Pierendra

Pierendra
Diluar ekspektasi



Akibat kejadian kemarin, ibu sangat khawatir. Sekarang ibu tidak lagi mengijinkan aku untuk bersepeda ketika berangkat sekolah.


Mengingat aku juga sudah kelas tiga yang sebentar lagi menghadapi ujian, jadi aku harus fokus dan tidak boleh terlalu capek katanya.


Ya sudah, akhirnya sekarang aku pergi ke sekolah dengan naik angkutan umum. Ada BRT yang bisa ku tempuh dengan sedikit berjalan kaki dari rumah.


Tak begitu lama aku duduk di halte , nampak sebuah busway biru yang sudah siap mengangkut penumpang. Aku adalah penumpang ke dua. Karena ini masih pagi dan belum ramai penumpang, aku memilih tempat duduk didekat jendela.


Rasanya sedikit aneh karena belum terbiasa naik busway. Saat bus hendak melaju, tiba-tiba berhenti lagi karena ada penumpang lain yang hampir terlewat.


Begitu ku lihat , sungguh diluar dugaan.


"haaa...ada Pierendra .." Gumamku dalam hati.


Aku berpura-pura melihat ke jendela karena sekarang aku merasa takut dan minder atas apa yang kulihat kemarin.


[Berarti waktu itu dia turun dari mobil untuk dilanjutkan naik busway ? mungkin supaya tidak diketahui oleh orang lain. Tapi aku tahu, hihihi....]


Sepertinya dia sudah terlanjur melihatku dan mulai berjalan menuju tempat duduk di sampingku yang memang masih kosong.


Aduh.... jantungku kenapa ini ? Terasa berdebar begitu kencang. Aku menjadi semakin salah tingkah saat dia duduk di sebelahku sampai-sampai buku komik yang tadi ku pangku tiba-tiba jatuh meluncur begitu saja.


" Maaf ? " Sambil aku mengambil buku yang terjatuh. Kenapa juga tanganku tak sampai meraihnya. Dia yang melihatku kesulitan pun akhirnya tergerak untuk membantu mengambilkan bukuku.


" Ini.. Kamu Uma kan...?" Sambil menyodorkan buku ku.


Bak digigit semut merah, aku terkejut ketika dia mengetahuitahu namaku. " I...iya...." jawabku gugup.


" Bagaimana kamu tahu namaku...?" Sambungku.


" Yah.... aku tahu dari penggemar beratmu , Azi. Dikelas kami, namamu sangat populer karena sebelum kelas dibuka pasti ada coretan indah bertuliskan namamu di papan tulis. Bahkan setiap jam istirahat kami harus terbiasa mendengarkan puisi ciptaannya yang menurutku dia sangat berbakat. Bahkan aku yang sebagai laki-laki saja kagum dengan karya-karyanya."


Mukaku memerah karena mendengar penjelasannya, dan seakan tidak percaya kalau Azi sampai seperti itu.


Memang sih... setiap hari Kamis setelah pulang sekolah pasti akan aku temukan selembar puisi yang tertempel di jendela luar kamarku.


" Masa sih..?" tanyaku pura-pura tidak tahu.


" Kenapa kamu tidak membalas cintanya ? " pertanyaannya menuntut jawaban kepadaku.


" Darimana kamu tahu ...?" Tanyaku malu.


" Dari puisinya dan lagu favoritnya . " Tanpa menghiraukan penumpang yang lain diapun menyanyikan reff lagu harus terpisah Cakra Khan meskipun pelan aku jelas sekali mendengar suaranya yang lumayan enak untuk didengar. Hanya saja liriknya sangat menyudutkan diriku.


ku berlari kau terdiam


ku menangis kau tersenyum


ku berduka kau bahagia


ku pergi kau kembali


ku coba meraih mimpi


kau coba tuk hentikan mimpi


memang kita tak kan menyatu


Dia mengakhiri nyanyiannya dengan menatapku. Aku terdiam dan menunduk tersipu malu. Dalam hatiku menjawab " karena aku menyukaimu Pierendra...."


"O iya kenalkan...namaku Riyan..." Katanya memperkenalkan diri.


Aku merasa gugup dan malu saat hendak membalas ajakannya untuk berjabat tangan. Aku takut dia merasakan bagaimana gemetar dan dinginnya tanganku karena perbincangan ini.


Aku memilih mengatupkan kedua tanganku sebagai simbol salam. Bukannya sok suci karena bukan muhrim tapi aku takut ketahuan kalau aku sedang grogi.


" Salam kenal Riyan..."


Dia pun membalas simbol salam ku dengan melakukan hal yang sama.


Peci berenda yang menjadi inspirasiku untuk menyebut namanya menjadi sebuah nama Pierendra.


Nampaknya dia baru saja mencuci rambutnya karena masih sedikit basah. Sesekali dia mengurai rambutnya supaya tidak lembab. Pilihan samponya menyebarkan aroma maskulin . Keren , wangi, rapi, ganteng, ramah, paket komplit pokoknya. Ternyata dia diluar ekspektasiku . Kukira dia se sombong apa yang kupikirkan. Ternyata enggak sama sekali.


Aku segera pura-pura membuka halaman komikku , takut dia sadar kalau aku memperhatikannya .


"Bukannya setiap hari kamu diantar mobil ya...? Sambil ku beranikan menatap matanya walaupun sedetik lalu ku tundukkan lagi kepalaku.


" Mamaku yang memaksa, beliau tidak sadar kalau anaknya sudah kelas tiga SMA. Mamaku juga tidak mengijinkan ku naik motor sendiri setelah dia kehilangan kakakku dalam kecelakaan maut waktu itu."


" Oh...maaf aku turut bersedih ...." Sesal Uma.


" Tidak apa-apa.... makanya aku minta pak supir untuk menurunkan aku di halte supaya aku bisa naik busway. Lebih baik daripada diantar mobil. Nilai lebihnya lagi bisa bertemu kamu ..." Sambil menatap Uma.


Entah dia melihatnya atau tidak yang jelas saat ini aku malu tapi senang karena dia mengatakannya.


" Sebenarnya waktu di toko pak Yahya aku ingin sekali menyapamu, hanya saja waktu itu aku melihat Azi sedang melintas, jadi aku mengurungkan niatku itu . So, ini merupakan pertemuan kita yang ke dua kan...?" Riyan bercerita.


Aku tersenyum mengiyakan.


"O iya.... pertemuan kita hari ini jangan sampai Azi tahu ya...." pesan Riyan.


"Kenapa....?" Tanya Uma.


" Kami bukan teman yang akrab. Aku tidak pernah merasa bersaing dengannya dalam lomba lari, hanya saja dia tidak senang saat aku meraih peringkat satu dan dia diperingkat dua. " jelas Riyan.


"Oh...iya " Uma memahami maksud Riyan.


Dia pun turun lebih dulu , supaya tidak ada yang tahu kalau kami baru saja ngobrol bersama.


Kulihat dia menghilang cepat di kerumunan siswa lain yang hendak memasuki gedung sekolah. Aku pun berjalan pelan menuju sekolah karena waktu masih tersisa setengah jam sebelum bel berbunyi.


Aku jadi ingat dulu Azi pernah cerita betapa bencinya dia dengan orang yang pernah mengalahkannya di lomba lari. Karena waktu itu dia ingin mempersembahkan Thropy juara satu kepadaku, tapi waktu itu aku menghiburnya supaya dalam lomba itu harus siap menang dan siap kalah. Dan ternyata orang yang mengalahkannya itu adalah Riyan alias Pierendra ku.


[ Ohh.... Tuhan....kenapa jadi begini ...???]


Satu sisi ada Azi sahabatku, pemuja rahasiaku yang membuatku merasa istimewa dan di sisi lain ada Riyan, incaran hatiku yang baru saja dititik awal pendekatan.


Kulihat, mbak Arin sedang menungguku didepan kelas. dia mengayunkan tangannya agar aku mempercepat langkahku untuk menemuinya.


" Ada apa mbak ? " tanyaku cemas karena wajahnya yang serius.


" Lihat itu...! " Sambil menunjuk ke papan tulis yang dipenuhi lukisan wajah yang mirip dengan wajahku.


" Haaa....! Siapa yang menggambar wajahku mbak...? " Uma sangat terkejut dan heran.


" Aku tidak tahu , aku yang pertama datang dan tiba-tiba lukisan ini ada. Apa mungkin penggemar rahasia mu? Bukankah selama ini yang mengagumimu itu Azi ?


Kamu tahu peraturan sekolah ini kan....?


Hanya siswi putri yang boleh masuk ke gedung ini. Kalau sampai ketahuan ada siswa putra yang menyelinap masuk, dia akan mendapat hukuman yang berat. " Ulas mbak Arin.


" Iya mbak.... mungkin saja itu Azi, karena barusan aku ketemu sama Riyan.... " belum selesai bicaraku. mbak Arin bertanya.


"Riyan siapa....? " mbak Arin penasaran.


Aku ingat kalau Riyan tidak ingin ada yang tahu kalau tadi kami berbicara. Meskipun yang dia maksud adalah Azi, tapi mbak Arin juga kenal dengan Azi, takutnya nanti dia cerita lagi.


" Eemm ...Itu lho, tetanggaku yang juga teman sekelas Azi. Katanya Azi biasa menggambar wajahku di papan tulis setiap pagi sebelum kelas dimulai.


" Ohh... Begitu . " Mbak Arin menerima penjelasanku.


"Aku harus bagaimana mbak...?" tanya Uma bingung.


"Sebaiknya kamu harus menasehatinya supaya jangan melakukan hal-hal bodoh yang akan membahayakan bagi dirinya sendiri ! " Sarannya mbak Arin masuk akal juga.


"Baiklah mbak. Sore nanti aku akan kerumahnya. " kata Uma.