Pierendra

Pierendra
Rencana harus berjalan



"Apanya yang gawat Rin....?" Tanya Ita.


" Kalian dengar pembicaraan gengnya Lisa tadi nggak...?" tanya Arin.


" Oh...yang masalah Riyan sama cewek lain itu...? Kenapa..? Bagus kan....? " Ita menyimpulkan.


" Iihh.... Ita , apanya yang bagus...? Sambung Mia.


" Ya...bagus. Dengan begitu Lisa yang sok cantik dan berkuasa itu sadar, kalau dia bukanlah satu-satunya cewek yang ada dimuka bumi ini, yang bisa menarik perhatian Riyan si cover boy itu. Atau....menurut Riyan Lisa sudah tidak cantik lagi, atau mungkin dia bosan kali...." Ita menerka-nerka.


" Masalahnya , cewek yang mereka cari tahu itu adalah Uma..." Arin mengarahkan telunjuknya kepada Uma.


" Hhhaaa......? " kompak Ita dan Mia melongo di hadapan Uma.


Uma kebingungan menyembunyikan mukanya sambil menggigit bibir bawahnya karena merasa sangat malu .


" Entah apa yang mereka pikirkan tentang aku dengan sosok yang sangat sederhana ini bahkan banyak sekali memiliki kekurangan, sama sekali tidak populer bisa jalan bareng sama Riyan sang idola . " batin Uma.


" Kok bisa Uma.....? " masih kompak mereka berdua.


" Ya...ini memang salahku. Aku tidak tahu kalau Riyan itu sangat terkenal di sekolah ini. Karena sebenarnya aku memang tidak mau tahu tentang itu. Siapa cowok paling tajir di sekolah ini, Siapa yang paling tampan, siapa yang sedang hits dibicarakan, bagiku itu semua tidak penting. Dan aku juga sedang tidak ingin dekat dengan seseorang. " jelas Uma.


" Hello...Azi apa kabar...? " Debat Ita seakan tidak percaya.


" Dia itu cuma teman tidak lebih. Aku tahu kok siapa yang disukai Azi, dan itu bukan aku. Sebentar lagi kalian akan mengetahuinya. " Tambah Uma.


"ya....ya....ya.... " sahut Ita seolah tidak menerima penjelasan ku.


" Selama aku sekolah di sini belum ada cowok yang bisa menarik perhatianku. Hingga aku melihat Riyan pada waktu Upacara. Bahkan waktu itu aku belum tahu namanya sehingga aku memberi nama khusus untuknya yaitu " Pierendra " karena dia memakai peci berenda. Selebihnya kita semakin dekat begitu saja karena kami sering bertemu ketika naik busway. " Uma menceritakan kronologinya.


(plok...plok... plok.....3x) tiba-tiba Ita berdiri sambil tepuk tangan.


"Hebat....hebat kamu Uma.... ! " Puji Ita sambil mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum bangga .


" Iya.. Aku terlibat dalam masalah yang hebat. huft.... ! " Uma melipat kedua tangannya lalu membenamkan mukanya diatas meja .


"Hey...! Uma , kamu nggak sendirian. Ada kami bertiga ". Arin menggoyang punggung Uma supaya terbangun dari rasa terpuruknya.


"Iya Uma, kami akan selalu mendukungmu dan melindungimu. Jangan khawatir, Ita jago karate lho ? Dia juga sudah sabuk putih ! " jelas Mia.


" Yee....sabuk putih, apanya yang membanggakan coba .. ? Aku ini sudah sabuk hitam tau....?! " Sanggah Ita dengan nada tinggi dan sedikit emosi karena candaan Mia.


" Iya maaf....becanda.... hihihi....." sahut Mia .


" Sepertinya aku akan mundur saja." kata Uma mengambil keputusan.


"Yah.....masa nyerah begitu aja sih....? nggak seru ah." Ita menggerutu.


"Iya nih Uma. Belum saja mulai berperang, masa udah nyerah ? " Mia ikut menambahi.


" Ya.... dari awal, aku memang hanya menyukainya , ingin mengenal lebih dekat dengannya. Karena aku tidak tahu statusnya dia pacar siapa. Tapi , setelah kejadian ini aku sama sekali tidak ingin merebutnya dari siapapun apalagi Lisa. Huhh......" kata Uma.


" Ya , kita memang harus tetap menjaga harga diri sih...! Jangan sampai kita mendapat predikat perebut pacar orang, apalagi sahabat....! Ya sudah aku ke toilet dulu , kalau kalian mau kembali ke kelas duluan juga nggak apa-apa. " pamit Ita.


" Eeh....Aku juga ikut....! kata Mia sambil menggandeng Ita.


Terlihat wajah mbak Arin murung seketika, Uma pikir ini pasti karena perkataan Ita tadi.


" Mbak , Jangan hiraukan perkataan Ita tadi ya..! Karena masalahnya beda " . Uma mencoba meyakinkan mbak Arin supaya tidak sedih.


" Tetap saja sama Uma. Yang mereka tahu itu kamu pacarnya Azi , sedangkan aku sahabatmu. Kalau Aku dan Azi jadian, apa kata dunia...? " keluh Arin.


" Biarlah dunia berkata apa mbak.. ! Jika lelah mereka akan berhenti sendiri. Yang penting kita bahagia. Kebahagiaan itu kita yang menentukan , oke.. ? Semangat untuk nanti siang.....! " Uma mengiingatkan lagi.


Dengan senyuman mbak Arin mengangguk setuju.


" Atas dasar apa mbak ? Kita bahkan belum menjalin sebuah hubungan. Aku bukan siapa- siapanya Riyan. Ah... sudahlah ! Kita lihat bagaimana nantinya saja, oke ? " jawab Uma.


" Kamu itu beneran suka sama Riyan nggak sih ? kok enteng banget kayaknya ? " Arin meragukan.


" Eemm..... Nggak tahu . Cinta monyet kali, hihihi...." jawab Uma santai.


Kami berdua masuk kedalam kelas.


********


Sengaja kami mengerjakan tugas sekolah meskipun kelas sudah dipulangkan agar kami paling lambat keluar kelas sembari menunggu yang lain pulang terlebih dahulu.


" Hey...Kalian nggak pulang ? Rajin amat ? " Mia menanyai kami.


"Iya nih, tanggung. Sekalian saja biar kelar, besok tinggal santai." jawab Uma.


"Ohh....ya sudah, kami pulang dulu ya...?" pamit Ita.


"Oke..." kali ini mbak Arin yang menjawab Ita ketika pamit.


Selang lima belas menit kemudian, sekolah sudah mulai sepi. akhirnya kamipun bergegas keluar sekolah menuju halte untuk pergi ke taman kota.


Sesampainya di sana, kami memasuki gerbang taman yang menjulang tinggi dengan arsitektur Yunani yang menawan. Air mancur yang menyambut kami ketika kami berada di dalam nampak eksotis. Pepohonan yang rindang membuat kami saat berjalan menyusurinya terasa adem dengan semilir angin yang berhembus. Sungguh karunia Allah Yang Mahakuasa.Rasanya seperti merasakan angin surga .


Di ujung jalan Uma sudah melihat Azi dan Riyan. " Bagus, semua berjalan sesuai rencana." batin Uma.


" Mbak....itu mereka yuk kita ke sana ! " ajak Uma.


" Ayuk..! " jawab Arin .


" Tapi, rasa-rasanya ada yang aneh....mereka berdua seperti sedang bersitegang." batin Uma.


Dan benar saja. Azi sudah mengepalkan tangannya untuk meninju muka Riyan, sedang tangan Azi yang satunya menerkam kerah leher baju Riyan.


Melihat hal tersebut kami langsung mempercepat langkah kaki untuk segera mencegah kejadian yang tidak diinginkan.


" Eitt....eitt.....eitt. Tahan Azi ! Apa yang kamu lakukan....? " Uma berusaha melerai mereka.


" Minggir kamu Uma ! orang seperti dia memang pantas untuk dipukul !" perintah Azi dengan emosi


" Sudah kubilang, kau ini pengecut ! " Riyan masih saja tidak mau berhenti.


( Pplak.....) Kepalan tinju itu akhirnya mendarat di pipi Riyan . Padahal dijari telunjuk Azi memakai sebuah cincin perak sehingga melukai ujung bibir Riyan.


" Aahh... Tidak.... ! " Uma menjerit dan langsung memegangi Riyan yang jatuh akibat pukulan Azi.


" Riyan ! Ngapain sih kamu ngomong kayak gitu ? Lihat akibatnya ! Kamu jadi terluka kan ? " Uma menyesalkan sekaligus cemas.


" Atas dasar apa kamu mengatakan kalau Azi itu pengecut ? " tanya mbak Arin kepada Riyan.


"Aku hanya mengatakan kalau Azi tidak berani mengatakan kepadamu bahwa....." belum selesai Riyan menjawab pertanyaan mbak Arin.


"Aku mencintaimu Arin...." Azi menyambung cepat.


" Kita sudah cukup lama saling dekat , dan aku menyayangimu. Maukah kamu menjadi pacarku Arin ? " tambah Azi .


Suasana berubah menjadi romantis seketika.


Azi menggapai tangan mbak Arin untuk menunggu jawaban darinya.


Uma melihat ke arah Riyan , dia tersenyum dan berkedip sebagai tanda bahwa ini termasuk bagian dari rencananya. Uma sampai bingung jadinya.


" Huhh.....Syukurlah . Ayo Riyan kita obati lukamu di toko obat dekat sini. " Uma memapah Riyan untuk berjalan meninggalkan mereka berdua supaya lebih intens .