Pierendra

Pierendra
Tinju



"Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengabulkan permintaanku." Kata Riyan sambil duduk di samping Uma.


" Apaan sih Riyan...? Nggak usah lebay deh..! " sahut Uma.


Tak lama kemudian ruang kelas telah terisi penuh. Seorang guru yang bertugas menjaga diruang itupun telah tiba sambil membawa amplop besar coklat berisi lembar soal ujian Nasional dan lembar jawab yang siap untuk dibagikan.


Semua siswa tengah serius dalam mengerjakan soal ujian. Tak terkecuali Arin yang sibuk mencolek - colek Uma dari belakang. Hal itu dia lakukan setiap kali menjumpai pertanyaan yang sulit agar Uma mau membantunya. Padahal Uma sendiri tidak begitu yakin dengan jawabannya karena dia benar-benar tidak belajar untuk ujian kelulusan kali ini.


Sejak peristiwa lamaran yang secara tiba-tiba itu, Arin mulai tidak konsentrasi terhadap pelajaran sekolah. Dia berfikir kalau masa depannya sudah berakhir dengan sebuah pernikahan.


Uma hanya bisa mendengar teman-temannya yang membicarakan rencana setelah kelulusan , ada yang ingin bekerja dan ada yang meneruskan ke jenjang kuliah." Sungguh beruntung nasib mereka ." batin Uma.


(Teeet....teeet......)


Suara bel istirahat telah membuyarkan lamunan Uma. Sebenarnya dia sudah menyelesaikan soal-soal ujian itu sejak dua puluh menit yang lalu sebelum dia terbawa masuk kedalam lamunan semu yang membuatnya tak ingin terbang terlalu tinggi.


"Yuk Ma... kita keluar !" ajak Arin.


" Eh..iya, Ayuk ! " jawab Uma.


" Sambil nunggu ujian mapel berikutnya kita duduk disebelah sana yuk ! " kata Arin sambil mengarah ke dudukan panjang yang biasa digunakan para siswa untuk sekedar mengobrol dan bercanda ria.


"ini...!" Riyan menyodorkan dua buah minuman untuk kami.


" Awas... masih segel nggak tuh? Siapa tahu ada obat bius nya ?" ejek Azi .


"Kalian pasti lapar, nih..! masih segel." kata Azi memberikan dua buah roti sobek kepada Uma dan Arin.


" Yei... punyaku juga masih segel tahu..!" Sahut Riyan .


"Iya..iya...kalian memang baik , makasih ya..?" Arin menerima semua lalu membaginya dengan Uma.


" Hai... Uma..! Kenalin dong sama cewek yang ada di samping kamu ! " goda Dika kepada Arin yang pada aslinya dia sudah sangat mengenal baik siapa itu Arin.


Hampir saja Arin terbawa emosi karena gurauan Dika, namun dia tersadar kalau sebenarnya dia memang menyembunyikan hubungannya dengan Dika, sepupunya.


Sambil tersenyum Uma pura-pura memperkenalkan Arin kepada Dika, " Dika, ini Arin. Arin, ini Dika."


"O iya, teman kalian yang alisnya tebal dan orangnya pendiam sama pemalu itu siapa sih ?" tanya Dika.


" Yang duduknya sama kamu? " tambah Uma.


" Iya. " jawab Dika singkat.


" Oooh...itu Mia, kenapa ? Suka ya ? " goda Arin.


" Idih....ogah...ngapain juga !". jawab Dika ngeles.


Namun begitu, kebetulan Mia sedang berjalan melintas dibelakang Dika . Dan sepertinya dia telah mendengar pembicaraan kami.


" Hey..tuan sok gaya ! Yang kamu omongin barusan lewat, lihat tuh ! " Arin mengingatkan.


" Oh..Sial ..!" batin Dika.


" Memangnya kenapa ?" masih tetap jaga gengsi.


(teeet....teeet....)


"Ayo... saatnya kita bertempur lagi ! hahaha..." kata Riyan.


*******


" Mbak Arin, aku dah selesai, mau aku tunggu di luar ?" bisik Uma.


" Nggak usah, kamu duluan aja ! Aku mau ada urusan sama Azi. " jawab Arin.


" Oke " singkat Arin.


Merasa sudah selesai Arin pun segera mengumpulkan lembar soal dan jawaban, untuk kemudian menunggu Azi keluar dari ruangan .


Sepuluh menit berselang Azi keluar menghampiri Arin. Mereka berencana pergi ke kedai bakso langganan sambil makan siang.


" Sshlurrph.... ahh ! Oke, bakso aku sudah habis, sekarang apa yang mau kamu bicarakan? " tanya Azi memecah keheningan. Memang seperti itulah sikap Azi kepada Arin, dia tidak banyak bicara kecuali beberapa hal yang menarik. Dan sesuatu yang menarik baginya adalah semua yang berkaitan dengan Uma.


" Uma akan menikah " jawab Arin santai.


" Uhukk...." Azi tersedak minumannya.


" Jangan bohong kamu ! Aku nggak akan tertipu dengan prank yang kamu buat! " tepis Azi.


" Sumpah ! " Arin mengangkat dua jarinya.


" Kapan ?" tanya Azi.


"Segera setelah lulus ujian nanti." jawab Arin


" Dengan siapa ? " tanya Azi lagi.


" Itu dia.." kata Arin menggantung kalimatnya.


" Apa maksudmu ?". Azi semakin penasaran.


" Itu yang belum sempat aku ketahui, karena tiba-tiba Zia datang mengagetkan kami. Yang jelas dia menikah karena perjodohan." Arin melanjutkan melahap baksonya yang belum juga selesai dihabiskan.


Azi terlihat mulai gelisah, Dia sudah sangat tidak sabar ingin melakukan tindakan selanjutnya, namun dia bingung, apa yang harus dilakukan ?


Hingga akhirnya dia memesan rokok untuk pertama kalinya. " Bang rokoknya satu bungkus bang ! "


Hal ini sungguh diluar dugaan Arin, karena dia pikir Azi akan sedih, menangis atau yang lainnya. Tapi ini merokok, hal yang paling dia benci justru tengah dia lakukan demi mengalihkan kesedihan yang sedang melandanya. Sekarang Arin tahu betul posisi Uma dihatinya. Dan posisinya dihati Azi bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Uma.


Arin merasa sedih, lebih sedih ketimbang Azi. Dia memutuskan untuk pulang lebih dulu meninggalkan Azi tanpa berpamitan. Karena Arin tahu itu tidak akan berpengaruh bagi Azi.


Saat ini dipikiran Azi hanya ada satu orang yang ingin dia temui. Kemudian dia mengeluarkan handphone nya. " Hallo, lagi ada dimana ? oke . "


Azi segera meluncur ke cafe tempat Riyan bermain bilyard. Dan dengan tanpa berbasa-basi Azi langsung mendaratkan sebuah bogem mentah ke pipi Riyan dengan tanpa perlawanan. Dan ketika Azi hendak mengulangi pukulannya untuk yang kedua kalinya Riyan terpaksa menendang perut Azi dan berbalik mengunci tubuhnya dengan cengkraman tangan Riyan ke baju Azi.


" Apa maumu ? Ha..! " tanya Riyan keras.


Tanpa menjawab, Azi menambah pukulannya ke lengan Riyan sehingga cengkraman tangannya pun terlepas. Keduanya saling memukul sekenanya. Sama-sama merasa kesakitan akhirnya mereka sepakat menghentikan gerakan pemanasan ini.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Riyan mengulangi pertanyaannya, " Kau ini kenapa ?"


Merasa lebih baik, kembali Azi bangkit dan mencengkeram kerah baju Riyan, " Kamu tahu kan, kalau aku sangat menginginkan Uma ? Lalu kenapa kamu melamarnya ? bugh.... sebuah pukulan kembali mendarat ke perut Riyan.


" Apa ?! Dasar bodoh..! bugh... Riyan membalas kembali pukulan Azi , kali ini dia tujukan ke pipi Azi.


Keduanya semakin kesakitan dan lemas. Azi menyandarkan tubuhnya ke tembok. Sedangkan Riyan mengambil minuman dingin di lemari pendingin.


" Ini, minumlah ! jangan lupa tempelkan botol itu ke wajahmu, supaya tidak bengkak !" kata Riyan menasihati.


" hemh...hemh..." sepertinya aku mencium bau rokok di tubuhmu ? Apa yang sedang menimpamu kawan ? " tanya Riyan.


" Kau bilang apa tadi ? aku melamar Uma ? Ya, meskipun aku mau , tapi tidak mungkin di usiaku ini kan ? Riyan mencoba menjernihkan masalah.


" Benar juga, lalu siapa ? " Azi bertanya sendiri.


" Ngomong-ngomong, terimakasih untuk tinju hari ini , heh!." sambung Riyan.


" Hehe.. iya.. sama-sama. " jawab Azi seolah tidak terjadi apapun.