Pierendra

Pierendra
Kebingungan Uma



Uma bergegas menuju telfon umum untuk meminta izin kepada Ibunya, takutnya nanti ibu khawatir anak gadisnya belum juga pulang ke rumah.


tuuut....tuuut....tuuut.... ( nada sambungan telepon )


" Halo... assalamu'alaikum...."


( suara Zia )


" Halo... wa'alaikumus Salaam... Zia ini kakak..."


" kakak...." panggil Zia senang.


" Ibu dimana Zia... ?"


"Ibu sedang masak, Kakak kenapa belum pulang ...?"


" iya...ini kakak sedang ada tugas, jadi tolong ijinkan ke ibu ya, kalau kakak pulang telat."


" Iya...tapi jangan lupa nanti bawain coklat ya...!!!"


" Iya... nanti kakak bawain . Sudah dulu ya....Zia yang comel..... Assalamu'alaikum....."


" Wa'alaikumus Salaam kakak..."


Sebenarnya langkah Uma terasa begitu berat menuju rumah Azi." Rasanya aku ingin pulang saja ke rumah. Tapi , bagaimana dengan janjiku kepada mbak Arin ? Bagaimana jika besok dia bertanya kepadaku tentang Azi ? Masa aku harus bohong...??? Lantas, bagaimana caraku bertanya kepada Azi, tidak mungkin aku menuduhnya tanpa bukti. Apa aku cerita apa adanya saja ya ? Seandainya aku cerita dimulai saat aku bertemu Pierendra alias Riyan ? ah... tidak, Dia tidak mau ada yang tahu tentang pertemuan kami, terutama Azi. Jadi lebih baik tidak. Oh tidak.... jarak rumah Azi sudah dekat, bagaimana ini ? " Batin Uma berkecamuk.


"Mau kemana Uma ?" Tanya Bu Dian. Langganan catering ibu.


"Sudah sore begini kok belum pulang ? Apa nggak di cari Ibu? " tambahnya.


"Eh.. ini Tante , mau ke rumah teman. Tadi saya sudah telfon rumah kalau pulang telat Tante."


"Ohh....ya sudah hati-hati ya...." nasehat bu Dian.


"Iya Tante , makasih..." Jawab Uma sopan.


Tinggal beberapa langkah lagi Uma sampai ke halaman depan rumah Azi. untuk sementara, Uma masih sembunyi di balik pos ronda yang terletak di seberang jalan kecil sebelum rumah Azi. Di pos ronda itu terdapat loster kecil yang bisa di gunakan untuk melihat ke teras rumah Azi. Siapa tahu dia sedang di luar.


Saat Uma mengintai yang ke dua kali, betapa terkejutnya dia saat melihat ada seorang cewek yang mendatangi rumah Azi , dan cewek itu adalah mbak Arin....


"Haaa... ngapain mbak Arin ke rumah Azi ???" kata Uma keheranan.


Seolah merasa ada yang mengintainya, mbak Arin menengok ke belakang dan tersenyum tepat ke arah loster tempat Uma mengintai .


Tanpa berfikir panjang Uma pun langsung menundukkan kepalanya supaya tidak diketahui oleh mbak Arin.


Kemudian Uma memutuskan untuk pulang kembali ke rumah dengan jantung terasa berdebar kencang. Di kepalanya terus berfikir " Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa mbak Arin sangat misterius? Sebenarnya apa sih maunya ? Menyuruhku pergi menemui Azi tapi malah dirinya sendiri yang pergi menemuinya . Dan senyumnya itu saat dia menengok, seolah-olah dia tahu aku ada di sana. " Uma merasa heran sekaligus kesal.


" Yang jelas aku akan meminta penjelasan kepada mbak Arin besok pagi. Mulai dari patahan kapur yang aku temukan di laci mejanya tadi siang, hingga saat kulihat dia pergi diam-diam menemui Azi. " Tekad Uma.


" Pantas saja dari tadi aku merasa sangat berat untuk melangkahkan kaki. Rasanya seperti ada yang menahanku. Yang jelas aku tidak mengetahuinya hingga apa yang kulihat tadi. " Uma semakin yakin untuk menanyakannya kepada mbak Arin besok.


Saat melintasi sebuah toko Uma teringat akan coklat pesanan Zia. Dia pun mampir sebentar untuk membelinya. Sengaja Uma membeli lebih untuk ibu dan Kafa, Mereka juga suka coklat. " Dan aku, sedang sangat membutuhkan coklat karena permasalahan ku ini. " Uma menyemangati diri sendiri.


Apalagi kak Rendra yang tadi sempat memboncengkan Uma , pasti dia berfikir yang bukan-bukan. Batinnya mungkin mengatakan kalau Uma seorang pembohong. Pasti dia sudah memberi predikat negatif dalam benaknya. " Ahhh..! Terserah apa yang mau mereka pikirkan... yang jelas aku lebih bingung dari pada mereka , dan aku sedang auto capek banget. " batin Uma.


Segera Uma mempercepat langkahnya untuk memasuki rumah tanpa menawarkan sedikit senyum kepada mereka yang tengah duduk dekat teras rumah .


"Assalamu'alaikum....Bu....Uma pulang...." Uma masuk rumah dan mengucap salam.


"Wa'alaikumus Salaam.... Sudah selesai tugas nya..? " jawab Ibu.


Mendengar suara ibu yang lembut dan tanpa menghakimi membuatnya sedikit lega. Rasanya Uma bisa mendapat sedikit oksigen setelah dadanya penuh sesak.


"Iya Bu... " Sambil kucium tangannya yang masih basah karena sudah mengambil air wudhu dan bersiap untuk pergi shalat berjamaah Maghrib di masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah kami.


"Kamu pasti capek seharian ini baru pulang, cepat mandi lalu pergi makan. Bau badanmu sudah nggak karuan..! "


"Hihihi....iya ibuku sayang...." Jawab Uma manja.


Dengan segera Uma melakukan perintah ibu karena hanya tinggal tersisa waktu dua puluh menit saja untuk pergi mandi dan makan sebelum adzan Maghrib berkumandang.


Selesai mandi, sebenarnya Uma merasa malas untuk makan, karena pikirannya yang sedang kacau, tapi perutnya juga sudah mengamuk karena sejak dari tadi siang belum makan. Akhirnya Uma pun mengambil sedikit nasi dengan bawal bakar serta sambal tomat.


" Ibu memang paling tahu kesukaanku. Dari yang tadinya malas makan jadi nambah satu porsi lagi deh, hihihi.... itung-itung satu porsi untuk pengganti makan siang plus mengobati pusingku tadi dan satu porsi lagi buat tambahan tenaga kalau nanti aku pusing lagi , hihihi....." Uma menghibur dirinya sendiri.


Setelah Uma menunaikan shalat dan sedikit tadarus Al-Qur'an, dia teringat sesuatu. O iya...jendelaku. Katanya bergegas.


Lalu dia simpan mukena dan Al Qur'annya ke tempatnya dan bergegas menuju jendela. Namun, sekali lagi Uma harus merasa kecewa dan bingung yang menjadi-jadi.


Saking bingungnya Uma memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya sambil memeluk guling. " Aku ingin berteriak atas apa yang menimpaku seharian ini. Rasanya Tuhan sedang memainkan perasaanku. " Hingga tak terasa, air mata yang sedari tadi dia tahan tak terbendung lagi. Uma pun menangis lirih.


" Kenapa ya Allah.... bahkan puisi yang biasanya tertempel di jendela kamarku tiap hari Kamis pun sekarang tidak ada lagi. Seakan-akan tidak ada penawar lagi yang tersisa atas sedih dan galauku ini. " Uma menangis sejadi-jadinya.


Hingga akhirnya, Uma menghentikan tangisannya karena mendengar suara ketukan pintu.


"Kak Uma....." Itu adalah suara Zia.


Buru-buru Uma mengambil segelas air minum lalu membawanya ke jendela untuk membasuh mukanya supaya terlihat segar dan sedikit menjernihkan matanya yang memerah akibat baru saja menangis tadi. Kemudian cepat-cepat menyambar buku komik untuk pura-pura membaca diatas tempat tidur.


"Iya...masuk Zia.... tidak di kunci kok...." Kata Uma.


"Kakak tidak lupa dengan coklat pesananku kan....? " tanya Zia sambil tersenyum.


"Tentu saja tidak.... coba ambilkan tas kakak si meja itu." Dengan sedikit keberatan Zia membawakan kepadaku.


"Ini dia....Satu untuk Ibu, satu untuk kak Uma, satu untuk kak Lui dan...masih sisa dua untuk..... Zia...."


"Yei.... terimakasih kak....aku akan membagikannya..." dengan senang hati menuju keluar kamar.


Uma masih punya satu obat penawar yang tersisa yaitu Zia. " Terimakasih ya Allah... Engkau telah mengirimkan malaikat kecil pembawa kebahagiaan dirumah kami."


Rasanya beban Uma dihari ini sudah mulai berkurang dan rasa kantuknya sudah mulai datang. Lalu dia segera menunaikan shalat Isya' supaya tidak ketiduran.


Tercurah doa dan harapan semoga esok akan menemukan titik terang atas semua permasalahannya. Aamiin ya rabbal 'aalamin....