
" Oohh..... jadi begitu ? Hhehh ! tak ku sangka mereka begitu licik. " Uma bergelut dengan pikirannya sendiri sekaligus menyayangkan dengan apa yang tengah terjadi.
" Rupanya ada baiknya aku menerima hukuman ini, dengan tidak sengaja aku mendapatkan informasi yang sangat berharga dari Dika. Next time kalau ketemu dengannya, aku akan traktir dia minum jus. " batin Uma.
( Tok tok tok..... )
" Ya, masuk ! " kata Bu Rima.
" Maaf Bu, saya sudah selesai mengerjakan tugas, boleh saya mengikuti pelajaran ? " Tanya Uma sopan.
" Iya , Baiklah. Silahkan kamu duduk ke tempatmu ! " Kata Bu Rima mengarahkan.
" Terima kasih bu... " Kata Uma dengan sedikit membungkukkan badan lalu menuju ke kursinya.
Karena Uma berjalan dengan menunduk, maka dia pun segera mengetahui kalau kursinya telah basah oleh air soda yang berwarna merah. Pandangan Uma seketika mengarah ke Mbak Arin yang memang sengaja menunggu untuk disalahkan lalu kemudian pasti menyangkalnya.
" Apa..?! " Tantang Arin sekaligus bentuk penyangkalan mengenai basahnya kursi Uma.
Tanpa mempermasalahkan kejadian tersebut, justru Uma mendekati mbak Arin dan berkata,
" Aku tahu kebusukan kalian bertiga, kalian pikir aku selugu itu ? Bersiaplah ! kalian akan menghadapi Uma yang sangat berbeda !". Kata Uma menabung genderang peperangan dengan mbak Arin.
" Kenapa kamu tidak segera duduk Uma ? " tanya Bu Rima.
Sambil berjalan menuju depan untuk mengambil lap Uma menjawab, " Maaf Bu, kursi Uma basah, jadi mau saya lap dulu."
" Oh, ya sudah .Kalau sudah selesai, segera kamu kerjakan soal di papan tulis ! " Kata Bu Rima memberikan tugas materi bahasa Inggris.
" Siap Bu ! " Jawab Uma bersemangat. Tak terlihat kesedihan sedikit pun yang nampak dari mukanya atas apa yang dialaminya. Dirinya yakin kalau dia bisa melewati semuanya tanpa berkeluh-kesah. Karena itu mungkin yang mereka inginkan.
Arin merasa heran dengan perubahan sikap Uma, " Aneh, mestinya dia masih merasa sedih dan bersalah atas apa yang ku lakukan kepadanya. Tapi dia bilang, dia tahu rencana kami bertiga ? Padahal waktu itu, Ita dan Mia sudah aku setting untuk memberitahunya kalau.... " Arin tidak menyelesaikan dalam benaknya.
Seketika Arin menengok ke belakang, tepat ke muka Ita yang juga tengah bingung dengan apa yang terjadi.
" Apa yang kamu katakan ke Uma sudah sesuai dengan pengarahan dariku kan Ta...?" kata Arin berbisik dan sedikit panik.
" Sudah. Malah katanya dia cuma scroll massage aku dan gak sempat baca, jadi yang tahu cuma kak Rendra. " Jawab Ita sesaat sebelum Uma berjalan kembali ke tempat duduknya. Dan dengan cepat mereka berdua mengakhiri pembicaraannya.
Kalau pun cuma kak Rendra yang tahu, dia tidak mungkin menjemputnya secara tiba-tiba , karena pesan itu hanya berisi tentang rencana kami memberi kejutan dihari ulang tahunnya dengan menceburkannya ke kolam, itu saja. Pikir Arin keras.
" Ahh... rencana kemarin memang gagal total, tapi untuk kali ini aku harus membuatnya kembali lagi percaya kepadaku. Dan sepertinya mulai berjalan dengan baik, meskipun dia sudah mulai merasa marah. Biarlah ! Tunggu saja nanti. " Batin Arin dalam hatinya.
Uma segera menyelesaikan tugasnya dengan secepat kilat, dia sama sekali tidak menemui kendala yang berarti. Karena mata pelajaran bahasa Inggris memang menjadi favoritnya sejak duduk di bangku Mts. Dia selalu mendapat nilai yang melebihi KKM.
" Sudah selesai Bu." kata Uma memberi tahukan kepada Bu Rima.
" Ya. Silahkan bawa ke depan! " Bu Rima memerintahkan Uma agar membawa tugasnya ke mejanya.
" Cepat sekali kamu Uma, dan betul semua. " Bu Rima memberikan pujian dan merasa puas dengan hasil jawaban Uma .
" Terima kasih Bu." Uma segera kembali ke tempat duduknya setelah mendapatkan nilai seratus dari Bu Rima.
Kali ini, Arin justru sedang merasa kesulitan untuk mengerjakan tugas. Mestinya dia tidak perlu mengalaminya kalau dia tidak berulah kepada Uma. Karena selama ini Uma selalu membantunya dalam mata pelajaran bahasa Inggris , yang memang menjadi kelemahannya.
" Hhehh..! Rasakan kamu mbak ! Sekarang kamu pasti sedang kebingungan mengerjakannya. " Puas dalam hati Uma karena mengetahui kelemahan dan kesulitan yang terlihat dari wajah Arin.
( Teeeet....teeeet.....teeeet....!!! ) Bel istirahat berbunyi.
" Wa'alaikumus Salaam Bu ... ! " jawab semua murid.
Ita terkejut mendapati sebuah gulungan kertas kecil yang baru saja diletakkan oleh Arin di atas mejanya. Penasaran dengan isinya, Ita membuka gulungan kertas tersebut untuk mengetahui pesan dari Arin.
" Tetap jalankan rencana kita selanjutnya ! "
Ita yang tidak mengetahui rencana besar dibalik semua itu pun akhirnya menyetujuinya. Kemudian mereka berdua mengangguk bersama.
" Yuk Ma... kita ke kantin, kamu pasti lapar. " ajak Ita dan Mia.
" Iya, sebenarnya tadi aku juga belum sempat sarapan, cuma baru makan sandwich aja. sepertinya , soto seger nih. Ayo ! " Ajak Uma balik.
" Siiipp.Ayo! " balas Mia.
Sesampainya di sana , mereka menunggu pesanannya datang di meja tengah kantin, lalu Ita mulai membuka obrolan . " Eh...iya Uma, aku mau cerita tentang SMS aku kemarin. Jadi, mereka itu...." belum sempat menyelesaikan kalimatnya, kemudian Uma memotong, "Aku sudah tahu, kamu nggak perlu cerita ! "
" Hah... ? tapi tadi pagi kamu bilang, kamu pengen tahu, sekarang kamu bilang, sudah tahu. Tahu dari mana ? Kan aku belum cerita ? " Ita kebingungan.
" Kamu nggak perlu tahu aku tahu dari mana ! " Ita dan Mia saling berpandangan dan merasa aneh dengan sikap Uma.
" Memangnya apa yang dia ketahui ? " Batin Ita dan Mia.
" Ini pesanannya neng...." kata Bu Tum asisten penjual kantin.
"Makasih bu Tum.... " jawab Uma sembari membantu mengambil pesanan dari nampan.
" Bismillahirrahmanirrahim...." Uma langsung menyeruput es teh manis yang ada di tangannya. Tenaganya telah dikuras pagi tadi.
"Hhemm.... aromanya bikin tambah lapar, bawa sini Mia, sambel sama kecapnya ! " Kata Ita.
" Yyei.. Sabar, aku juga butuh nih . " jawab Mia yang sedang menuang kecap.
Ditengah mereka menikmati makanan, Princess Lisa datang beserta dayang-dayangnya yang setia. Hal itu membuat Uma teringat kata Riyan yang menjanjikan kalau Lisa akan meminta maaf kepadanya. Uma menyunggingkan senyumnya setelah menyadari kalau apa yang dikatakan Riyan benar-benar terjadi.
" Hai...Uma..." kata princess Lisa.
" Haaiii...... " dayang-dayangnya mengikuti.
" iya.... " jawabku singkat.
"Aku kesini mau minta maaf. " kata Lisa.
"Minta maaf ? " Uma pura-pura lupa supaya Lisa mau menyebutkan kesalahannya.
" Iya, maaf kalau aku sudah menyebutmu sebagai * Ayam kampung *...." ungkap Lisa dengan nada merendahkan.
" Hahh.... Ayam kampung ? " seluruh dayang-dayangnya kompak mengatakan bersamaan.
" Kamu serius ? " tanya Uma heran karena dari nadanya itu lebih terdengar menghina terang-terangan dari pada meminta maaf.
" Hhahaha.... ! Sebenarnya nggak sih, aku cuma memenuhi keinginan Riyan aja, yang penting aku kan sudah minta maaf tadi, masalah kamu mau memaafkan atau tidak, itu bukan urusanku.Yuk girls ! " Lisa dan dayang-dayangnya pergi begitu saja setelah mereka menyebutku ayam kampung lagi, bahkan sekarang di muka umum.
Betapa sedihnya aku, dipermalukan dengan cara seperti ini. Namun akhirnya Uma tersadar kalau, bisa saja Riyan yang merencanakannya lagi.