Pierendra

Pierendra
Sadar diri



" Duduklah disini dulu Riyan ! Aku akan segera kembali. " Uma berpesan kepadanya.


Kemudian Uma menuju toko obat untuk membeli keperluan seperti kapas, obat merah, dan plester untuk lukanya Riyan.


Saat kembali ke tempat Riyan tadi , Uma melihat Riyan sedang memegangi bagian yang terpukul tadi. Mungkin lukanya sudah mulai terasa sakit sekarang.


Uma Cepat-cepat mengeluarkan semua yang dibeli tadi untuk mengobatinya. Hal pertama yang dilakukan adalah membuka kapas untuk diteteskan obat merah dan mengoleskannya ke tempat lukanya Riyan .


Sambil mengoles obat, Uma bertanya , " Kenapa harus seperti ini Riyan ? Kamu jadi terluka gara-gara menuruti keinginanku. Maaf....! " Tanpa terasa air mata Uma menetes karena sedih dan menyesal melihat kejadian tadi.


" Seperti yang pernah kukatakan kepadamu kalau aku dan Azi itu tidak akrab, maka aku harus memancing emosinya supaya mau mengikutiku kesini ." kata Riyan.


" Tapi...." belum selesai Uma berbicara.


" Hey... ! sudahlah..! " sambil memegang tangan Uma yang telah selesai menempelkan plester di ujung bibir Riyan sebelah kiri.


" Nggak papa Uma, anak laki-laki itu biasa berantem. Luka sedikit itu wajar, sebentar lagi juga sembuh. Apalagi kalau ...." Riyan menahan kalimatnya.


" Kalau apa Riyan.....? " tanya Uma karena Riyan tidak menyelesaikan kalimatnya.


" Kalau ada cewek yang mau ngasih sun di tempat luka aku, pasti cepat sembuh " lirikan mata Riyan menggoda Uma.


Mendengar kalimat itu , Uma menjadi malu sehingga menundukkan kepalanya meskipun kemudian tersenyum geli karena bisa-bisanya Riyan mau mengambil kesempatan atas kondisinya yang sekarang ini.


" Dasar kamu ! Nggak bisa banget ya kalau serius sedikit ..?" Uma melepaskan tangannya dari genggaman Riyan lalu mengemasi semuanya.


" Apa maksudmu ? Aku ini serius...! " lanjut Riyan.


" Hahaha....Ayo kita ke halte untuk pulang ! " Uma mengabaikan kata-kata Riyan tadi.


Hey...! Uma...! Kamu tidak mau menggandeng tanganku.... ? Kenapa kamu jalannya cepat sekali....? Tunggu Uma....! Ada apa denganmu..? Riyan memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Aku menghentikan langkahku untuk berbalik menghadap ke Riyan. " Maaf Riyan.... sepertinya kita tidak usah bertemu lagi..! " jawab Uma lesu.


"Apa....? Kenapa....? Apa salahku.... ? Kalau aku berkata yang menyinggung perasaanmu tadi aku minta maaf..? " Sesal Riyan.


" Tidak Riyan, kamu tidak salah. Justru aku yang salah. " Uma menerangkan.


" Dimana letak kesalahanmu...?" tanya Riyan bingung.


" Aku salah... karena telah mengganggu hubunganmu dengan Lisa. Mestinya kita tidak sering bersama seperti ini." jelas Uma.


" Lisa ...? Kami tidak mempunyai hubungan apapun. Ya, dulu dia memang pernah menyatakan cinta kepadaku, tapi aku menolaknya. Memangnya kenapa Uma ? Apa Lisa mengancammu ? " desak Riyan sambil memegang kedua lengan Uma .


" Ohhh.....Jadi ini cewek itu...! Sifana Humaira alias Uma anak kelas bahasa ." Suara Lisa yang tiba-tiba datang mengejutkan Riyan dan Uma .


" Oh tidak, apa yang tadi ku khawatirkan sedang terjadi sekarang. Lisa bersama gengnya tengah berada di belakangku. " batin Uma .


" Memangnya kenapa Lisa... ? Kamu punya masalah dengan kami...? " tanya Riyan .


" Aku tidak ada masalah denganmu honey. My charmy lovely Riyan .." ucap Lisa sambil memeluk dan jemarinya mengelus mukanya dan terhenti di bagian ujung bibir Riyan yang terluka.


" Kenapa mukamu honey....? Siapa yang memukulmu...? tanya Lisa.


Riyan mengelak dan menampik semua perlakuan Lisa yang diberikan kepadanya.


" Jika benar mereka pacaran tentu Riyan tidak akan merasa keberatan seperti itu. Apa mungkin memang hanya Lisa yang menyukai Riyan sedangkan Riyan tidak membalas perasaan Lisa. " batin Uma.


" Bukan urusanmu ....! " Elak Riyan sembari melepaskan pelukan Lisa .


Selesai memperhatikan Riyan kini Lisa melihatku lalu berkata " Aku hanya tidak suka kamu bersama Uma . Aku harap kalian berdua tidak menikungku dari belakang. karena kalau tidak , Mamamu pasti akan marah besar Riyan. Apa mungkin mamamu siap mengetahui bahwa anaknya suka jalan sama ayam kampung ! hahaha...." dengan nadanya menghinakan.


Mendengar perkataannya tadi Uma sangat geram dan marah. Namun tidak bisa berbuat apa-apa karena memang kenyataannya Uma kalah jauh dibandingkan mereka.


" Jaga ucapanmu Lisa ...! " Riyan berusaha membela Uma .


" Tapi tetap saja apa gunanya aku disini menyaksikan mereka berdua membuatku semakin merasa tidak nyaman. Sekumpulan orang kaya yang hanya menilai segala sesuatu dengan materi dan finansial. " batin Uma kesal.


" Aku pulang dulu Riyan.... " tanpa menghiraukan jawaban darinya, Uma langsung pergi meninggalkan mereka menuju gerbang keluar taman.


Masih terdengar sayup-sayup suara Riyan memanggil namun sepertinya dihalangi oleh Lisa. " Uma....Uma..... tunggu Uma...! "


" Ah ! Biarlah mungkin jalannya memang harus begini...(. hiks...hiks.....hiks....) " Uma menangis sesenggukan.


Uma sangat sedih sekali harus menerima kenyataan dengan cara seperti ini. Meskipun Uma tidak dilahirkan di keluarga yang kaya tapi dia sangat bahagia. "Mereka tidak akan mengerti dan memahami cara hidup kami yang sederhana. " kesal Uma dalam hati.


" Ibuku selalu menasehatiku bahwa rezeki itu bukan hanya uang. Saat kita diberikan banyak kebahagiaan itu rezeki , saat kita diberikan kesehatan itu juga rezeki, saat kita bisa berkumpul bersama keluarga itu juga rezeki. Dari situ kami diajarkan untuk menghargai nikmat dan karunia Tuhan sekecil apapun, sehingga kami tidak akan mudah untuk merendahkan, mencela ataupun menghina semua mahluk ciptaan-Nya. Astaghfirullah......" Uma kembali menyeka air matanya.


Takdir memang sedang berada di pihak Uma . Kembali dia bertemu dengan kak Rendra dan motornya yang berhenti tepat di depannya. Tanpa menunggu tawaran darinya Uma langsung membonceng, karena takut kalau kak Rendra melihat wajahnya yang sedang tidak karuan .


" Ayo kak jalan...! " Uma meminta cepat.


"Iya Uma . Pegangan ya.. ! " katanya.


Kali ini Uma memeluk erat kak Rendra dari belakang sambil meluapkan emosinya yang sedari tadi tertahan. Uma menangis sejadi-jadinya hingga membasahi jaket kak Rendra.


Kak Rendra membawa laju motor dengan pelan , nampaknya supaya dia bisa menanyai Uma .


" Kamu kenapa Uma....? Siapa yang menyakitimu..? " tanya kak Rendra.


" Maaf kak, jaket kak Rendra basah karena air mataku." Uma mengalihkan pembicaraan.


" Nggak papa. Kamu mau mampir untuk cari minum dulu apa langsung pulang...?" kak Rendra menawarkan dan tetap sabar.


" Aku mau langsung pulang saja kak. " Jawab Uma.


" Ya sudah , tapi hapus air mata kamu dulu dengan tisu di dalam kantong jaketku . Nanti dikira Tante kamu aku apa-apakan lagi, ambil saja...! " Suruh kak Rendra.


Uma pun akhirnya merogoh kantong jaket sebelah kanannya. Tapi sepertinya kak Rendra merasa geli karena tangan Uma yang meraba-raba berusaha mencari tisu di dalam kantong jaketnya yang dalam dan ada banyak benda itu.


" Ehh... ehh... hihihi.... Hentikan Uma ! aku geli. " kata kak Rendra.


" Gimana sih kak Rendra ? Tadi katanya suruh cari....? " kata Uma.


" Iya . Masalahnya aku lupa kalau tubuhku paling sensitif terhadap sentuhan di bagian itu. " jelas kak Rendra.


" Hihihi.... sekarang aku tahu kelemahannya. Sedangkan dia sedang posisi memegang setang motor . Hahaha....menang banyak aku kali ini . " batin Uma licik.


" Iya. Sebentar, aku kan nggak lihat ? " Sambil sengaja Uma meraba-raba dan pura-pura belum menemukan tisunya.


Seperti tersengat setrum tubuh kak Rendra terkaget-kaget setiap kali Uma meraba kantong jaketnya.


Setelah puas Uma menggodanya, akhirnya dia mengeluarkan tangannya dari kantong jaket kak Rendra.


" Nah...ini dia. Makasih ya kak ?" kata Uma.


" Iya , sama-sama." jawab kak Rendra.