Pierendra

Pierendra
Membuatku terkejut dan terkejut lagi



" Bisa nggak berhenti nahan ketawa kayak gitu ? Aku kan jadi males lihatnya ! " Kesal Riyan karena sejak dia menjalankan mobilnya tadi terdengar suara cekikikan Uma yang timbul tenggelam sejak tadi.


" Ya udah, Kamu lihat ke depan aja ! Kamu kan juga lagi nyetir !" jawab Uma sambil memeluk tasnya yang tadi dipangkunya.


Kalau Uma mengingat kejadian Riyan yang tidak mau diperlakukan seperti anak kecil tadi Uma terkekeh, namun langsung dia tahan karena takut ketahuan oleh Riyan. Meskipun saat Riyan mengaku salah tadi, itu sangat sweet banget. Uma kembali tersenyum.


" Baiklah. Aku akan berhenti, tapi jawab pertanyaanku, Oke ? " Uma memberikan penawaran.


" Apa ? " Riyan mencoba mengikuti kemauan Uma.


" Diantara nama cewek yang tertulis di buku kamu tadi, aku tahu nama Lisa, itu pacar kamu kan ? Sedangkan nama-nama cewek yang lainnya itu, Pacar kamu juga ? " Uma mencari jawaban langsung kepada Riyan.


Sambil tersenyum, Riyan mengangguk dan mengiyakan. " Iya..."


" Lantas, Kenapa namaku juga ada di sana ? Dan apa maksudnya nama aku disitu kamu kasih bingkai ? " Uma meminta penjelasan.


" Ciiit..... " . Riyan menghentikan mobilnya. " Sebenarnya kamu sudah mendapatkan clue nya. " Pancing Riyan.


" Yang mana ? " Uma masih merasa bingung.


" Lisa itu kan ? " Riyan menuntun Uma menarik kesimpulan.


" Pacar kamu. " Jawab Uma cepat.


" Yup...." singkat Riyan.


" Berarti , itu semua adalah daftar nama pacar kamu ?" Uma menyimpulkan


Riyan mengangguk


" Nah, kita kan nggak pacaran ? Ya emang sih.,kita dekat. Tapi, kalau jadian saja nggak.... gimana bisa disebut pacaran ? " Uma mencoba menyangkalnya.


Riyan menghembuskan nafas untuk mengumpulkan keberaniannya berterus terang kepada Uma, " Kamu cuma memperhatikan bingkainya, tapi kamu nggak memperhatikan kalau nama kamu itu yang terakhir, So.... " Riyan menahan untuk meneruskan kalimatnya dan memegang tangan Uma.


Uma sangat merasa kebingungan dengan perubahan sikap Riyan yang tiba-tiba menggenggam tangannya. Terbersit dalam batin Uma, Jangan-jangan dia mau....


" Aku mau menjadikan kamu akhir dari petualangan cintaku, Uma.... maukah kamu menjadi jodohku ? " Kata Riyan sambil menatap dalam mata Uma.


Mata Uma terbelalak, tubuhnya terpaku mendengar apa yang baru saja Riyan katakan, Lidahnya tiba-tiba terasa kaku sehingga membuatnya susah untuk berbicara. Apa yang tadi sempat dia takutkan menjadi kenyataan. Kenyataan yang membuatnya terjebak diantara dua pasukan perang yang siap bertempur memperebutkan dirinya.


Satu sisi ada kak Rendra yang lebih dulu melamarnya meskipun Uma meminta waktu untuk menerima pinangannya. Dan di sisi lainnya, ada Riyan yang selama ini memenuhi pikiran dan hatinya yang sekarang ini sedang menyatakan perasaannya dan menunggu jawaban dari Uma.


tuuut... tuuut.... lagi-lagi handphone Uma berbunyi sehingga dengan seketika membuyarkan nuansa romantis yang sedang terjadi.


" Eh...maaf Riyan....aku angkat telfon dulu maaf ? " Uma dengan terpaksa melepaskan genggaman tangan Riyan.


" Heh.. ! Iya, Silahkan ! ." Dengan perasaan sedikit kecewa karena bunyi telepon itu sangat mengganggu momen penting bagi Riyan.


" Halo.... " Tangan Uma yang satunya memegangi keningnya yang terasa pening karena mendengar ibunya yang sedang mengomel panjang lebar, khawatir karena putrinya hingga lewat Maghrib belum juga tiba di rumah. Sesekali Uma menggigit bibirnya karena ketakutan .


" Iya Bu...Maaf, ini Uma sudah di jalan, ini sedang macet Bu... " Terpaksa Uma sedikit berbohong.


" Iya... wa'alaikumus Salaam ". Uma mengakhiri percakapannya dengan ibunya di telepon.


Tut... Uma menutup handphonenya.


" Eng....Maaf Riyan ... Bisa tolong cepat anterin Uma pulang nggak ? Soalnya ibu sudah marah besar nih, Uma takut." Dengan nada memohon dan pasang muka memelas.


Tanpa berlama-lama Riyan kemudian menancap gas supaya bisa dengan cepat sampai menuju rumah Uma.


Suasana di dalam mobil itu sekarang menjadi canggung. Uma berpura-pura melihat ke jendela samping kiri untuk menghindari bertatapan mata dengan Riyan. Karena dia sekarang merasa malu , bingung, senang secara bersamaan. Perasaan campur aduk memenuhi hatinya atas pernyataan Riyan tadi.


Sementara Riyan, dia tidak ingin terkesan memaksakan kehendaknya dengan tidak mengungkit pertanyaan yang dia utarakan tadi. Dia juga berusaha untuk fokus kearah jalan raya yang lumayan ramai supaya dapat segera sampai ke rumah Uma dengan selamat.


Selang sepuluh menit kemudian, mereka telah sampai di depan rumah Uma. Kemudian dengan nada khawatir Uma berpesan kepada Riyan agar segera pulang karena takut kalau ibunya akan memarahinya.


" Riyan, aku mohon kamu langsung pulang aja ya ? please...! Aku nggak mau kamu kena marah sama ibu aku, oke ? please... please....! " Uma mengatupkan kedua tangannya seraya memohon.


" Oke." Riyan mengangguk. " Sampai ketemu besok."


" Iya... makasih dan sorry banget ya ? ". lalu Uma bergegas keluar dari mobil dan melambaikan tangan kepada Riyan yang sudah mulai menghidupkan mesin mobilnya.


" Aduh ! Aku belum sholat Maghrib lagi." Uma mempercepat langkahnya memasuki pintu rumah yang terbuka itu. Namun Uma berhenti dan sangat terkejut karena tiba-tiba kak Rendra muncul dan berdiri dihadapannya.


****


" Hahh.... Kak Rendra ? Kapan datangnya ? Kok nggak ngabarin ?" Uma sangat gugup .


" Memangnya kenapa ? Nggak boleh ya aku ngasih kejutan buat calon aku ? " . Kak Rendra berusaha mengingatkan lagi tentang lamarannya itu.


" Ehe....Boleh sih kak. Hanya saja, aku kan jadi nggak persiapan." Uma berusaha bersikap santai meskipun dia tahu kalau kak Rendra itu sedang menahan amarahnya.


" Maksud kamu persiapan supaya kamu bisa mengatur waktu kamu untuk jalan bareng sama Riyan itu...hah ! " kemarahan kak Rendra meledak juga.


" Maaf kak ? ini semua nggak seperti yang kak Rendra pikirkan." Uma mencoba meraih tangan kak Rendra namun ditolaknya. Uma melihat kak Rendra yang semakin jauh meninggalkannya dengan rasa sedih dan bersalah.


POV Rendra :


Ahh....Aku nggak boleh kayak gitu. Kasihan Uma nanti dia bisa sedih . Ternyata dia mencoba membayangkan kalau misalnya dia meluapkan rasa cemburunya kepada Uma yang sekarang sedang perjalanan pulang.


Realita :


" Assalamu'alaikum bu... Eh...ada kak Rendra, kapan datangnya kak ? " Sapa Uma sambil mencium tangan ibunya yang menemani kak Rendra selama menunggu Uma pulang.


" Wa'alaikumus Salaam....Aku sudah nunggu kamu sejak tadi sore jam tiga. " Jawab kak Rendra menguasai emosinya.


" Aduh maaf..Uma nggak tahu. " Uma sangat menyesal karena telah membuat kak Rendra menunggu begitu lama.


" Nggak papa ... ada Lui yang tadi nemenin ngobrol.. " jawab kak Rendra lagi.


Kamu segera mandi dan solat Maghrib dulu Sana ! Waktunya sudah mau habis tuh ! " Perintah Ibu kepada Uma.


" Iya Bu, Sebentar ya kak ? " Uma meninggalkan mereka di ruang tamu.


Setelah selesai mandi dan sholat Maghrib, Uma bergegas keluar menemui kak Rendra yang sudah sendirian dan tidak lagi ditemani ibu. Mungkin ibu ingin supaya kami leluasa untuk mengobrol.


" Jadi , kamu darimana ? " Kak Rendra mengawali obrolannya.


" Sehabis pulang sekolah tadi , aku pergi ke makam ayah . Terus, secara nggak sengaja ketemu Riyan di sana yang juga sedang mengunjungi makam kakaknya . Habis itu, dia mengajak aku ke rumahnya. Tapi aku sudah ijin sama ibu kok...." Uma menceritakan yang sebenarnya.


" Jadi begini , yang kamu maksud mengatasi hubunganmu dengan Riyan ? dengan main ke rumahnya ? " kak Rendra mencoba mendengarkan penjelasan dari Uma.