
Uma sudah bersiap untuk tidur. Namun sebelum itu, dia teringat akan secarik kertas yang tadi diletakkan di laci meja belajar.
Uma mengumpulkan secarik kertas itu bersama dengan puisi-puisi yang lain dari mister "x" di blinder kesayanganku agar tertata rapi dan mudah untuk di baca. " Ini adalah puisi yang ke -17. Sama dengan usiaku saat ini. " kata Uma.
" Entah kenapa aku selalu merasa damai dan membuat hayalku melayang tinggi ketika aku membaca puisi-puisi ini. " Senyum Uma merekah.
Semisal puisi ke enam yang sedang dibuka saat ini,
**°^°**~ ***Biru*** ~°^°
...Semilir angin kencang yang menerpa...
...Pun terhempas oleh dahsyatnya rindu...
...di dalam kalbu...
...Menderu-deru dan mengharu biru...
...Mata ini justru terpejam saat ingin melihat parasmu nan elok...
...Karena bayangmu begitu nyata...
...di relung jiwa...
...Bilakah waktu menjadi sahabat...
...Tangan ini ingin sekali menjabat...
...lalu memelukmu dengan erat...
Kemudian puis yangi ke - 15 ini,
°^°~ ***Rona*** ***senja***. ~°^°
...Tak perlu menunggu sore untuk melihat senja...
...Karena pipimu merona saat ku sapa...
...Seperti tahu diri...
...*Matahari kembali ketempat...
...dimana tak ingin...
...bersaing denganmu*...
...Karena dia tentu sudah tahu...
...Siapa gerangan pemilik hatiku...
" Ohhh.... mister "x", Siapa sih kamu sebenarnya ? Kenapa kita tidak bertemu saja ? " Harap Uma .
Lalu tanpa sengaja Uma melihat ke arah jendela berharap ada sesuatu di sana. Namun ternyata, memang ada kertas yang tertempel di sana.
Dengan segera Uma menghampiri untuk mengetahui apakah isi puisi selanjutnya.
Namun setelah dilihat dan dibaca, itu bukan puisi , melainkan sebuah pesan.
[ Aku akan segera mengisi hari-harimu .
*W*alaupun kamu tidak mengetahui siapa diriku. ]
" Apa maksudnya ini ? Huaaa.....hh.... ngantuk" Mata Uma seperti lengket. Dengan slow motion Uma menyimpan kembali semuanya ke tempat semula. Lalu pergi tidur.
******
Keesokan harinya, Uma sudah berada di halte busway. Selang beberapa menit, mobil Riyan sudah mulai terlihat dari kejauhan. Sebuah Range Rover melaju dengan kecepatan tinggi karena hari masih sangat pagi dan jalanan masih sepi. Meskipun demikian, akselerasi saat berhenti tepat di depan Uma membuat hatinya tak karuan saja.
Uma pikir , pak Hadi yang keluar untuk membukakan pintu untuk Riyan, tapi justru peci berenda itu yang terlihat nongol dari pintu kemudi mobil yang hitam dan tinggi itu.
Uma tersenyum dan kaget saat melihat Pak Hadi keluar dari pintu sebelah kiri dengan sempoyongan dan memegangi dadanya.
" Ada apa pak Hadi ? " tanya Uma khawatir.
" Tidak apa-apa neng.... hanya saja bapak tadi habis diajak lomba balap sama den Riyan." pak Hadi berusaha santai dan menahan nafasnya yang ngos-ngosan saat menjawab pertanyaan dari Uma .
Sambil terkekeh Riyan menjawab, " Ayolah pak Hadi, jangan cengeng begitu ! Malu sama perempuan. hahaha...." Riyan menepuk ringan lengannya pak Hadi sambil menyerahkan kunci mobilnya dan beranjak naik ke halte untuk duduk di samping Uma.
Riyan santai sekali dan terkesan akrab meskipun dengan pegawainya. hal itu membuat Uma menambahkan poin positif lagi kepadanya.
" Jangan lupa, nanti saya pulangnya jam empat sore, jadi pak Hadi istirahat siang saja ya pak . Bilang sama mama , kalau aku ada les tambahan ! " pesan Riyan kepada pak Hadi.
"Siap den ! " jawab Pak Hadi sambil memberi hormat lalu masuk kedalam mobilnya dan balik kanan.
"Ini suratnya tuan putri malu." Riyan menarik suratnya sebelum Uma berhasil meraih surat itu .
" Eitt..... tapi ini tidak gratis, ada syaratnya....!
kata Riyan sambil mengipaskan surat itu ke wajahnya. Kemudian wajahnya berubah menjadi sok penting dan besar kepala karena dia tahu Uma membutuhkan surat itu.
"Ohh....Ayolah ! Kamu itu kan orang kaya Riyan, kamu sudah tidak butuh bayaran bukan ? " tanyaku memelas.
"Aku memang tidak butuh bayaran dan kamu tidak perlu membayar dengan uang tapi dengan tubuhmu. hahaha....." Riyan tertawa merasa menang.
Uma sangat kaget mendengar jawaban Riyan. Dengan bersungut-sungut dan geram, ingin sekali Uma menampar mulut Riyan yang telah berkata tidak sopan itu kepadanya." Apa memang semua pikiran orang kaya seperti itu. " batin Uma.
Saat Uma beranjak bangun dari tempat duduk dan pergi meninggalkan halte, Riyan menahan tangannya sambil berkata, " jangan pergi Uma.. ! aku hanya bercanda. " kata Riyan.
" Maaf ? Aku nggak akan mengulangi lagi ." pinta Riyan sambil memaksa Uma memegang surat tersebut.
Lalu Uma memberinya maaf . " Berjanjilah kalau aku tidak akan pernah mendengar kalimat itu lagi darimu ! " Uma sambil mengacungkan jari telunjuknya sebagai tanda penegasan.
" Iya tuan putri, aku janji ! " katanya sambil tersenyum. " Nah itu busnya sudah datang. " sambil kembali meraih tangan Uma setelah tadi Riyan lepaskan untuk mengatupkan tangannya sebagai tanda minta maaf dengan tulus.
Uma mengikutinya menuju tempat duduk di belakang. Kemudian Riyan mempersilakan Uma duduk dulu baru kemudian diikuti olehnya.
Pandangan Uma tertuju pada surat yang saat ini berada di tangannya. Sepertinya Riyan membuatnya dengan kertas surat khusus dengan amplop bergambar sepasang muda mudi yang berpose khas orang pacaran hingga membuat Uma merasa malu.
"Gimana, bagus kan ? " pertanyaan Riyan membuat Uma harus menyembunyikan rasa malu dari mukanya.
" Jangan sampai dia tahu kalau sebenarnya aku ini sedang risih karena melihat gambar tersebut. Karena bagiku itu merupakan pemandangan yang tidak wajar meskipun banyak sekali untuk cewek seusiaku sudah melakukan French Kiss dengan pasangannya. Tapi tidak untukku. " batin Uma.
"Apa ini nggak terlalu fulgar ya ? Secara mereka itu sedang pendekatan masa langsung pasang gambar kayak gini ?" tanya Uma heran.
"Ya, kalau kamu nggak suka ganti saja amplopnya, gampang kan ? " kata Riyan santai.
" Ya sudah, nanti akan aku ganti. Kebetulan didalam tasku ada amplop sisa untuk donasi korban bencana alam kemarin." kata Uma lega.
Uma memasukkan surat itu ke dalam tas dan berusaha menyibukkan diri karena pandangan Riyan terus saja mengamatinya dengan senyum diwajahnya yang entah apa yang dipikirkannya.
Saat Uma tertunduk, Riyan memanggilnya dan berkata "Uma....kamu manis.... wajah yang suka malu-malu dengan tahi lalat yang berada di dagumu ini semalam hadir di dalam mimpiku." sambil memegang dagu kanan Uma tempat tahi lalat itu berada.
Perasaan kaget, senang, malu semua terasa dalam satu waktu. Namun Uma berusaha membawa obrolannya santai.
" Memangnya aku ngapain Riyan ? " Uma menanggapi cerita Riyan.
" Yakin ? kamu mau tahu, apa yang kamu lakukan denganku di mimpiku semalam ? Tanya Riyan licik.
" Seperti bumerang, nampaknya pertanyaanku akan menghabisiku . Karena tampak wajahnya yang kegirangan pasti akan mengatakan hal-hal yang membuatku malu. " batin Uma.
"Eh... nggak jadi...nggak jadi...! " Uma mengangkat buku untuk menutupi mukanya.
(Ciiiii.....ttt). Suara bus yang berhenti karena kami sudah sampai. Uma segera turun lebih dulu karena masih merasa malu. Sambil berpesan, " Jangan lupa dengan tugas masing-masing ya...?!" Tanpa lagi memandang wajah Riyan .
Lagi pula, Uma masih ingat kalau Riyan tidak ingin ada yang mengetahui tentang pertemuan mereka.