Pierendra

Pierendra
Menjadi Teddy bear



" Gawaaaatt...!! Itu muka serem banget. " batin Uma. Dengan mengernyitkan dahi , Uma bertanya kepada Riyan. " Itu...mama kamu ? "


" Iya." jawab Riyan sambil tersenyum melihat ekspresiku.


" Kenapa kamu ajak aku ke rumahmu sekarang Riyan ? Kamu nggak lihat apa kalau mama kamu sedang pasang muka marah begitu ? " Uma semakin panik.


" Tenang saja Yang .. ! " Riyan menenangkan Uma setelah mencolek genit dagunya, kemudian membuka pintu mobil untuk keluar menghampiri mamanya.


" Tuh kan , kamu nyetir mobil sendiri lagi..? berapa kali mama bilang, jangan menyetir mobil sendiri ! Biar pak Hadi saja ! Kamu nggak pernah mau mendengarkan perintah mama ya...?! Mana pak Hadi ? Jangan bilang kalau kamu sudah menyuruhnya pulang ? jam berapa ini Riyan...? Mama kan jadi telat berangkat arisan sama ibu-ibu yayasan ! Kamu tahu kan, mobil mama sedang masuk ke bengkel...??!! terlihat mamanya Riyan terus mengomel sambil mengekor mengikuti dari belakang saat Riyan berjalan mengitari bemper depan mobil untuk bergerak menuju samping kiri mobil dan bersiap membukakan pintu untuk Uma .


" Riyan ! kamu mendengarkan mama nggak sih ? " mama Riyan semakin emosi karena merasa tidak digubris oleh anak kesayangannya itu.


Riyan menurunkan bahunya kemudian berbalik menghadap mamanya dan berkata,


" Iya mama Tisya.... Maaf, aku sedang bersama teman, jadi.... tolong mama pelankan sedikiiit nyanyian mama , Okey ! "


" Apa ? Teman ? Kenapa kamu tidak mengatakan dari tadi ? Siapa ? Mmph ..." Mama Tisya tidak dapat lagi berkata karena telunjuk Riyan yang menahannya supaya mama berhenti bicara.


Akhirnya Riyan membukakan pintunya dan memberikan tangannya sebagai pegangan. Uma meraih tangan Riyan untuk keluar dari mobil dengan perlahan dan sopan . Apalagi sedang ada mamanya Riyan.


Mama Tisya memperhatikan Uma dari ujung atas sampai ujung kaki dan berakhir kembali dengan menatap Uma yang sedang menunduk karena tidak berani membalas tatapan mata mama Tisya. Hal itu sangat membuat Uma merasa takut dan salah tingkah.


Namun akhirnya Uma tersadar saat Riyan menyuruhnya untuk menyapa. "Sstt....Ayo ! Kamu nggak memberi salam sama mama..?


" Eh..iya... Assalamu'alaikum Tante.... " sapa Uma sambil mencium tangan mama Tisya.


" Wa'alaikumus Salaam.... " jawab mama Tisya dengan penuh pertanyaan.


" Ayo ! " Riyan menarik tangan Uma begitu saja meninggalkan mama Tisya yang masih terbengong-bengong menyaksikan tingkah polah anaknya itu.


Uma masih berusaha menoleh ke belakang dan melihat ke arah mama Tisya karena merasa tidak enak hati dan takut dianggap tidak sopan.


Berbanding terbalik dengan Riyan yang terus saja berjalan menaiki anak tangga sambil menggandeng Uma menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


" Riyan ! Kamu nggak sopan banget sih sama mama kamu sendiri ! " Protes Uma.


" Memangnya kamu siap , berdiri selama satu jam disana tadi ? " tantang Riyan.


" Apa maksudnya ? " Uma masih bingung dengan pertanyaan Riyan yang masih mengandung teka-teki.


" Kamu nggak ingat saat mama memberikan sambutan atas nama yayasan tadi ? kupingku saja masih panas sampai saat ini." Rian mengingatkan sambil mengorek telinganya yang tidak gatal.


" Huuu....kamu tuh , bisa aja ! Tetep saja nggak boleh tau ! " Uma menasihati.


" iya...iya....besok nggak aku ulangi lagi. " janji Riyan kepada Uma.


" Ayo masuk ! " Ajak Riyan setelah membuka kunci pintu kamarnya.


" Apa ? Masuk kamar kamu ? tanya Uma bingung.


" Bilangnya nggak mau ngapa-ngapain aku . Tapi, dia sudah berbaring diatas tempat tidur dan menyuruhku duduk di sampingnya. " Batin Uma.


" Demi Allah ! Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. " Riyan sampai bersumpah untuk meyakinkan Uma


Dengan langkah yang berat melawan hati nuraninya Uma meletakkan tasnya di atas meja dan mulai beranjak naik ke atas tempat tidur dengan posisi duduk bersandar.


Tanpa menunggu lama Riyan langsung merangkul pinggang Uma dan berkata , " Aku mohon , jangan menolak ! "


" Oh tidak.. Bagaimana ini ? Aku tidak bisa bergerak sama sekali." Riyan semakin mengeratkan pelukannya. Namun kepalanya masih tetap berada diatas bantalnya. seolah-olah aku ini sebagai boneka Teddy bear yang besar yang sangat nyaman ketika dipeluk sebagai teman tidur.


" Gghrrr..... hhuuhh.... Gghrrr......." Riyan mendengkur.


" Yang..... Riyan ! Kamu sudah tidur ?" Uma mencoba menggerakkan bahu Riyan pelan-pelan. Namun usahanya sia-sia seiring melemahnya pelukan Riyan sebagai tanda kalau dia sudah semakin pulas dalam tidurnya.


" Tidurlah Riyan ! " Uma membelai lembut rambut Riyan yang semakin lebat itu.


" Kamu pasti lelah dengan kesedihan yang kamu pendam sendiri selama ini. dan kakakmu itu pasti sangat berarti sekali bagimu hingga kamu sesedih ini." kata Uma lembut.


" Ya Allah... Riyan itu ganteng banget. Mau bagaimanapun dan dalam keadaan apapun selalu nampak menawan. " Puas Uma memandang wajah Riyan sambil tersenyum sendiri.


" Hhuh.... Sekarang aku harus bagaimana ? Masa aku harus menunggunya sampai Riyan bangun ? " keluh Uma mulai merasa bosan.


Akhirnya Uma memandang sekeliling kamar Riyan yang terdapat tempelan poster sepakbola di dinding layaknya para penggemar bola pada umumnya. Namun Uma tidak paham dengan Sepak bola, jadi dia hanya sekilas saja melihatnya.


Kemudian mata Uma berakhir kearah meja sebelah tempat tidur Riyan yang kini berada dekat disampingnya. pandangannya tertuju pada sebuah buku harian berwarna abu-abu.


Dengan sangat hati-hati Uma mengambil buku itu supaya Riyan tidak terbangun. Uma sangat penasaran dengan isinya. Saat dibuka ternyata isinya hanya sebuah nama tiap lembarnya. Satu persatu Uma membuka halaman buku itu. Dan anehnya lagi semuanya adalah nama cewek, seperti Sinta, Reva, Silvi, Arin.... " Apakah yang dimaksud adalah mbak Arin ku ? " tanya Uma dalam hati.


Kemudian Uma melanjutkan membuka satu persatu halaman buku itu .Tiara, Ninda , Lisa, Humaira.... Humaira kan namaku... ? Dan....kenapa dibingkai sendiri ? Uma semakin bingung.


Diantara semua nama cewek yang tertulis di dalam buku itu, hanya tiga nama yang Uma kenal , yaitu mbak Arin, princess Lisa dan dirinya sendiri. Dalam pikirannya bertanya-tanya, apa maksud dan tujuan tulisan nama-nama ini. Kenapa tidak ada keterangan sama sekali ? Kembali Uma menatap Riyan yang masih tertidur pulas.


Disaat Uma masih bergelut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba terdengar suara " Ceklek....." dari pintu kamar yang terkunci.


" Hah.... " Uma merasa kaget, dan seingatnya Riyan sudah menguncinya tadi.


" Ngeeek....." pintu itu terbuka oleh mama Tisya dengan memegang kunci cadangan ditangannya. Beliau segera berjalan menghampiri Uma untuk mengajaknya keluar. dengan sangat lirih mama Tisya berkata," Kita perlu bicara diluar, ayo ! Sambil mengulurkan tangannya.


Dengan lirih pula Uma menjawab, " ini bagaimana Tante ? " dengan menunjuk ke tangan Riyan yang sedang memeluk pinggangnya. " Bagaimana kalau nanti Riyan bangun ? " Tambah Uma.


" Sudah.. ! Nggak papa. Kamu taruh saja, dia nggak akan bangun ! "perintah Mama Tisya.


" Oh... Okey...!! " jawab Uma sambil melepaskan pelukan Riyan dengan perlahan. Lalu meletakkan kembali buku Riyan di meja dan berganti mengambil kembali tasnya .


Mama Tisya dan Uma berhasil meninggalkan Riyan yang sedang tertidur pulas. Mereka berdua berjalan menuju teras untuk berbincang-bincang. Uma penasaran mengenai perihal apa yang mau dibicarakan oleh mama Tisya.