
Dari kejauhan nampak pintu masuk area wisata yang mulai ramai oleh pengunjung. Riyan mulai kebingungan untuk mencari lahan parkir yang tidak kami jumpai petugas untuk mengarahkan. Mungkin saking sibuknya jadi agak kewalahan jika petugas parkir hanya satu orang saja. Tak mau ambil pusing, akhirnya Riyan mencari sendiri dan menemukan tempat yang rindang untuk memarkir mobilnya.
Selanjutnya kami berdua berjalan menuju loket pembelian tiket masuk. Siapa sangka, di sana sudah ada mbak Arin dan Azi. "Yang...itu kan...?" tanya Uma memastikan.
" Iya yang.Kami memang janjian mau ngasih surprise sama kamu." jawab Riyan.
" Uuhhmmm..... makasih yang !." . Aku mengatupkan jempol dan telunjukku hingga membentuk hati sebagai ungkapan sayang.
" Mbak Arin....! " Teriak Uma memanggil namanya saking senangnya.
" Hai..... Uma.. " lalu kami berpelukan.
" Hai bro.... " Sapa Riyan kepada Azi.
" Hai.... " mereka melakukan TOS bersama.
" Kalian berdua sudah baikan ? " tanya Uma keheranan.
" Ya. Karena aku sudah mendengarkan penjelasannya kemarin. Jadi, kami baikan sekarang. " jawab Azi.
"Ooh....bagus kalau begitu. " kataku bersemangat.
" Ini ... Aku sudah pesankan tiket untuk kalian berdua. " mbak Arin menyodorkan tiketnya.
" Ayuk...kita langsung masuk saja ! ". ajak mbak Arin sambil menggandeng tangan Azi.
" Ayuk yang ! ." jawab Riyan mengimbangi dengan menggandeng tanganku.
"Wwah.... Sudah panggil sayang sayangan nih...." ledek mbak Arin.
" Iya dong...." Tegas Riyan. Sedangkan Uma hanya tersenyum tersipu malu.
Ada sekitar satu kilometer yang harus kami tempuh untuk menuju lokasi air terjun tersebut. dengan jalanan yang kadang menanjak kadang turun dan bahkan berkelok membuat sensasi tersendiri.
Kami harus ekstra hati-hati menyusuri medan yang masih dijaga keasliannya ini. Hampir saja mbak Arin terpeleset karena licinnya batu yang diinjak. Tapi itu menjadi kesempatan buat Azi untuk memeluk mbak Arin. huh.... maklum pasangan baru masih anget dari wajan. hihihi....
Hanya saja, mereka terkesan ingin memanas-manasi Uma karena setiap mereka bermesraan pasti langsung melihat dirinya.
Sedangkan Uma, sedari tadi Riyan tidak mau melepaskan tangannya. Bahkan saat jalanan yang landai sekalipun tetap saja mereka bergandengan. Sebenarnya Uma malu diperlakukan seperti ini. Sampai-sampai ada dua pria pengunjung lain yang menyindir mereka pun, Riyan tidak menggubrisnya
" Aku nggak akan ninggalin kamu cintaku ! hahaha...." Sindir mereka.
Malah Riyan menjawab " Ya iyalah ! " Uma hanya tersenyum kecil dan menertawai tingkah lucu Riyan yang dengan santainya menanggapi sindiran pengunjung tadi.
Seolah ingin mengatakan sesuatu, Riyan menghentikan langkahnya.
" Uma, dengarkan aku, selama ini aku memang dekat dengan siapa pun, termasuk Lisa. Tapi itu bukan berarti aku pacaran dengannya . Lisanya saja yang ke ge-eran . Jadi, kamu percaya sama aku kan ? " Riyan menatap dalam berharap supaya Uma mempercayai penjelasannya.
Akhirnya Uma tersenyum mengiyakan. lalu mereka melanjutkan perjalanannya.
" Nah, kita sudah sampai." kata Riyan.
" Waoow...... indah sekali. " kata mbak Arin . " Airnya yang jernih udaranya yang dingin terasa sangat sejuk . Aku nggak sabar ingin merasakan dinginnya air ini." Sambil melingkis celananya, mbak Arin bersiap untuk menceburkan kakinya kedalam air. Lalu mengajak Azi untuk bermain air.
" Yuk yang ! Kita ikutan nyebur ke air, nggak dalam kok. Sini aku pegangin ! ". Kata Riyan yang sudah berada didalam air.
" Iya , sebentar aku lepas sepatuku du......"
Saat Uma jongkok dan berusaha melonggarkan tapi sepatutnya, tiba-tiba ada yang menggandeng tangannya dengan cepat, dan mengajaknya pergi begitu saja.
" Kak Rendra ? Ngap....." Uma belum menyelesaikan kalimatnya.
" Sssttt...... " telunjuk kak Rendra menghentikan bibir Uma saat ingin menanyakan kenapa dia ada disini .
" Cepat jalan ! " Katanya sambil terus melangkah dan menggandeng tanganku.
Terus terang, berada di samping kak Rendra membuat Uma meleleh dikarenakan oleh parfum yang dipakainya . Mungkin ini juga yang menjadikan Uma mau mengikutinya. sampai-sampai dia lupa kalau sudah melangkah cukup jauh meninggalkan Riyan, mbak Arin dan Azi.
" Hey ? Siapa kamu ? Kenapa kamu membawa Uma pergi begitu saja ? teriak Riyan
" Hey..! Tunggu ! Uma.....Uma ! " Mereka semua berteriak memanggil, namun sepertinya mereka tidak berdaya untuk bergerak cepat karena kondisinya yang sedang berada didalam air.
Setelah sampai di parkiran, Uma melepaskan gandengan tangannya untuk bertanya.
" Stop ! kak Rendra ! Sebenarnya ada apa sih ? " . Uma menuntut jawaban darinya karena telah berbuat tidak sopan dan dengan seenaknya saja membawa Uma pergi dari teman - temannya. Alih-alih kak Rendra menjawab pertanyaan dari Uma , eh... malah dia mengeluarkan handphone dari saku celananya. kali ini Uma melipat kedua tangannya kesal.
" Halo.." Dia melonggarkan maskernya karena sedang berbicara di telepon. Dengan begitu kumis tipis yang seperti menggores diatas bibirnya yang merah alami terlihat mungil saat melafalkan kata - kata.
" Iya Tante. Dia ada disini." sambung kak Rendra.
" Hah....Ibu ? Dia mau mengadu sama ibu ? Huhh....dasar ! Mata - matanya Ibu rupanya. Kenapa sih, ibu selalu percaya banget sama kak Rendra ? " gumam Uma .
Kak Rendra menyodorkan hapenya sembari berkata," ini ! Tante Sofi mau bicara."
Uma yang masih merasa jengkel menatap kesal pada kedua mata kak Rendra sambil bersungut-sungut. Lalu mengambil handphone darinya dengan sedikit kasar.
"Halo ?" Uma merasa sedikit takut.
Di telepon, Uma mendengar Ibu menginginkannya untuk bisa ikut dengan kak Rendra secepatnya pulang ke rumah, karena ada suatu urusan yang sangat mendesak.
" Iya Bu. Uma akan ikut kak Rendra. " jawab Uma.
Semua berkecamuk dalam benak Uma. " Gawat nih.... bakal kena marah besar aku. Ibu sudah pulang , dan aku pergi tanpa ijin. Ini kan baru jam 11.00 siang ? Apa jangan-jangan....? " pandangan Uma tertuju kepada kak Rendra
" Aku nggak bohong ! Hentikan semua pikiranmu itu ! " telunjuknya sambil menekan pelipis kiri Uma hingga membuat kepalanya teleng.
" Perkataannya itu seperti dia bisa membaca pikiranku saja. " batin Uma.
" Maafkan aku teman-teman....aku harus pergi begitu saja tanpa berpamitan meninggalkan kalian semua. " Uma menyesal dalam hati.
Sementara itu, Riyan , Arin dan Azi sangat menyesalkan kejadian barusan. Bukannya mereka sedih karena Uma pergi begitu saja meninggalkan mereka, tapi karena mereka gagal dengan rencananya untuk mempermalukan Uma di tempat umum.
" Ahhh....!!! Gagal total rencana kita! " kata Riyan kesal dan marah sambil melempar batu ke dalam air dengan keras.
" Iya.! Siapa sih cowok tadi ? " Sesal Arin yang belum sempat untuk melancarkan aksinya kepada Uma.
" Padahal tinggal sedikit lagi, dendamku akan terbayar ! " geram Azi, Otak dibelakang semua rencana ini.
Ternyata mereka semua sekongkol telah merencanakan sesuatu yang jahat dengan waktu yang cukup lama agar semua berjalan senatural mungkin.
Diketahui ternyata ketiganya memiliki hubungan asmara yang rumit. Mulai dari Azi yang ternyata sampai saat ini belum bisa menerima kalau cintanya kepada Uma tak kunjung mendapatkan respon. Begitu juga Arin yang menaruh benci namun berselimut sahabat hanya demi mendekati Azi. Hingga Riyan yang siap melakukan apa saja yang menjadi keinginan Arin asalkan dia bisa mendapatkan perhatian dan kehangatan kasih sayang darinya.
Dari situ, Azi mulai menerima Arin dengan sarat mau menjalankan rencana balas dendamnya. Begitu juga Riyan yang selama ini mendekati Uma juga atas permintaan Arin. karena setelah sekian lama Arin mendekati Uma , dia baru mengetahui kalau Uma menyukai seseorang yang dia sebut Pierendra . Uma belum tahu kalau nama aslinya adalah Riyan. padahal Arin waktu itu sudah mengetahui siapa yang disebut Pierendra itu. namun demi perjanjiannya dengan Azi maka Arin berpura-pura tidak mengenal cowok yang selama ini mengejar-ngejarnya.
Namun begitu, itu sudah menjadi kesepakatan mereka bersama untuk bernegosiasi dalam cinta dan dendam yang membara.