Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 32 - moved cry



" eh… sejak kapan aku nulis… " batinku dalam hati


" Zahid… itu surat, beneran kamu yang nulis " bisik Syakirah pelan di telingaku


" mungkin… " ucapku ragu


" itu apa Mir " tunjuk ummi Amirah ke dalam kotak yang masih menyisakan sesuatu di dalamnya


Amirah kembali memeriksa kembali isi kotak merah yang kuberikan padanya


tidak tahu kenapa, tiba-tiba dia menangis begitu kencang setelah memeriksa isi kotak tersebut


" kenapa nak ? " tanya ayah Amirah terkejut diikuti rasa khawatir terhadap putrinya yang tiba-tiba saja menangis


Amirah hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba menahan tangisannya tersebut dengan tangannya


" kenapa Mir ? "


"nggak hiks… apa- hiks… apa " ucap amirah dalam keadaan menangis


" Wayo Zahid… " kata kak Aisyah bercanda


melihat putrinya yang menangis, ummi dan ayah Amirah menghampiri putrinya tersebut lalu memeluknya erat


aku hanya terdiam mematung, tak tahu apa yang harus ku lakukan dalam keadaan seperti ini


Amirah yang tiba-tiba saja melepaskan pelukannya dari rangkulan orang tuanya, dia berlari ke arahku lalu melompat ke arahku


" eh… " spontanku terkejut saat dia tiba-tiba saja melompat ke arahku


spontan saja aku mengambil posisi siap untuk menangkapnya


bruk…


kami berdua terjatuh bersama


" aduh… Amirah "


" maaf " ucapnya meminta maaf


posisi Amirah yang sekarang berada di atas tubuhku, dia menatap tajam mataku


aku hanya terdiam dengan posisi ku saat ini, tidak tahu ke mana pandangan ini harus ku arahkan


" Zahid… " panggil Amirah dengan wajahnya yang perlahan mendekat ke pandanganku


" i… iya, kenapa ? "


" Amirah… ? "


wajahnya yang makin lama makin dekat denganku


" hei Amirah, are you okay ? "


tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, kini wajahnya hanya berkisar beberapa centi dari wajahku


" Amirah… " panggilku mencoba menyadarkannya


" heem… "


" sabar dulu ya kalian berdua " sela kak Aisyah dengan menarik pelan Amirah menjauh dari tubuhku


" eh… " sahut Amirah terkejut karena tubuhnya yang tiba-tiba di tarik kak Aisyah


" sabar… belum saatnya " kata kak Aisyah menasehati kami


" makanya cepat nikah " sambung ummi Amirah bercanda


" hihihi… "


" Syakirah… " panggilku dalam posisi masih terduduk


" huft… " ucap Syakirah membuang muka dariku


" eh… Syakirah "


" hihihi… sepertinya ada yang cemburu nih " ucap ummi Amirah tertawa


" nanti jangan saingan ya " jelas ayah Amirah menasehati mereka berdua


aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Syakirah


aku bangkit dari posisiku yang dari tadi masih terduduk di bawah


" iya… maaf-maaf " pintaku pada Syakirah dengan mengelus lembut kepala Syakirah


" Zahid… pilih kasih " ucap syakirah manja dengan ekspresi cemberut


" hahaha… nggak kok "


" jadi ? " tanya ummi Amirah


" jadi kenapa mi ? " tanya ummi Syakirah kembali


" kapan nikahnya ? " tanya ummi Amirah dengan nada sedikit serius


" eh… " ucapku terkejut


" nggak nggak nggak… "


" jadi mau kapan ? " tanya ummi Amirah lagi kepadaku


aku hanya terdiam, tak tahu jawaban apa yang harus ku berikan


" sabar ummi " bela ummi Syakirah


ummi Amirah hanya terdiam, tak mengatakan sepatah kata pun. wajahnya yang tadi serius mendadak tersenyum ke arah ku


" hahaha… nggak kok, cuman mau ngetes aja tadi "


" aduh… gawat juga kalau punya mertua seperti ini " batinku dalam hati


" ya udah kami pamit dulu ya " pamit ayah Amirah


" om itu pindahnya jadi ? " tanyaku mengenai kepindahan mereka nanti


" tetap jadi "


" jadi Amirah ? " tanyaku tak percaya


" untuk itu… " kata ayah Amirah terputus lalu menarik ku menjauhi mereka


" Zahid, mungkin Amirah akan kami tinggal di sini dan lagi pula rumah kami tidak ada yang jaga "


" bukan rumah dinas om ? "


" bukan, itu rumah kami "


" jadi… "


" om titipkan putri om sama Zahid, tolong jaga dia, rawat dia, belai dia, tolong bersikap adil dengannya, kan Zahid nanti bakal nikah dengan Syakirah juga kan jadi tolong jangan pilih kasih terhadap siapapun. kamu adalah imam bagi mereka berdua dan terakhir… "


" …tolong jadilah seseorang yang dapat menanggung beban mereka berdua "


" tolong jadi seseorang yang di butuhkan bagi Amirah dan Syakirah " kata ayah Amirah menasehati ku sambil mengelus lembut kepalaku


sebuah kata-kata yang tiba-tiba saja keluar dari seseorang yang suatu saat bakal menjadi mertuaku membuat ku tersentuh, tidak tahu perasaan apa yang ku rasakan saat ini, tetapi rasanya tiap kalimat itu sangat bermakna bagiku


mataku berkaca-kaca, tak tahan setelah mendengar nasehat yang membuat hatiku teguh terhadap keputusan yang ku ambil


" makasih… " ucapku mulai menitikkan air mata


" makasih udah percaya sama Zahid… "


" …makasih telah memberikan Zahid sebuah tanggung jawab yang baik "


" Zahid… " panggil ayah Amirah, lalu menarikku ke dalam dekapannya


" hiks… sudah lama aku tak merasakannya " batinku dalam hati


" kehangatan seorang ayah terhadap putranya "


cukup lama kami berpelukan


" om… "


" oh iya maaf " ucapnya sambil melepaskan ku dari pelukannya


" maaf-maaf "


"enggak… enggak apa-apa kok "


" ya udah, yuk… " ajak ayah Amirah kembali ke sana


aku hanya mengangguk menyetujuinya


" ngomong-ngomong, jangan panggil om lagi… "


" panggil aja ayah " kata ayah Amirah yang berhenti tiba-tiba hanya untuk mengatakan hal itu


" baik… "


" …ayah " ucapku dengan berjalan tepat dibelakangnya


" ke mana kalian, dari tadi di cariin nggak ada… "


" di telponin nggak di angkat-angkat "


" aduh… " sahut ummi Amirah marah kepada kami setibanya kami di sana


" jadi ke mana kalian ? " tanya ummi Amirah lagi


" eh… "


" hahaha cuman jalan-jalan doang " jawab ayah amirah memberikan alasan


" huh… dasar, kayak mana kalau nanti punya menantu kayak gini nih… " sambung ummi Amirah bercanda


aku hanya tersenyum ke padanya sebagai permintaan maaf ku


" ngomong-ngomong Zahid… "


" ini kunci rumah kami " kata ayah amirah sambil menyerahkan beberapa kunci kepadaku


" eh… untuk apa ? " tanyaku aneh


" kan nggak mungkin lagi Zahid tinggal di rumahnya Syakirah kan "


" tapi, itu kontrakan Zahid… "


" udah… itu kan bayar, mumpung ada gratis syukur bisa hemat-hemat uang saku


" sama itu ada kunci kamarnya Amirah " bisik pelan ayah amirah kepadaku


" eh… " gumamku heran dengan ucapan ayahnya Amirah


" jadi Syakirah, kayak mana dong ? "


" Syakirah ikut aja " izin ummi amirah kepada Syakirah


" ya udah, kami pamit dulu ya " pamit ummi Amirah


" Amirah di sini aja, jawani Zahid " perintah ayah amirah kepada Amirah


Amirah hanya mengangguk kecil sebagai pertanda setuju


ku salami mereka berdua sebelum pergi meninggalkan kami


" ya udah bye "


" ummi… abi… hati-hati " kata Amirah dengan melambaikan tangannya ke arah mereka


" kami juga ya… mau pamit "


" eh… cepat kali Abi " seruku


" nggak apa-apa sih, tadi cuman kebetulan aja…… "


" jadi kami sekalian lah nyamperin kalian " sambung ummi Syakirah


" owh gitu… "


" ya udah hati-hati ya ummi… abi… " kataku menyalami mereka berdua


" ya, jadi habis ini kalian mau ke mana ? "


" mungkin jalan-jalan ummi, keliling-keliling sebentar aja "


" Aisyah, kamu bagaimana ? " tanya ummi kepada kak Aisyah


" Napa mi ? "


" nggak, mau balik sama ummi atau mau temani orang ini "


" temani orang ini aja mi… "


" …sekalian mau lihat perkembangan orang ini "


" hihihi " tawa kecil kak Aisyah


" aduh kak, ini masih sehari loh… "


" …bahkan belum sehari pun, baru beberapa jam yang lalu terjadi " kataku dalam hati


" hmm… ya udah Abi sama ummi pamit dulu ya "


" Zahid… "


" …jaga mereka " perintah ayah padaku


hanya senyuman kecil ku berikan sebagai pertanda 'siap' untuk menerima tugas itu


" ya udah… "


" bye… "


" assalamualaikum " ucap ummi dengan melambaikan tangan ke arah kami


" wa'alaikumsalam " balas kami berempat bersamaan


" sekarang bagaimana ? " tanya kak Aisyah


" nggak tahu sih, tapi masih ada yang harus Zahid beli "


" ya udah yuk lanjut jalan " ajakku pada mereka berdua


" hmm… "


" iya "


Syakirah yang berada di sebelah kananku dan Amirah yang berada di sebelahku ku gandeng tangan mereka berdua dengan perasaan bahagia


kak Aisyah yang ikut berjalan bersama kami, mengikuti kami dari belakang


" Syakirah Amirah, thanks ya " kataku pelan pada mereka berdua


sebuah pemandangan yang indah untuk kulihat, sebuah senyuman seperti bidadari di sebelah kanan dan di sebelah kiri ku yang di tuju kepada ku


" heem… " jawab mereka berdua kompak