Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 21 - regret



aku berdiri di depan pintu, dengan pakaian yang basah kuyup karena hujan


"tunggu bentar ya hid" kata Syakirah kepadaku lalu segera masuk untuk mengambil handuk untukku


tidak menunggu lama, Syakirah membawakan sehelai handuk lalu memberikannya kepadaku


"nah…" kata Syakirah dengan menyerahkan handuk yang di bawa nya


"kalau udah kering langsung mandi aja, nanti masuk angin" perintah Syakirah ke padaku


aku hanya mengangguk menuruti apa yang Syakirah katakan


setelah ku rasa kering aku bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri


** di ruang tamu **


"ada apa dengan Zahid" tanya Abi Syakirah sambil menyeruput segelas kopi hangat


"nggak tau bi"


"Syakirah aja terkejut, tiba-tiba Zahid udah nggak ada di kamar tadi pagi" kata Syakirah yang mengetahui apa-apa


"terus apa hubungannya dengan Amirah?" sambung Ummu Syakirah menanyakan hubungan Amirah dengan semua ini


"hubungan apa?"


"hanya kawan sekelas" jawab Amirah


"tapi kan nggak mungkin sikap Zahid sampai seperti itu" tanya ummi Syakirah lagi


Syakirah menggelengkan kepalanya menandakan tidak tau apa-apa lebih dari itu


** di kamar mandi **


aku yang masih terpukul dan tidak terima atas kepergian Amirah


"sial…!"


"kenapa…" kataku menyalahkan diriku sendiri


karena hawa yang begitu dingin aku segera membersihkan tubuhku dan memakai pakaian ganti


sementara ini aku tidak kembali ke kost dan tinggal di rumah Syakirah, sejak kejadian pesta waktu itu


** di ruang tamu **


"Zahid udah siap belum?" tanya ayah Syakirah sambil melihat ke arah dapur


"panggil dia kesini" perintah ayak Syakirah kepada Syakirah


Syakirah mengangguk lalu menuju ke belakang memanggil Zahid


"Hid di panggil abi" kata Syakirah


"iya bentar ya" kataku mengiyakan sambil terus mengeringkan rambut dengan handuk


"jadi, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Syakirah kepadaku


"nggak apa-apa" kataku menahan perasaanku tentang Amirah


"owh"


"ya udah yuk cepat" kata Amirah lalu pergi


melihat Amirah pergi terlebih dahulu aku menyusulnya dari belakang


terlihat Abi, ummi dan kak Aisyah sudah berkumpul di ruang tamu


"sini dek" panggil kak Aisyah mempersilahkan ku duduk


"duduk Hid" pinta Abi Syakirah padaku


segera aku mengambil posisi untuk duduk


"itu nak, di minum dulu"


"biar hangat" suruh ummi syakirah untuk meminum cokelat panas yang sudah di hidangkan untukku


"makasih ummi" kataku sambil menyeruput cokelat panas yang sudah di buatkan untukku


entah kenapa wajah Syakirah terlihat memerah, begitu juga dengan umminya yang terlihat dari matanya berbunga-bunga


"haduh kalian ini"


"belum saatnya…" kata Abi Syakirah mengeluh


aku hanya terdiam keheranan melihat sikap Syakirah dan umminya, begitu juga dengan abinya yang terus menggelengkan kepala melihat sikap mereka berdua


"sudah-sudah"


"mari kembali ke topik pembicaraan kita" kata Abi Syakirah mencoba mencairkan suasana


"jadi Zahid…"


"siapa Amirah itu?" tanya Abi Zahid memulai pembicaraan


saat mendengar nama Amirah aku tertunduk lemas


"dia temanku"


"teman sejak dari kecil" jawabku lemas


"dengan kata lain dia teman masa kecilmu" sambung Syakirah


"ya" jawabku mengiyakan kesimpulan yang di katakan Syakirah


"terus udah sampai mana hubungan kalian…"


"udah pernah ciuman…"


"udah pernah…"


"ummi apaan sih yang ummi tanya" kata Syakirah memotong perkataan umminya


tak tahu harus menjawab apa, pernyataan ummi Syakirah benar-benar membuatku bingung harus di jawab apa


"maaf nak"


"ummi Syakirah kadang-kadang suka kumat kalau lagi bersemangat" sambung Abi Syakirah


"iya nggak apa-apa bi" kataku atas sikap umminya Syakirah


"jadi hubungan kalian udah sampai mana?" tanya Syakirah, sebuah pertanyaan yang sama di lontarkan kedua kali untukku


"hanya sekedar teman" jawabku lemas


"temanan aja?" tanya Syakirah dengan perasaan tenang dan ingin tahu lebih


"nggak sih"


"terus?" tanya nya lagi


"teman dari kecil" jawabku


"haah…"


Syakirah menghela nafas lega saat mendengar jawabanku


"terus…"


"Amirah sekarang bagaimana?" tanya ummi Syakirah


"nggak tau mi"


"Zahid nggak tau Amirah ke mana"


"Amirah pergi…"


"semua salah Zahid" kataku dengan penuh penyesalan


lagi-lagi aku menitikkan air mata untuk kesekian kalinya


ummi Syakirah datang menghampiriku lalu merangkul badanku


aku merasakan kehangatan seorang ibu kepada anaknya


cukup lama aku tak kembali ke rumah


"it's ok son"


"you can cry as much as you want"


"but…"


"please don't Blame yourself"


"you not wrong"


"this isn't your wrong"


"so please don't blame yourself"


nasehat ummi Syakirah


perasaan ku yang hancur perlahan terasa membaik, tangisanku yang terus mengalir karena rasa bersalahku atas Amirah perlahan mulai mereda


entah kenapa rasanya kehangatan seperti ini yang kucari selama ini


nasehatnya yang membelaku dan terus mendukungku seperti penyemangat dari seorang ibu yang mendukung penuh anaknya untuk melakukan hal yang terbaik


"thanks ummi" ucapku sambil mendekap ku erat


entah kenapa mata ini ingin kembali mengeluarkan air mata, bukan air sedih karena merasa bersalah


tetapi air mata kehangatan seorang keluarga yang telah lama tak kurasakan


"hiks…"


aku menangis kembali


tangis ku pecah seperti tangisan seorang bayi yang ingin meminum susu


"it's ok son"


"it's ok" ucap ummi Syakirah yang memelukku makin erat


aku tak pernah berpikir kalau aku akan di sambut hangat oleh keluarganya Syakirah


kupikir mereka akan membenciku karena perbuatan ku terhadap pernikahan Syakirah waktu itu


"terima kasih" ucapku dalam hati


tak mau kalah dengan umminya


Syakirah menghampiriku dan memelukku dari belakang


"eh…"


"Syakirah…" panggilku


"hmm… kenapa?" respon Syakirah dan melontarkan pertanyaan kepadaku


"kamu ngapain?" tanyaku khawatir


"emangnya Syakirah lagi ngapain" katanya memintaku untuk menjawab pertanyaanku sendiri


"lagi meluk"


"ya, terus kenapa?" tanyanya dalam posisi memelukku


"oi oi oi"


"nih anak udah…"


"aduh dia gak sadar apa yang sedang di lakukannya" kataku dalam hati


"Syakirah-Syakirah"


"ya-ya"


"Syakirah lagi peluk Zahid lo"


"ya pasti, emangnya kenapa…?"


"Syakirah nggak merasa aneh apa?" tanyaku padanya


"nggak"


"susah amat nih nyadar kan anak satu ini" keluhku


"Syakirah bukan mahram Zahid lo"


"jadi Syakirah nggak boleh peluk Zahid suka-suka" jelasku to the point'


"siapa bilang…"


"Zahid kan suami Syakirah"


"lupa sama perkataan yang Zahid bilang waktu itu" katanya sembari membuat ku mengingat kembali kalimat perkataan yang pernah ku katakan pada Syakirah


"Zahid janji akan selalu melindungi Syakirah" sebuah kalimat yang tiba-tiba muncul di pikiranku


"nggak mungkin kan"


"itu pasti aku keceplosan bilangnya" kataku menyesal karena telah mengatakan hal yang membuat Syakirah salah paham


"dah ingatkan" kata Syakirah


"iya udah tapi itu kan hanya perkataan" kataku memberikan alasan yang lain


"heeh…"


"laki-laki itu megang janji lo"


"kalau udah bilang 'janji' berarti janji dong"


"kan janji harus di tepati"


aku kehabisan pikiran untuk mencari jawaban untuk menyangkal pernyataan Syakirah


"ok ok ya Allah, aku nyerah…" ucapku dalam hati sambil memasrahkan keadaanku kepada Allah


"eh…"


tiba-tiba ummi Syakirah mendorongku dari pelukannya


"kamu ngelamar Syakirah"


kata ummi Syakirah semangat sambil mengguncang badanku


"Zahid ngelamar Syakirah…"


"aahh… kapan-kapan?" tanya ummi Syakirah semangat


"sebelum kejadian waktu itu mi" sambung Syakirah


"abiii…"


"anak kita di lamar"


aku yakin bakal di gimbal nih sama abinya Syakirah


"Nun, shelter kayaknya kita bakal jumpa lagi" kataku membayangkan pertemuan ku dengan mereka


"syukurlah…" kata ayah Syakirah


"eh…" responku heran


perlahan ku buka mataku dan melihat ke arah abinya Syakirah


"syukurlah…" kata abinya Syakirah mengucap syukur sambil menyeka air matanya yang keluar karena terharu


"pesta"


"tunangan…"


"cepat Abi kita harus cepat menyusun jadwal tunangan Syakirah" kata ummi Syakirah lepas kendali


"ya bentar, Abi telpon teman abi bentar biar surat undangannya cepat di cetak" kata Abi Syakirah mendukung usulan ummi


"eh…"


"eehh……"


"ummi…"


"abi…"


"sebenarnya…" kataku mencoba memberi tahu yang sebenarnya


"udah bi?" tanya ummi antusias


"ya bentar belum di angkat"


"sebenarnya Zahid…" aku tak bisa berbicara karena antusiasnya ummi dan Abi Syakirah yang menanggapi kalau aku sudah melamar Syakirah


"abi…! ummi…!"


"Zahid itu mau ngomong" teriak Syakirah


mereka berdua akhirnya tenang


"ya, kenapa nak?"


"sebenarnya… Zahid…"


"Zahid bukan melamar syakirah"


"waktu itu Zahid tidak sengaja bicara seperti itu"


"karena ingin menyemangati Syakirah" kataku menjelaskan pada ummi dan Abi Syakirah atas kesalahpahaman yang terjadi


"owh…"


"gitu…"


"salah paham ya…" kata ummi Syakirah yang tiba-tiba sudah memegang parang dan tingkat di kedua tangannya


"u… u… u… ummi…"


"i… i… i… itu…"


"apaan…?" tanyaku ketakutan


entah sejak kapan parang dan tongkat itu bisa berada di tangan ummi


"owh… bukan apa-apa"


"cuman mainan kecil"


"ngomong-ngomong Zahid mau yang mana?"


"yang parang sebelah kanan atau tongkat sebelah kiri?" tawar ummi Syakirah


niat membunuh ummi Syakirah benar-benar kuat


"ngo… ngo… ngomong-ngomong"


"i… i… i… itu untuk apa ya u… u… ummi?" tanyaku pada ummi menanyakan alasan kenapa kedua senjata itu ada di tangan ummi


"bukan untuk apa-apa"


"cuman mau menghukum serangga yang barusan mengatakan 'dia melamar anak saya karena keceplosan' "


"mi jangan pakai tongkat"


"nggak baik" kata Abi Syakirah memperingati ummi Syakirah


"ini pakai ini aja" ucap ayah Syakirah sambil menyerahkan suatu barang


"a… a… abi"


"Abi masih sadarkan…"


"to… to… tolong Zahid bi"


no respon dari Abi Syakirah


"jadi Zahid mau yang mana" tanya ummi Syakirah kedua kali


"loh loh loh…"


"itu mi, sejak kapan ada celurit" kataku menunjuk tangan ummi Syakirah yang sebelah kiri


"nggak apa-apa"


"lagi pengen ganti senjata apa"


"kurang greget kalau pakai tongkat" kata ummi Syakirah menjelaskan padaku


baru kusadari yang merekomendasikan celurit itu adalah abinya Syakirah


"Syakirah canti" kataku sambil menggoda


"ba… ba… bantu Zahid dong"


"itu orang Abi sama ummi mau membunuh Zahid loh" kataku meminta tolong pada Syakirah


"hmm… pikirkan aja sendiri" jawab Syakirah ngambek


"mati aku" ucapku dalam batin


glekk…


keringat dingin terus bercucuran hingga membuat bajuku basah lagi


glekk…


"habislah aku nih…" kataku ketakutan


"jadi mau yang kanan apa kiri?"


"atau dua-duanya?" tanya ummi Syakirah dengan Pampang senyum seorang psikopat alias pembunuh


"Wayo… monggok di pilih atuh…"