Pierendra

Pierendra
Misi cinta Uma untuk Arin



"Uma.....kamu mencium aroma itu tidak ?" Tiba-tiba keluar jalur.


"Apa ..?" Tanyaku heran.


"Hem.......wangi sekali, dan suara khasnya tuuut....... tuuut...... dari mana arahnya ?" mbak Arin celingukan sampai akhirnya dia melihat ke gerbang sekolah.


"Nah...itu dia. " Tanpa mengajakku dia pergi begitu saja.


"Eh....mbak Arin tunggu...!" Panggil Uma.


Tak ku sangka cepat sekali langkahnya yang tahu-tahu sudah ada di depan penjual kue putu bambu.


Belum juga aku sampai , dia sudah kembali dengan membawa dua bungkusan kecil dan menyerahkan salah satunya kepadaku.


" Ini untukmu Uma. Suasana lega membuat perutku ingin memakan sesuatu. Kebetulan ada penjual kue kesukaanku." Kata Arin .


" Terima kasih mbak, Aku juga suka dengan kue ini." Sahut Uma.


Tak butuh waktu lama kami menghabiskan kuenya. Bel pun berbunyi. Kami bergandengan tangan menuju kelas dengan senyuman lega terpancar dari raut muka kami.


[ Alhamdulillah ya Allah.... Engkau telah menjawab doaku. Sekarang aku menjadi sangat bersemangat di kelas. Aku bisa mengerjakan tugas untuk menerjemahkan bahasa Arab dari pak Ali dengan sangat cepat dan tanpa mengalami kesulitan. mungkin ini semua karena mood ku yang sedang bagus. ]


Sesekali aku menengok ke belakang. Ku lihat mbak Arin pun tidak kalah semangatnya denganku. Lalu kami saling tersenyum dan kembali mengerjakan tugas kami.


*****


Aku sudah bersiap di halte busway untuk pulang ke rumah. Kali ini Mia dan Ita tidak bersamaku karena akan membeli sesuatu. Jadi, aku sendirian.


Saat aku sudah duduk didalam bus , kulihat diseberang jalan ada Riyan yang berusaha mengejar. Namun kalah cepat dengan laju bus. Hingga akhirnya menyerah dan hanya memandangku saja semampu yang dia bisa.


Sepertinya dia ingin sekali menjelaskan semuanya. " Aku tahu Riyan. " Gumamku.


Betapa terkejutnya aku ketika turun dari bus dan melihat Riyan sudah ada di halte.


"Hati-hati Uma.... Sini aku pegang tanganmu."


Kali ini aku tidak bisa menolak, karena bus berhenti agak menjauhi halte sehingga aku harus berhati-hati dalam mengarahkan pijakan kakiku.


Entah kenapa bus itu tidak memberiku cukup waktu untuk turun. Sehingga membuatku tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhku.


"Eh...eh... " Hampir saja aku tersungkur karena oleng. Namun tidak terjadi karena lengan Riyan sudah menangkap tubuhku.


" Awas. .! " kata Riyan sambil refleks memelukku.Tapi tidak berlangsung lama, dia langsung melepaskan kedua tangannya dari lingkar pinggangku.


"Maaf..? Aku nggak sengaja. " Kata Riyan spontan.


"Iya.... Nggak apa-apa . Terima kasih Riyan.. Kalau nggak ada kamu aku akan jatuh tadi." Uma berterima kasih.


Butuh beberapa menit untuk kami mengendalikan rasa malu atas kejadian tadi.


" Bagaimana bisa kamu sampai disini duluan ? Bukannya tadi kamu tertinggal saat hendak naik busway ? " tanya Uma heran.


"Hehehe...tadi aku minta bantuan temanku yang naik motor untuk bisa lebih dulu sampai di sini. " Jelas Riyan.


"Uma....kamu mau menemaniku sampai pak Hadi datang ?" Akupun mengangguk sebagai tanda setuju . Lagi pula, aku tidak mungkin menolak ajakannya setelah dia menolongku tadi.


Sekali lagi aku tidak bisa menolak saat tangannya menggandeng tanganku untuk menuju cafe di seberang jalan. Menurutku ini masih dalam hal yang wajar karena dia ingin memastikan aku aman saat menyeberangi jalan raya yang penuh dengan lalu lalang kendaraan yang melintas.


Tapi saat sudah berada di tepi jalan , dia tetap tidak melepaskan gandengan tangannya yang kuat tapi terasa hangat itu hingga kami benar-benar masuk ke dalam cafe dan mendapatkan tempat duduk. Seperti di dalam film romantis, Riyan menata kursi untukku. Dan kami pun duduk berhadapan.


"Kamu mau pesan apa.....?" Tanya Riyan.


"Yang seger seger saja .... Jus mangga." jawab Uma.


"Oke...! Mas.... kami pesan jus mangga dua ya....yang dingin !" kata Riyan memesan.


"Siap ! "Kata penjaga cafe.


"Ada yang mau ku jelaskan Uma." Sambung Riyan.


"Tidak perlu Riyan.... Aku sudah mengetahui semuanya dari mbak Arin." Uma menghentikan kalimat Riyan yang ingin memberikan penjelasan.


"Iya.. Aku maafkan. Tidak ada yang salah dalam cinta. hehehe...." Uma mencoba mencairkan suasana.


"O iya Riyan, kebetulan kita ketemu. Sekarang aku membutuhkan bantuanmu !" Uma meminta tolong.


" Apa ini sebuah konspirasi lagi ? " tanya Riyan.


"Tentu saja ! " kata Uma bersemangat.


"Oh... tidak !" katanya sambil menaruh telapak tangan kanannya di kening kepalanya.


"Ayolah... ini demi teman kita." Karena saking semangatnya , Uma tidak sadar kalau kedua tangannya memegang lengan kiri Riyan diatas meja.


Riyan yang tadinya memejamkan mata sontak melihat ke arah tangan Uma yang menggoyang lengannya. Kemudian menatapnya dengan sedikit memiringkan kepalanya ke kanan sambil tersenyum melihat kelakuan Uma yang seperti anak kecil .


Segera Uma mengehentikan tindakannya yang kekanak-kanakan tadi sambil mengucap maaf dan tersipu malu.


" Sepertinya Riyan suka melihatku salah tingkah seperti ini. Aku tahu dia memandangku cukup lama sampai aku tidak berani mengangkat mukaku dihadapannya. " batin Uma.


Lalu dia berkata , "Hey.. ! Tuan putri malu, aku siap melakukan apa yang menjadi keinginanmu." Kata Riyan


"Ohh....Sweet banget..! kata Uma sambil tersenyum.


"Oke, jadi begini. Aku akan memberimu PR membuat surat yang berisi pengungkapan hati bahwa sebenarnya yang disukai Azi itu mbak Arin bukannya aku." Uma memberikan pengarahan.


"Kenapa tidak kamu saja..? " kilah Riyan.


"Hello.... dia akan segera mengetahui dalam hitungan detik kalau aku yang menulis surat itu." Uma mengutarakan alasannya.


" Ooo... begitu ya ?". Riyan baru memahaminya.


"Ya iyalah. Bahasa cewek dan bahasa cowok itu kan beda. " Tambah Uma.


"Serahkan surat itu paginya kepadaku. Terus kamu ajak Azi ke taman kota sehabis pulang sekolah. Giliran tugasku adalah memastikan mbak Arin pergi juga ke taman kota supaya mereka bisa saling bertemu. Aku akan menyuruhnya untuk berterus terang kepada Azi bahwa sebenarnya dirinya yang ada dibalik surat menyurat selama ini . Selebihnya kita serahkan pada takdir cinta kemana mereka akan mengikuti kisah yang digariskan untuk keduanya. Gimana...sepakat ...?!" Tanya Uma menggebu-gebu .


"Sepakat ! " Kata Riyan sambil mengajak untuk berjabat tangan bersama.


Dengan malu-malu Uma pun menjabat tangan. [ hihihi.... ]


Seperti melihat seseorang yang di belakangku Riyan mengalihkan pandangannya. Setelah ku menengok ke belakang ternyata sopirnya, pak Hadi sudah datang menjemputnya.


"Tuan muda harus segera pulang ke istana !


hihihi...." Uma meledek Riyan.


" Baiklah tuan putri malu, namun sebelum itu mari kita habiskan minumannya ! hahahaha......." Kami pun tertawa bersama.


Sesekali tatapan mata kami bertemu seolah berharap waktu berhenti sejenak agar kebersamaan ini tidak segera berlalu. Hingga tiba-tiba ponsel di saku celana Riyan bergetar karena di silent.


" Ponsel kamu ada panggilan masuk tuh ! " Uma mengingatkan.


Sepertinya Riyan enggan untuk mengangkat telepon karena dia tahu kalau itu dari mamanya. Tapi dia merasa tidak enak karena sudah diperingatkan, akhirnya dia mau menerima telepon itu.


"Maaf, sebentar ya ? " Sambil berjalan menuju depan Cafe.


"Halo....iya ini sudah perjalanan pulang. Apa....? Iya. Iya. Aku segera pulang ma ! "


Riyan menutup ponselnya dan berjalan menemui Uma.


Sambil panik dia berkata :" Uma , maaf aku harus segera pulang, mama aku sakit. " Kata Riyan panik.


"Apa ? Ya sudah, kamu pulang saja ! " Kata Uma.


" Kamu nggak apa-apa kan , aku tinggal duluan ? " Tanya Riyan memastikan.


"Enggak apa-apa , cepat sana ! " Uma menyuruhnya bergegas.


"O iya , minumannya sudah aku bayar, dan PR dari kamu akan aku kerjakan. Daah...! " Pamit Riyan


"Iya...sampai ketemu besok....daah... ! " Sahut Uma.