
Separuh hati dan pikiran Uma terbawa bersama kepergian rombongan mobil kak Rendra yang sudah berbelok dan menghilang di ujung jalan.
Uma terus saja memikirkan perkataan kak Rendra selama membantu ibu mencuci peralatan makan untuk jamuan tadi .
POV Uma
Mulai sekarang aku harus berhati-hati dengan perasaanku serta membatasi diri dengan pertemanan khususnya laki-laki. Dengan perlahan namun pasti aku akan membuka hatiku untuk seseorang yang telah dipilihkan oleh ayah untukku.
Sebenarnya apa yang dikatakan kak Rendra itu ada benarnya juga, kalau aku itu memang belum yakin dengan perasaanku kepada Riyan . Aku memang sangat menyukainya dan mengaguminya. Yang jelas aku nyaman dengan Riyan . Tapi, apa aku mencintainya ? Aku tidak tahu.
Apa lagi sejak aku tahu kalau dia adalah pacarnya Lisa si princess yang perfect itu. Aku nggak mau dikatakan sepagai perebut atau perusak hubungan seseorang. Meskipun Riyan menyangkalnya , tapi waktu itu kulihat Lisa berhasil mengancamnya dengan menggunakan atas nama mamanya Riyan.
Lantas, apa maksud perkataan Riyan bahwa Lisa nggak akan pernah bisa mengganggu aku lagi ? Bahkan kata Riyan , Lisa dan dayang-dayangnya akan meminta maaf kepadaku besok. Bagaimana mungkin ?Huuuhh..... Pusing.....
Setelah selesai mencuci piring dan peralatan lainnya, Uma bergegas menuju kamarnya untuk merebahkan tubuhnya. Dia sudah merasa sangat capek sekali.
Sembari tiduran, pikirannya masih saja bertanya-tanya mengenai beberapa hal yang mulai berjalan diluar dugaan.
" Sebaiknya besok aku akan mencari tahu keterangan dari Ita mengenai pesannya yang disampaikan kepada kak Rendra agar aku berhati-hati dengan mbak Arin , Azi dan Riyan." tekad Uma.
" Ada apa dengan mereka ? bukankah mereka justru orang-orang terdekatku saat ini, orang-orang yang sangat baik kepadaku, kenapa aku harus berhati-hati..? " Uma bertanya dalam hati.
"Bahkan kemarin kak Rendra harus menjemputku saat aku pergi bersama mereka. Ooohhh...! Apa yang harus kukatakan kepada mereka kalau nanti mereka menanyakan kepulanganku yang tiba-tiba ? masa iya aku harus jawab kalau aku dilamar ? nggak mungkin kan ? " batin Uma bingung.
" Ya Allah...kok bisa njelimet gini ya ?
Huuuhh..... " Tenang Uma ! Rileks...!
Eh, ada yang bunyi.." segera Uma membangunkan tubuhnya menuju sumber bunyi yang ada diatas meja. Rupanya kak Rendra langsung menghubunginya untuk mentesting hp baru yang saat ini ada di genggaman tangan Uma.
" assalamu'alaikum "
" wa'alaikumus Salaam "
"Halo manis..." sapa kak Rendra.
" iya...halo.... " jawab Uma tersipu.
" kamu belum tidur..? lagi mikirin aku ya....? " goda kak Rendra.
" Sebenarnya aku lagi mikirin banyak orang sih kak.... kak rendra salah satunya."
" Sudah...jangan difikirkan ! Aku cuma mau mendengarkan suaramu sebelum tidur. "
perkataan kak Rendra membuat Uma merasa seperti jaringan komputer yang telah di shut down. seolah - olah dirinya telah diculik sejenak dari semua pertanyaan yang ada dibenaknya .
Ternyata memang benar bahwa saat seseorang sedang jatuh cinta, hanya dengan mendengar suaranya saja bisa merasa lebih baik.
" Kok diam ? ". sambung kak Rendra.
Uma yang tadinya tengkurap sekarang membaringkan badannya sambil menghadap ke langit-langit kamar.
" Kak Rendra mau mendengarkan apa ? " Uma menawarkan.
" Terserah..." kata kak Rendra singkat.
" kok terserah ? " Uma bertanya balik.
" ya... kalau aku minta kamu mengatakan I love you, nanti di kira maksa ? " Jawab kak Rendra sambil menggoda Uma.
" Ohhh.. Cuma I love you kan ? I love you.... " Uma dengan entengnya menjawab permintaan kak Rendra tanpa beban , karena menurutnya cepat atau lambat mereka akan bersatu dalam ikatan pernikahan jadi tidak perlu canggung lagi saat berbicara.
Mendengar jawaban kak Rendra yang dirasa cukup aneh, Uma pun menjawab, "Baru dengar aku, biasanya kalau ada yang bilang I love you itu jawabannya I love you too...lha ini...?"
" hahaha.....iya...iya I love you too so much muah muah muah...." jawab kak Rendra senang karena merasa berhasil memancing emosi Uma.
" Tahan mas ! Jangan keburu nafsu ! hihihi...." sahut Uma.
" Ya sudah. Kamu cepetan tidur, besok sekolah. O iya , nanti kalau di sekolah mikirnya pelajaran ya... ! jangan mikirin malam pertama kita nanti ! hahaha... dah..... assalamu'alaikum...." kak Rendra mengakhiri.
Iiihhh...kak Rendra, apaan sih ? wa'alaikumus Salaam. jawab Uma .
dia yakin mukanya memerah karena mendengar kata malam pertama. " Bisa-bisanya sih kak Rendra ngomong gitu??? ngapain juga aku mikirin kayak gitu...??? iiiiih...ogah...! " tepis Uma.
Uma berinisiatif untuk pergi ke kamar mandi dan berwudhu untuk menghilangkan efek kata yang terngiang tadi. Dan benar saja, setelah dinginnya air wudhu membasahi kepalanya, dia baru teringat kalau belum mengerjakan tugas sekolah dan menata jadwal buku pelajaran untuk besok pagi.
Akhirnya Uma pun bergegas menuju ke meja belajar serta memilah beberapa buku untuk jadwal besok.
Selang tiga puluh menit Uma sudah selesai mengerjakan tugasnya. Dilihatnya jam Beker Uma sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh menit. Rasa kantuknya pun sudah dirasa sangat berat hingga dia menguap berkali-kali.
Tak lupa sebelum tidur Uma selalu mengucapkan " bismika Allahumma ahya wa bismika amuut. " hingga akhirnya mata Uma terpejam dan tertidur lelap.
****
Sementara itu, lima jam sebelumnya tepatnya pukul lima sore ditempat terpisah. Arin, Riyan dan Azi masih bersama di Orion Cafe untuk mengisi rasa lapar dan dahaga perut mereka . Sembari rasa kekecewaan masih tergambar di raut wajah masing-masing.
( Blaakk.... ) tangan kanan Azi tiba-tiba menghantam di atas meja sehingga Arin dan Riyan terkaget dan menghentikan menyantap steak mereka.
" Kesal sekali aku ! Padahal tinggal sedikit lagi." nafasnya yang menahan marah serta diikuti mata yang penuh dendam itu membuat siapapun yang melihatnya merasakan takut. Namun Arin memberanikan diri untuk menenangkan Azi.
" Sabar Azi ! Kita kan belum sepenuhnya gagal. Masih ada waktu kok, tenang saja ! " kata Riyan.
" Kamu masih menyimpan obatnya kan...?" tanya Azi .
" Tentu sayang..." jawab Arin sambil membelai lembut pipi Azi . Hal itu membuat Riyan mengernyitkan dahinya serta membuang jauh mukanya yang penuh dengan api cemburu.
Sebenarnya dalam hatinya Riyan tidak sanggup melihat kedekatan Arin dengan Azi. Karena Riyan selalu merasa seperti obat nyamuk.
Merasa ada yang sedang terbakar api cemburu, lalu Arin pun berganti menghibur Riyan dengan rayuan jitunya. " Kenapa sayang....?" Arin meraih tangan kanan Riyan lalu menaruhnya di pipinya serta mengecupnya pelan. " Kamu nggak cemburu kan...? " sambil memasang tampang imut.
Seketika wajah Riyan tersenyum dan berkata. " Ng... nggak....Kamu cantik Arin." Riyan yang tidak kuasa dengan perlakuan Arin yang menggoda kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Arin hingga bibir mereka sangat dekat. Namun tiba-tiba, " Bisa nggak kalau ngelakuinnya nggak di hadapanku ? " Perkataan Azi membuyarkan keduanya hingga salah tingkah dan kembali ke makanan mereka masing-masing.
" Pokoknya... sebelum ujian Nasional tujuanku harus terlaksana , karena aku ingin memberikan kesan yang tidak akan pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya. " kata Azi sambil menyeruput minuman soda yang dipesannya.
" Apa yang akan kita lakukan ini nggak keterlaluan Zi ? " Tanya Riyan .
" Apa...? kok kamu ngomong gitu sih? jangan bilang kalau kamu ada rasa ya sama Uma ? " tanya Arin .
" Aku...nggak....para cewek yang menyukaiku, bukan aku. " dengan gaya cool nya Riyan menata rambutnya yang memang sangat menawan.
" Oh ya..... " Arin memajukan wajahnya centil.
" Iya .... " balas Riyan yang juga memajukan wajahnya.
" Bisa nggak sih kalian serius..?! " tetap belum bisa menerima keadaan dan tegang.
Berulang kali aku menyatakan cintaku kepadanya, tapi dia selalu berkata aku belum bisa lah....kita sahabatan aja lah....kamu aku anggap kakak lah..... " ( blaakk....) sekali lagi Azi meluapkan kekesalannya.
" Tenang saja zi, aku sudah merencanakan sesuatu, kali ini kita pasti berhasil, TOS dulu dong....! " Kata Arin sambil mengangkat gelasnya lalu mereka menyatukan minuman mereka dan minum bersama.