Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 19 - i'm oke



"syukurlah"


"masih sempat"


"kau tak apakan?" tanyaku pada syakirah yang berdiri di belakangku


"huh" Syakirah membuka matanya dan terlihat kebingungan


"sepertinya kau baik-baik saja" kataku saat melihat Syakirah dalam kondisi yang baik


"huh… Zahid"


Syakirah masih tampak bingung atas insiden barusan yang terjadi


"hei Raihan"


"kau manusia atau hewan sih?"


"masih ada hati mau membunuh orang" kataku pada Raihan dengan suara agak melemah


"hei Syifa"


"bisa kau panggilkan mereka" kataku meminta tolong Syifa untuk memanggilkan orang-orang yang berada di luar


"i… iya" jawabnya dengan segera memanggil orang-orang yang ku minta


uhukk…


terlihat darah tiba-tiba keluar dari mulutku


"tidak buruk"


"hei Zahid" panggil Syakirah


"kau berdarah" katanya dengan menunjuk bagian perutku yang meneteskan darah


tiba-tiba


kami dari kepolisian menerima laporan ada kasus penipuan atas nama Raihan Syah Alfarisi


"itu orang nya pak" tunjuk Dzaky ke arah Raihan yang berdiri mematung


"maaf kami harus menahan anda atas kasus penipuan anggaran perusahaan dan terkait kasus penyerangan yang membabi buta barusan"


"tolong ikuti kami ke Polsek untuk penyelidikan lebih lanjut" kata polisi memberikan keterangan kepada Raihan


Raihan terdiam tak berkutik saat polisi membawanya ke kantor Polsek


"bye-bye" kataku bangga dengan melambaikan tangan


"hei Zahid"


"hah, kenapa sih?" tanyaku pada syakirah yang dari tadi terus memanggil-manggil namaku


"kau berdarah" katanya sambil menunjuk ke arah perutku


aku tak mau ambil pusing dengan memedulikan diri sendiri


"ya aku berdarah, terus...?" tanyaku ke Syakirah


"terus… kau bodoh ya?"


"kau lagi berdarah, setidaknya cepat hentikan darah yang terus mengalir dari perutmu itu"


aku tak kepikiran sampai situ


"padahal cuman darahnya apa yang harus di khawatirkan kali sih" pikirku


"cepat" bentak Syakirah khawatir


"ya ya Syakirah"


perlahan ku cabut pisau yang masih tertancap di perutku, lumayan cukup dalam. rasanya sedikit sakit saat mengeluarkan pisau dari tubuhku


pisau yang tertancap di perutku sudah keluar dan darah yang mengalir keluar dari perutku semakin deras, perlahan ku coba atur pernafasan dan menekan perutku mengantisipasi darah agar tidak keluar lebih banyak


cukup lama ku coba, tapi sayang nya tidak bisa darah terus bercucuran keluar dari tubuh ku


perlahan kesadaran ku mulai menghilang mataku melihat bayang-bayang mereka, badanku seperti tak sanggup menopang tubuh ini lagi, tak sanggup menahan nya terlalu lama


ku pasrahkan tubuh ini tumbang dengan darah yang terus mengalir dan kesadaran ku mulai menghilang


"sepertinya udah waktunya ya, Nun" kataku dalam hati sambil mengingat kejadian sama yang pernah kualami sebelumnya


*****


"huh…"


"tempat ini lagi" kataku sambil memegangi kepalaku yang pusing


tempat yang familiar bagiku, ini kedua kalinya aku berkunjung ke sini


"sudah sadar?" tanya seseorang dari atas


ku dongak kan kepalaku ke atas, terlihat seperti bayang-bayang yang sedang terbang


"huh…"


"baiklah-baiklah aku sudah siap…"


"Nun…" kataku pasrah


sesuai apa yang di katakan Nun pada pertemuan kami yang pertama, setelah aku menepati janjinya dia akan benar-benar menjemputku


"Nun…"


"ayolah, dia sedang ada urusan sekarang"


"aku Shelter… aku yang menggantikan Nun untuk sementara waktu" kata nya memperkenalkan diri


"ok… ok mau Nun ataupun Shelter aku sudah siap" kataku pasrah dengan menawarkan jiwa ku untuk segera pergi


"hei ayolah…"


"kita baru saja bertemu dan banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu" kata malaikat yang mengenalkan diri nya dengan sebutan Shelter itu


"ngomong-ngomong kau dari jurusan apa?" tanyaku mengenai tugasnya


"aku yang mengurusi keinginan seseorang, dengan kata lain harapan-harapan orang yang berharap itu berada di bagian tugasku" jelasnya mengenai tugasnya


"ok ok langsung saja ya"


"udah capek mati-hidup"


"mati lagi…" kataku sambil merebahkan badan


"ayolah kan sudah kubilang tadi, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu" katanya menanggapi perkataanku


"dan kau cukup membuat ku sedikit tertarik"


"hah… kau tertarik pada seorang anak SMA yang nggak ada apa-apa nya ini" kataku menunjuk diri sendiri


"hahaha…"


"memang kau benar-benar menarik"


"merendah untuk meroket…"


"aku suka itu" kata Shelter puas


"ya baiklah terserah kau" kata ku yang tak tahu harus berkata apa lagi


"jadi…"


"apa yang kau ingin tahu dariku?" tanyaku padanya yang dari tadi terus mengusik ku


"se-mu-a-nya…" katanya


"baik-baik"


"ku ceritakan semuanya"


"lahir di Medan tanggal 17 Juni 2006"


"anak dari keluarga yang biasa-biasa aja"


"sekarang sekolah di tingkat SMA"


"dan juga…"


"bukan hal itu yang ingin ku ketahui" katanya memotong pembicaraanku


"jadi…?" tanyaku lebih jelas


"ya kisah romantimu lah" katanya semangat


"kisah romantis apa?" tanyaku tak memahami maksud perkataannya


"ya kisah percintaan mu dengan gadis-gadis di sekolah" pintanya padaku untuk memberitahukan semuanya


"maaf nggak ada pula" kataku yang tak memiliki kisah romantis apapun


karena selama ini yang ku lalui bukanlah cerita romansa ku melainkan masalah hubungan para sahabatku yang harus ku selesaikan


"hmm… itu pun boleh"


katanya lalu turun ke bawah dan duduk di depanku


"ayo duduklah" kata Shelter menyuruhku duduk


aku menuruti permintaannya dan duduk di depannya


"tunggu bentar ya"


entah apa yang ingin di lakukan nya, dia menyuruh ku untuk menunggu sesuatu hal


dia menjentikkan jarinya dan secara tiba-tiba muncul sebuah teko berisi teh dan dua gelas


"kau bisa sihir" kataku saat melihat apa yang di lakukan nya barusan


"tentu saja"


"ya udah kita mulai" mintanya padaku untuk memulai bercerita


"mulai dari mana?" tanyaku menawarkannya


"dari kamu aja dulu"


"langsung ke intinya saja"


"baik baik" ucapku mengiyakan permintaannya


"aku Zahid menyukai seorang gadis"


"teman sekelas yang alim"


"namanya Zahra wanita yang alim dengan cadar yang menutupi wajahnya"


"lalu temanku imam, sama halnya denganku"


"menyukai Zahra tapi perasaannya tak tersampaikan"


"memiliki hubungan cinta segitiga dengan teman sekelasku juga"


"namanya Zahwa seseorang yang menyukai Imam tapi Imam tak menyadari perasaannya"


"kemudian Syakirah sempat mengalami masalah dalam hubungan dengan seorang bajingan"


"mungkin sekarang dia udah di jeruji"


"Syakirah mungkin terikat padaku, tapi aku tak terlalu memedulikannya"


"terus… teman masa kecilku Amirah"


"selalu menempel padaku"


"belum pernah mengalami hubungan percintaan"


"dan sekarang keberadaannya tidak di ketahui"


"dan terakhir Dzaky hubungannya masih abu-abu"


"tidak tahu kedepannya akan bagaimana"


ceritaku kepada shelter panjang lebar


"hmm… cukup menarik"


"baik sudah selesaikan"


"bisa di percepat"


shelter terlihat kebingungan dengan perkataan dan tingkahku


"percepat apa?" tanya shelter kepadaku


"katanya udah waktunya" jawabku menjelaskan


"kenapa kau terobsesi kali pengen cepat mati?" tanyanya aneh


"kau mengundangku ke sini, sudah pasti mau menjemput ku kan?"


"nggak ah… aku cuman sepi aja, jadi apa salahnya ngundang manusia ke sini"


"Nemani aku cerita" katanya beralasan


apa yang di katakan Shelter ada benarnya, aku yang terlalu memasrahkan hidupku pengen cepat mati


"lagi pula kau tak khawatir dengan teman kecilmu itu"


"siapa namanya itu, hmm…"


"oh ya Amirah" katanya mengingat tentang Amirah


"Amirah…"


"Amirah" kataku keras dan beranjak dari posisi duduk ku


"cepat kembalikan aku"


"aku masih harus mencari Amirah" pintaku kepada Shelter untuk mengirimku kembali


"baik" katanya sambil menyiapkan suatu hal


"aku ada pesan buatmu" kata Shelter padaku sebelum mengirimku kembali


"jangan biarkan dia pergi untuk selamanya"


"dan ini…" kata Shelter menasehati ku dan melemparkan sebuah kotak kecil ke arahku


aku tak sempat berpikir tentang kotak tersebut karena terburu-buru


"terimakasih, jika kau kesepian kau bisa mengundangku lagi untuk pesta minum teh" ucapku terima kasih pada Shelter


*****


"huh…"


aku terbangun dari pingsan


"di mana aku"


sambil melihat ke sekitar ruangan


"oh ya amirah…"


kataku dan beranjak bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan ruangan


"di mana kau…" tanyaku dalam hati