
" jodoh… "
" hahaha… ini bohongan kan " tawaku kecil tak percaya dengan apa yang ku dengar barusan
kedua orang tua Syakirah dan Amirah yang melihat tingkahku tak karuan merasa bingung, aku bisa menebak apa yang mereka pikirkan, mungkin seperti ' apakah ada yang salah dari perkataan kami barusan ? '
" hahaha… " tawaku kecil yang dari tadi tak berhenti
" ada apa nak ? " tanya ummi Amirah khawatir
" eh… haha… nggak, nggak apa-apa mi "
" tapi ummi…, bukannya ini terlalu mendadak "
"iya nak, maaf… " ucap ummi Amirah meminta maaf padaku
" eh… nggak bukan gitu maksud Zahid "
" nggak… nggak apa-apa kok " jelasku merasa bersalah atas permintaan yang di utarakan ummi Amirah kepadaku
" memang ini terlalu egois bagi Zahid "
" tapi… "
" kami sudah membicarakan baik-baik "
" tapi Syakirah… " ucapku sambil melirik ke arah Syakirah
" aku nggak apa-apa kok " ucap Syakirah tersenyum dengan mengacungkan kedua jarinya berbentuk 'v' ke arah ku
" eh…, dia Syakirah kan ? " tanyaku pada diri sendiri, seolah tak percaya apa yang Syakirah katakan kepadaku
terlihat ummi Syakirah yang duduk di sampingnya mengelus lembut kepala Syakirah
" jadi bagaimana nak ? "
" ini semua tergantung jawabanmu "
"kami nggak bisa memaksa, tapi kami berharap Zahid adalah orang yang mau menjaga putri kami " tutur ummi Amirah yang berharap penuh kepadaku
tak tahu harus menjawab apa, aku hanya terdiam mematung sambil memikirkan kalimat yang sesuai untuk menjawab pernyataan ummi Amirah barusan
" bagaimana nak ? " tanya ummi Amirah lagi
" maaf mi… untuk sekarang Zahid nggak tahu harus bagaimana "
" maaf " ucapku pasrah
terlihat Amirah yang berharap penuh kepadaku kembali tertunduk lemas ke bawah
" hmm… nggak apa-apa nak "
" nggak perlu minta maaf "
" seharusnya kami yang minta maaf karena udah egois "
" nggak apa-apa nak… Zahid bisa menjawabnya nanti " ucap ayah Amirah sambil bangkit dari posisi duduknya
" baiklah bang kami pamit dulu ya, mau beres-beres, besok udah mau berangkat " jelas ayah Amirah sambil menjabat tangan sahabatnya itu
" besok udah berangkat ya bang, ke Jakarta kan "
" ya bang, insyaallah "
" ok lah kak, Syakirah, Aisyah, Zahid, pamit dulu ya " kata ummi Amirah berpamitan dengan kami
" ya Bu " jawab Syakirah dan kak Aisyah bersama
terlihat Amirah masih tertunduk lesu, tanpa berpamitan kepada kami, dia berjalan mengekor kedua orang tuanya dari belakang
perlahan bayangan mereka mulai menghilang dari pandangan kami
" ya allah… apakah ini keputusan yang benar " keluhku ragu atas keputusan yang ku putuskan sendiri
seperti merasa ada yang ganjal, tidak tahu apa yang membuat perasaan ku seperti itu
" sepertinya ada yang harus ku sampaikan kepada Amirah kan " kataku ragu
entah kenapa pikiran ku tiba-tiba mengarahkan tanganku untuk memasukkannya ke dalam saku celanaku
terasa seperti ada sesuatu di dalam sana, ku keluarkan apa yang terdapat di dalam saku ku itu
"ini… kotak ini " kataku terkejut
" kenapa Zahid ? " tanya ummi Syakirah heran
tanpa pikir panjang aku berlari mengejar Amirah yang barusan pergi, melihat sikapku yang aneh karena tiba-tiba saja berlari tanpa mengatakan alasan yang jelas
" semoga sempat ya Allah " ucapku berharap dalam hati agar tidak kehilangan jejak mereka
terlihat Syakirah, kak Aisyah yang tiba-tiba ikut berlari di belakangku
ku lihat ke sekeliling pintu keluar mall, tak terlihat tanda-tanda keberadaan Amirah dan keluarganya
" sial… " keluhku kesal
" please Amirah, where are you "
" Zahid itu " tunjuk Syakirah ke arah pintu keluar pusat perbelanjaan ini
terlihat amirah dan keluarganya yang barus saja melewati pintu keluar dan menuju ke arah parkiran kendaraan
" Amirah… " jeritku kuat tanpa memperhatikan ke sekeliling ku
" Amirah… "
" eh Zahid… ada apa nak ? " tanya ummi Amirah
" huh… huh… huh… bentar mi " ucapku sambil mengatur nafasku yang sesak Karena habis berlari barusan
merasa pernafasan ku sudah seperti biasanya,.aku berjalan mendekati Amirah, tak berpikir ke depannya, ku lebarkan lenganku lalu ku rangkul amirah dari depan
" Zahid " ucap ummi dan ayah Amirah " bersama dan terkejut saat melihat perbuatanku pada putrinya
" maaf Amirah… maaf… " ucapku dengan menahan air mata yang hampir saja keluar dari kelopak mataku
" maaf "
" Zahid… ada apa ini ya " tanya Amirah bingung
" maaf aku tidak menepati janjiku " kataku sedih
Amirah yang tadinya tenang tiba-tiba tangisannya pecah. tak tahan mendengar tangisan amirah di dalam dekapanku, aku juga mulai menitikkan air mataku perlahan
" jangan nangis dong " pintaku untuk berhenti menangis
tak menghiraukan perkataanku, tangisan Amirah makin kuat
" kenapa hiks… tadi hiks… Zahid… " kata amirah bercampur dengan tangisannya
" maaf Amirah "
ku lepas rangkulan ku darinya, dan mengusap air matanya yang masih berbekas di wajahnya
" ini… " kataku sambil menyerahkan sebuah kotak merah berukuran kecil kepadanya
tidak tahu kenapa, Amirah kembali menangis saat menerima kotak tersebut dari genggamanku
" udah jangan nangis dong " pintaku padanya
" Zahid… " teriak ummi Syakirah yang tiba-tiba muncul
" hei Amirah… aku bermimpi " kataku mulai bercerita
" hiks… ya kenapa ? " tanya nya
" aku bermimpi aku bertemu denganmu "
" kenapa bertemu denganku ? " tanya nya lagi
" di sana aku melihatmu tertawa bahagia, dan kotak itu… " kataku sambil menunjuk ke arah kotak yang di pegang Amirah
" kotak ini… "
" ya kotak itu…, aku sudah berjanji pada seseorang untuk menyerahkannya padamu "
" sebenarnya aku sudah menyerahkannya padamu sih walaupun hanya dalam mimpi "
" aku melihatmu menangis bahagia saat melihat isi kotak tersebut, aku tidak tahu apa isi kotaknya, tapi aku merasa itu baik untuk mu " jelasku panjang lebar
" buka lah " pintaku pada Syakirah untuk membuka kotak merah yang kuberikan padanya
dengan perlahan dan penuh ke hati-hatian dia membuka kotak tersebut. tak lama berselang setelah di bukanya kotak merah tersebut mata Amirah yang tadinya sudah berhenti mengalirkan air mata kini kembali berkaca-kaca
" eh… Amirah kenapa ? " tanyaku khawatir terhadap isi kotak tersebut sampai-sampai membuatnya ingin menangis
" Amirah are you ok ? "
" heem… " gumamnya sambil mengusap air matanya yang hampir keluar
terlihat amirah yang mengeluarkan secarik kertas dari dalam isi kotak tersebut
" apa itu Amirah ? " tanyaku penasaran
" nggak tahu " ucap Amirah dengan menggelengkan kepalanya
" kayaknya itu surat " tutur kak Aisyah kepada kami
" bacalah Mir " pinta Syakirah kepada Amirah agar membaca surat yang di pegang nya
" dear Amirah
...tak tahu apa yang harus aku sampaikan kepadamu melalui secarik kertas ini, tapi yang pertama adalah ucapan terimakasih yang ingin ku sampaikan padamu sejak dulu, terima kasih. terimakasih atas segala yang kau lakukan untukku, terimakasih atas makananmu yang lezat, terimakasih atas dukungan mu kepada Zahid, terima kasih atas perhatianmu kepada Zahid...
...mungkin hanya itu yang dapat Zahid katakan melalui surat ini...
^^^from your friend^^^
^^^Zahid "^^^
untuk kelanjutan suratnya ada di belakang
" eh… ehh… eehhh… sejak kapan aku menulis surat begitu " tanyaku pada diri sendiri malu setelah mendengar surat yang di bacakan oleh Amira tersebut
" apa kelanjutannya ? " tanya ummi Amirah
Amirah membalik surat tersebut dan mendapatkan sebuah kalimat yang tertulis di belakanganya
tak tahu apa isi tulisan tersebut, tiba-tiba saja mata Amirah kembali berkaca-kaca
" nak ? " tanya ummi amirah heran melihat putrinya yang kembali ingin menangis
" apa isi pesannya Mir ? " tanya Syakirah penasaran
Amirah tiba-tiba saja menatap ke arahku lalu membacakan pesan itu dengan suara yang lantang dan kuat
isinya adalah
" Will you marry me ? "