Pierendra

Pierendra
Perjanjian yang telah disepakati



( beep...beep ) suara getaran ponsel dari saku celana Riyan berbunyi.


" Halo, dimana ? Oke ! " Riyan menutup ponselnya.


" Maaf Azi, aku tidak bisa berlama-lama menemanimu, seseorang menungguku. Aku pergi dulu ya . " pamit Riyan.


"Oke, sekali lagi maaf bro !" Azi meminta maaf untuk tindakan ceroboh yang baru saja dia lakukan kepada Riyan. Dan Riyan pun menjabat tangan Azi tanda mereka tetap berteman baik.


Kemampuan mengontrol emosi Azi sirna seketika begitu mendengar gadis yang dicintainya itu akan segera menikah dengan seseorang yang dijodohkan untuknya. Dan apesnya Riyanlah yang menjadi sasaran kekesalan Azi. Kembali Azi mengeluarkan batang rokok dari saku celananya untuk menemani kegelisahannya.


*******


" Jadi disini seorang pebisnis ingin mentraktirku ? " Riyan membuka obrolan saat menuju meja yang sudah dipesan. Dan disana duduk seorang pria berkacamata hitam.


" Hahaha... Silahkan, kau mau pesan apa ? Hei, ada apa dengan mukamu ? " kata pria berkacamata hitam.


"Ah... cuma berantem sepele . Apa yang membuatmu sebahagia ini kak ? Sampai-sampai mentraktirku di restoran semewah ini ? " kata Riyan sedikit menggali informasi.


" Tugasmu hampir selesai, karena aku akan segera menikah. Hahaha....! " pria berkacamata hitam itu ternyata adalah kak Rendra.


" Apa ? Ternyata yang di katakan Azi itu benar ? Dan orang itu adalah.." Riyan menggantung kalimatnya.


" Iya, aku !". jawab kak Rendra tegas.


" Terimakasih atas bantuanmu selama ini. Berkatmu aku tahu segala sesuatu tentang Uma. Kau juga sudah melindunginya untukku. Dan sesuai perjanjian yang dulu pernah kita buat aku akan memberikan 50% dari saham perusahaan yang berada di kawasan industri KM70 . Sekali lagi terimakasih Riyan , senang bekerja sama denganmu. hahaha...." kak Rendra mengungkapkan sebagian kecil dari beberapa hal yang belum terungkap.


" Sial...! Kalau aku tidak mau menerimanya ? " sangkal Riyan.


" Apa maksudmu ? Jangan bilang kau juga menyukai Uma ? " kak Rendra ingin memastikan.


Riyan hanya tersenyum seolah tidak mau berada dalam tekanan kak Rendra.


" Lalu bagaimana dengan keinginanmu untuk berdiri tanpa bayang-bayang dari ayahmu ? " kembali kak Rendra mengingatkan.


" Oh iya.. sial...! " Riyan mengepalkan tangannya geram. Dia terpaksa dihadapkan dengan dua pilihan yang berat. Satu sisi dia ingin bersungguh - sungguh kepada Uma . Tapi untuk saat ini dia masih kalah jauh kredibilitasnya dengan kak Rendra.


Dan sisi lainnya, dia ingin membuktikan janjinya kepada ayahnya kalau dia bisa lebih dari apa yang ayahnya selalu bilang " Kakakmu itu yang terbaik ".


Lama Riyan termenung dalam pemikirannya yang sedang menimbang dan untuk menentukan pilihannya.


" Bagaimana ?" tanya kak Rendra memastikan.


" Sepertinya dari segi apapun aku memang kalah darimu kak, lagipula aku tidak mungkin melupakan Budi baikmu yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. " Riyan kembali teringat saat masa awal kematian kakaknya, adalah kak Rendra sahabat mendiang yang selalu menghibur dan memberi semangat dirinya.


Kak Rendra sangat mengenal Riyan karena saking seringnya menginap di rumahnya. Kebetulan kak Rendra dan mendiang satu fakultas. Jadi sering mengerjakan tugas bersama. Karena kelelahan dan terlanjur malam, maka kak Rendra memutuskan untuk menginap di rumah Riyan. Namun sejak kak Angga meninggal, kak Rendra memutuskan untuk kost ditempat Uma.


Dulu Riyan sempat ingin menjerumuskan dirinya kedalam obat-obatan terlarang. Dia sangat tertekan kehilangan satu-satunya orang yang mendukungnya. Dimata ayahnya dialah penyebab kematian kak Angga. Untung saja kak Rendra mengetahuinya dan menyelamatkannya dengan mengganti vitamin. Dari situlah Riyan sangat bersyukur dan tidak akan melupakan pertolongan kak Rendra.


Kemudian kak Rendra menasihati Riyan agar bangkit dan bersemangat menghadapi hidup yang terus berjalan. Termasuk tawaran untuk mendekati Uma sebagai persyaratan yang dijanjikan dan disepakati bersama.


******


Untuk kali ini Arin betul-betul kecewa kepada Azi. Meskipun selama ini dia tahu kalau dirinya bukanlah apa-apa di hati Azi. Tapi setidaknya dia selalu ada untuknya. Menemaninya disaat sedihnya. " Azi keterlaluan ! " gerutu Arin samar sambil membuat coretan di meja sebagai tanda dia begitu kesal.


Sementara itu Azi pun sedang tidak bersemangat sama sekali. Rasa sedihnya tak menghentikan pandangan matanya yang penuh tanda tanya kepada Uma. " Siapa orang itu Uma ?" pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepala Azi.


Lain halnya dengan Riyan yang harus menjaga sikapnya kepada Uma. Karena sesuai perjanjian dia hanya sebagai informan dan pelindung Uma sampai lulus sekolah. Dan itu hanya tinggal beberapa Minggu lagi atau bahkan kurang . Karena mungkin Uma hanya akan berangkat ke sekolah setelah menyelesaikan ujiannya, dan setelah itu dia pasti akan menunggu hasilnya dari rumah. Atau bahkan dia tidak akan menunggu hasil kelulusan itu sama sekali. Riyan membenamkan wajahnya keatas meja.


Sedangkan sumber dari semua permasalahan alias Uma, tidak menyadari keanehan teman sekitarnya yang berubah sikapnya karena dirinya. Dia sendiri sedang sibuk mempersiapkan nasibnya yang tinggal didepan mata. Rasa cemas yang memenuhi dadanya membuatnya ingin berteriak sekencang-kencangnya. " Aku belum siaaaap...!!!" begitulah kira-kira.


" Huft..." Uma merasa malas.


" Apa kau mencintaiku ? " tanya Riyan tiba-tiba.


" Ap...apa...?" dengan terbata-bata Uma balik bertanya.


" Aku tahu ini bukanlah waktu yang tepat, tapi aku benar-benar ingin tahu apakah sekali saja kamu pernah mencintaiku, Uma? jawablah ! "


" Emm... " Uma mengangguk pelan.


" Yesss...!" Riyan mengucapkannya dengan suara lantang sehingga seluruh ruangan memperhatikannya.


" Yesss ! Aku sudah selesai...hehe " lanjut Riyan mengalihkan perhatian.


" Aku tunggu di depan ya Uma !" kata Riyan penuh semangat.


" Ada apa dengan orang itu ? " Gerutu Azi.


"Hei Arin, kamu tahu nggak ada apa dengan si Riyan itu ? " tanya Azi kepada Arin.


" Bodo amat ! " jawab Arin kesal.


" Yei... Hari ini semuanya pada aneh " Azi menggelengkan kepalanya.


Merasa semua sudah keluar, ini adalah kesempatan Azi untuk bertanya kepada Uma melalui sobekan kertas yang dilemparkan ke meja Uma.


Betapa terkejutnya Uma saat membaca tulisannya yang berbunyi " Selamat atas pernikahanmu " . Seketika Uma menutup mulutnya yang menganga kemudian menghadap kearah Azi dengan bertanya, " Darimana kamu tahu ?"


" Bisa cerita nggak ?" Azi balik bertanya. Dia berpura-pura tetap menjadi sahabatnya yang dulu. Dengan begitu dia akan mendapatkan semua informasi yang ingin dia ketahui. Meskipun hasilnya akan sangat menyakitkan.


"Bisa tapi nggak hari ini, oke..!" tawar Uma.


" Oke , aku akan setia menunggu " jawaban pisau bermata dua.


" Tumben kalian nggak barengan ? lagi berantem ya ?" Uma menanyakan mbak Arin yang sudah pulang duluan meninggalkan Azi.


" Setidaknya biarkan aku sendiri dulu, nanti aku akan minta maaf ke dia ". jawab Azi.


" Aku duluan ya , tuan yang sedang ingin sendiri.." sindir Uma.


"Hahaha...." (Kau tidak tahu yang sebenarnya Uma )