Pierendra

Pierendra
Lebih dekat secara bersamaan



Aku berkemas untuk meninggalkan mejaku menuju keluar cafe. Namun tiba-tiba, seorang penjaga cafe mendatangiku sambil menyodorkan secarik kertas dan mengatakan, " Mbak, ini dari mas nya yang tadi duduk di pojok sana sambil menunjukkan lokasinya.Tapi sekarang sudah pergi mbak dan menyuruhku untuk menyerahkan ini kepada mbak." kata petugas Cafe.


"Oh...iya mas, terima kasih." kata Uma.


Begitu Uma membukanya, terlihat sepenggal kalimat-kalimat yang sepertinya pernah Uma tahu sebelumnya.


Gusar menyelam ke relung abdi


Menghias lara memupuk semi


kemana asa menautkan hati


duhai sang kekasih penguasa hati


"Penggalan puisi ini....." kataku lirih.


Dengan segera Uma melangkahkan kakinya ke luar cafe , berharap akan menemukan seseorang yang selama ini masih menjadi misteri.


Namun, Uma tidak melihat siapapun. Meskipun sudah mencari kesana-kemari tidak juga berjumpai seorang laki-laki yang sama sekali tidak diketahui olehnya.


Tapi setidaknya dengan adanya sepotong puisi tadi membuat Uma kembali menyadari bahwa sebenarnya mister " x " itu ada. Meskipun Uma tidak mengetahui entah siapa, bagaimana wajahnya dan dimana dia berada.


Uma....There is some one in some where who always thinking of you. Okay....?


huuuhh.... keep smile...!! Uma menasihati dirinya sendiri .


Sekarang , Uma mulai berjalan sebentar untuk sampai ke rumahnya. Pandangannya melihat di samping kanan dan kiri jalan yang sekarang sudah mulai dibangun toko-toko yang berjajar. Belum ada satu unit pun yang terjual. Maka dari itu terkesan sepi.


Lalu Uma mendengar suara langkah kaki yang mengikuti di belakangnya. Sepertinya dia hendak menyalip langkahnya berjalan, Untuk itu Uma sedikit menepi guna memberinya kesempatan untuk mendahuluinya.


Namun siapa sangka, orang itu adalah kak Rendra. Perasaan Uma campur aduk antara takut dia marah ataupun malu karena telah berbohong kepadanya kemarin. Uma tidak bisa berkata apa-apa sambil terus melangkah. Hingga tiba-tiba kak Rendra berhenti menghadang di depan Uma.


Sambil memegang pundak Uma , kak Rendra berkata, "Tunggu sebentar Uma ! Ada apa denganmu ? Kamu sepertinya menghindar dariku ? "


Kak Rendra menundukkan wajahnya persis didepan muka Uma membuatnya semakin tidak bisa menyembunyikan kegugupannya . Mereka tidak pernah berbicara sedekat ini sebelumnya. Jantung Uma rasanya mau copot.


" Maafkan aku kak Rendra ? Aku melakukan kesalahan dengan berbohong kepada kakak waktu itu, padahal waktu itu aku hendak pergi ke rumah temanku tapi aku mengatakan hal yang lain." Uma meminta maaf dan menjelaskan yang sebenarnya.


"Ah.... tidak usah dipikirkan, itu sudah menjadi hak pribadimu . Aku hanya tidak ingin ada ketegangan diantara kita. Kau tidak perlu menjauhiku atau takut kepadaku. Sudah lama aku kangen tidak melihat senyum manismu . Sekarang , tersenyumlah..... " Pinta kak Rendra.


Lalu kuberikan senyum termanisku untuknya karena aku lega dan tidak takut lagi karena merasa bersalah. Ternyata penilaianku tentang anak kuliah selain sok sibuk ada satu lagi yaitu lebih dewasa dalam menyikapi hal dan luas pemikirannya.


" Terima kasih kak, aku lega sekali mendengarnya. Seharusnya aku memang meminta maaf lebih awal. Sehingga aku tidak perlu menghindar darimu. " Kata Uma senang.


" Tidak masalah.... " sambil mengedipkan mata kanannya.


Mataku terbelalak kaget karena dia melakukan tindakan yang aneh itu. Lalu aku tertunduk tersipu malu.


" Sekarang, jangan bilang lagi kalau kamu malu digosipkan tetangga ! " Dengan tanpa menunggu persetujuan kak Rendra merangkul pundak Uma dan mengajaknya berjalan bersama.


Untuk saat ini Uma merasa seperti dipaksa dewasa dengan menerima semua perlakuannya dan harus terlihat biasa saja meskipun sebenarnya Uma merasa kalau ini semua terlalu cepat.


Rasanya aneh juga karena , Uma kesulitan melepaskan diri dari rangkulan tangannya yang sering mengangkat barbel setiap sore. Kebetulan kak Rendra memakai kaos lengan pendek yang menonjolkan otot lengannya. Uma mulai merasa gerah karena dekatnya tubuh mereka yang berjalan berdampingan. Lagi pula keringatnya meluncur deras saat Uma sedang grogi.


Kak Rendra orangnya sangat cuek sekali. Dia melakukan apa yang diinginkannya tanpa mempedulikan orang sekitar. Sampai-sampai Uma yang sedari tadi menatap wajahnya saja dia tidak mengetahuinya.


" Oh... tidak....Ibu sedang duduk di teras . Dimana aku harus menyembunyikan mukaku. Sedangkan lengan kak Rendra masih merangkul di pundakku. " batin Uma panik.


"Kak....kak Rendra...! " Uma berusaha membuatnya sadar.


" Apa.....?" Dia malah melihat ke arah Uma sehingga tidak melihat ibu.


" Nak Rendra, makasih sudah membawa Uma balik ke rumah, tapi itu tangannya bisa dilepas nggak....? " Kata Ibu Sofi mengingatkan.


Sambil kikuk dan salah tingkah kak Rendra melepaskan rangkulannya.


" I...iya Tante... maaf....Tadi Uma nggak mau pulang , jadi aku harus membuatnya tidak bisa kabur." Jawab kak Rendra ngeles.


" Enak saja , jangan percaya Bu ! kak Rendra tuh yang cari kesempatan." Uma berjalan menuju ibu untuk mencari perlindungan.


" Nah... kalian itu harus sering bersama dan bercanda semacam ini.... sudah kenal bertahun-tahun kok cuma senyam-senyum doang...." Kata Ibu Sofi.


" Haaa...! ibu kok ngomongnya gitu sih...? Punya anak perempuan bukan dijaga baik-baik malah dijadikan umpan. " kata Uma kesal.


Yang lebih menjengkelkan Uma lagi, mereka berdua malah tertawa dengan sikap dan perkataannya tadi.


" Hahahaha..... Uma ....Uma.." kata Ibu.


" Ihhh..... ! Malah pada ketawa lagi.. ! " Muka Uma semakin cemberut.


Langsung saja Uma meninggalkan mereka berdua yang sepertinya sekongkol untuk menggodanya.


" Heran aku, kenapa Ibu baik banget sama kak Rendra ya..? Lama - lama aku jadi kesal dengannya. " Uma menenangkan emosinya dengan mengambil segelas air dingin di kulkas.


" Huh....! Capeknya." Sambil melepas sepatu dan meletakkan tas , Uma merebahkan tubuhnya di ranjang dengan seragam sekolah yang masih terpakai.


Uma lebih suka mengingat pertemuannya dengan Riyan tadi. Mereka mulai akrab dan sudah tidak canggung lagi ketika mengobrol. Sedangkan kak Rendra...? Aduh.... kenapa bisa dekat dalam waktu yang hampir bersamaan sih.... ? Batin Uma.


tok tok tok.....( suara ibu mengetuk pintu kamar Uma )


" Uma....Ibu oleh masuk nggak ? "


" Nggak boleh ! Umanya lagi tidur. " kata Uma yang masih kesal.


" hihihi.... Tidur kok bisa jawab. Ibu bawakan makan siang nak...." Rayu ibu.


Akhirnya dengan terpaksa Uma membukakan pintu untuk Ibu , " Silahkan masuk ibu.. ! "


Setelah meletakkan makanan di atas meja, ibu mendekati Uma yang sedang duduk di tempat tidur.


"Kamu masih marah dengan Ibu nak...??" Tanya ibu kepada Uma.


" Mana mungkin aku bisa marah kepadamu Ibu.... " Jawab Uma sambil meletakkan kepalanya di pangkuan ibu.


" Ibu tahu putri ibu tidak mungkin berbuat seperti itu." kata Ibu sambil membelai rambut Uma .


"Aku hanya bingung dengan perlakuan istimewa ibu kepada Kak Rendra." Uma mencoba meminta keterangan.


"Ah.... perlakuan istimewa apa ? Ibu kan memang baik kepada semua orang. Memangnya ibu harus bagaimana ? memarahinya ? Kalau Ibu suka marah-marah, bisa-bisa tidak ada orang yang mau ngekost di sini. Lantas, dari mana ibu bisa memenuhi semua kebutuhan kita ? " Ibu menjelaskan.


" Kamu nya saja yang nggak bisa diajak bercanda. Kenapa ? Capek ya ?" Desak Ibu.


" Iya Bu, maaf . Hari ini badan aku memang terasa capek banget." Jawab Uma.


"Ya sudah, segera ganti baju , lalu makan siang , baru kamu istirahat, ya ! " Ibu menasihati.


"Iya ibu, makasih . " Jawab Uma.


Saat Uma akan mengganti bajunya, terasa ada sesuatu di dalam saku " . Oh....ini tadi adalah puisi dari mister "x" ".