Pierendra

Pierendra
Muka dua



" Wah...wah...wah......Apa-apaan ini..?!". Kami berdua kaget. Kemudian berbalik dan mendapati ada Widya ketua kelas kami.


Kami selalu segan kepadanya. Dia bukannya jahat ataupun galak, tapi dia itu sangat tegas dan disiplin tinggi. mungkin dia itu calon tentara wanita Indonesia.


" Sudah merasa cantik banget ya....?! sampai-sampai menggambar wajah sendiri sebesar itu dipapan tulis? " Katanya dengan lantang.


" Eemm... Maaf Wid. Ini juga mau dihapus, kamu nya aja yang keburu datang. " Jelas mbak Arin.


"Ya udah cepetan ! Bersihkan sebelum guru dan teman yang lain datang ! " Perintah Widya.


Selama pelajaran berlangsung pikiranku masih menerka-nerka,[ apa iya Azi yang melakukannya ? Untuk apa kamu senekat itu Azi ? ]


*****


Lima menit sebelum bel pulang berbunyi, Bu Siska mengakhiri pelajaran sejarah, karena anak-anak di kelas sudah mulai ngantuk.


Hari ini adalah tugasku piket jadi aku akan pulang terakhir untuk bersih-bersih lebih dahulu. Teman regu piketku tinggal Mia dan Ita . Karena Susan , Yani dan Nova sudah piket tadi pagi.


Sebenarnya aku juga sudah piket sih tadi pagi, menghapus papan tulis, hihihi.... Hanya saja itu sudah menjadi kesepakatan regu piket kami. Regu piket hari Kamis. " O iya....ini kan Kamis, aku akan segera menyelesaikan tugasku. " batin Uma bersemangat.


" lho....ini kan....??? patahan kapur warna warni yang senada dengan lukisan wajahku tadi pagi kenapa ada di laci meja mbak Arin.....?" Aku bertanya- tanya di dalam benakku.


" Uma... ngapain kamu jongkok disitu ? " Mia mendapatiku terlihat aneh karena mematung lama.


" Eh... enggak ada apa-apa. " Sambil kumasukkan kembali patahan kapur itu ke laci seperti sedia kala.


Dikejauhan aku melihat mbak Arin berlari menuju kelas . Sepertinya ada yang tertinggal. Aku berpura-pura ijin kepada rekan piketku untuk pergi ke kamar kecil . Aku ingin tahu apa yang hendak diambilnya.


" Huh...huh....huh ... Syukurlah aku tidak melihat ada Uma disini. " Gumam Arin dalam hatinya.


"Ngapain kamu Rin... sampe ngos-ngosan gitu. Ada yang ketinggalan?" Tanya Ita.


Tanpa menjawab pertanyaan Ita , Arin pun menuju mejanya . Benar saja , dia mengambil patahan kapur warna warni dan memasukkan kedalam tasnya.


"kalau cuma kapur kecil-kecil kayak gitu di koperasi kan juga banyak..." Tambah Ita.


" Bukan urusanmu...!!! "Dengan nada ketus dan pandangan mata yang sinis Arin pun berlalu.


Setelah mengetahui kalau Arin sudah pergi, Uma kembali ke kelas .


"Ahh...lega ...." kataku sambil memasuki ruang kelas.


"Eh..Uma, tadi Arin kakakmu itu balik lagi kesini lho..." Kata Mia.


"Ngapain ? nyari aku...?" Uma pura-pura tidak tahu.


"Bukan...Dia cuma ngambil kapur warna-warni yang sudah kecil-kecil gitu. Buat apa coba ? dasar orang aneh ! Ups, maaf keceplosan kamu kan adik dekatnya." Ita menjelaskan.


"Nggak apa-apa....Aku orangnya santai kok..." Uma menepis ucapan Ita .


"Aku juga bingung, kenapa dia bisa begitu baik sama kamu. Padahal dari dulu dia itu orangnya tertutup, sinis, cuek dan...aneh. Nggak ada yang mau berteman dengannya." kata Mia sambil meneruskan menghapus papan tulis.


Aku memang baru tahun ini satu kelas dengan mbak Arin, karena kelas kejuruan baru dimulai di kelas tiga. Jadi, aku tidak begitu mengenal lebih dalam, yang aku tahu dia itu selama ini baik. Namun sepertinya, kebaikannya itu ada motif tertentu, Hem....apa ya....? Apapun itu sekarang aku harus berhati-hati.


" Entahlah Mia, aku juga nggak tahu. " jawabku.


"Ngomong-ngomong, Kamu sudah dapat materi untuk tugas bahasa Indonesia besok Ma....?" Tanya Mia kepadaku mengingatkan.


"O iya ya, belum nih. Kalian sudah ?" Uma baru saja ingat .


"Belum juga, gimana kalau habis ini kita ke toko buku loak di pasar ?" Ajak Ita.


" Sebenarnya aku ingin segera pulang, ada yang harus ku kerjakan. Tapi, tugas ini lebih penting , jadi..oke deh." kata Uma.


" Nah...Gitu dong !" Ita bersemangat.


Sesampainya kami di toko buku, kami sibuk mencari buku yang berisi tentang karya sastra lama . Seperti pantun, mantra, syair, gurindam, seloka , / peribahasa dan taliban.


Lalu Ita memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang petugas toko yang sedang menata buku di pojokan lorong ke dua dari arah sebelah kanan.


" Maaf mas, buku - buku yang berisi tentang kumpulan karya sastra lama disebelah mana ya...? " tanyaku.


Tanpa waktu yang lama petugas itu pun menunjukkan ke arah lorong tiga tepat sebelah kiri kami. " Disebelah sana mbak.. ! Mbak pasti ada tugas bahasa Indonesia ya...? Dari kemaren selalu ada yang nyari karya sastra lama katanya untuk tugas bahasa Indonesia, betul kan mbak...??" petugas itu mencoba ramah kepada kami.


"Oh iya, betul sekali. Terima kasih ya mas." jawab Ita mewakili kami.


Setelah kami mendapatkan apa yang menjadi tugas kami, kami segera menuju kasir dan menyelesaikan pembayaran. sedari tadi aku sudah tidak sabar ingin segera pulang.


Kebetulan Uma dan Ita satu arah denganku. Untuk itu, kami pun menunggu bus di halte yang sama.


"Syukurlah... persiapan tugas kita sudah selesai. " kata Ita lega.


"Iya. Untung masih ada stok tadi ya ? " Mia menambahi.


Uma sudah nampak gelisah menunggu bus yang tidak kunjung datang.


"Jangan-jangan... busnya baru saja lewat lagi....huh...." Uma sedikit kesal dan mulai capek.


"Kenapa sih Ma....Kamu terlihat buru-buru amat....? " tanya Ita.


"Iya nih, dari tadi lihat jam tangan terus. Ada janji sama seseorang ? Nah...tuh dia sudah datang..! " kata Mia.


Ada seorang pria memakai jaket hitam dengan helm yang tertutup berhenti tepat didepanku.


Sepertinya, aku kenal sepeda motor ini. Sembari mataku mengarah ke wajah didalam helm itu. Begitu dia membuka kaca helmnya, aku baru sadar kalau dia itu... anak kos di kamar tiga.


"Hai...Uma , lagi nunggu bus ya..? Bareng aku saja ! Kita kan satu tujuan.. ? " Dia mengajakku.


Aku merasa malu campur senang karena ajakannya, tapi nggak enak sama teman-teman aku.


"Emm.... Makasih kak. Aku bareng sama teman-temanku saja." Aku mencoba menolak dengan halus.


"Eh... enggak - enggak. Kami mau pergi lagi, kasihan dia sendirian, biar dia bareng kakak saja ." Mia mengantarkan ku ke dekat motornya yang masih menyala mesinnya.


Sambil mengernyitkan dahi aku berbisik, "Apaan sih Mia...?"


"Udah....tenang aja ! " Mia kembali ke halte . Dan seperti dikomando, mereka kompak melambaikan tangannya.


"Dah....Uma.... Selamat bersenang-senang..!" Pesan Ita dan Mia.


" Sepertinya mereka senang sekali melihatku kikuk begini, dasar....! lihat saja besok kalau ketemu disekolah , aku akan buat perhitungan. " Gumamku dalam hati.


Sengaja aku memberi jarak ketika membonceng karena aku merasa sungkan. Kami belum pernah ngobrol sebelumnya meskipun sesekali kami tersenyum ketika bersua.


Separuh perjalanan aku terdiam dengan penuh pertanyaan didalam pikiranku. Aduh...gimana nih, padahal tadinya aku mau naik busway terus turun di halte sebelum gang rumahku dan dilanjut ke rumah Azi, sekarang gimana ngomongnya...


"Nggak perlu takut Uma, aku nggak akan menculik kamu kok... ! " Gurauannya memecah suasana. Sepertinya dia membaca pikiranku yang sedang tegang ini


"Ah...kakak bisa aja." Uma menyangkal ucapannya.


"O iya kak aku turun didepan saja ya..." pinta Uma.


"Kenapa ? kamu malu ya saya boncengin...? Takut ketahuan ibu terus ditanyai macem - macem ya..." Kakak itu terus bertanya.


Aku iyakan saja dengan semua sangkaannya itu."I..iya kak... takutnya jadi bahan gosip tetangga juga ."


"Ya deh....maaf ya ...aku turunin kamu disini." katanya meminta maaf.


"Nggak papa. Terimakasih kak..? " kata Uma .


"Iya...dah..." sambil menggeber motornya.