Pierendra

Pierendra
Satu misi hampir selesai, tapi....



Uma mempercepat langkahnya menuju bangku depan kantin sekolah yang belum buka dan masih sepi. Segera dia ganti amplop surat dari Riyan yang dibuat untuk mbak Arin. Lalu menuliskan nama yang dituju,


Kepada Yts ( yang tersayang )


Arinbi Dwi Maharani


Dari : Azzam Maulana Fayyazi


" Nah... Sudah siap. Tinggal nunggu mbak Arin datang , lalu kasih ke orangnya. Ihhh... jadi nggak sabar lihat reaksinya mbak Arin ." Uma senyum sendiri.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Uma melihat sosoknya tengah masuk gerbang sekolah dan berjalan sendirian.


"Mbak, sini ! " sambil Uma melambaikan tangannya .


"Tumben kamu pagi begini nongkrong di kantin, ngapain ? Kelaparan neng ? Ada apa ? " tanya mbak Arin keheranan.


" Yyei...Aku sudah sarapan mbak. Sengaja aku nungguin mbak Arin di sini, ada yang mau kuberikan. Ini..!" kata Uma sambil menyodorkan surat itu kepadanya.


"Apa ini..? Surat dari siapa ?" tanya mbak Arin.


"Dibaca dong..!" pinta Uma.


"Azzam Maulana Fayyazi. Azi..? sambil menatapku merasa tidak percaya.


"He em.." Uma mengangguk dan tersenyum.


Dia pun membuka surat itu. Kubiarkan mbak Arin berjibaku dengan kata-kata yang ada didalamnya yang entah apa aku sendiri secara persis belum mengetahuinya. Meskipun pada intinya aku tahu.


" Kalau diperhatikan, rona muka mbak Arin semakin memerah dan senyum di bibirnya juga semakin merekah sambil sesekali mbak Arin melihatku seolah dia malu kalau perasaan berbunga - bunganya tertangkap olehku. " pikir Uma.


Uma pun juga ikut merasa senang . Berarti Riyan telah berhasil melakukan separuh misinya untuk meyakinkan mbak Arin kalau Azi itu menyukainya .


Setelah selesai membaca surat itu, Uma penasaran lalu menanyakan isinya kepada mbak Arin. " Gimana mbak..? Apa yang dikatakannya....? " Tanya Uma.


" Benar kata kamu Uma." kata Arin sambil kedua tangannya memegang lengan Uma .


" Benar apanya mbak? " bingung Uma.


" Iya seperti yang kamu bilang, kalau sebenarnya selama ini Azi itu suka sama aku. Cuma , nggak berani ngomong karena salah menyebut nama saat grogi bertemu denganku waktu itu." jelas mbak Arin.


" Ini....coba kamu baca sendiri...! " kata Arin sambil menyerahkan surat yang terbuka itu.


Dear Arin


Aku bingung mau menulis dari mana. Sudah penuh dada ini menyimpan rasa. Aku ingin sekali mengatakan isi hatiku kepadamu kalau sebenarnya aku sangat menyukaimu sejak kita mencari donasi waktu itu. Namun, entah mengapa waktu aku memberanikan diri untuk mengatakannya aku selalu gagal. Bahkan saat aku putuskan menulis surat waktu itu aku merasa gugup saat memberikannya kepadamu. Sampai-sampai aku salah menyebut namamu menjadi Uma. Sungguh betapa menyesalnya diriku waktu itu sampai sekarang.


Tapi kali ini aku tidak mau ada kesalahan lagi . Untuk itu aku titipkan surat ini lewat Uma.


Aku selalu ingin bersamamu, mendengarkan kata-katamu dan melihat senyum indahmu. Tawamu yang renyah saat aku mengajakmu bercanda , dan saat kita bernyanyi bersama waktu itu, adalah momen yang paling aku ingat darimu.


Aku sudah tidak ingin membahas Uma sebagai alasan kita bertemu . Aku ingin saat kita bersama hanya ada pembahasan antara kau dan aku. Maukah kau menjadi seperti itu ?


Aku juga ingin sekali mengetahui apa yang kau rasakan setelah membaca surat ini. Kau bisa menjelaskannya lewat surat atau bertemu langsung denganku.


Aku ingin menemuimu di taman kota seusai sekolah siang nanti. Datanglah untukku Arin, please....


Azzam Maulana Fayyazi


"Oohhh......so sweet...! Dia ngajak ketemuan lho mbak. Cie.... cie......" kata Uma menyimpulkan.


"Iya....aduh aku kok jadi deg-degan begini ya...?" kata mba Arin sambil memegangi dadanya.


Spontan Uma memeganginya dan mengajaknya untuk duduk di bangku kantin.


" Sini duduk dulu mbak. Tenang....atur nafas....tarik nafas panjang...! Buang.... ! Lagi ...... nah... Sudah lega.....? " Uma memberi aba-aba.


"Iya... makasih Uma . Aku nggak nyangka kalau ini semua terjadi. Hal yang selalu aku kupikirkan. he-he-he....." mbak Arin tertawa kecil.


Tak mau menunggu lama , Uma pun meyakinkannya, " Jadi, gimana..? Mau ketemu nggak....? " Uma memastikan.


"iya aku mau, tapi temani aku ya..! " mbak Arin memegang pergelangan tangan Uma.


"Jangan khawatir....aku akan selalu ada untukmu mbak Arin..." Uma pun ikut menggenggam juga tangannya, dan kami pun tertawa bersama untuk selanjutnya menuju ke kelas.


*******


Bel istirahat berbunyi, kami menuju ke kantin sekolah. kali ini Mia dan Ita ikut bergabung. Mereka sudah mulai merasa nyaman dengan adanya mbak Arin. Karena memang Uma mengutarakan isi hati mereka kepada mbak Arin sehingga mbak Arin sudah mulai sedikit merubah sikapnya .


Yang jelas, saat kami mulai terbuka mengenai masalah Azi, seperti ada perasaan lega dari mbak Arin. Seolah-olah kabut hitam sudah mulai sirna, menyisakan aura positif di mukanya. Sehingga mereka yang dulu merasa takut hanya untuk sekedar bertanya, sekarang sudah tidak lagi. Bahkan sekarang ini mbak Arin lebih sering menyapa teman-teman sekelas kami. Uma sangat senang sekali dengan perubahan sikap mbak Arin. Tidak ada lagi Arin yang tertutup dan ketus lagi. Dia tidak hanya baik dengannya tapi ke semua teman kelas , Arin juga bersikap baik .


Setelah kami mendapatkan menu makanan dan minuman kami masing-masing. kami menuju meja yang masih kosong di tengah ruangan.


"Ahh....disini saja ya teman-teman !" kata Mia sambil meletakkan semangkuk nasi soto dan segelas es teh di meja.


"Oke... ! "jawab kami bertiga.


Jujur saja, makan bersama seperti ini sangat menyenangkan. Kami menyantap menu makanan kami masing-masing yang masih hangat. Bahkan terkadang Ita suka sekali mengajak bercanda saat menghabiskan makanan .


Uma menghentikan tawanya saat mendengar pembicaraan di meja sebelah secara tidak sengaja.


"Eh...Lisa kemarin aku lihat Riyan cowok kamu di cafe lho, sama cewek. Cewek itu pakai seragam kita, cuman aku nggak lihat mukanya karena menghadap ke tembok." sepertinya itu suara Fani, dan saat Uma meliriknya ternyata benar.


"Kamu yakin itu Riyan ?" tanya Lisa anak jurusan IPA yang sangat tajir dan cantik. Penampilannya selalu terlihat sempurna dengan merek mahal mulai dari jam tangan mahal, sepatu, tas , belum lagi perhiasan emas putih yang melingkar di jarinya dan pergelangan tangannya. Ah.... pokoknya dia memang sudah kaya dari lahir makanya banyak yang suka menjadi dayangnya yang setia.


"Deg ..... Riyan pacarnya Lisa ?" Uma bertanya dalam batinnya.


Mbak Arin yang ikut mendengarnya pun sontak melihat ke arah Uma sambil berkata lirih, " cewek itu kamu ?" Uma hanya mengangguk. Yang dia ingat , waktu itu tempat duduk Riyan memang menghadap keluar cafe.


"Hemmm.... Siapa cewek itu ? dia tidak tahu sedang berurusan dengan siapa. Oke...kamu awasi terus.... kalau ada informasi lagi kabari aku. Nanti aku ajak kamu ke mall." kata princess Lisa begitu semua menyebutnya.


"Oke princess...! " kata si Fani.


Mereka sudah selesai makan dan pergi meninggalkan mejanya.


Uma dan Mbak Arin yang sedari tadi tegang menahan diri supaya tidak diketahui oleh Lisa dan dayang-dayangnya akhirnya bernafas lega.


"Huh....gawat...." kata mbak Arin.