Pierendra

Pierendra
Kembalinya kehangatan Mama dan Riyan



" Duduklah ! " Mama Tisya mempersilahkan Uma untuk duduk di sebelahnya , sebuah kursi rotan dengan bantalan busa berwarna coklat terasa begitu nyaman untuk diduduki. Pemandangan teras lantai dua yang menghadap ke perbukitan yang masih berupa hamparan rumput nan hijau itu dapat membius sepasang mata siapa saja yang melihatnya.


" Kamu ... Humaira ? " Mama Tisya mulai mengintrogasi .


" I...iya Tante, kok Tante bisa tahu, kan tadi saya belum sempat memperkenalkan diri ke Tante ? " Uma bingung bagaimana mamanya Riyan mengetahui namanya.


" Sama seperti kamu, Tante juga membaca bukunya Riyan, kemudian Tante mencoba menebak kalau pemilik nama yang dibingkai itu adalah kamu. Dan ternyata memang benar." jelas mama Tisya.


" Hehem ...." Uma tersenyum malu.


" Lantas, Apa kamu sama Riyan pacaran ? " Satu lagi pertanyaan yang paling ingin diketahui oleh seorang ibu kalau melihat anaknya sedang dekat dengan lawan jenis .


" Eng.... kami cuma deket aja kok Tante. " Jawab Uma dengan ragu-ragu. Karena dirinya sendiri tidak tahu persis apa statusnya bersama Riyan.


Dulu awalnya memang Uma sangat terpesona dengan parasnya Riyan sehingga membuatnya sangat menyukainya dan terbayang-bayang terus oleh wajahnya. Kemudian berjalannya waktu mereka saling mengenal dan dekat karena berangkat bersama dalam satu busway. Namun disaat Uma ingin memastikan perasaannya, ada Lisa yang mengatakan kepadanya bahwa dia adalah pacarnya Riyan. Pupus sudah harapan Uma waktu itu. Hingga akhirnya Arin menyemangatinya untuk tidak menyerah begitu saja.


Apalagi ditambah Uma yang dihari ulang tahunnya dilamar oleh Bu Lina, ibunya kak Rendra. Hal itu menambah rumit statusnya saat ini.


" Kok bengong ? lagi mikirin apa ? jangan-jangan kamu tadi berbohong ya sama Tante ? " Desak mama Tisya.


" Eng...enggak. Sama sekali nggak Tante. " Uma menyangkalnya dan masih terlihat gugup.


" Sebenarnya, Tante itu sayaaang sama Riyan. Kalau kamu tadi melihat Tante memarahinya, itu karena Tante sangat mengkhawatirkannya. Apalagi setelah kejadian dua tahun yang lalu." Mama Tisya termenung.


" Kejadian apa Tante ? " Uma mencoba untuk mencari keterangan dari mama Tisya meskipun sebenarnya dia sedikit banyak sudah mengetahuinya dari mulut Riyan.


" Angga, anak kami yang pertama. dia tewas dalam kecelakaan motor ... " dengan nada berat dan sedih mama Tisya menyebutkannya kemudian tangisnya pecah.


" Oohh....Maaf Tante ! " Uma merasa ikut bersedih dan menyesal karena membuat mama Tisya sedih.


" Nggak papa. Bukan salah kamu, kamu cuma bertanya. Memang Tante yang belum bisa melupakan anak sulung Tante. Dia setampan Riyan bahkan ada yang menyebut mereka itu mirip meskipun beda dua tahun. Papanya yang menjabat sebagai ketua Yayasan dan juga keluarga ini sangat menaruh harapan besar kepadanya. Kelak dia pasti akan sukses seperti Papanya . Angga juga anak yang rajin dan pintar. Dia tidak pernah sekalipun mengecewakan kami atau bertingkah yang akan membuat kami marah. Dia selalu membawa keceriaan di rumah ini. Apalagi Riyan , dia sangat menyayangi kakaknya. hiks....hiks...." mama Tisya mengambil tissue di atas meja kemudian menyeka air matanya yang sudah mulai berjatuhan itu.


" Itu benar Tante. Aku melihatnya sendiri. " batin Uma.


" Yang Tante khawatirkan, Riyan selalu menyalahkan dirinya atas kematian Angga. Karena waktu itu Riyan ingin sekali mempunyai smartphone keluaran terbaru. waktu itu Riyan bersikeras ingin ikut serta kakaknya. Tapi kakaknya menolak, seperti sudah firasat dia ingin pergi sendiri . Padahal biasanya kemanapun mereka selalu bersama. " Cerita Mama Tisya terhenti karena sesenggukan oleh tangisnya.


" Ooo.... mungkin itu sebabnya Riyan tadi mengucapkan kenapa tidak aku saja ! " batin Uma lagi.


" tuuut....tuuut...." nada handphone Uma berbunyi.


" Emm.... Maaf , sebentar Tante saya angkat telfon dulu. " Uma hanya mengganti arah posisi duduknya ke sebelah kiri.


" Hallo.... Assalamu'alaikum.... "


" Iya....maaf sebentar lagi Bu. Ini Uma akan pamit ."


" Iya.... wa'alaikumus Salaam."


Uma menutup teleponnya. dan masih memegang dengan tangan kanannya.


" Maaf Tante, tadi ibu menelfon. " Sambung Uma.


"Oh...iya Tante, silahkan ! " Uma menyerahkannya tanpa menunggu lama.


Setelah mama Tisya mengamati dan membaca kode handphone yang tertera di casing belakang, lalu beliau berkata, "Iya. Merek ini, handphone ini yang diminta Riyan kepada kakaknya supaya membelikan untuknya. " Mama Tisya ingat betul karena Riyan waktu itu menyebutkannya dengan sangat bersemangat saat Angga hendak keluar dari pintu gerbang dengan motornya.


Kembali mama Tisya menangis tersedu-sedu mengingat kronologi awal mula kejadian yang merenggut nyawa anaknya itu.


Uma semakin tidak tega melihat dan mendengar semua ini. Ternyata dibalik kemegahan dan kemewahan yang dimiliki keluarga ini menyimpan kisah yang begitu menyedihkan sehingga menyisakan luka bagi seluruh anggota keluarga.


"Maaf nak, Kamu harus mendengar semuanya. Tante pikir kamu adalah teman yang baik untuk Riyan. Tolong selalu nasihati Riyan agar dia tidak sedih dan tidak selalu menyalahkan dirinya sehingga dia berbuat diluar pribadinya yang baik , supaya kami bisa merasakan Riyan kami yang selalu ceria seperti dulu ya nak ! " Pinta mama Tisya.


" Eng...Iya Tante , insyaallah saya akan berusaha tidak mengecewakan Tante. " Hibur Uma atas permintaan mama Tisya.


" Sekarang, kamu harus pulang kan ? nanti biar mang Didin , supir saya yang satunya yang akan mengantarmu , ya ? " Mama Tisya menawarkan.


" Biar Riyan saja yang nganter Mah. Tadi kan dia kesini bersama Riyan, jadi harus bertanggung jawab dong." . Kata Riyan sambil menyisir rambutnya yang masih sedikit basah.


Tidak terasa sudah lama kami berbicara, sampai-sampai Riyan sudah terbangun dari tidurnya dan sudah rapih seusai mandi.


Mama Tisya mengusap sisa air matanya yang menetes di pipinya. Segera merubah air mukanya agar tidak terlihat sedih.


Sepertinya sudah lama keluarga ini berlarut dengan kesedihannya masing-masing. Hingga akhirnya Riyan berkata, " Maafkan Riyan Mah ! Selama ini Riyan tidak memperdulikan perasaan Mama, Riyan pikir hanya Riyan yang paling sedih atas kepergian kak Angga. Riyan lupa kalau ada yang akan sangat kehilangan anaknya adalah Mama yang melahirkannya. Dan kasih sayang seorang mama pasti merata untuk semua anak-anaknya. Riyan janji nggak akan membuat mama sedih lagi ! ". Satu lagi yang meluapkan kesedihannya dengan berurai air mata.


Kini mereka saling memeluk satu sama lain. Dekapan seorang ibu yang sudah lama menanti kembalinya kehangatan anaknya yang selama ini selalu memendam kesedihannya sendiri.Begitu juga Riyan yang mengharap agar dirinya didengarkan bukan selalu dimarahi.


Tetesan air mata Uma menjadi saksi telah bersatunya kembali kehangatan di keluarga ini. Alhamdulillah.... Uma turut senang melihatnya.


" Mama nggak perlu minta tolong sama dia ya ? " telunjuk Riyan mengarah kepada Uma.


" Loh.... memangnya mama minta apa sama Uma ? " Mama Tisya berkelit.


" Mama menyuruhnya untuk menjagaku kan ? Asal tahu saja ya Mah, Riyan itu sudah besar, jangan perlakukan Riyan seperti anak kecil !" Tegas Riyan.


" Iya, maaf. Anak mama yang besar.... " goda mama Tisya sambil tersenyum.


lalu kami semua tertawa.


" Ya sudah, kamu antar Humaira pulang ya ! tadi ibunya sudah telfon. O Iya kirim salam buat ibumu ya Uma ! " pesan mama Tisya.


" Baik Tante , nanti saya sampaikan." jawab Uma.


" Eh sebentar, dari tadi keenakan ngobrol lupa kalau kamu belum makan apapun. sebentar ya ! " Mama Tisya berjalan ke dalam untuk mengambil sesuatu dari dalam kulkas.


" Ini , Tante tadi pagi bikin kue , kamu bawa ya !" Mama Tisya menerimakan ke tangan Uma.


" Itu memang hobinya Mama, dan kue buatannya enaaak...banget ! " . Riyan memuji mamanya dengan mengacungkan dua jempol.


"Iya Tante, terimakasih... saya pulang dulu, Assalamu'alaikum...." Pamit Uma.


" Iya...sering - sering main ke sini " ya...Wa'alaikumus Salaam... Jawab mama Tisya.