
" Kak Rendra jangan mulai deh....! " Uma menyandarkan bahunya ke sofa dan membuang pandangannya ke bawah.
Melihat reaksi Uma yang cemberut membuat Rendra senang karena merasa berhasil menggodanya.
"Hhahaha..... ! Iya non manis, aku juga tahu kok semuanya tentang kamu. Aku tadi cuma bercanda. Sekarang waktunya kita...." Rendra yang tadinya duduk di ujung sofa, kini mulai mendekati Uma sehingga posisi duduk mereka berhimpitan dengan lengan kiri Rendra yang melingkar di pundak Uma.
" A.... Apa apaan ini...? kak Rendra mau ngapain ? Ingat janji kita waktu itu kan ? " Uma berusaha melepaskan lengan Rendra yang kekar itu dengan kikuk dan malu tidak karuan. Dia sangat takut kalau kak Rendra akan melakukan hal yang lebih. Apalagi setelah sekian hari tidak bertemu.
" Sshhhttt.... Diamlah ! Aku masih ingat dengan janjiku untuk tidak menciummu . Akan tetapi... aku hanya ingin memelukmu. " Rendra meraih tubuh Uma ke dadanya yang bidang dan membenamkan Uma kedalam pelukannya .
Sebuah dekapan erat yang sudah lama Rendra ingin lakukan ketika bersama Uma walaupun hanya sesaat, karena dia ingin tetap menghargai keinginan dan menjaga perasaan Uma. Rendra harus mengalahkan keinginannya yang membuncah dalam dadanya. Perasaan rindu yang ingin segera memiliki namun harus tertahan dengan ruang dan waktu serta persyaratan yang harus dipenuhi terwakilkan dengan suara degupan jantungnya yang kencang.
Sementara itu, Uma yang tengah terkunci dalam dekapan kak Rendra, tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan dirinya hanyut dalam situasi yang tak terelakkan itu. Dirinya merasa istimewa dan begitu dinantikan saat kak Rendra berkata, " Kenapa kelulusanmu terasa begitu lama ? " Rendra semakin mengeratkan pelukannya.
" Uhukk.... uhukk....". Suara batuk itu menghentikan pelukan Rendra seketika. Sekarang dirinya sangat malu luar biasa dan tidak berkutik karena sudah dipergoki calon mertuanya sendiri yaitu ibu Sofi.
" Eh...anu...maaf Tante...? " Rendra sangat kikuk sama kikuknya dengan si korban pelukan yang tidak terduga yaitu Uma.
Melihat kami berdua yang sedang kebingungan menyembunyikan wajah kami karena malu , Sekilas wajah ibu Sofi malah terlihat menahan senyumnya ketimbang marah. " Mungkin usilnya Lui itu menurun dari Ibunya. " Batin Rendra yang tidak sengaja mendapati senyum kecil tersungging dari wajah calon mertuanya itu, namun berusaha disembunyikan kembali.
Sedangkan Uma malah merasa dirinya terselamatkan dengan datangnya ibu Sofi secara tiba-tiba. Dan meskipun masih merasa malu, Uma tetap tersenyum kepada ibunya sambil membenarkan posisi kerudungnya yang agak tidak pada tempatnya akibat dari pelukan Rendra tadi.
" Sabar ya , nak Rendra...! " ibu Sofi menasihati dengan lembut." Tugas Tante adalah menjaga Uma sampai kalian benar-benar halal, nggak papa kan ? " Tegas ibu Sofi sambil menggenggam jemari putri kesayangannya itu kemudian mengelus punggung tangan Uma dengan menggunakan tangan kirinya.
" Iya Ibu..! Ibu yang terbaik...! " kini Uma mencium punggung tangan ibunya dan keduanya pun tersenyum lebar sambil memandang wajah satu sama lain.
" O Iya... ngomong-ngomong, selain kamu kangen sama anak saya, tentu ada sesuatu yang penting bukan, sampai kamu harus jauh-jauh datang ke sini ?" tanya ibu Sofi.
" Oh...tentu Tante. Saya kesini karena disuruh mama. Beliau ingin mengundang Tante untuk bisa datang ke acara khitanan Vio. Kami mengadakan syukuran dua minggu lagi. Mama sangat ingin Tante sekeluarga bisa datang.
" O... Vio yang hampir aku tabrak itu sudah berani sunat..? " kata Uma cengengesan.
" Hush... nggak sopan kamu Uma ! " ibu Sofi mengingatkan. Lalu Uma menghentikan senyumnya itu.
" Insyaallah nak Rendra, kami akan datang. " jawab ibu Sofi.
" Eng... Umanya Nggak boleh ketinggalan ya Tante..! " pinta Rendra.
" Tentu saja , dia kan kesayangan ibu, nggak mungkin ibu tinggalkan begitu saja." kembali Uma dan ibu Sofi saling memandang dan tersenyum.
" Permisi...!" Rendra tiba-tiba menghalangi keduanya dengan duduk diantara ibu Sofi dan Uma.
" Eh...eh...ada apa ini ? " ibu dan Uma kaget dengan tingkah polah Rendra yang begitu saja berada ditengah sambil melebarkan lengannya untuk merangkul ibu Sofi dan Uma.
" Kalian berdua tenang saja ! Sebentar lagi yang kalian sayangi itu adalah aku. Menantu ibu yang membanggakan " Rendra menghadap ibu Sofi yang duduk di sebelah kiri.
" Dan... Suami yang tampan , penyayang dan pengertian.." Rendra lalu menoleh ke arah Uma yang duduk di samping kanan sembari tersenyum lebar.
" Ya...ya...ya , tentu saja. " ibu Sofi dan Uma kompak mengingatkan dengan cara menurunkan lengannya Rendra yang melingkar di pundak mereka.
" hehehe... ya sudah, Rendra pamit dulu ya Tante ? " Rendra mencium tangan ibu Sofi.
" Hati-hati naik motornya ya nak Rendra...!" nasehat ibu Sofi.
" Uma, kamu antar nak Rendra sampai depan pintu sana..!" pinta ibu Sofi.
" Baik Bu.." Jawab Uma sambil mengikuti Rendra yang sedang berjalan menuju pintu keluar. Sedangkan ibu Sofi membereskan kembali semua gelas yang ada di meja.
Rendra memakai jaketnya dan mengambil helm yang tergeletak di meja teras.
" O Iya, Aku tadi menitipkan sesuatu sama Lui. Tolong nanti kamu lihat ya..! " kata Rendra sambil mengenakan helmnya.
" Buat aku...? Apa..?" tanya Uma.
" Rahasia.." jawab Rendra dengan mengedipkan mata kanannya sehingga Uma sangat kaget dan tersipu malu.
" Assalamu'alaikum... " kata Rendra
" Wa'alaikumus Salaam... " Jawab Uma.
" Huhh.... capeknya... kak Rendra bikin penasaran aja, dia titip apa ya ? Ah... sebaiknya aku tanya langsung saja ke Lui." batin Uma.
Uma berjalan menuju kamar Lui yang memang terbuka pintunya. Sayup-sayup terdengar suara Lui yang membaca puisi
jika merindukanmu adalah cinta
maka aku mencintaimu
jika rasa ingin bertemu denganmu begitu memaksaku
maka janganlah menghindar dariku
aku rela menjadi tawanan cintamu
terpenjara dalam kesendirian
terasing dalam kesunyian
karena hanya ada satu wajah yang terukir
dan satu belahan hati yang selalu ku jaga
untuk dipersatukan.
" Apa mungkin itu adalah... " Uma memasuki kamar Lui yang ternyata juga ada Zia disitu sedang membuka bungkusan miliknya yang berisi boneka Barbie.
Sengaja Lui mengajak Zia kekamarnya agar dirinya tidak dimarahi Uma kerena dengan sengaja membuka dan membaca isi surat kak Rendra untuk Uma yang dititipkan kepada Lui.
Melihat semua itu membuat Uma sangat geram. Namun ditahannya dengan mengancam Lui . " Herghh..... Awas kamu Lui..! " Uma mengambil surat dari tangan Lui dan bungkusan kotak yang tertulis namanya untuk dibawa ke kamarnya .
" kak Uma beruntung sekali. Kak Rendra begitu menyayangi mu , sampai-sampai melakukan semua ini. " pernyataan Lui menjadikan amarah Uma meredam seketika.
Uma yang tadinya hendak keluar dari kamar Lui , tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menurunkan bahunya. " Mungkin kamu benar Lui, aku memang beruntung." tanpa melihat Lui , Uma kembali meneruskan langkahnya untuk pergi menuju kamarnya.