menikmati pesta dari kami"
"salam dari Zahid dan friend" kataku menunjukkan ekspresi puas dan beranjak meninggalkan ruangan rias tersebut
*****
di ruangan utama terlihat sangat ramai, suara para undangan riuh bercampur dengan alunan musik undangan
terlihat Dzaky dan Syifa duduk di meja undangan sambil menikmati makanan pesta
"huh… udah mulai aja ya"
"padahal acaranya belum pada mulai"
"tapi makanannya udah mulai dari tadi ya" kataku sambil tertawa kecil
"hahaha"
"soalnya lapar banget, capek nunggu" celoteh Syifa
"jadi kayak mana hubungan kalian" bisikku ke telinga Dzaky
terlihat muka Dzaky memerah
"ya padahal aku sudah beri kalian waktu berdua tapi tak ada perkembangan"
"ya sudah lah" kataku kecewa pada mereka berdua
mereka tersipu malu saat mendengar apa yang ku katakan barusan
aku duduk di samping Dzaky sambil menikmati makanan yang sudah di siapkan untuk tamu undangan
"Hid, kau nggak ada bilang kalau kita bakal pergi ke pesta"
"eh nggak ada ya…"
"ya udah aku bilang ya"
"kita nanti pergi ke pesta"
"udah telat woi" kata Dzaky menyoraki ku
aku hanya tertawa kecil
"ini pesta siapa?" tanya Dzaky lagi kepadaku
"adalah tengok aja bentar lagi" jawabku sambil menikmati makanan undangan
waktu masih menunjukkan pukul 10:30, lima menit lagi acara akan di mulai
para tamu undangan mulai memenuhi ruangan acara
pihak keluarga dari kedua pihak mulai berkumpul di depan meja persepsi
"hei Syifa kau yakin udah mempersiapkan semuanya"
"tenang aja"
"Syifa udah iris semuanya"
"Syifa bahkan udah siapkan kejutan untuk para tamu undangan nanti"
"Syifa gitu loh" katanya bangga dengan menegakkan badannya dengan angkuh
"yah, yah"
"kalau Syifa udah bilang begitu"
"ya mau bagaimana lagi" kataku yakin dengan apa yang di katakan Syifa
semua rencana ini tergantung dari Syifa, gagal atau sukses, kita tidak tau apa hasil akhir dari semua ini, setidaknya kita sudah mencobanya
lebih baik mencoba tapi gagal dari pada tak pernah mencoba sama sekali
tapi dalam kamus ku tak ada kata gagal dalam suatu percobaan, itu lah yang terus ku jalani hingga saat ini
"10....9....8...." hitung ku mundur sebelum waktu memasuki pukul 10:45
"5....4...."
"3....2....1...."
"ini dia" kataku tidak sabar karena sudah menunggu sangat lama
"get enjoy your party" kataku dengan melipat kaki kananku ke atas pangkuan kaki kiri ku