Pierendra

Pierendra
Makan bersama keluarga



" Oke. jadi kita sepakat ya kak? " sambil Uma mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


" Sepakat ! " kak Rendra membalas jabatan tangan Uma lalu dengan pelan dia menarik tangannya mendekati bibirnya. Dan ... ( cup ! ) seperti adegan film romantis kak Rendra mengecup lembut punggung tangan Uma hingga terasa begitu geli . " Ternyata seperti ini rasanya beradegan romantis cium tangan. hihihi... kasihan kak Rendra,nggak boleh cium aku akhirnya cium tanganku deh. Maafkan aku ya kak.... semoga kamu lulus menghadapi ujian dariku ini." batin Uma.


( Ngeeek.... ) suara pintu berderit yang arahnya dari ruang tengah. Membuat kami berdua langsung cepat-cepat menurunkan genggaman tangan kami masing-masing.


" Ma....aku tahu mama yang ada di balik pintu. Cepetan keluar ma ! " kata kak Rendra dengan sedikit kesal karena telah dimata-matai.


Sambil tersenyum malu mereka pun keluar ternyata kedua Ibu-ibu yang tadi katanya mau ke taman belakang rumah malah mengendap-endap untuk mendengarkan pembicaraan kami.


" Hah..? Ibu juga ngapain sih ? Mencuri dengar itu nggak boleh Bu ! Bikin malu aja....." kata Uma menimpali.


Dengan muka kusutnya yang merasa bersalah karena ketahuan Bu Lina mencoba menjelaskan, " Ya... habisnya mama kepingin tahu sayang ." jawab Bu Lina.


" Kepingin tahu apa coba ? " tanya kak Rendra sambil membuka kedua tangannya dan berjalan menghampiri mamanya.


Merasa geram atas apa yang didengarnya tadi, ibu menginterogasi sambil mengarahkan langkah kakinya menuju kak Rendra, " Ooo.. ! Jadi kamu sudah melihat tubuhnya Uma....?! " tanya ibu dengan nada marah .


" Kamu apakan anak saya ? hah..?! Rasakan ini ya ! " Tanpa berfikir panjang ibu langsung menjewer telinga kiri kak Rendra hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


" Aw ...aw...aw. Aduh ! Sakit tante. Uma nggak saya apa-apakan kok Tante, beneran ! sumpah ! " kak Rendra menjelaskan dengan mengangkat dua jarinya sebagai kiasan.


Merasa tidak terima anaknya dijewer kupingnya , lalu Bu Lina mencoba menolong anak kesayangannya itu. " Eh....Apa yang kamu lakukan kepada anakku Sofi ? kasihan kan ? " Bu Lina mencoba menghentikan dengan meraih tangan ibu Sofi.


" Ohh....ya ? tolong nasehati anak kesayanganmu ini ya ! Bisa-bisanya dia melakukan hal yang tidak patut seperti itu. " Ibu Sofi masih merasa geram dengan pemikirannya.


" Hihihi.... Rasain tuh ! Ayo terus Bu ! Jangan dilepasin ! " kata Uma .


Mendengar perkataan Uma Ibu malah tidak tega lalu melepaskan jeweran yang telah berlangsung kurang lebih tiga menit itu.


" Uma..! Kamu nggak mau jelasin duduk perkaranya ? " kata kak Rendra sambil memegangi telinganya yang kesakitan dan nampak memerah itu.


" Emmm.....Ibu dan Bu Lina , ini nggak seperti yang kalian pikirkan kok . Dan bukan sepenuhnya kesalahan kak Rendra. Saat Uma mandi, Uma lupa membawa masuk handuk yang tergantung di hanger . Pas Uma mau ngambil , Kebetulan saja Kak Rendra masuk untuk menyampaikan pesan dari ibu, dan akhirnya... terjadilah kejadian itu. begitu ceritanya." cerita Uma.


" Ooh....gitu ? Aduh ! Maafkan Tante Sofi ya nak Rendra... ? Sudah jewer telinga kamu. Sakit nggak...? " wajah ibu Sofi tiba-tiba berubah dari yang tadinya marah menjadi ramah.


Namun belum sempat kak Rendra menjawab, justru Bu Lina yang menjawabnya.


" Ya jelas sakit lah. Kamu itu dari dulu nggak berubah ya Sof ? Selalu terburu-buru dalam menyikapi dan mengambil keputusan. " tegur Bu Lina.


" Iya... maaf Lina ? Kamu kok semakin cantik ya ? Pasti perawatan mahal ? " Ibu Sofi mencolek centil dagu Bu Lina dan disambut dengan tepisan tangan Bu Lina yang merasa geli dan ingin membalas guyonan ibu Sofi. lalu menjawab " iya . jangan sentuh ! nanti luntur. Mahal tahu ?" jawab Bu Lina sambil bercanda.


" Lahh... kalau mahal mana bisa luntur ? " balas ibu Sofi . Lalu mereka berdua pun tertawa dengan asyiknya.


Uma menahan geli karena sikap Ibu yang ternyata bisa berubah kocak jika sudah berkumpul dengan sahabatnya itu. Kemudian Ibu menawarkan kami semua untuk menyantap hidangan yang sudah disiapkan di meja makan.


Menu andalan ibu adalah ikan bawal bakar dengan sambal tomat yang tidak terlalu pedas namun sangat pas di lidah.


Seharusnya menyantap menu kali ini akan membuatku sangat lahap. Tapi , berhubung ada camer ( calon mertua ) dan casu (calon suami ) , akhirnya Uma harus sedikit menjaga cara makannya dengan sangat pelan dan tenang. Padahal cacing cacing didalam perutnya sudah lebih kelaparan dari inangnya.


Melihat kelakuan Uma yang sangat kaku dan tidak biasa , membuat Lui yang super usil memanfaatkan situasi untuk membuatnya malu di hadapan semua orang.


" Tenang saja kak, mereka nggak akan tahu kok kalau habis ini kakak nambah lagi." kata Lui enteng.


Sontak mereka mengarahkan pandangannya kepada Uma dan mendapatinya. sedang menutupi muka dengan jari-jari tangannya.


" Benar Uma ? " tanya Bu Lina mencoba mencari kebenarannya.


" hehe... anu ....itu...." Uma kikuk bukan kepalang.


" Tapi wajar sih, masakan kamu memang enak banget Sofi. Ini nanti aku juga mau nambah lagi boleh kan ? " tanya Bu Lina.


" Ohh.boleh . Silahkan ! Aku juga sudah siapin buat nanti yang di bawa pulang, tenang saja...! " jawab Ibu sambil mendekatkan lauk ke depan Bu Lina.


( fyuuhhh..... Untung saja.Awas ya kamu Lui ....! ) Uma mengarahkan pandangannya tajam kepada Lui yang malah cekikikan karena merasa berhasil membuat kakaknya malu dan salah tingkah dihadapan banyak orang.


" Ayo Lui, tambah sambelnya ! " kata ibu sambil memukul ringan tangan kafa dan tersenyum kecut . Serta mata ibu yang melotot sebagai isyarat agar dia tidak lagi mengulangi perbuatannya yang mempermalukan Uma tadi.


" Kakak...minta tolong pisahin daging dari tulangnya dong...! " pinta Zia.


" Oke Zia. Sini kakak bantu. " Uma merasa diawasi saat membantu Zia . Dan ternyata benar, kak Rendra memandangnya sambil tersenyum-senyum kecil dan sesekali melahap makanannya. Uma pun membalas tingkahnya itu dengan tersenyum sedikit malu. dan....


" Aww...! shhh..!!." jari Uma tertusuk duri ikan.


"Ada apa Uma ? " Kak Rendra sontak berdiri untuk mengetahui apa yang terjadi kepadanya.


" eh.. Ini kak , ketusuk duri ikan. Tapi nggak apa-apa kok...?."sambil Uma meniup jarinya agar sakitnya sedikit reda .


" Oh....aku kira ada apa tadi." kak Rendra lega dan kembali duduk.


" Ehem....ehem.... cie....perhatiannya... ," terdengar suara ibu Sofi yang berusaha menyindir sikap kami sehingga membuat kami menunduk malu.


" Cuma ketusuk duri ikan sayang." Bu Lina menambahi dan mengelus pundak kak Rendra, membuatnya semakin malu dan kesal menjadi satu.


" Maaf kak, gara-gara aku kakak jadi ketusuk deh... " kata Zia.


" Ahh... nggak. kakak saja yang kurang hati-hati. ini sudah selesai. Kamu habisin ya.....! " kata Uma.


" iya. Makasih kak...." ucap Zia.


Ibu menuangkan sirup buah dan memberikan kepada kami semua sebagai minumannya dan sekaligus pencuci mulutnya adalah sepotong puding cokelat kesukaan Zia.


Suasana makan siang waktu itu sangat hangat dan menyenangkan. Kami juga masih meneruskan dengan mengobrol sebentar . Sampai akhirnya Bu Lina meminta ijin untuk pamit pulang.


" Kami permisi dulu Uma. Terimakasih atas jamuannya Sofi. " kata Bu Lina sambil membelai lengan ibu. " Kapan-kapan, giliran kalian yang berkunjung ke rumah kami ya..?! "


Bu Lina meneruskan.


" Iya. Pasti." jawab ibu.


Di akhir , kak Rendra mengucapkan perpisahan kepadaku kalau selama beberapa bulan kedepan akan ada tugas KKN di luar kota. jadi kami tidak akan bisa bertemu untuk waktu yang cukup lama.


" Ingat ! Jangan lupa untuk menjawab pesanku dan mengangkat telepon dariku ya....!" pesan kak Rendra.


"Iya. Baik kak...." jawab Uma.