
"Zahid…"
"Zahid…"
"bangun Zahid…"
terdengar seperti ada suara yang memanggilku
"siapa?" tanyaku sangat pelan hampir tak bersuara
terasa seperti tetesan air mengenai pipiku lalu mengalir ke bawah
"Zahid…" jerit Syakirah yang berada tepat di samping kepalaku
perlahan kesadaran ku mulai kembali, ku coba mengumpulkan tenaga yang tersiksa agar bisa bangkit, tapi sia-sia tubuh terasa sakit semua tak terasa sedikitpun ada tenaga di dalam diri ini
"udah jangan di paksain…" kata Amirah yang berada di samping Syakirah
terlihat Syakirah, Amirah, Zahwa, dan Imam berada di sekelilingku
"ente kenapa?"
"kok bisa sampai kayak gini?" tanyanya mengenai keadaanku
"nggak, nggak apa-apa"
"ini pasti ulah Raihan kan?" tanya Syakirah dengan nada geram
"dasar anak baru sialan" sambung Amirah
imam yang mendengar kata itu langsung beranjak dari posisinya dan mencoba pergi
"Imam" panggilku dengan cepat untuk mencegah imam pergi
"udah biarin aja, aku sudah prediksi hal ini akan terjadi, jadi biarkan aja" kataku menjelaskan kepada mereka
"biarkan kayak mana, Zahid udah…" kata Syakirah tak terima
belum sempat Syakirah selesai bicara, aku menggenggam tangannya dengan isyarat 'aku baik-baik aja'
"sial…" keluh imam geram
"belum saatnya, nanti kalau udah waktunya dia bakal merasakan penderitaan yang lebih dari ini" jelas ku dengan meyakinkan mereka
tampak dari muka mereka ketidak terimaan atas kejadian yang menimpaku, tapi mereka yakin apa yang ku katakan barusan
uhukk… uhukk…
kondisiku yang parah dengan batuk yang masih mengeluarkan sedikit darah
"hei mam, cepat bawa Zahid" pinta Syakirah khawatir
segera imam mengangkat tubuhku lalu membawaku ke UKS, terlihat Syakirah dan yang lainnya menyusul kami dari belakang
*****
"Hid, kami duluan ya" kata Zahid lalu pergi bersama dengan Zahwa
kini di UKS hanya tinggal Syakirah, Amirah dan aku
"maaf ya hid…" kata Syakirah meminta maaf saat melihat kondisiku
"ha, ha… berani minta maaf lagi" kataku agak marah
dia hanya tertunduk dengan ekspresi sedih
"dah Zahid bilang, jangan pernah nyalahin diri sendiri"
"ini semua kan perbuatan Raihan, dan Syakirah memiliki hubungan dengannya" katanya menyalahkan dirinya lagi
"kalau gitu, Zahid mau mulai sekarang Syakirah jangan pernah berpikir lagi kalau Syakirah memiliki hubungan dengannya"
"tapi…"
"nggak ada tapi-tapi" kataku tegas
Amirah memegang pundak Syakirah yang berarti menyuruh Syakirah menuruti perkataan yang ku katakan
"ya udah kalian masuk aja sana, aku mau istirahat sebentar" perintah ku kepada mereka berdua agar kembali ke kelas
"nggak apa-apa di tinggal sendiri?" tanya Syakirah pada ku
"ya nggak apa-apa"
"yuk Amirah" ajak Syakirah
"emm… Syakirah duluan aja"
"ada hal penting yang mau amirah bicarain dengan Zahid" katanya ingin menetap
"ya udah, kalau gitu Syakirah tungguin ya"
"eh… nggak usah, udah duluan aja sana" kata Amirah seperti mengusir Syakirah dari UKS
"owh gitu… ya udah Syakirah duluan ya"
"Zahid jangan macam-macam ya" kata Syakirah dengan menunjuk ke arahku
"iya-iya"
Syakirah pergi meninggalkan UKS, kini hanya tinggal kami berdua yang menetap di ruangan tersebut
"jadi apa yang mau di bicarakan?" tanyaku pada Amirah
"hmm… apa ya, gak ada deng" katanya dengan menunjukkan ekspresi imutnya
"jadi apa mau mu?" tanyaku lagi pada amirah
tidak ada jawaban yang Amirah katakan
tiba-tiba Amirah bergerak ke arahku, di merangkak tepat ke depanku, posisi amirah berada tepat di depanku dan aku yang berada di posisi terbaring terlentang
"hei Amirah, apa maksudnya ini?" tanyaku mulai curiga dengan perubahan sikapnya ini
tak ada sepatah jawaban pun yang di katakannya, dia perlahan menurunkan posisi tubuhnya ke bawah sehingga wajahnya semakin mendekat
"hei, halo Amirah, are you okay?" kataku dengan feeling buruk
lagi-lagi tak ada respon yang di berikannya kini jarak wajahnya dengan wajahku semakin mendekat
ku kumpulkan tenaga ku dengan paksa, tak peduli lagi apa yang bakal terjadi pada tubuhku, karena sikap Amirah yang sangat aneh
dengan cepat aku mengambil posisi duduk dan bersender ke dinding UKS
ku tahan bahunya agar tak mendekatiku lebih jauh lagi
"Amira kau kenapa?" tanyaku aneh
dia hanya terdiam, lebih dari lima menit dia tak menjawab pertanyaanku
"hei kau kenapa?" tanyaku sekali lagi padanya dengan nada lembut
tiba-tiba tetesan air terjatuh dari wajahnya, perasaanku mulai aneh
Amirah mengangkat kedua wajahnya , terlihat air yang sudah mengalir membasahi pipinya l, tak tahu apa alasannya untuk menangis
"Am…"
"kenapa… kenapa…?" bentak Amirah kepadaku sambil menangis
aku belum sempat mengatakan apapun, perkataan ku sudah di potong Amirah
"kenapa Zahid…"
"kenapa…?"
aku yang tak tahu kenapa Amirah sampai menangis, tak bisa berkata apa-apa
"ini salahku?" tanyaku pada diri sendiri
"Syakirah…"
"Syakirah kau pilih" katanya dengan tidak jelas
"Syakirah, kenapa dengannya?" tanyaku lagi pada diri sendiri
"dulu kau tak pernah mengenalnya"
"dulu…"
"kau… selalu bermain denganku"
"tapi kenapa harus dia?" katanya dengan tangisan yang semakin deras
aku tak bisa memahami satu pun kata-kata yang di ucapkan nya
"hei Amirah…"
"kenapa… Zahid?" tanya Amirah memotong perkataanku
"hei Amirah tenang dulu" pintaku dengan memegang bahunya
"jangan nangis, aku tak bisa memahami apa yang kau katakan kalau menangis begini"
"jadi berhenti menangis"
perlahan tangisannya mulai mereda
"jangan bicara dulu, tenang dulu"
** 5 minutes leter **
cukup lama dia memenangkan dirinya, walau tidak tenang sepenuhnya aku merasa dia sudah lebih baik
"jadi apa masalahmu" ucapku mulai membuka suara
"Amirah mau Zahid jangan menikahi Syakirah" katanya to the point'
"apa maksudmu?" tanyaku yang mendengarkan pernyataannya itu
"amirah udah tau persoalan tentang Raihan yang menjadi tunangan Syakirah dan Zahid yang menjadi suami nya Syakirah nanti" katanya menjawab pertanyaanku
"bagai…"
"Raihan yang beri tahu segalanya" potong Syakirah perkataanku
dasar anak sialan itu
"jadi maksud Amirah kayak mana?"
"Zahid nggak paham"
kata ku yang berpura-pura tidak memahami perkataannya Syakirah, untuk menggali informasi lebih lanjut darinya
"biarin aja Syakirah nikah sama Raihan"
"Zahid nggak usah ikut campur urusan mereka" kata Amirah
dengan kondisiku yang buruk, aku tak menduga kalau teman masa kecilku Amirah akan mengatakan hal seperti itu
"Amirah kok…"
"intinya Zahid nggak perlu ikuti urusan orang lain lagi" katanya memotong perkataanku
"hei Amirah…" kataku dengan menaikkan sedikit nada
Amirah hanya terdiam dan tertunduk
"Amirah… kenapa?" tanyaku keheranan dengan nada yang lebih halus
"apa maksud Amirah?" tanyaku lagi menanyakan alasan kenapa dia menangis
"Zahid jahat" katanya dengan tertunduk
"kenapa Zahid lebih milih Syakirah"
"Amirah mau kalau Zahid milih Amirah"
"tapi…"
"…kenapa Zahid lebih milih Syakirah"
aku yang mencoba untuk memahami perlahan apa yang di katakannya, sedikit demi sedikit aku dapat mencerna maksud dari semua itu
"maaf Amirah bukan karena suatu hal penting"
"Zahid cuman ingin membantunya"
kataku menjelaskan jawaban kepadanya
"terus kalau amirah butuh bantuan Zahid, Zahid tolong kah?" katanya menekanku
"pasti" jawabku ringan
"kalau gitu bantu Amirah, Amirah mau Zahid bantu Amirah agar selalu stand by sama zahid"
ucapnya meminta bantuan ku
mendengar penuturannya, mulutku tak bisa mengucapkan sesuatu
"gak mau kan?" bentak Amirah kembali menangis, karena tak mendapatkan respon dariku
"Amirah…"
plakk…
tangan amirah melayang tepat ke pipi sebelah kanan ku hingga meninggalkan bekas kemerahan
aku hanya terkejut, karena mendapat tamparan yang cukup keras darinya
"sudahlah…" kata Syakirah menunduk dan tak berharap lebih jauh
dia beranjak pergi meninggalkanku sendiri yang berada di ruang UKS
aku hanya bisa untuk mencoba berpikir, terlihat seperti orang bodoh yang memaksa untuk terus berpikir
"kenapa?"
"lagi-lagi masalah datang ke dalam hidupku"
"padahal aku belum menyelesaikan satu masalah, kenapa masalah yang lain terus menghampiriku"
"i'm tired, i need a chance for feel calm, give me a time for get rest, give me a space for breath, please God give me a chance for having a same life like a human in general"
"please let me free" kata ku memohon agar di kabulkan apa yang ku doakan barusan
"this is your life Zahid, you just can accept this Faith, you can't deny"
"and maybe there are much obstacle waiting you in the future"
"just walk in your way" hanya itu yang dapat aku pikirkan
entahlah, mungkin aku sudah tidak bisa berpikir lagi
"ah"
"sungguh hari yang menyiksa" kataku pasrah