Pierendra

Pierendra
Syarat dari Uma



" Duh.... Gimana nih ? Aku ditinggal berdua sama kak Rendra lagi. Memang sih, dari tadi aku sudah menghabiskan waktu bersamanya, tapi semenjak perkataan Bu Lina barusan mengenai lamaran membuatku jadi salah tingkah dan grogi .Apa yang dipikirkan kak Rendra ya...? " semua berkecamuk dalam benak Uma.


POV Rendra :


Ada apa ini ? tiba-tiba jantungku berdetak kencang ? Kemana kata-kata yang ku siapkan sedari malam tadi ? Hheeemm.....Huhh...... kuatkan hatimu Rendra ! Saatnya kamu memenangkan hatinya. Buat dia percaya kalau kamu adalah jodoh terbaik untuknya. Sudah cukup selama ini kamu berada dibalik puisi yang tertempel di jendela. Sudah cukup kalau selama ini kamu mengintainya melalui Ita. Apalagi izin dari Tante Sofi sudah kamu kantongi. Tunggu Apa lagi ? Ayah....doakan anakmu ini berhasil untuk menjalankan amanahmu.... Aamiiin.


" Selamat ulang tahun Uma ... Cup " Rendra mengecup pipi Uma hingga seketika membuat wajah Uma memerah. Hal itu membuat kak Rendra senang apa lagi Uma terlihat kebingungan menyembunyikan rasa malu dan gugupnya yang terlihat jelas seolah-olah dia ingin sekali melarikan diri jika dia bisa. Tapi tidak akan mungkin bisa karena kedua tangan Rendra tengah memegangi kedua lengan Uma.


Merasa tidak tega lalu Rendra melepaskan tangannya dan kembali ketempat duduknya. Padahal tadinya dia ingin sekali merasakan memeluk tubuh Uma yang sudah berada dihadapannya itu. Tapi, niat itu dia urungkan supaya tidak terkesan terburu-buru.


Tidak mau melewatkan kesempatan yang diberikan , Rendra menghadapkan wajahnya sangat dekat dengan Uma. Puas sekali Rendra melihat kedua matanya yang tengah berusaha menghindari tatapan matanya dengan menghadap ke bawah karena malu. Keningnya yang sedikit berkeringat, alisnya yang tebal nampak sedikit berkernyit karena merasa kebingungan, hidungnya yang kecil dan tidak terlalu mancung, dan bibirnya yang mengkilat karena baru saja menyantap krim kue ulang tahun. Hal itu membuat Uma semakin grogi sampai-sampai dia terus menggigit bibirnya karena dia khawatir kalau-kalau Rendra berbuat lebih.


" Makasih kak ! " Uma menjawab ucapan selamat dari Rendra tadi setelah terdiam lama. Bukan karena melamun tapi bibir Uma terasa begitu berat untuk hanya sekedar mengatakan terimakasih setelah dia mendapatkan kecupan tak terduga dari Rendra.


" Uma, apakah kamu mau menikah denganku ? Jawab dengan jujur ! Aku akan menerima semua yang menjadi keputusanmu." Bujuk kak Rendra.


" Emm.... jujur ya kak . Aku sangat tidak menyangka kalau aku akan dilamar seperti ini tepat disaat aku berulang tahun yang ke 17 ini. Dan , sebenarnya aku masih belum siap untuk itu. " kata Uma menjawab tawaran kak Rendra.


" Kenapa ? Apa kamu punya hubungan dengan orang lain ? Riyan ? ". desak kak Rendra.


" Bagaimana kakak tahu ? Oh...pasti lagi-lagi Ita. Padahal aku pikir Ita selalu menyebut nama kakak karena kalian ada hubungan, tapi ternyata....". Uma menyadarinya.


" Hehe...iya. Sejak aku tahu Ita adalah temanmu , maka aku mengawasimu lewat dia. Dan nggak mungkin aku pacaran dengan Ita. " sangkal kak Rendra.


" Kenapa nggak mungkin ?" tanya Uma heran.


"Senyumnya kalah manis denganmu ." jelasnya. Berhasil lagi Rendra membuat Uma tersipu malu.


" Apalagi kalau sedang malu seperti ini...." tambah kak Rendra.


" Ihhh.... kakak ! udah dong ! ". Uma merasa malu.


" Terus, apa yang kakak tahu tentang Riyan ? kakak nggak cemburu ? " Uma mencoba menggodanya.


" Cemburu ? Nggak lah ! Kita kaum Adam itu selalu mengedepankan realistis bukan perasaan yang nggak penting." kata kak Rendra sedikit sombong dan tidak mau mengakuinya.


" Ya...dia cowok yang kamu suka, wajar sih... soalnya gantengnya beda tipis sama aku tapi lebih banyak aku. hehehe...." kata kak Rendra.


" Uuu....Serius nih ! " sambil Uma mencubit lengannya kak Rendra.


" Aduh...aduh. Iya, maaf ! Tapi kamu masih bingung kan dengan perasaanmu sendiri ? Makanya, aku hadir untuk meyakinkanmu bahwa jodohmu yang sesungguhnya itu adalah aku yang sudah dipilihkan oleh ayahmu, begitu juga dirimu yang sudah dipilihkan oleh ayahku untuk menjadi istriku. " Lagi-lagi Kak Rendra mengingatkan tentang perjodohan itu.


" Iya..iya...kak. Kita ini sudah dijodohkan. Hanya saja aku masih punya syarat untuk aku bisa siap dengan perjodohan ini. " kata Uma.


" Apa syaratnya ? " sahut kak Rendra seakan siap menghadapi semua tantangan.


" Pertama, Aku ingin menyelesaikan pendidikan Aliyah ku yang tinggal sebentar ini dengan tenang , maksudnya tolong rahasiakan perjodohan ini kepada siapapun termasuk Ita, supaya tidak menjadi berita yang menggemparkan di sekolah." kata Uma .


" kedua, seperti yang kakak ketahui kalau aku sedang ada kedekatan dengan Riyan, untuk itu biarkan aku pelan-pelan untuk menyelesaikan dengan caraku, dan tolong kakak jangan ikut campur ! oke ? " ancam Uma .


" Oke. Selama mereka tidak membahayakanmu. " jawab kak Rendra.


" Kak Rendra nggak percaya sama aku ? " tegas Uma.


" Iya...iya. Aku percaya . " jawab kak Rendra terpaksa.


" Satu lagi yang terakhir, sebisa mungkin hindari berciuman sebelum ijab qobul ." pinta Uma.


" Waduh...ini sulit." kata kak Rendra.


" Masalahnya aku ingin menguji seberapa sabar dan setianya kak Rendra kepadaku. Lagipula, aku ingin menjaga komitmen untuk menjaga tubuhku hanya untuk suamiku. Meskipun kakak sudah melihatnya tadi. " jelas Uma merasa belum rela.


" Hihihi....itu tadi namanya rezeki yang tidak disangka-sangka, datangnya tiba-tiba. Lagipula aku kan calon suamimu." kata kak Rendra kegirangan.


" Iya. Betul , masih calon. Ingat itu ! " tegas Uma.


" iya...iya. Non manis... ! ". kata kak Rendra sambil mencolek dagu Uma.


" Sudah ? persyaratannya ? "tanya kak Rendra.


Uma hanya mengangguk.


" Oke... insyaallah akan aku penuhi semua persyaratan darimu.O iya , selain kejutan tadi, aku bawakan kamu kejutan lagi, nih...." Kak Rendra menyerahkan sebuah paper bag besar cokelat dengan kotak kado didalamnya.


" Wah....Apa ini ? kapan kakak mempersiapkannya ? " sontak raut muka Uma menjadi senang.


"Sudah seminggu yang lalu. Buka aja ! " kata kak Rendra.


Dengan perlahan Uma membuka kado dari kak Rendra. Sebuah box warna soft pink dengan pita kuning yang melintang diatas tutupnya.


" Hah..? Ini kan... ? Smartphone keluaran terbaru ? Pasti mahal ! " kata Uma


" Masalah harga itu nggak penting Uma, yang penting kita bisa komunikasi dengan ini oke ? Lagi pula, supaya aku selalu tahu tentang kamu sedang apa, ada dimana, dan dengan siapa." ulas kak Rendra.


" Waduh, bisa gitu ya ? itu sih nggak beda sama tahanan dong , nggak bebas. " kata Uma.


" Ya, namanya juga sedang kasmaran. Pasti nya, pengen selalu bersama bagaimana pun caranya. Termasuk kepo in kamu. hahaha...." kata kak Rendra.


" Begitu ya ? Aku lanjutkan membuka kadonya ya...! " kata Uma manja.


" Iya sayangku.... " balas kak Rendra , lalu kami berduapun saling tersenyum.


" Apa ini kak ? Jilbab ?" tanya Uma.


" Iya...aku suka saat kamu mengenakan jilbab putih saat pergi ke sekolah. Makanya aku kasih ini ke kamu, dipakai ya...! " pinta kak Rendra.


" Iya... nanti aku pakai makasih ya kak ? " jawab Uma.


" Dan ini yang terakhir untuk kado hari ini." Kak Rendra mengambil kotak perhiasan berwarna merah dan mengeluarkan sebuah cincin silver gold dengan dua garis emas melintang dan dilengkapi sentuhan akhir dengan batu permata kecil yang match dengan ukuran cincin tersebut.


" Bolehkah aku memasangkannya di jarimu? " kak Rendra meminta izin.


Uma berpikir sejenak. " Boleh . Tapi, nanti setelah aku lulus. Maaf ya kak..." jawab Uma.


" Hheh.... " kak Rendra menghela nafas karena merasa sedikit kecewa .


" Ayolah kak ...! Tinggal beberapa bulan lagi. Please...! " Uma mengatupkan kedua tangannya supaya kak Rendra mau menerima permintaannya.


" Baiklah. Tapi kamu simpan baik-baik ya.. ! " pesan kak Rendra.


" Siap... ! Dan nanti aku pastikan kalau yang memakaikan cincin itu di jariku adalah kak Rendra." kata Uma bersemangat.


Mendengar jawaban dari Uma ,seketika muncul sebuah senyuman dari wajah kak Rendra dengan berseri-seri.


" Oke.Aku akan bersabar. " jawab kak Rendra.