
Uma masih belum percaya kalau dirinya dihukum karena tugas yang sama sekali tidak dia ingat. Tapi anehnya, semua teman kelasnya bisa mengumpulkan. Itu kan aneh ?
Tak terasa langkah Uma sudah berada di depan toilet. Tempatnya menjalani hukuman. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti karena dia teringat rumor yang beredar selama ini kalau kamar mandi di sekolah itu ada hantunya.
" Oh tidak . Bagaimana ini ? " bulu kuduk Uma tiba-tiba berdiri. Hawa dingin menjalar di seluruh kulit arinya. Entah ini udara pagi yang sejuk atau mungkin ada aura mistis didalamnya.
Sekuat tenaga Uma berusaha menepis rasa takutnya yang mencengkram. " Ahh.... Aku harus berani ! Hukuman ini harus segera ku selesaikan, supaya aku tidak ketinggalan pelajaran berikutnya. Semoga Allah melindungiku. Bismillah....." kata Uma menyemangati diri sendiri.
Dengan pelan Uma melangkah ke dalam lorong yang sangat sepi, karena semua siswa sedang belajar di kelas masing-masing.
dia lalu mengambil alat pel yang terletak disudut ruangan beserta cairan pembersih lantai. Karena sedikit takut , Uma tidak sengaja menjatuhkan semua alat kebersihan sehingga menimbulkan suara gaduh.
" Aduh.... berantakan deh....!!! " kata Uma sambil merapikan kembali satu persatu. Disela aktivitas menata kembali alat kebersihan yang terjatuh, tiba-tiba Uma terkejut karena mendengar suara kran air yang mengalir secara tiba-tiba. Sumber suaranya berasal dari toilet paling ujung.
" Apa itu ? Perasaan tadi aku masuk tidak ada suara air, kenapa sekarang kran air itu tiba-tiba menyala ? Apa tadi aku memang tidak mendengar ya ? Aku takut. Rasanya aku ingin lari saja.Tapi bagaimana dengan hukumanku? dan airnya ? Sayang kan kalau mengalir sia-sia ? Lebih baik aku matikan dulu kran airnya, habis itu baru aku akan kabur. " pikir Uma dalam hati.
Dengan pelan-pelan Uma berjalan menuju toilet paling ujung dengan membawa tongkat pel di tangan kanannya . Tongkat pel itu akan dia gunakan untuk membuka pintu toilet tersebut dari jarak jauh , supaya tidak terlalu terkejut dengan apa yang ada didalamnya nanti.
Dengan perlahan namun pasti Uma mendorong pintu itu dengan menggunakan ujung tongkat pel.( Ngeeek..... ) "Tidak ada apa-apa kan ? " lalu Uma mulai mendekati pintu itu dan.....
" Bbhhaaa ...!! " Suara dari dalam toilet mengagetkan.
" Aarrgghhhh.. !! " Uma berteriak spontan.
Dengan cepat orang itu menutup mulut Uma menggunakan tangannya.
" Sshhhtt.....Diam ! Kamu mau seluruh isi sekolah ini datang dan melihat kita berdua di toilet...???!!! " Tanya orang itu.
Uma menggelengkan kepalanya dalam keadaan mulutnya masih tertutup oleh tangannya.
" Oke. Kalau begitu aku akan lepaskan tanganku, tapi kamu harus janji nggak akan berteriak lagi. Oke...?! " katanya sedikit mengancam.
Sekarang Uma hanya bisa mengangguk untuk menyetujui permintaannya.
" Huhh....Siapa kamu ? Dan ngapain kamu disini ? " Tanya Uma heran kenapa ada siswa laki-laki di toilet sekolah khusus perempuan. Kalau dilihat dari seragamnya sih sama dengan Azi dan Riyan. Berarti dia juga salah satu murid disana.
" Ehh... Tunggu dulu ! ( Hemh....hemh...) Uma mengendus di sekitar tubuh orang itu . " Bau asap ? Ooohh...Aku tahu, kamu merokok ya ? point-nya tinggi tahu ? Bisa-bisa , kamu dikeluarkan dari sekolah ini. Kamu nggak takut ? " kata Uma mencoba membuka jalan pikirannya.
" Takut ? memangnya siapa yang akan melihatku selain kamu ? Kecuali kamu yang melaporkan, awas saja kalau kamu sampai berani ! " Nadanya mengancam lagi.
" Tanpa aku melapor pun kamu akan ketahuan. Memangnya bagaimana caramu menghilangkan bau asap rokok yang menempel di badan kamu ? " tanya Uma penasaran.
" Tenang, aku biasa pake ini. " Dia mengeluarkan parfum dari saku celananya.
" Tinggal semprot wangi deh...."
" Lagi pula aku sudah bertahun-tahun disini. Tidak pernah ada yang melihatku . " katanya dengan penuh percaya diri.
" hehh, sombong ! " kata Uma tidak percaya.
" Kamu pikir, rumor toilet berhantu itu siapa yang menciptakan ? " katanya mencoba memberi petunjuk.
" Ooo... jadi air kran yang tiba-tiba menyala itu tadi ulahmu ? " Tanya Uma teringat kejadian tadi. Rupanya itu adalah triknya untuk mengusir siapa saja yang mau masuk ke toilet selama dia menghabiskan puntung rokoknya. Dasar aneh...
" O iya...kenalkan , aku Dika.. " dia mengajak Uma berjabat tangan untuk berkenalan.
" Uma... " hanya mengatupkan kedua tangannya sebagai simbol membalas salam kenalnya.
" Oke. Nggak mau salaman sama bukan muhrim. Bagus. " Dika memuji tapi tidak tulus.
Uma pun hanya menyeringai.
" Kamu sendiri sedang ngapain disini ? " Dika balik bertanya
" Eng...Aku.... " Uma merasa kikuk.
" Cari alasan untuk menghindari mapel ya ? " kata Dika asal.
" Sok tahu ! Nggak. ngapain ? " Kemudian Uma teringat akan tujuannya semula yang dihukum untuk membersihkan toilet. Lalu dia pun mulai mengepel lantai.
" Minggir sana ! Aku mau mengerjakan tugasku. " Uma mendorongnya agar tidak menghalangi bagian lantai yang mau dibersihkan.
Bukannya Dika pergi malah tertawa sambil berkata, " Tugas seorang siswa itu belajar bukannya ngepel toilet... " katanya sambil mengejek Uma . Sekarang Dika pasti tahu kalau Uma sedang dihukum.
Uma pun mendiamkannya dan lebih memilih untuk segera mengepel supaya cepat selesai. Untung juga ada dia yang secara tidak langsung bisa menemani Uma jadi dia nggak perlu takut lagi.
" Tunggu tunggu. Siapa tadi namamu ? Uma ? Uma yang bikin Azi sama Riyan berantem itu bukan ? " Tanyanya sambil menghisap rokok yang masih setengah batang itu.
Seketika Uma berhenti mengepel dan balik bertanya," Apa ? Mereka berantem ? " Gara-gara aku ? "
" Iya...dulu sih. Tapi sekarang yang aku lihat mereka justru semakin akrab karena taruhan yang mereka rencanakan. Mereka itu memang aneh, cuma gara-gara cewek seperti ini saja sampai bersaing sebegitunya."
Kata Dika dengan nada merendahkan.
" Cewek seperti ini gimana maksudnya ? " tanya Uma dengan nada sinis.
" Ya... kalau ku perhatikan, kamu lumayan manis sih, dan montok ." kata Dika menilaiku sekilas.
Aku mengernyitkan dahiku mendengar ucapannya yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah pujian. Tapi aku malas membalas kata-katanya yang bagiku terkesan melecehkan .
" Mereka bilang, pengen bersaing siapa dulu yang bisa cium kamu dengan mempertaruhkan sejumlah uang. O iya. bukannya kemarin kamu pergi bersama mereka ya ? Siapa yang berhasil cium kamu ? Riyan atau Azi ? " Dika bertanya girang.
( Plaakk.... ) Uma menamparnya karena merasa geram atas apa yang diucapkannya itu.
" Awww.... sakit tahu ? Kenapa menamparku ? kamu malu ya ? Atau jangan-jangan mereka berdua sama-sama sudah melakukan... Karena yang kulihat kemarin mereka mempersiapkan obat perangsang untukmu. " Dika menerka-nerka.
" Wah...enak banget ya jadi mereka. Aku juga mau, jadi kepengen ikutan." Tambahnya lagi.
" Aaarrgghhhh.... bisa diam nggak sih ! pikiranmu itu jorok sekali . Dan satu lagi, nggak ada yang terjadi kepadaku. Apa yang ada dipikiranmu itu nol besar. Salah...!!! ternyata toilet ini memang benar-benar ada setannya. " Kata Uma kesal.
" Hah...mana ? " Dika termakan oleh omongan Uma sehingga dia merasa ketakutan.
" Kamu setannya ! Setan berotak mesum ! Sudah, aku mau kembali ke kelas." Dengan bersungut-sungut Uma pun segera pergi meninggalkan Dika tanpa lagi melihatnya .