
" Alhamdulillah.... huuuhh....... Aku mencoba berdamai dengan diri sendiri. Tetap berusaha mengembangkan senyum agar menjadi penyembuh luka di dalam hatiku dan dengan sekuat tenaga berusaha melupakan kejadian tadi meskipun sulit. Setidaknya ada kak Rendra yang menemaniku disaat aku sedih. Tidak ku sangka, orang yang menjadi sandaran kesedihanku saat ini adalah kak Rendra, padahal selama ini Azi yang menjadi tempatku berbagai suka maupun duka. Tapi sekarang, dia sudah menjadi milik mbak Arin. Yah , garis takdir memang selalu rumit dan penuh misteri.
Kita sebagai hamba hanya bisa berserah diri kepada Allah serta berdoa dan memohon agar selalu mendapatkan bimbingan dan Ridho-Nya yang terbaik yang telah ditakdirkan untuk kita.
Aku akan selalu berusaha untuk mengerti batasanku , supaya tidak memicu konflik diantara mereka. Apalagi mbak Arin....
" Astaghfirullah..... " Uma merasa teringat sesuatu.
" Ada apa Uma ? Kenapa kamu mengucap istighfar ? " kak Rendra ikut merasa khawatir.
" Eng.....ini kak, tadi kan aku pergi ke taman sama mbak Arin, terus aku lupa berpamitan kepada mereka ." cerita Uma.
" Kok , mereka ? Berarti ada orang lainnya selain Arin dong ? "
" Aduh....gimana nih ? Cerita nggak ya....? " batin Uma.
"Kak Rendra kepo banget sih, ini urusan cewek tahu ? ! " kilah Uma.
" Sebenarnya aku tahu meskipun kamu tidak mau menceritakannya. Apa yang sedang ada di pikiran kamu sekarang inipun aku juga tahu. " kata kak Rendra.
" O ya ? Apa coba...? " kata Uma mengujinya.
" Yang jelas kamu senang kan, saat ini bersamaku...? " kak Rendra mencoba menerka.
" Iiiiih...! Kak Rendra pede banget sih ! " tepis Uma .
" Buktinya kamu sekarang sudah nggak nangis lagi, apalagi setelah kubiarkan kamu memelukku dan meraba-raba tubuhku tadi. Itu menjadi obat yang manjur bukan ? " kak Rendra membuktikan.
Sontak Uma berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang kak Rendra. Namun tidak jadi karena tangan kiri kak Rendra yang menahannya.
" Jangan Uma ! Aku senang bisa bersama seperti ini. " Masing-masing dari kami hanya terdiam berusaha memahami apa yang sedang kami rasakan.
" Aku tidak tahu apa maksud perkataan kak Rendra kalau dia senang bersamaku. Mungkin dia senang karena kami bisa akrab mengingat awal kedekatan kami waktu itu. Aku sangat membencinya karena ibu lebih membelanya. Sedangkan dia tidak henti- hentinya menggodaku." batin Uma.
( Ciiii....ttt...... ) kak Rendra menginjak rem.
" Nah.... Sudah sampai. Sepertinya Tante Sofi sedang di dalam, jadi kita aman. " kata kak Rendra
" Aman ? Bukannya kakak senang ya, kalau ada ibu, jadi ada yang ngebelain ?." sindir Uma .
" Jangan gitu dong ! O iya, bukannya kamu sudah kelas tiga ? Sudah mulai persiapan menghadapi ujian dong ? Jangan kebanyakan main ! " kak Rendra menasihati.
Meskipun terkesan sok ngatur tapi ada benarnya juga.
" Hehehe....siap boss ! Aku masuk dulu ya ? Sekali lagi makasih ya kak ? Dah...." Pamit Uma.
Kak Rendra hanya mengangkat tangannya sembari tersenyum kece dan dilanjutkan ke parkiran motor di samping rumah.
" Assalamu'alaikum. Ibu, Uma pulang. " sapa Uma.
Rumah terasa hening sekali. Uma merasakan tenggorokannya kering, untuk itu Uma Langsung membuka isi kulkas dan meraih botol minum yang sudah tersedia. Dia menjatuhkan pilihannya pada jus mangga kesukaannya.
" Ahhh..... Alhamdulillah...! Terimakasih Tuhan...nikmat sekali. Ibu memang juara...
O iya Ibu mana ya..... kok tidak ada ? Apa Ibu pergi bersama Lui dan Zia ?" Uma menggumam.
Belum juga Uma menemukan mereka pandangannya tertuju ke arah pintu kulkas yang terdapat tempelan kertas berisi sebuah pesan.
Ini tulisan Lui , Kak Uma...Tadi kami mendapat kabar bahwa kakek meninggal dunia jam 08.20 pagi . Jadi kami semua takziyyah ke Solo . Kak Uma jaga rumah ya..!
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.....Semoga Khusnul khatimah kek.... Semoga kakek diampuni dosanya dan diterima amal baik dan ibadahnya serta mendapatkan tempat yang paling baik di sisi Allah SWT. Aamiin....
Kemudian Uma mengirimkan bacaan Fatihah untuk kakek.
Ooo.....jadi mereka ke Solo. Pantesan mobil pak Dikin yang biasa buat grab car tidak kelihatan di parkiran. Beliau adalah salah satu yang ngekost di sini.
(Tidiiii....t....tidiiii.....t.....) telfon berbunyi
" Halo ... Assalamu'alaikum...." Uma membuka percakapan.
" Iya Bu . Kakek meninggal dunia. Sakit apa Bu ?" tanya Uma balik.
" iya nak, kakek terkena serangan jantung. Kamu jaga rumah dengan baik ya ! tadi sebelum ibu pergi ibu sudah siapin makanan buat kamu. Kamu Jangan lupa makan ya !" pesan ibu .
" Iya Bu. Ibu juga jaga kesehatan jangan sampai kecapekan !" pesan Uma .
" Iya. Terimakasih nak. Sudah dulu ya, Assalamu'alaikum...." ibu mengakhiri pembicaraannya di telepon.
"Wa'alaikumus Salaam..." jawab Uma.
( klik )Uma meletakkan gagang telepon.
Tidiiii....t....tidiiii.....t..... telfon berbunyi lagi.
" Apa lagi yang mau disampaikan Bu ? " kata Uma begitu saja.
" Maaf.... ? " suara laki-laki yang tidak asing
Namun Uma pura-pura tidak tahu, "Siapa ya..?"
" Ini aku Uma, Riyan ! " kata Riyan menjelaskan.
" Riyan ? Bagaimana kamu bisa tahu nomor ini ? Pasti mbak Arin ya ?" Seakan tidak percaya kalau Riyan yang menelfonnya saat ini.
" Iya... setelah kamu pergi tadi, Arin dan Azi menemui kami sedangkan dia tidak menemukanmu, lalu aku menceritakan kronologisnya. Dan aku pun mendapatkan bonus sebuah tamparan lagi." papar Riyan.
" Ups...Maaf Riyan ! Gara-gara aku kamu jadi bernasib sial , kamu jadi kena pukul dua kali, pasti sakit ya ? '' Uma mengkhawatirkan keadaan Riyan.
" Sshh.....sakit sih. Makanya , ini sedang aku obati pake suara kamu." jawab Riyan sambil menggombal.
" Uuu ! Sudah kesakitan masih saja gombal. " padahal dalam hati Uma senang.
" Memang aku pantas mendapatkannya, ini hukuman untukku karena telah menyakiti hatimu. Maaf, Lisa memang keterlaluan , itu sebabnya aku malas berhubungan dengan dia. Kamu jangan khawatir Uma, Lisa sudah aku beri pelajaran. Dia nggak akan ganggu kita lagi" jelas Riyan.
" kita....? " pancing Uma.
" iya...kamu dan aku kan namanya kita." jawab Riyan .
Mendengar kata-katanya Uma jadi tersenyum kegirangan
" Memangnya, Lisa mau dikemanakan ? " Uma mencoba memastikan.
" Kamu nggak perlu tahu, pegang kata-kataku, besok dihari kamu masuk sekolah Lisa dan anak buahnya pasti akan meminta maaf kepadamu. " kata Riyan memberikan jaminan.
" Mana mungkin ? " Uma masih belum yakin.
" Iya....kita lihat saja nanti .Emm..... Uma. besok aku tunggu kamu di halte ya.... " pinta Riyan.
" Kenapa? Besok kan libur ? " jawab Uma merasa heran.
" Aku mau ajak kamu jalan-jalan ke suatu tempat. Anggap saja ini sebagai permintaan maafku, Oke ? " bujuk Riyan.
" Ooo...emmmm....? " Uma berfikir sejenak.
" Ayolah ! Atau aku jemput di rumah kamu boleh ? " Riyan berusaha bagaimanapun caranya.
" Eh jangan ! iya iya. Aku besok ke halte." Jawab Uma memutuskan.
"Jangan lupa besok pagi jam 7 kalau kamu nggak datang aku jemput ke rumah kamu. Dan satu lagi, dandan yang cantik ya....bye....." Riyan mengakhiri pembicaraannya di telepon.
"bye.... " Uma menutup telepon
POV Uma :
Bagaimana ini ? Sebenarnya aku ingin menjauh, tapi Riyan malah semakin berusaha keras untuk selalu bersamaku. Dan mengenai Lisa , bagaimana bisa ? Tadi siang saja Riyan nampak tidak berkutik saat Lisa menggunakan mamanya sebagai ancaman.
Ahhh.... Apapun itu yang penting sekarang aku mandi , bersiap sholat maghrib, dilanjut dengan makan , habis itu BELAJAR!!! Semangat Uma.....