
"Zahid…"
"baka…"
** spirit world **
"siapa kau?" tanyaku pada seseorang yang berada di depanku
"kau tak perlu tau siapa aku" jawabnya
"karena…"
"aku adalah kau dan kau adalah aku"
aku hanya terdiam dan bingung
"apa maksudnya?" tanyaku dalam hati
"maksudnya aku adalah jiwamu, ruhmu"
"sedangkan kau adalah fisikku, badanku"
katanya menjelaskan
"apa yang kau katakan"
"bagaimana kau bisa tau apa yang ku pikirkan?" tanyaku padanya
"haduh…"
"kau masih belum paham"
"kita ini satu…"
"aku adalah bentuk dari kejiwaanmu atau kita sebut ruh"
"sedangkan kau… adalah bentuk dari ragaku alias fisikku"
"jadi aku dapat mengetahui apa yang kau pikirkan"
"kita ini satu" katanya menjelaskan panjang lebar
"baik baik aku sudah paham…"
"jadi apa maumu memanggilku ke sini?"
"waktu itu Nun yang memanggilku, lalu shelter dan terakhir kau"
"kau memanggilku pasti karena ada alasan tersendiri kan"
"yup" jawabnya membenarkan pernyataan dariku
"aku ingin kau berbicara dengan Amirah" katanya
mendengar hal itu aku melihat ke sekitar, tapi tak ada seorang pun di sini, hanya aku dan jiwaku
"apa maksudmu?"
"bukan Amirah dalam duniamu"
"tapi jiwanya"
"jiwanya…?" tanyaku kebingungan dengan apa yang di katakannya
"ini dunia roh, jadi kami hanya membawa roh-roh mereka, tapi bukan berarti mereka mati" katanya
"baiklah aku pamit dulu"
"aku akan kembali setelah kalian selesai bicara"
"ingat Hid…"
"jangan buat kesalahan untuk kedua kalinya" katanya berpesan padaku lalu menghilang tak berbekas
tak ada apapun di sini. dunia roh, aku berjalan tak terarah, ku lalui semua jalan yang ada
"hei Zahid main yuk"
tiba-tiba seorang anak kecil berada di sampingku, dan menarik tanganku
"kau…"
"kenapa? kenapa?" tanyanya
"ah… tidak apa-apa"
"hei hei main yuk, yuk main" katanya manja sambil menarik tanganku
"baik… mau main apa?" kataku mengiyakan permintaan anak usia 5 tahun itu
"main rumah-rumahan, Zahid jadi ayahnya ya" pintanya padaku
senyuman kecil ku lontarkan padanya sebagai pertanda setuju
*** 5 minutes later ***
"Zahid…"
panggil anak 5 tahun itu sambil bermain
"nanti di masa depan Amirah jadi umminya ya, dan Zahid jadi abinya"
tiba-tiba katanya seperti itu kepadaku
"tapi yang beneran bukan dalam permainan"
aku terdiam, entah kenapa tiba-tiba mataku seolah ingin menangis
"iya" jawab seseorang
terdengar suara laki-laki, sepertinya berusia 5 atau 6 tahun yang muncul di belakangku
"iya Zahid janji" jawab anak itu yang mengaku dirinya Zahid
"janji ya" kata anak perempuan itu sambil mengarahkan jari kelingkingnya sebagai ikatan perjanjian pada umumnya
"hmm… janji" kata anak lelaki itu sambil mengikatkan jari kelingkingnya ke jari kelingking anak perempuan itu
entah perasaan apa ini, aku seperti mengingat sesuatu yang sangat lama
"hiks, apa ini?"
"hiks, hiks, apa-apaan ini?" tanyaku pada diri sendiri dengan air mata yang bergelimang jatuh ke bawah
ku tolehkan pandangan ke arah mereka, seketika dua anak tersebut menghilang entah ke mana
tangisanku makin deras saat kehilangan mereka berdua
"hei…!" bentak seseorang
"jangan ganggu Zahid lagi"
ku seka air mataku, terlihat sesosok perempuan sedang berdiri di depanku dengan merentangkan tangannya
"kalian udah buat Zahid nangis"
bentaknya
aku terdiam mendengar bentakannya, sosok gadis berumur 11 tahun dengan tubuh kecil dan kacamata bundarnya
"Zahid" panggil nya
aku menaikkan pandanganku
"biar amirah melindungi Zahid" kata amirah sambil memegang ke dua pipiku
lagi-lagi aku tak dapat menahan air mataku, aku menangis untuk yang kedua kalinya
"lagi pula, kau kan laki Zahid"
"laki-laki nggak boleh cengeng lo" ucapnya menasehati ku sambil menyentil hidungku
"tapi kalaupun Zahid menangis, Amirah akan selalu ada di samping Zahid" ucapnya yang mengakui dirinya sebagai Amirah
kehangatan telapak tangannya membuatku tenang, seperti kehangatan seorang kakak dalam menenangkan adiknya yang menangis karena suatu hal
tapi, perlahan rasa hangat tersebut memudar, hawa dingin kembali menyelimuti diriku. tanpa ku sadari sesosok gadis yang memberikan kehangatan padaku sudah pergi
pandanganku tertunduk ke bawah, rasa sakit, sedih, pasrah semuanya bercampur dalam perasaan ini. tak tau bagaimana cara untuk mengungkapkannya
*****
"jadi bagaimana?"
tiba-tiba suara seseorang yang muncul entah dari mana
"ayolah, nikmati aja"
"kau bakal dapat jawabannya nanti" katanya menjelaskan
"jawaban apa?" tanyaku penasaran atas apa yang di bilang
"nanti kau akan tahu lah"
"santai aja" katanya menikmati diriku yang menjadi tontonan baginya
"jadi…"
"oops… waktu habis" ucapnya memotong perkataanku
"hei…"
"apa…"
"maksudmu…" kataku berteriak kepadanya
"bye..." katanya sambil melambaikan tangan lalu menghilang begitu saja
"huh… dasar jiwa nggak jelas"
aku melihat ke sekeliling, tidak ada sesuatu yang aneh menurutku, sama seperti yang tadi
"clink…"
secercah cahaya tiba-tiba lewat begitu saja yang hampir membutakan mataku
"apa ini?"
"tempat apa ini?" tanyaku bingung sambil melihat ke sekeliling
tanpa ku sadari aku sudah berada di lokasi taman bermain, cukup luas
terdapat kincir yang besar dan komedi putar yang cukup besar
"hei apa-apaan ini?" tanyaku pada diri sendiri
aku masih bingung dengan keadaanku yang tiba-tiba berada di sebuah taman hiburan
*****
"cepat kali Zahid datang" ucap seseorang
ku tolehkan segera pandanganku ke arah sumber suara yang tadi menyapaku
"hei Zahid"
"hei…" panggilnya
"owh ya ada apa" kataku merespon panggilannya
"hei jangan bengong dong"
"Amirah" panggilku di depannya
"ya saya"
"kenapa?"
segera ku bentangkan tanganku lalu memeluknya dengan erat seperti anak kecil yang memeluk erat bonekanya agar tidak hilang
"Za… Za… Zahid" panggilnya terbata
"Amirah"
lagi mataku kembali berkaca-kaca, seolah tak percaya atas apa yang aku lihat
"Amirah"
aku menjerit tak karuan
"hua…"
tangis ku pecah sambil mendekapnya dengan erat
"maaf…"
"maaf…"
"hei Zahid…"
"maafin Zahid… hiks"
"maafin Zahid karena nggak penuhi janji amirah" ucapku dengan perasaan yang sangat bersalah
"maafin zah…"
jari telunjuk amirah yang mengarah ke depan mulutku untuk berhenti berkata lagi
dia tersenyum manis padaku, senyumannya yang polos dan tatapan matanya yang tiada dendam serta menggambarkan kelembutan hati seorang wanita
dia membalas pelukanku dengan sebuah pelukan kehangatan dan ciuman di kening yang membuatku tenang
"nggak apa-apa kok" katanya mulai menitikkan air mata
"Zahid nggak salah"
"maafin Amirah…"
"maafin Amirah karena sudah egois sama Zahid…"
"Zahid menuruti semua perintah amirah karena keegoisan dan paksaan Amirah"
"maafin Amirah… hiks, karena hiks…"
"udah ngerepotin… hiks… Zahid…"
"maafin Amirah karena…"
"cukup…"
kataku sambil menyenderkan kepalanya ke pundak ku
tangisan nya pecah dalam dekapanku
"Amirah nggak salah"
"maaf karena Zahid udah ingkar janji sama Amirah" kataku meminta maaf
tangisannya yang makin lama makin kuat, tak tahu apa yang harus aku lakukan
teringat dengan kotak pemberian shelter, aku mengambilnya dan menyerahkannya pada Amirah
"ini" kataku sambil menyerahkan sebuah kotak kecil yang di berikan oleh shelter
tidak tahu pasti apa isinya, aku yang belum sempat membukanya karena di sibukkan mencari kabar tentang amirah, aku memberikannya tanpa mengetahui apa-apa
"apa ini?" tanya Amirah meraih kotak itu dari tanganku
"eh… adalah…"
"yang pasti ini hadiah untuk amirah" kataku sambil tersenyum padanya
"hmm…"
terlihat ekspresi kecurigaan amirah terhadap kotak yang baru saja ku berikan, di perhatikan dengan seksama, di guncang-guncang lalu di lihat lagi
"aman loh Amirah" kataku meyakinkannya
"betul ya, awas kalau ada apa-apa sama amirah"
"Amirah nggak mau lagi maafin Zahid"
"iya my sister" kataku berani bertaruh
amirah membukanya
terdiam sesaat, tiba-tiba matanya kembali berkaca-kaca
aku merasakan firasat buruk terhadap apa yang terdapat di dalam kotak itu
"hei shelter, kau tidak mencoba mempermainkan ku kan?" tanyaku dalam hati
matanya yang berkaca-kaca mulai meneteskan air mata
air mata kekecewaan atau air mata kebahagiaan
"apaan isinya sih…?" tanyaku mulai khawatir saat melihat ekspresi yang tergambar di wajah Amirah
"semoga…"