Pierendra

Pierendra
Sedang labil



" Aamiiin..... ". Sembari meraupkan kedua telapak tangannya ,Uma menutup serangkaian doa yang dipanjatkan tepat di pusara ayahnya pada hari Kamis sepulang dari sekolah.


Sebenarnya dia ingin sekali mengunjungi makam ayahnya itu sejak hari Senin, namun dia urungkan karena ingin mengambil hari yang afdhal.


Dengan iringan bacaan shalawat , Uma menaburkan bunga setaman yang dia sempatkan membeli di depan gerbang pintu masuk makam tadi. Dan dilanjutkan dengan menyiramkan air kendi keatas pusara sehingga nampak segar dan harum.


Uma selalu berbicara kepada ayahnya yang sudah tiada sebagai luapan kerinduan . " Tak terasa dua tahun berlalu sejak engkau pergi meninggalkan kami Ayah. Semoga Allah mengampuni dosa ayah, dan menyayangi ayah sebagaimana ayah menyayangi kami sewaktu kecil. Semoga bacaan doa tadi bisa menyelamatkanmu dari siksa kubur, menjadikan tempatmu terang, luas dan indah layaknya taman - taman surga. Aamiiin. "


" Ayah, seandainya engkau masih ada, aku pasti akan kuat dan tegar menghadapi semuanya karena ayah pasti mendukungku. Aku ingin meminta nasihat ayah, berkeluh kesah, bercerita, bahkan aku rindu saat engkau marah Yah. hiks....hiks..." Uma tidak mampu menahan tangisnya.


Setelah dirasa cukup, Uma segera meninggalkan tempatnya untuk pulang ke rumah. Namun sebelum keluar dari gerbang, Uma mendengar suara tangisan seseorang laki- laki dari ujung kanan yang juga tengah mengunjungi makam.


" Sepertinya aku kenal suara itu ". gumam Uma dalam hati.


Setelah diamati secara seksama , Uma memang mengenali sosok itu dari pecinya yang berendra. Ya, dia adalah Riyan.


Tak ingin merusak suasana hati Riyan yang sedang sedih , akhirnya Uma memutuskan untuk menunggunya di depan pintu masuk.


Untunglah ada bangku panjang yang tersedia. Mungkin bangku itu biasanya digunakan istirahat oleh penjaga makam yang saat ini sedang bekerja membersihkan rumput liar diarea pemakaman.


Benar saja, Uma melihat pak Hadi yang sedang merokok dan minum kopi di kedai seberang jalan. Sedangkan mobil merah bata Riyan terparkir tepat didepan tempatnya duduk saat ini.


Selang waktu lima belas menit, Riyan sudah keluar. Uma menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan empati . Kemudian, Riyan yang masih membawa sisa-sisa kesedihan di raut wajahnya itu pun menghampiri Uma.


Tas ransel hitam yang sedari tadi dipunggung nya itu dia lepaskan agar dia bisa nyaman bersandar saat duduk di samping Uma.


" Maaf Uma ! " Riyan mengucapkannya dengan tanpa menatap Uma karena air matanya belum berhenti menetes.


" Kenapa minta maaf ? " Uma merasa kebingungan.


" Karena rasa sedihku ,membuatku menjauhimu beberapa hari ini. " Riyan mengutarakan alasannya mengapa selama ini dia tidak pernah terlihat dan seakan menjaga jarak dengan Uma.


" Ohh....itu." sebenarnya Uma ingin meneruskan dengan pertanyaan berikutnya , tapi Uma lebih memilih untuk hening sejenak.


" Apa makam tadi itu, kakakmu ya ? " Uma memberanikan diri untuk bertanya kepada Riyan tentang makam yang dia kunjungi tadi.


Riyan mengangguk lalu berkata dengan penuh kekesalan, " Kenapa tidak aku saja....?! " kembali tangan kanan Riyan menutupi mukanya yang sedang menangis sedih itu.


" Sshhhttt..... istighfar ! kamu nggak boleh ngomong gitu Riyan ! Ini semua sudah menjadi kehendak Allah." Uma mencoba menasihatinya dan menyodorkan tissue kepada Riyan untuk menyeka air matanya. Lagi-lagi suasana menjadi hening.


" Sudahlah ! " Riyan mengambil kacamata hitam yang berada di dalam tasnya untuk kemudian memakainya. " Ayo ! " Riyan terperanjat dari duduknya kemudian meraih tangan Uma untuk ikut bersamanya.


" Pak Hadi ! " Riyan memanggilnya dan dengan segera pak Hadi menghampiri kami.


" Iya den." Kata pak Hadi.


Riyan merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah lalu menyerahkannya kepada pak Hadi seraya menjabat tangannya sambil berkata, " Tugas pak Hadi hari ini sudah selesai, bapak silahkan kembali ke rumah bapak, jangan lupa membelikan oleh-oleh untuk Fikri dan jelita , ya ! " pesannya.


" Terimakasih den. Den Riyan memang selalu perduli dengan anak-anak saya. Ini kunci mobilnya den." Kata pak Hadi sumringah.


" Kami pergi dulu pak. " pamit Riyan.


Riyan membukakan pintunya untuk Uma . Dia bahkan memakaikan sabuk pengaman sehingga membuat tubuh mereka sangat dekat . Sejenak Uma merasa sangat kikuk. Sepertinya Riyan sudah terbiasa melakukannya tanpa rasa canggung. " Mungkin, dia memang sudah biasa mengajak cewek dalam mobilnya sebelum aku , itu sebabnya dia sama sekali tidak merasa canggung. " Uma menyimpulkan.


" Hati-hati di jalan den Riyan, non Uma ! " Pak Hadi masih saja berdiri di sana untuk memastikan kami pergi meninggalkannya.


" Kita mau kemana yang ? " Aku mencoba menghiburnya dan mencairkan suasana dengan panggilan kesukaannya setelah dia bersedih tadi. Benar saja, senyum kecil tersungging dari ujung bibirnya.


" Pulang , ke rumahku. " jawab Riyan dengan tanpa melihatku karena mungkin dia masih menyembunyikan matanya yang masih sembab dibalik kacamata hitam yang dia kenakan. Jujur saja, kegantengannya naik sampai level maksimal dengan kacamata itu.


" Suasana hatinya sedang kacau, aku nggak mungkin menolaknya. padahal dalam hatiku, aku belum siap untuk diajak kerumahnya. Apa kata orang tuanya nanti jika melihatku. biasanya orang kaya itu kan sombong, tapi kalau melihat anaknya sih kayaknya nggak. Ah... sudahlah...! batin Uma.


" Aku telfon ibuku dulu ya ? takutnya Ibu cemas, kalau aku pulangnya telat. " kata Uma sambil mengeluarkan handphone dari dalam tasnya.


tuuut....tuuut.....( berdering )


" Hallo assalamu'alaikum...." ( suara ibu Sofi )


" Wa'alaikumus Salaam... Ibu, ini Uma. Uma mau ijin ya Bu.... kalau Uma pulang telat. " kata Uma meminta izin.


" Kemana kamu nak ? jangan kemalaman lho ya..! " tegas Bu Sofi.


" Ke rumah teman Bu. Iya, nanti sebelum Maghrib Uma sudah sampai di rumah. " jawab Uma.


" Ya sudah, hati-hati ya ! " pesan Bu Sofi.


" Iya, Bu. Makasih, assalamu'alaikum..." Pamit Uma.


" Wa'alaikumus Salaam. Ibu Sofi mengakhiri pembicaraannya di telfon.


" Hheh... handphone baru....selera kamu bagus juga... " Sahut Riyan.


" Oh...ini ? cuma hadiah. Aku nggak mungkin bisa membelinya. " Jelas Uma sambil menyimpan kembali ke dalam tas.


Entah apa yang salah dengan kata-kata Uma , tiba-tiba saja Riyan menginjak pedal gas sehingga membuat laju mobil begitu cepat.


" Riyan ....pelan-pelan ! kenapa ngebut ? " Uma ketakutan.


" Aku ingin segera sampai di rumah. " Jawab Riyan singkat.


Uma tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima apa yang sedang terjadi, meskipun sebenarnya rasa takut sedang menguasainya.


Perjalanan kami sudah memasuki gerbang kompleks yang berada di daerah perbukitan. Suasana asri dengan berbagai tanaman hias didepan masing-masing rumah serta pepohonan palem yang tertata rapi di sepanjang jalan menambah sejuknya mata memandang.


Kini Riyan sudah menurunkan laju mobilnya sehingga tidak terlalu mengebut lagi.


"Chhhiiiiittt..... " Riyan menginjak rem lalu membunyikan klakson sehingga pintu gerbang yang besar itupun terbuka.


" Ooo...jadi ini rumah Riyan. " batin Uma saat Riyan membawa pelan mobilnya memasuki halaman rumahnya yang luas.


" Oh... tidak. Siapa wanita yang berdiri dengan bersedekap dada itu ? Batin Uma bertanya.