Please Don'T Leave Me

Please Don'T Leave Me
Bab 24 - apologize



air mata Amirah yang keluar sejak tadi mengalir membasahi pipinya tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti


"hei Amirah…" panggilku khawatir


amirah menutup kotak yang ku berikan, dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa tergambarkan, apakah itu bahagia ataupun kesedihan


"hei Amirah…"


"maaf kalau…"


"Zahid…" panggilnya memotong pembicaraanku


dia berjalan mendekatiku, tangannya yang kemudian di bukanya lebar lalu merangkul tubuhku serta kecupan yang mendarat di keningku


"terimakasih…"


"terimakasih…"


ucapnya yang berterimakasih padaku tanpa sebab


"eh…"


hanya rasa bingung yang tergambar di wajahku


pelukannya yang makin lama makin erat, rasa hangat tubuhnya serasa ikut mengalir dalam tubuhku, dan perasaan jiwa yang damai dan tenang sangat terasa dari dalam dirinya


"Amirah…"


"hmm…"


rangkulannya yang erat dilonggarkan ya sedikit


"bisa bic…"


belum sempat ku selesaikan perkataanku, dia menarik kepalaku lalu menyandarkannya di bahunya, aroma wangi dirinya masuk ke dalam diriku, sungguh wangi yang sangat soft


"Am…irah…" panggilku sesak karena pelukannya yang erat dan wajahku yang menempel di bahunya membuatku kesulitan untuk bernafas


"hmm…"


"bisa lepaskan Zahid sekarang" pintaku padanya


"kalau amirah nggak mau kayak mana" tolaknya sambil memelukku lebih erat


"di sini sedikit sesak" kataku menjelaskan keadaanku saat ini


"terus kalau sesak, kenapa rupanya?" tanyanya


"Zahid kesulitan bernafas di sini" kataku dengan nafas yang masih tersisa


"terus kalau kesulitan bernafas kenapa emangnya?" tanyanya dalam keadaan masih memelukku


hei Amirah kau benar-benar ingin membunuhku ya


"nanti kalau Zahid mati, amirah nggak bisa jumpa Zahid lagi lo"


"eh…"


"Zahid nggak apa-apa" katanya dengan melepaskan ku dari pelukannya lalu mengguncang-guncang tubuhku


"e~e~e"


"nggak~apa~apa" kataku dengan kepala pusing akibat guncangannya


"maaf maaf"


"nggak, nggak apa-apa"


"jadi…"


"sebenarnya…"


"apa isi kotak itu…?" tanyaku dengan memegangi kepalaku yang pusing


tidak ada jawaban yang di berikan padaku


"hei…"


aku mencoba mengumpulkan kembali kesadaran ku yang hilang di buat Amirah


"hei…" kataku lalu menoleh ke arahnya


mukanya yang tertunduk dan berwarna merah padam, membuatku khawatir dengan keadaannya, apakah aku salah udah bertanya seperti itu


"hei Amirah" panggilku lembut


perlahan dia menaiki pandangannya


ya, seperti yang ku katakan barusan, wajahnya yang merah padam dan sifatnya yang malu-malu tiba-tiba muncul, entah kenapa aku merasakan firasat buruk terhadap kotak yang barusan di buka Amirah


"hei Amirah… are you ok?" tanyaku ingin mengetahui keadaannya saat ini


dia membuang pandangannya dariku


dengan posisi membelakangi aku mencoba menjahilinya, ku pegang lengannya lalu kutarik menghadap ke arahku


"oops… sepertinya aku berlebihan" kataku dalam hati


dengan posisi amirah yang menempel sepenuhnya di tubuhku, dengan wajah yang dekat dengan leherku, terasa tarikan nafasnya yang keluar masuk berhembus di leherku


"ma… maaf Amirah" ucapku spontan sambil melangkah mundur dengan cepat


Amirah hanya berdiri mematung di tempatku berada sebelumnya


"amirah…" panggilku dengan membungkukkan sedikit badanku untuk melihat wajahnya yang tertunduk


"makasih…" katanya pelan di hadapanku


terlihat matanya yang meneteskan butiran-butiran air, yang kemudian berjatuhan ke bawah


"ini" ucap amirah sembari menyerahkan kotak kecil yang sudah di bukanya tadi


aku meraih kotak itu lalu memeriksa dengan seksama isi yang terdapat dalam kotak itu


"sebuah cincin emas" pikirku dalam hati


"lalu sebuah surat dan…"


"tertulis di depannya "untuk Amirah" "


"huh…"


ku periksa surat tersebut dengan seksama, di depan surat tersebut terdapat nama untuk penerima surat tersebut


"nah Amirah"


"ada surat"


surat tersebut ku berikan kepada amirah


"dari siapa?" tanyanya


ku gelengkan kepalaku sebagai isyarat tidak tahu


"baca aja, apa isinya" pintaku padanya untuk membacakan surat tersebut


** amirah read a letter **


"dear amirah


..."please don't go away, don't go far from me, please stay in my side, i need you"...


..."i'm sorry don't leave me, i want you here with me, i know that if you hate me, i can breath, i'm sorry, i know this isn't easy, and please don't tell me that your love will gone"...


^^^your husband on the future^^^


^^^Zahid^^^


terlihat tangisan haru yang tergambar di wajah Amirah


"hei-hei"


"apa-apaan pesan itu"


"dan pun…"


"itu pesan dalam bahasa Inggris semua"


"dan artinya itu…"


"aduh kok bisa…"


keluhku setelah mendengar isi surat yang baru saja di bacakan amirah


terlihat amirah senyum sendiri dengan menggenggam surat itu dengan erat, seperti tak ingin kehilangannya


aku masih berpikir, apa yang ada di pikiran shelter sampai bisa memberikan surat dengan isi yang seperti itu


"hei shelter"


"apa sih yang kau pikirkan" kataku mengeluh sambil menghadap ke arah langit


tanpa kusadari amirah yang tadi berada sedikit jauh dariku, sekarang sudah berada beberapa centi di depanku


dia menarik lengan bajuku seperti ingin menunjukkan atau mengatakan sesuatu hal penting kepadaku


"hah ada apa?" tanyaku


dia tak mengatakan apapun, dia mengembalikam secarik surat yang ku berikan padanya tadi


aku meraih surat tersebut dan membaca kembali isi yang baru saja di baca oleh Amirah


"bukan yang itu" katanya padaku yang salah membaca isi surat tersebut


"ini…" tunjuknya ke halaman belakang surat


sepatah kata ku temukan di belakang surat tersebut


mencoba memahami kalimat tersebut, aku mengeja huruf yang tertera di sana satu-persatu, bukan karena aku tidak bisa membaca, tetapi tulisannya yang terlihat seperti tulisan seorang dokter yang memberikan resep kepada pasiennya


"hoi shelter" panggilku pada diri sendiri


"kau mencoba mempermainkanku" gerutu ku dalam hati


dengan posisi berdiri dan konsentrasi penuh, ku pahami satu persatu huruf yang tertera pada halaman belakang surat tersebut


** 15 minutes leter **


cukup lama waktu ku butuhkan untuk memahami tulisan yang tertera di situ


isinya :


" kepada Zahid"


..."maaf karena sudah mempermainkanmu, sebenarnya ini semua sudah dalam perkiraanku"...


..."oh ya, aku lupa bilang padamu, aku bukanlah seorang malaikat kematian seperti Nun, waktu itu aku hanya membantu nya karena dia ada tugasnya, aku merupakan malaikat yang bisa mengatur kehidupan orang, aku dapat mengubah masa sekarang, maupun masa depan, untuk masa lalu aku dapat mengubahnya tetapi itu akan sia-sia, karena untuk apa aku memperbaiki masa lalu seseorang kalau dia tidak akan mengalaminya kembali, jadi itu tidak perlu bagiku"...


..."jadi seperti yang kukatakan di atas, semua ini adalah jalan cerita yang kubuat, sebenarnya aku masih ingin bermain-main lagi denganmu, tapi kupikir sudah mencapai batasnya, lebih baik ku akhiri secepatnya"...


..."seperti yang ku harapkan dari kau Zahid, hadiah yang ku berikan padamu telah kau serahkan padanya, dan hadiah itu sudah ku persiapkan sejak lama, karena itu juga merupakan permainan dariku"...


..."untuk sekarang, kau yang memutuskan semuanya, hasil akhir berada di tanganmu, jangan sampai ada kesalahan yang dapat membuat semuanya kembali kacau"...


..."this is your turn, make the good decided for you and for her"...


^^^"salam shelter"^^^


aku hanya tersenyum setelah membaca isi surat yang di tujukan padaku


"maaf shelter, aku menarik kembali kata-kata ku"


"terimakasih banyak sudah membantu" ucapku lega


ku perhatikan kembali surat yang berada di genggaman tanganku, karena tak ingin ada yang terlewatkan


"please read this be loud and fast in front of amirah" sebuah tulisan yang terdapat di pucuk surat


karena merasa yakin dengan apa yang di perintah kan shelter, aku membacanya dengan keras dan cepat di depan amirah


"Will you marry me" ucapku tanpa ada beban


amirah yang mendengar pernyataanku terdiam tak berkutik, merasa aneh dengan tanggapan yang di berikan Amirah, aku melihat kembali tulisan tersebut


"will…"


"you…"


"marry…"


"me…" ucapku mengeja kalimat per kalimat


"marry… me…"


kata yang terdengar tidak asing di telingaku


"marry… artinya…"


"nikah"


"me… artinya saya"


"jadi arti dari 'will you marry me' "


"apakah kamu mau menikahi ku…"


"menikahi ku…" ucapku berulang kali karena tak percaya atas apa yang baru ku ucapkan


"menikahi ku" kataku menjerit tiba-tiba


"shelter…" kataku berteriak


"kau permainkan aku lagi" kataku pasrah dengan pandangan ke atas


terasa seseorang seperti menarik lengan bajuku


"i want" katanya pelan dengan pandangan tertunduk ke bawah


"eh…"


"kenapa jawaban anak ini…"


"nggak salahkan" batinku dalam hati berharap apa yang di ucapkan Amirah itu keliru


"amirah mau" kata amirah berteriak menegaskan jawabannya yang pertama


"eh… bohongkan" kataku tak percaya