Pierendra

Pierendra
Penjelasan Arin



Uma terbangun pada pukul lima pagi. Saat hendak mengambil air wudhu untuk shalat subuh , Uma merasakan sesuatu yang lembab di dalam ****** ********.


" Jangan-jangan... ? Yah.....bener kan.. aku datang bulan..." kata Uma.


Sambil merasa risih Uma segera mencari pembalut sisa stok bulan kemaren untuk ganti.


" Huhh... lengkap sudah.... pantesan dari kemaren rasanya emosional banget. " Akhirnya Uma sekalian mandi pagi agar bisa lebih awal bersiap sekolah.


Uma sudah tidak sabar lagi untuk berangkat. Meskipun jam dinding kamarnya masih menunjukkan di pukul enam, namun dia paksakan untuk tetap pergi.


"Ibu...Uma berangkat ya...." pamit Uma.


"Tumben kamu jam segini sudah mau berangkat ?" tanya ibu keheranan


"Iya Bu... sekali-kali Uma pengen santai.' Sembari menyembunyikan perasaannya yang sudah campur aduk. Uma tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Ibunya, karena beliau pasti bisa mengetahui kalau ada yang disembunyikan darinya.


"Assalamu'alaikum.... Uma mengucap salam.


"Wa'alaikumus Salaam..." .Jawab Ibu.


Uma mengendap-endap waktu keluar dari rumah berharap masih sepi , jangan sampai ketahuan sama kak Rendra. Uma merasa belum siap bertemu dengannya. Namun dalam hatinya berjanji kalau suatu saat nanti akan menjelaskannya secara pribadi.


Tak lama menunggu di halte, busway pertama sudah datang. Uma yakin kalau tidak akan bertemu Riyan pagi ini. Karena dia berangkat lebih awal dan ingin lebih dahulu sampai ke kelas sebelum mbak Arin.


Uma melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 06.20 menit. Keadaan sekolah masih sepi. Lagi-lagi Di sana sudah ada mbak Arin yang menunggunya di depan pintu kelas.


Seperti tidak bersalah , mbak Arin memanggil uma seakan tidak pernah terjadi sesuatu.


"Uma....kau mungkin ingin mengetahui penjelasan dariku." Mbak Arin memulai pembicaraan.


Entah kenapa mulut Uma susah diajak tersenyum. mungkin karena jauh didalam hatinya sedang sangat marah , maka bibirnya pun ikut merespon.


Rasanya Uma ingin menangis saja, tanpa mengetahui penjelasannya. Dia tidak siap kalau nanti akan ada sesuatu yang membuatnya tambah sedih.


"Iya mbak . Kenapa mbak Arin tega sama aku ??!!" Tanya Uma dengan emosi.


"Ini semua karena Azi...." jawab mbak Arin singkat.


"Azi ...? Apa hubungannya Azi dengan Mbak ...?" Uma mendesak jawaban.


"Aku menyukainya...! " Dengan nada tinggi dan mata yang berkaca-kaca.


Uma terkaget mendengarnya.


"Apa..? Mbak Arin suka sama Azi...?" Uma merasa bingung.


"Iya. Puas kamu.. ?" mbak Arin menegaskan.


Uma menggandeng tangan mbak Arin untuk membawanya masuk kedalam kelas supaya leluasa untuk bercerita. Kemudian menyuruhnya duduk di kursinya sedangkan Uma membalik tempat duduknya yang tepat berada didepannya sehingga mereka duduk berhadapan satu meja.


"Bagaimana bisa ? Sejak kapan..?" Uma melanjutkan rasa ingin tahunya.


"Aku mengaguminya sejak kelas dua. Waktu itu kami dipertemukan di sebuah event Sekolah Gabungan dari anak-anak OSIS guna mencari dan menyalurkan dana bantuan sosial. Dia adalah partnerku." jelas mbk Arin.


"Gelar ketua OSIS yang disandang oleh Azi membuatnya menjadi sorotan. Apalagi disertai wajah yang rupawan. Hidungnya yang mancung dan besar dengan diikuti kumis tipis yang kehijauan karena baru saja dicukur . Serta warna bibir yang merah alami, dan saat dia menatapku ketika kami berbicara, Aku suka sekali..." Tambah mbak Arin.


"Lantas apakah Azi mengetahui perasaan mbak Arin ?" Tanya Uma.


"Bagaimana mungkin dia tahu ? Diawal kenaikan kelas tiga, untuk pertama kalinya Azi mengajak bertemu di suatu tempat. Ku pikir dia akan mengatakan sesuatu, atau kami akan mengobrol agar lebih dekat satu sama lain .Tapi ternyata, kalimat pertama yang keluar adalah " Kamu kenal Uma nggak?" sampai saat ini kami bersahabat tapi aku mau menaikkan level sahabat kami menjadi kekasihnya. Karena aku selalu memikirkannya. Jadi, aku mau titip surat untuknya. Tolong ya.... sepertinya kamu teman yang bisa diandalkan." Jelas mbak Arin sambil menirukan ucapan Azi waktu itu.


"Langit seakan-akan bergemuruh. Aku tertegun saat dia mengatakan semua itu. Bak pasukan yang harus pulang sebelum berperang. Aku harus rela menerima kekalahan di awal. Rasanya bumi ini berhenti berputar . Suara orang-orang terdengar lebih keras dari biasanya. Aku merasa lemas saat harus membawa surat itu. " Tambah mbak Arin lagi.


Selama ini mbak Arin memang yang pertama meyakinkan Uma kalau ada anak yang sangat menyukainya yaitu Azi , sahabatnya.


"Padahal waktu itu aku belum mengenalmu. Begitu aku tahu siapa pemilik nama Uma yang dimaksud oleh Azi melalui absen guru, aku langsung berinisiatif untuk bisa menjadi teman dekatmu. Makanya aku menyuruh Ita untuk pindah tempat duduk dari yang tadinya di belakangmu agar bisa ku tempati. Karena aku pikir , ini bisa menjadi satu-satunya alasan agar aku tetap bisa menjaga hubungan baik denganmu dan dengannya. Dan dia pasti akan selalu mencariku untuk mengetahui perkembangannya. Akhirnya kami saling berbalas surat. Tanpa sepengetahuan Azi kalau yang membaca dan membalas suratnya adalah aku." jelas mbak Arin lagi.


"Kenapa mbak Arin nggak ngasih surat itu ke aku...?" Uma semakin penasaran.


"Apa kamu lupa....saat aku bertanya kepadamu tentang Azi ?"


kamu bilang " Oh...kami teman sejak kecil ".


Dan saat aku bertanya " Apa kalian saling suka ? " Kamu jawab , " Nggak mungkin lah...."


Dari situ aku menyimpulkan dan mengambil keputusan sendiri untuk tidak menyampaikan surat itu.


"Kenapa mbak....?" Uma mulai merasa menyesal.


"Karena aku tak tega untuk memberi tahu kepada Azi yang sebenarnya kalau gadis pujaannya itu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya kecuali pertemanan. Begitu aku menatap wajahnya, matanya yang tajam dengan alis yang tebal, aku tidak ingin menghilangkan pancaran sinarnya. Dia sangat berharap banyak sama kamu Uma....Tapi kamu tidak bisa melihat ketulusan hatinya." jelas mbak Arin.


"Karena ini masalah hati mbak....aku nyaman hanya saat menjadi temannya, tidak lebih...." sahut Uma.


"Ahh... bohong! . Kedekatan seorang laki-laki dan perempuan tidak bisa hanya dengan berteman. Saat seorang laki-laki sudah memberikan perhatian penuh pada seorang perempuan, tentu dia menginginkan lebih." air mata mbak Arin mulai menetes.


"Bayangkan, setiap hari aku harus menyampaikan salam untuk mu dan bukan untukku yang menyukainya. Coba kalau kamu di posisiku Uma....huuu....huuu..... ." Kata mbak Arin sambil menangis sesenggukan.


Uma tidak berani berkata apa-apa, karena baru kali ini melihatnya menangis dengan tersedu-sedu.


Lalu Uma mengambil tisu dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepada mbak Arin.


" ini mbak.....hapus air mata mbak ! Sebentar lagi akan ada anak-anak lain yang datang." Uma menasihati.


Benar saja , ada Ita dan Mia yang datang bersamaan.


"Mbak, kita sambung lagi nanti ya? " kata Uma.


Dia pun mengangguk dan segera keluar menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya yang sembab karena menangis tadi.


Perhatian Uma pun beralih kepada Mia dan Ita yang sedari masuk kelas tadi sudah senyam-senyum sendiri.


Segera Uma merubah air mukanya agar mereka tidak tahu apa yang baru saja dia dan Mbak Arin bicarakan.


"Cie....cie.... yang kemarin jalan-jalan naik motor sama kakaknya....."ledek Mia kepada Uma..


"Kakak...apa kakak.....?" timpal Ita.


Aku menghela nafas panjang, "huhh......"


"Kenapa ?kalian penasaran...." Sahut Uma .


"Ya iyalah....cowok sekeren itu siapa Uma....???" tanya Ita.


"Dia anak kost di rumah Ibuku. Namanya kak Rendra. Kuliah di farmasi. Udah itu aja yang aku tahu." tegas Uma.


"Ooo.... jadi dia ngekost di rumahmu? Sering ketemu dan akrab banget pastinya nih.".Mia masih penasaran kalau ada apa-apa diantara mereka berdua.


"Salah besar. Ketemu saja jarang, apalagi ngobrol. Tahu sendiri kan anak kuliahan itu gimana...?"


"Gimana...? "Ita ganti bertanya.


"Ya mana saya tahu...? Saya kan belum kuliah. Hahaha....." jawab Uma enteng.