
"Syakira…" panggilku di depannya
terlihat Syakirah yang duduk tepat di depanku dengan pandangan tertunduk kebawah dan tubuh yang lemah
"syakirah… aku pasti menepati janjiku" kataku padanya
pandangannya yang tertunduk kebawah, perlahan mulai terangkat. kini aku dapat melihat jelas kedua mata Syakirah yang terlihat seperti kehampaan, tak ada secercah cahaya pun menyinari matanya
"aku gak bakal mengulangi kesalahanku lagi" kataku meyakinkannya
entah dia mendengar atau tidak apa yang ku katakan, terlihat matanya sedang berkaca-kaca
yang menunjukkan ingin menangis
"bohong…" katanya padaku dengan mata yang terlihat ingin menangis
"bohong…"
"Zahid bohong…" katanya sambil memukul pelan pundak ku
"syak…"
"kamu bohong…" katanya menjerit
belum sempat aku selesai bicara, dia memotong perkataanku
"kenapa…?" tanyanya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya
"kenapa…?"
"kenapa waktu itu kamu biarkan aku di bawa pergi"
"kenapa…? hah!" katanya dengan tangisan yang mulai deras
"sebenarnya…" kataku terputus
"aku tak ingin memberitahunya tentang masalah ini"
"aku tak ingin memberitahunya tentang Amirah dan Zahwa yang di ancam oleh Raihan"
"aku tak ingin dia mengkhawatir kan orang lain"
"dan… aku tak ingin dia menyalahkan dirinya sendiri, karena… ini merupakan masalah dia" kata hatiku
"dia"
"aku hanya ingin Syakirah mengkhawatirkan dirinya terlebih dahulu" sambung ku, mulai menitikkan air mata
"ini semua salahku dan bajingan itu"
"aku tak butuh di maafkan oleh syakirah"
"tapi bajingan itu harus menepati janjinya dan meminta maaf pada syakirah" kataku dalam hati dengan perasaan geram
"maaf syakirah…"
"maaf aku sudah meninggalkanmu"
"maaf waktu itu aku tak menepati janjiku"
"maaf karena telah membuat mu tersiksa"
"dan…"
ucapku terputus
"maaf… karena tidak bisa menjaga dan melindungi mu"
air mata ku yang tak terbendung mulai bercucuran
"maaf… sekali… lagi…" ucapku terbata-bata lalu menundukkan pandangan
"haa…"
"maafin Syakirah…" ucapnya tidak jelas karena bercampur dengan suara tangisannya
"maaf… hiks"
"karena… hiks"
"mem… hiks …buat… hiks"
"Zahid… hiks"
belum sempat ia menyelesaikan perkataannya.
ku genggam kedua tangannya, tetesan air mata terus membasahi kedua pipinya dan menetes ke atas tangan ku
ku coba untuk menenangkan Syakirah, tak tahu saat ini perkataan apa yang harus ku ucapkan
tak dapat memikirkan hal lain, segera kudekapkan Syakirah ke pelukan ku, ku peluk dia dengan erat, mencoba untuk memberikan ke hangatan sekaligus ketenangan untuknya
tak kuasa mendengar tangisan Syakirah yang masih histeris, aku tak dapat menahan diri ku sebagai seorang lelaki untuk tidak menangis di depan seorang gadis. akhirnya mata ini harus mengeluarkan air mata yang sudah dari tadi kutahan
aku mendekapnya dengan erat seperti aku tak ingin kehilangan dirinya untuk kedua kalinya lagi, kini kami menangis dalam dekapan dengan perasaan sama-sama bersalah
*****
cukup lama ku peluk erat dia, kini tangisannya sudah mulai mereda
"Zahid janji sama syakirah" kataku sambil melepaskan rangkulan ku darinya
"Zahid janji nggak akan ninggalin Syakirah lagi"
kataku padanya sambil menyeka air mata yang masih membekas di pipinya
"beneran…?" tanyanya padaku
"beneran honey…" kataku dengan menggodanya
mendengar pernyataan tersebut, seketika muka Syakirah memerah menunjukkan rasa malu yang begitu dalam
"lah, kok mukanya merah?" tanyaku menggodanya
"soalnya tadi Zahid manggil Syakirah 'honey'…"
katanya malu-malu
"lah emangnya kenapa…?" tanyaku aneh
"kan Syakirah nanti jadi istri Zahid"
"apa salahnya kan, kalau seorang suami, memanggil istrinya begitu?"
mendengar hal itu mukanya terlihat merah padam, lebih merah dari sebelumnya, pokoknya penampilannya saat itu sangat manis
"maaf ya Syakirah, kemaren aku tidak bisa berbuat apa-apa" kataku dengan perasaan bersalah
seolah memahami apa yang kukatakan, dia menggelengkan kepalanya kearah ku sambil tersenyum
"pokoknya Zahid minta maaf ya" kataku memohon maaf pada Syakirah seraya membungkukkan sebagian tubuhku di depannya
"enggak, enggak apa-apa" ucapnya sambil tersenyum
"Syakirah percaya sama Zahid" ucapnya dengan percaya diri
"terimakasih ya sudah mempercayai Zahid" kataku sambil mengelus kepalanya yang terselubung oleh hijab hitamnya itu
lagi-lagi mukanya memerah, menunjukkan perasaan malu. kejahilanku yang tiba-tiba muncul membuatku ingin mengisengi nya, ku percepat elusan ku sehingga membuat jilbabnya tampak acak-acakan
"Zaaahidd…" panggilnya manja
ku hentikan elusanku lalu tertawa melihat tingkah lucunya itu, lalu dia pun ikut tertawa bersamaku
"syukurlah… dia sudah seperti semula" ucapku syukur dalam hati
"jadi Zahid… bagaimana nanti?" tanyanya padaku
"bagaimana apanya?" tanyaku kembali
"masalah syakirah?"
"owh…" responku dengan senyuman kecil
"takkan kubiarkan calon istriku bersama dengan orang itu" kataku sambil beranjak dari tempat ku duduk
beranjak dari tempat tidur lalu menuju pintu keluar kamar, terasa perasaan seperti ada yang sedang mengawasi kami
"kenapa hid?" tanya Syakirah keheranan melihatku berjalan jinjit ke arah pintu
ku acungkan jari telunjukku ke arah mulut sebagai pertanda isyarat untuk diam
seperti memahami apa maksudku, Syakirah menganggukkan kepalanya dengan senyuman kecil di wajahnya
klak… suara gagang pintu ku arahkan kebawah, kubuka pintu dengan cepat
bruk…
terlihat dua orang gadis yang tiba-tiba terjatuh di depan pintu, seperti anak kucing yang menunggu majikannya membuka pintu untuk memberikannya makan siang
"wah wah wah" ucapku dengan senyuman sinis
"hehehe"
"enak ya dengar pembicaraan orang"
"eh… hehehe" tawa Amirah sambil menggaruk-garuk kepalanya
"jadi apa yang pantas kita lakukan kepada mereka berdua" kataku sambil menyerahkan kedua anak kucing ini ke Syakirah karena telah diam-diam menguping kami berdua
"maaf…!" kata Amirah sambil meloncat ke arah Syakirah dan bersujud memohon maaf
"hmm… bagaimana kalau kau menjauhi dia, sayang" canda Syakirah pada Amirah
"benar, aku benar-benar minta maaf" katanya dengan sangat memohon
aku dan Syakirah saling memandang satu sama lain, dan tertawa lepas
"hahaha"
"nggak kok cuman bercanda" kata Syakira dengan tawanya yang tulus
aku yang melihat hal itu hanya ikut tertawa kecil
"hei"
"Zahid apa yang kau lakukan dengan Syakirah" bisik Zahwa pelan ke telingaku
"hmm… tidak ada" kataku
sesaat aku terdiam
"hanya kebahagiaan yang kuberikan padanya" kataku bersambung
mendengar hal itu Zahwa hanya menatapku keheranan
mungkin yang dapat kupikirkan dari pandangan Zahwa kepada ku ialah
"kebahagiaan…?"
"kebahagiaan apa maksudnya?"
itulah yang mungkin dapat aku gambarkan saat melihat ekspresi wajah Zahwa saat memandangku dengan muka bingung
"Syakirah…!!!"
"beraninya kau mempermainkanku" kata Amirah bercanda
Syakirah hanya membalasnya dengan menjulurkan lidahnya ke Amirah
melihat hal itu Amirah mencoba untuk menangkapnya dan menerjangnya
ya dengan mudah Syakirah dapat menghindari tangkapan Amirah
"hahahaha" tawaku lepas
seketika semua orang yang ada di dalam kelas terdiam, mereka yang mendengar tawaku memandang ke arahku dengan tatapan bingung
"hahaha… maaf" kataku tertawa sambil menyeka air mata yang keluar karena tawaku yang begitu lepas
"hahahaha"
mereka ikut tertawa saat melihatku tertawa barusan
cukup lama kami tertawa, terlihat kak Aisyah mengintip kami dari luar, terlihat senyuman bahagia dan kepercayaan yang di tujukannya kepada ku, lalu beranjak pergi meninggalkan kami
cukup lama kami tertawa lepas, belum pernah aku merasakan sebahagia ini
..."if you hear me Allah, i have a hope for you, just two i need"...
..." i need we can like this for now and forever, and i hope i can with them forever"...
kataku dari lubuk hati terdalam, baru kali ini aku berharap begitu besar akan suatu hal, sebelumnya aku tak pernah meminta hal lain yang kupikir begitu tidak penting bagiku
"Zahid" panggil Syakirah
dia datang ke arah ku lalu menggenggam tanganku
"thanks"
"you was helped me" bisik Syakirah pelan di telingaku
"sure" kataku senang
"because you are my wife" kataku sambil mengusap kepalnya itu
"pasti, akan ku lindungi syakirah"
"lalu ummi dan Abi nya Syakirah yang memaksanya untuk menikah, akan ku buat mereka menyesal karena telah mengambil keputusan seperti ini"
"dan kau Raihan siapkan kata-kata terakhirmu" kataku dalam hati dengan nada emosi
*****
"pasti syakirah…"
"pasti akan ku balas rasa penderitaan mu itu…"
kataku sambil mengusap kepala syakirah