Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 34 - the past



" huh… "


" kenapa Hid ? " tanya Amirah yang berdiri di sebelah ku


" nggak, nggak apa-apa "


tak kusangka tempat yang ku kunjungi beberapa tahun yang lalu kini kembali ku kunjungi dengan diri yang berbeda, soalnya kan itu udah cukup lama ketika aku masih berada di bangku SD dan sekarang aku sudah SMA


" serasa nostalgia " batinku dalam hati


pengunjung yang berdatangan makin ramai karena sudah sore, mungkin tempat ini sebagai pelepas lelah dari bekerja atau bersekolah selama satu harian ini, anak-anak yang berlari ke sana kemari, ibu-ibu yang mengobrol tidak tahu membahas apa dan muda mudi yang duduk mesra di bangku taman membuat ku tersenyum


" Zahid… "


" hei Zahid… " panggil Amirah dengan menarik lengan bajuku


" hmm… ya saya "


" kenapa ? " tanyaku


" kenapa ? Zahid yang kenapa ? kenapa senyum-senyum sendiri ? " tanya Amirah aneh


" nggak apa-apa, cuman lagi senang aja "


" owh… "


" jadi kayak mana sekarang ? " tanya kak Aisyah yang barusan kembali setelah memarkirkan mobilnya


" ya udah yuk ke pondok sana " ajakku kepada mereka bertiga


" mau makan apa ? " tawarku ke mereka bertiga


" eh, emangnya di sini ada rumah makan ya ? "


" enggak, maksudnya mau ngemil apa ?, mumpung lagi ada jualan "


" owh… "


" kakak batagor aja "


" kak Aisyah batagor, terus shera sama Amirah apa ? "


" sama aja deh " jawab Amirah


" Syakirah juga "


" ya udah bentar ya " jawabku lalu pergi meninggalkan mereka bertiga


aku berjalan melewati sekumpulan pengunjung yang mengunjungi taman ini


" hei kalian berempat, misalnya kalian masih mengingatku, aku berharap kita dapat bertemu saat ini atau kapan pun "


" Amin ya Allah " harapanku dalam hati


" ngomong-ngomong di mana jualan batagor ? " tanyaku pada diri sendiri dengan melihat sekeliling taman


entah benar atau tidak apa yang kulihat dari kejauhan


" eh… itu Imam kan " seruku dalam hati


" dan Zahwa… "


segera saja aku berjalan menuju arah mereka


" Imam… " jeritku dari jarak beberapa meter dari nya


merasa ada yang memanggil namanya, langsung saja dia mengarahkan pandangannya lalu melambaikan tangannya ke arah ku


" ngapain kalian ? " tanyaku pada mereka berdua


" nggak apa-apa, cuman jalan-jalan " jawab Imam


" owh… "


" bagaimana hubungan kalian ? " tanyaku


" hmm… gitulah, kami udah komitmen " jawab Imam bangga


" owh komitmen ya… "


" Zahid sendiri, ngapain ke sini ? " tanya Zahwa


" nggak ada maksud tujuan tertentu sih cuman jalan-jalan aja "


" owh… " seru mereka berdua kompak


" ngomong-ngomong ada nampak jualan batagor nggak ? " tanyaku ke pada mereka berdua


" di sana "


" owh ya udah, makasih ya " ucapku lalu pergi meninggalkan mereka berdua


" ngomong-ngomong pergi sama siapa ? " jerit Imam


" dengan istriku " jawabku dengan menjerit juga


" owh… ap… "


" istri kau bilang " jerit Imam


" eh… aku salah bilang " ucapku dalam hati


dari pada pembicaraan menjadi panjang lebar, ku abaikan pernyataan Imam lalu mempercepat langkahku


" bang batagornya tiga ya bang "


" pedes, manis, sedang "


" sedang aja bang, tiga "


tidak perlu menunggu lama, pesananku sudah siap, aku memutuskan untuk segera kembali ke pondok, takut membuat mereka menunggu


jarak beberapa meter dari pondok, terlihat dua orang laki-laki sedang berada di pondok tempat Amirah dan Syakirah duduk


segera saja aku menghampiri mereka


" Amirah… Syakirah… " jeritku sambil berjalan ke arah mereka


" Zahid… " balas mereka bertiga lalu beranjak ke arahku


" siapa mereka ? " tanyaku pelan pada mereka berdua


" nggak tau, tiba-tiba aja datang entah mau ngapain " kata Syakirah menjelaskan keadaan ini


" hei bang, ngapain ke sini ? " tanyaku pada dua orang lelaki yang entah dari mana datangnya


" nggak apa-apa, cuman bermain-main "


" bermain-main apanya ? " tanyaku meminta penjelasan yang detail


" nggak apa-apa "


" ngomong-ngomong Abang siapa kok sibuk kali ngurusin kami ? " sambung lelaki yang berada di belakangnya dengan nada yang sinis


" kau nggak perlu tau siapa aku " jawabku sedikit emosi


" jangan marah dulu lah bang, kami cuman main-main bentar nya sama gadis-gadis itu " ucapnya dengan menunjuk ke arah Syakirah dan Amirah


" owh gitu… "


" Amirah pegang ini bentar " pintaku kepada Syakirah menyerahkan batagor yang barusan ku beli


" main-main ya " kata ku mengulang kalimat yang di katakannya


" ya bang cuman dikit aja " ucapnya dengan tertawa kecil


telingaku yang mendengar pernyataan barusan benar-benar membuat emosiku tak tertahan


" kenapa bang mau mukul… "


" …sini-sini " ucapnya yang mencoba terus memanas-manasi ku


" maaf bang, aku nggak niat mukul muka Abang tapi…"


dengan cepat ku tancapkan jari tengah dan telunjukku tepat ke kedua matanya


" ah… " jerit lelaki itu histeris


" kenapa bang sakit ya… oh… sakit, kasian kali " ucapku melecehkannya


" sial kau " seru lelaki yang berada di belakangnya dan segera melontarkan pukulannya ke arahku


tak menyadari gerakannya yang begitu cepat, tepat pukulannya mengenai hidungku dan membuatku terseret ke belakang beberapa centi


" Zahid ! "jerit Syakirah dan Amirah


aku mencoba berdiri, pusing rasanya kepala ini akibat hantaman yang begitu keras


darah yang keluar dari hidungku tak dapat ku berhentikan, ku biarkan mengalir begitu saja


" bunuh aja dia " perintah lelaki yang lain dengan histeris


" iya bang… bakal ku buat dia mengalami kayak abang "


" astaghfirullah… kepalaku masih " kataku mencoba berdiri sambil memegang kepalaku yang pusing karena pukulan barusan


" sial… kayak mana ini " batinku dalam hati


" mati kau… " jerit lelaki itu mengarah ke arahku


brukk…


suara hantaman keras yang terdengar dari arah depan


" hah… "


" Zahwa, Syakirah, Amirah bawa Zahid ke pondok sana dulu "


segera saja aku di bopong oleh mereka bertiga di pondok terdekat


" berani kali kau main-main dengan sahabatku " kata lelaki yang tiba-tiba datang menolong ku


" suara ini… " suara yang terdengar familiar di telingaku


" Imam "


" Syakirah cepat ambil tisu, darahnya terus mengalir ini " ucap perempuan yang datang dengan lelaki itu


" Zahwa ya… "


" udah jangan bicara dulu " katanya


" Zahid… "


" udah jangan nangis, kita harus cepat mengatasinya kalau tidak nyawanya tidak akan tertolong lagi " ucap Zahwa ke Amirah


" hei… ini hanya pukulan biasa, mengapa kalian bisa memutuskan kalau aku akan mati "


" ini… " ucap Syakirah dengan menyerahkan tisu yang di bawanya


" Amirah… sumbat kedua hidungnya, biar mimisannya berhenti, aku mau pergi bentar nyari es batu " ucap amirah lalu pergi meninggalkan kami


" iya "


** Imam condition **


" hei "


brukk…


sebuah pukulan yang mengarah tepat ke wajah lelaki yang terkapar di atas tanah


" jadi apa maksud kau hah ? tanya imam


" nggak ad… "


brukk…


lagi-lagi pukulan melayang tepat ke mukanya


" ampun bang… " ucap lelaki tersebut mengemis memohon ampunan


"ku ampuni kau, kalau kau kasih tau aku apa tujuan kau "


" ini yang terkahir ya, apa tujuan kau hah ? " tanya Imam untuk yang ke tiga kalinya


" nggak… "


" ini pilihan kau ya " ucap Imam memotong perkataannya


brukk… brukk…


tidak tahu berapa pukulan yang dia luang kan imam kepada lelaki itu sampai-sampai membuatnya tak sadarkan diri entah masih bernafas atau tidak, karena wajahnya yang hancur di hajar habis-habisan oleh Imam


" kau " bentak Imam ke lelaki yang satunya


" kau lihat kawan kau ini kan " tunjuk imam ke teman nya yang di hajar habis-habisan olehnya


lelaki itu memegang kedua matanya


merasa dia baikan olehnya Imam mencengkram kerah baju lelaki itu lalu membentaknya


" hei kau dengar aku nggak " bentak Imam


" maaf bang aku nggak bisa lihat " ucapnya dengan menangis histeris


" huh… " langsung saja "


" apa tujuan kau sama kawan kau sebenarnya ? " tanya Imam pelan


" aku nggak tau bang, aku cuman ikut kawan ku aja bang " jawab lelaki itu


" kalau gitu, kau ikut kawan kau ke kuburan mau kau, sekarang ini kawan kau sekarat tuh, tapi sayang nya kau tidak dapat melihatnya, ya sudahlah "


" sekali lagi ku tanya… "


" …kau mau ngapain sama kawan kau itu ? " tanya Imam dengan nada yang sedikit di naikkan


" kami… "


" jawab !! " bentak Imam


" ka… kami cuman bermain-main aja bang " jawab lelaki itu terbata


" cukup dik " ucap ibu-ibu ke pada Imam


" udah nak, dia udah jawab " kata seorang yang lainnya


" huh… "


" berani kau macam-macam dengan kawanku lagi habis kau ku buat " kata Imam memperingati ke dua lelaki itu dan orang-orang yang berkumpul di situ


Imam segera pergi meninggalkan kedua lelaki itu dan datang menuju ke pondok


** in hut **


" Minggir " kata Zahwa yang datang dengan membawa es batu


" bismillah " ucap nya dengan menempelkan es tersebut ke hidungku


" untuk apa digituin " tanya Amirah heran


" biar darahnya membeku cepat mengental jadi mimisan nya bisa terhenti " perjelas Zahwa


" kayak mana keadaan Zahid " tanya Imam yang tiba-tiba datang


" aku udah nggak apa-apa, cuman orang ini terlalu sibuk kali " jawabku langsung


" eh… masih hidupnya kau Hid " ucap Imam bercanda


" kalian berharap aku mati ya "


" udah jangan banyak gerak dulu " ucap Amirah dan Syakirah yang memaksaku untuk tetap berbaring


" astaghfirullah, Zahid udah nggak apa-apa loh "


" nanti Zahid bisa mati " sangkal Amirah


" kenapa kalian selalu berpikir aku akan mati, ini cuman pukulan biasa " ucapku lalu berdiri


" jadi… "


" kayak mana orang itu ? " tanyaku


" aman… " jawab Imam dengan perasaan puas


" jangan bilang kau… "


" eh… nggak kok, cuman dikit aja " jawab Imam dengan ekspresi bodohnya


" hah sudah kuduga "


" maaf ya bang " ucap ku dengan mengadahkan pandangan ke atas


" kau pun samanya Hid "


" sampai matanya kau colok begitu " tukas Imam tak mau kalah


" biar dia bisa sadar nanti "


" intinya sama saja " kata imam tak mau kalah


" iya iya "


" jadi kayak mana ceritanya ? " tanya Imam pasal kejadian yang barusan terjadi


" katanya cuman main-main "


" main-main apa rupanya ? "


"owh… biasa laki-laki kurang kerjaan gitu " jawab ku


" kurang kerjaan kayak mana ? "


" ya… kurang kerjaan lah, ganggu-ganggu Syakirah sama Amirah tadi "


" eh… " ucap Imam terkejut


" kenapa ? " tanyaku


" maunya aku tadi membunuhnya saja "


" oi jaga ucapan mu itu "


" hehehe"l "


" hei… " jerit seorang perempuan yang berjalan ke arah kami


" hei rame ya "


" kok rame begini, ada apa ? " tanya perempuan itu ke pada kami


" aduh… "


" kak Aisyah kemana sih " tanyaku pusing


" baru dari kamar mandi "


" baru dari sana, ada yang mau di beli " jawab kak Aisyah


" emangnya kenapa ? " tanya kak Aisyah yang masih bingung dengan keadaan yang terjadi


" ngomong-ngomong Zahid itu hidungnya kenapa ? " tanya kak Aisyah


" nggak apa-apa "


" sebenarnya ada apa sih ? " tanya kak Aisyah lagi


" tadi katanya si Amirah sama Syakirah mau di ganggu, ya terus beginilah ke jadiannya "


" eh… "


" kalian nggak apa-apa " seru kak Aisyah segera memeluk mereka berdua


" maaf " ucap kak Aisyah meminta maaf


" udah jangan di pikirin lagi, udah berlalu " jawabku tak ingin menyalahkan kak Aisyah


" Alhamdulillah, maaf ya " seru kak Aisyah masih dalam keadaan memeluk mereka berdua


" ngomong-ngomong, kok kalian bisa sampe sini ? " tanyaku pada Imam dan Zahwa


" eh… kami masih penasaran sama jawaban mu tadi "


" yang mana ? " tanyaku pura-pura tak tahu


" yang tadi, yang kau bilang 'dengan istrimu' "


seketika suasana di pondok terasa dingin


" apa maksud 'istri' yang kau bilang tadi ? " tanya Zahid meminta penjelasan lengkap dariku


" owh… maksud Zahid istri itu adalah ka… "


" sitt… diam jangan kasih tau " ucapku dengan menutup mulut Syakirah


" ka… kenapa ? " tanya Zahwa penasaran


" ka… ka… kalau dia akan menikah nanti "


" hah… ? "


" maksudnya Zahid nanti akan pergi ke sini lagi nanti sama calon istrinya "


" hah… calon istri…!!! " ucap Imam dan Zahwa terkejut bersamaan dengan melihat ke arahku


" i… iya calon istri Zahid "


" insyaallah nanti, maksud nya beberapa tahun lagi "


" hehehe " tawaku tak jelas


" Syakirah apa maksudmu " batinku dalam hati dengan melihat ke arahnya