Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 20 - where are you



"Zahid"


tok tok tok…


"Zahid" panggil Syakirah dari luar sembari mengetuk pintu


"Zahid, assalamualaikum" ucap Syakirah


tak kunjung mendapatkan jawaban dari Zahid, Syakirah membuka pintu ruangan tersebut


betapa terkejutnya Syakirah saat menyadari kalau tidak ada siapapun di dalam ruangan ini


pipa infus yang terlepas dan cairannya yang membasahi kasur tersebut


"ummi… abi…"


teriak Syakirah dari dalam ruangan


mendengar teriakan yang histeris dari Syakirah mereka datang ke tempat Syakirah berada dengan terburu-buru


"kenapa nak?" tanya ummi Syakirah khawatir


"loh Zahid nya mana?" tanya Abi yang menyadari kalau hanya ada Syakirah di ruangan tersebut


"Zahid…"


"Zahid… pergi" kata Syakirah menangis


"ke mana anak itu padahal kondisinya masih belum membaik" kata ayah Syakirah repot


"nggak ada kabar dari dia kalau dia akan pergi?" tanya ummi Syakirah


"nggak ada"


"kayak mana ini kalau dia tumbang di jalan…"


"kondisinya belum pulih…" kata Syakirah histeris


"sudah berhenti menangis ayo cari dia" ajak Abi Syakirah untuk mencari Syakirah bersama


*****


"semoga masih sempat"


"mana kau Amirah…"


"kumohon kau baik-baik saja" kataku sambil memegangi perutku yang masih terasa sakit


aku terus bergerak menuju kediaman Amirah cukup jauh jarak yang harus ku tempuh, tak dapat naik kendaraan, aku meninggalkan dompetku di atas meja ruangan tadi dan lupa mengambilnya karena terburu-buru


rasa sakit kian memparah jahitan bekas luka tusukan pisau yang ku terima saat pesta kemarin perlahan terbuka kembali


"bertahan Zahid"


"sedikit lagi"


cukup lama berjalan ke rumah Amirah, akhirnya tiba juga


tak terlihat seperti ada kehidupan dari rumah tersebut


rumahnya begitu tenang dan tak bersuara, pintu dan jendela yang tertutup rapat semua dan pagar hitam yang tergembok


ku tekan bel yang tertempel di dekat pagar rumahnya


sekali, dua kali, tiga kali hingga lima kali ku pencet bel nya, tak ada terlihat satupun respon dari dalam rumah untuk membukakan pintu dan memyambutku


"ke mana kau Amirah?" tanyaku mulai berpikiran entah ke mana-mana


"Amirah…!"


"Amirah…!" teriakku memanggilnya dari luar


karena tak ada respon yang ku dapat aku terus menjerit memanggilnya


"ya Allah apa lagi yang engkau rencanakan sebenarnya sih?" tanyaku sedih


aku hanya berdiri mematung di rumah Amirah untuk waktu yang cukup lama


"hei nak, orang nya lagi keluar kota" tiba-tiba suara seseorang yang mengatakan sesuatu mengenai Amirah


orang itu merupakan seorang wanita paruh baya merupakan tetangga Amirah, sudah cukup lama dia tinggal di sebelah rumah Amirah


"owh gitu ya"


"maaf Bu kalau boleh nanya"


"mereka keluar kota ada urusan apa ya"


tanyaku pada orang yang mengaku tetangganya Amirah


"katanya mau pindahan, jadi mereka ke sana untuk pengurusan tempat tinggal sekaligus ke dinasan nya, nak" kata ibu itu menjelaskan keadaan yang sedang terjadi


merasa tak percaya aku bertanya lagi ke ibu itu mengenai keadaan Amirah


"maaf Bu apa tadi?"


"keluarga dik Amirah sedang keluar kota, mau mengurus pindahan mereka di sana"


kesimpulan yang sama persis di katakan oleh ibu itu barusan


"oh, gitu ya"


"makasih ya bu" ucapku lemas


pindah apa maksudnya pindah, pengurusan apa yang sedang kalian urus


"nggak… nggak… nggak…"


"nggak mungkin kan" kataku tak terima dengan penjelasan ibu itu


"kenapa Mirah"


"kupikir kita bisa selalu bersama" kataku sedih


aku berjongkok di depan rumah Amirah dengan air mata yang mengalir keluar dari kelopak mataku


karena kejadian hari ini aku lupa memberi kabar kepada Syakirah kalau aku keluar mencari Amirah


ku ambil hp dari saku celanaku dan membuka WhatsApp untuk mengirimkan pesan kepada Syakirah tentang ke beradaanku


..."*assalamualaikum"...


..."maaf baru memberimu kabar"...


..."aku sedang mencari Amirah"...


..."tolong jangan cari aku*"...


setelah ku kirimkan pesan kepada Syakirah aku kembali menyimpan hp ke dalam saku kembali


"kenapa kau tak memberi tahu hal ini kepadaku Amirah"


"apa kau sudah tak percaya lagi padaku" kataku dalam hati


langit terlihat mulai menghitam menandakan bakal turun air dari langit


bertepatan dengan keadaanku sekarang, langit sepertinya simpati kepada ku


duarr…


suara gemuruh yang membludak di langit


awan hitam yang tak sanggup menahan massa air, akhirnya memuntahkan nya ke bawah


*****


"Abi, ini pesan dari Zahid" kata Syakirah histeris


"dia mencari Amirah"


"kalau gitu dia pasti berada di rumah Amirah" kata ummi Syakirah menyimpulkan di mana keberadaan Zahid berada


"ya udah kita cepat ke sana, bi" minta Syakirah kepada abinya yang sedang menyetir


tanpa pikir panjang Abi Syakirah menancapkan gas mobil dan melaju kencang di bawah derasnya hujan


*****


bip… bip…


terdengar suara klakson mobil dan lampu yang menyorot ke arahku, aku hanya tertunduk dan tak melihat ke arah mobil itu


"Zahid" teriak Syakirah keluar mobil dengan membawa payung yang terbentang di atasnya


tampak ummi Syakirah mengikutinya dari belakang


"sudah ku bilang jangan cari aku" kataku menyalahkan mereka yang datang menjemputku


"hei Zahid kenapa nak?" tanya ummi Syakirah kepadaku


aku hanya mengangkat kepalaku dan melihat ke arahnya, saat itu mulutku terasa terkunci sehingga aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata


bip… bip…


suara klakson mobil yang menyuruh kami untuk cepat masuk


hujan yang makin deras membuat tubuhku dan suasana sekitar makin terasa dingin


"sudah kita bicarakan di dalam mobil saja"


"sekarang cepat masuk ke dalam" kata ummi Syakirah meminta kami untuk masuk ke dalam mobil


pakaianku yang sudah terlanjur basah menaiki mobil tersebut


"nanti bangkunya basah" kataku pelan


"udah naik aja" perintah Syakirah


kami kembali pulang menuju rumah Syakirah


"hei Zahid kau kenapa?" tanya Abi Syakirah dalam perjalanan pulang


"Amirah…" kataku terputus


"Amirah… Amirah kenapa rupanya?" tanya Syakirah menyambung perkataanku


aku tak sanggup menjawab pertanyaan itu, sakit rasanya kalau di tinggal seseorang


baru kali ini aku merasa begitu sakit saat di tinggal seseorang


akupun tak tahu arti dari semua ini, emosi ku seperti tak terkendali


"kenapa sama dik amirah?" tanya ummi Syakirah, pertanyaan yang sama di lontarkan Syakirah ke padaku


tak kuasa menahan air mata yang berkumpul di kelopak mataku akhirnya dengan terpaksa ku keluarkan air mataku yang kemudian mengalir membasahi pipiku


"Amirah… dia sudah pergi" kataku menangis


tak paham apa yang aku katakan Syakirah terlihat acuh tak acuh dengan perkataan ku barusan


"pergi…?"


"maksudnya apa Hid?" tanya Syakirah penasaran


aku terdiam tak bisa menjawabnya


ummi Syakirah memegang tangan Syakirah memberikan isyarat agar tak menanyakan apapun lagi tentang Amirah kepadaku


"biarkan dia tenang dahulu" kata ummi Syakirah kepada Syakirah


Syakirah melihat ke arahku dengan ekspresi penuh pertanyaan dan kekhawatiran


aku masih larut dalam kesedihan ini


tak tahu apa yang harus ku perbuat kedepannya


"Amirah…"


"udah pergi" kataku pasrah