Pierendra

Pierendra
Mendung



Uma meninggalkan sisa-sisa sejuta rasa di hari ulang tahunnya kemarin. Pokoknya , 5 Oktober kali ini sangatlah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semua yang dia alami akan menjadi titik awal Pendewasaannya. Dan pasti akan terkenang selamanya.


Hari berganti pagi dan aktivitas sekolah pun menanti. Uma bergegas menuju halte dengan harapan bisa bertemu dengan Riyan yang biasanya bertemu dan berangkat dengan busway yang sama.


Begitu tiba di halte, Uma tidak menjumpai siapapun di sana termasuk Riyan. " Yaah.. ! nggak ada, padahal aku pengen banget ketemu sama kamu Riyan." batin Uma.


Suasana langit mendung yang menggelayut pagi itu membuat hatinya semakin sendu . Tak lama berselang busway nomor 01 telah datang. Kali ini langkah kaki Uma menuju pintu busway yang sudah terbuka itu terasa berat, karena biasanya dia memasukinya sambil bercanda tertawa ria bersama Riyan. Namun kini ? Bahkan sosoknya pun tidak terlihat .


Uma duduk di sebelah kanan bus. Lalu dia melihat sebuah mobil yang mengiringi laju busway yang dia tumpangi kemudian melaju dengan sangat cepat . " Itu kan, mobilnya Riyan ? Ohh...Jadi sekarang, dia sudah tidak mau lagi naik busway denganku dan lebih memilih menaiki mobilnya. Ya wajar sih, memang seharusnya begitu. Lagi pula itu kan hak asasi dia. Kenapa jadi aku yang sensi begini ya....?" batin Uma sedih.


Uma merasa yakin kalau Riyan, Azi maupun mbak Arin pasti sedang marah kepada dirinya yang kemarin tiba-tiba pulang.


"Huh...! Pokoknya nanti aku harus minta maaf !." batin Uma dengan penuh keyakinan dan tekad yang bulat.


Setibanya di halte pemberhentian, Uma melihat Ita dan Mia yang sudah berdiri di samping halte. Sepertinya mereka berdua tengah menunggu dirinya karena begitu Uma turun, mereka langsung memanggilnya.


" Uma.... Sini cepat ! " teriak Ita.


" Nah, pas banget nih ! Ada yang mau aku tanyakan." Uma berjalan menuju Ita dan menarik tangannya untuk duduk di media yang ada di bahu jalan.


" Ehh....kamu nggak papa kan ? " tanya Ita sambil memeriksa bagian mukaku lalu mengangkat kedua tanganku untuk mencari apakah ada bekas luka di sana. Kalah cepat aku bertanya sehingga Ita terlebih dulu menanyaiku .


Kami sama-sama saling penasaran satu sama lain sehingga membuat kami ingin secepatnya untuk mengetahui kebenarannya.


"Kalian berdua lihat kan, aku baik-baik saja . Memangnya ada apa sih ? " Bergantian aku memandangi raut muka mereka berdua yang mencemaskan diriku.


" Iya Uma, kami khawatir sekali sama kamu. Takutnya terjadi sesuatu." tambah Mia.


" Alhamdulillah Mia, Nggak ada apa-apa. Apa jangan-jangan, ini ada kaitannya dengan pesan yang kamu kirimkan kepada kak Rendra ?" Sambung Uma.


Tanpa menjawab mereka hanya mengangguk.


" Apa yang mereka lakukan kepadamu ? Kemarin kamu ngapain sama mereka ? " Ita mengintrogasi aku dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


" Kami jalan-jalan ke air terjun Ngairan Ta. Nah...pas mau nyebur ke air, Tiba-tiba kak Rendra yang entah kapan datangnya , langsung ngajak aku pulang . Padahal aku belum sempat berpamitan kepada mereka. Jadi, sepertinya mereka marah." jelas Uma.


" O iya, Memangnya apa sih, yang mereka rencanakan ? " sungguh, dari kemarin pertanyaan ini terus saja memenuhi pikiran Uma.


" Bukannya kak Rendra sudah nunjukin ke kamu ya ? " tanya Ita.


Uma merasa tersudutkan mendengar pertanyaan itu.


" Hehe... maaf ? karena buru-buru dan excited banget, akhirnya aku scroll, jadinya nggak kebaca dengan jelas. " jawab Uma merasa bersalah karena tindakannya yang terkesan menyepelekan itu.


" Ya Allah Uma ! kamu kenapa se-ceroboh ini sih ? " Ita geram dan naik pitam sambil mengernyitkan dahinya serta mengepalkan kedua tangannya. Bukan karena marah tapi lebih ke khawatir yang berlebihan.


Lalu kami berusaha mengalihkan pembicaraan kami dengan seolah-olah kami baru bertemu. Entah mbak Arin sudah melihat kami atau belum kami berusaha untuk senatural mungkin kalau kami hanya ngobrol santai dan tidak sedang membahasnya.


Tapi, jujur jantungku sekarang ini sedang deg-degan menunggu bagaimana reaksi mbak Arin saat bertemu setelah kejadian kemarin. Namun ku pastikan , aku akan menyapa dahulu dan meminta maaf.


" Mbak Arin.... " Sapaku dengan sedikit berteriak supaya dia mau melihatku. Karena sejak tadi dia hanya memperhatikan laju kendaraan yang hendak dia lalui.


Kemudian dia pun melihatku sekilas dan pergi begitu saja meninggalkan kami bertiga tanpa ada kata yang terucap maupun senyum yang muncul dari bibirnya. Yang kulihat hanya raut muka yang kesal , diam seribu bahasa namun meninggalkan seribu luka.


Aku tidak pernah melihatnya seperti itu. Hal ini membuatku sedih dan semakin bersalah.


" Waah....gawat. Dia marah besar kayaknya ? " celetuk Ita.


Perkataan Ita semakin membuat Uma sedih. kemudian Mia yang melihat Uma menunduk dengan air muka yang sedih dan kusut merangkul dan menghiburnya.


" Hey.... jangan sedih ya ! Masih ada kami , yuk ? " gandeng Mia, lalu kami pun berjalan bersama menuju gedung sekolah.


Seketika pandangan Uma kosong, langkahnya gontai, wajahnya suram, senyumnya hilang. Dia malas berbicara. Entah sudah berapa pertanyaan Ita dan Mia yang sudah dia abaikan karena rasa sedihnya itu. Mereka pun memakluminya.


Sebenarnya air mata Uma ingin sekali tumpah, tapi sekuat tenaga dia menahannya. Sudah sangat jelas kalau Riyan dan mbak Arin marah kepadanya. Mereka berdua sama-sama tidak mau menemuinya. Kemudian Uma mencoba menghela nafas ." Hemhh.... huuuhh... " Berharap ada sedikit ruang lega di dalam hatinya.


" Awas...! " Tangan Mia menarik Uma cepat ke tepi jalan karena ada pesepeda yang melintas dengan sangat kencang lalu berhenti tiba-tiba didepan kami. Dan ternyata itu Azi.


" Kebetulan, mungkin dia hendak menyapaku . " kata Uma dalam hati.


Namun siapa sangka, saat dia berbalik malah berkata " Nolongin orang buta...? gandengan bertiga, memangnya ini jalan punya bapakmu...?!" Teriak Azi.


" Apa? Aku nggak salah dengar kan ? Azi bilang aku buta ? Apa yang merasukimu Zi... sampai-sampai kamu berkata seperti itu ? " didalam hati Uma bingung dan sedih .


Hati Uma merasa sakit. Tajam sekali mata Azi menatapnya dengan penuh kebencian. Uma hanya bisa terpaku melihat sikapnya yang sangat dingin kepadanya.


Ita yang merasa tidak bisa menahan emosinya itupun menjawab, " Kamu tuh yang buta ! jalan selebar ini mau menerjang kami. bisa lihat nggak ? " amuk Ita membalas perkataan kasar Azi.


" Lagian ngapain sih kalian sok sok gandengan segala ? Paling-paling, sebentar lagi kalian akan ditinggalkan . " Tanpa berpamitan, Azi pergi meninggalkan kami begitu saja.


" Yee.....Habis makan cabe tuh orang , aneh...." sahut Mia .


" Dia sedang menyindirku atas kejadian kemarin,,," kata Uma sedih.


" Ya tapi nggak perlu kan , sampai se-kasar itu ? " Ita tidak bisa menerima perlakuan Azi yang dinilai keterlaluan itu.


" Sudahlah ! aku memang pantas mendapatkannya ." Uma menghapus sedikit air mata yang jatuh membasahi pipinya.


" Uma jangan nangis.... ya...!!! " lagi-lagi Mia menghiburku.