Pierendra

Pierendra
Tak sedingin kutub



Dari kejauhan Riyan melihat Lisa dan teman-temannya berjalan menuju ruangan dimana dia berdiri sekarang. Dengan sigap , Riyan langsung masuk kembali kedalam ruangan dan bersembunyi dibalik pintu.


Uma yang kebetulan hendak keluar dari ruangan itu pun kaget dan hampir terjatuh karena tersenggol oleh Riyan yang terburu-buru untuk bersembunyi.


Tingkahnya kali ini membuat seluruh isi ruangan tertawa terbahak-bahak tak terkecuali Uma. Hal ini membuat Pak guru yang bertugas geram ,lalu menegurnya, " Apa yang kamu lakukan Riyan ? Bukankah kamu sudah selesai ? Sedang apa kamu disitu ? " .


Riyan hanya bisa memelas sambil mengatupkan tangannya, " Tolong pak, sebentar saja ? Saya takut ada yang mau nagih hutang pak ?" kata Riyan mengungkapkan alasannya.


"Ada-ada saja kamu, Sudah ... ! Sudah... ! Tenang semua !" Perintah pak guru yang kemudian dipatuhi oleh semua murid yang tersisa.


Melihat kondisi yang sedang terjadi, Azi tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk pulang bersama Uma. Dia bergegas mengumpulkan lembar ujiannya, dan sesegera mungkin menyusul Uma yang mungkin baru beberapa langkah meninggalkan ruangan.


" Bye Riyan , aku mau nemenin Uma dulu ya ? kasihan dia lagi sendirian. Kamu baik-baik disitu ! Lisa sama teman-temannya masih nungguin kamu diluar tuh ! Hahaha...." . Azi menggoda Riyan.


Cara Azi berpamitan sungguh membuat Riyan kebakaran jenggot. Dia tidak bisa menerima semua perkataan Azi, " Tidak bisa dibiarkan !" dengan bersungut-sungut Riyan pun berusaha menyusul untuk mendahului Azi.


Namun sayang, Lisa tetap bersikukuh untuk menagih janjinya Riyan untuk makan siang bersama.


" Riyan stop !" kata Lisa berusaha menghentikan Riyan yang berlalu begitu saja tanpa mau melihatnya. Dan sekarang mereka sudah berhadapan.


" Kamu nggak akan lari begitu saja dari aku kan ? Jangan lupa dengan janji kamu ! Ayo ! " Lisa menggandeng lengan Riyan. Dengan pasrah Riyan mengikuti langkah Lisa menuju mobilnya.


Sementara itu ke lima teman Lisa memutuskan untuk mampir ke rumah Loly. Jadi , mereka berpisah ditempat parkiran.


"Kita pisah di sini ya prince...." kata Desy teman Lisa paling akrab diantara yang lainnya.


" Oke, sampai ketemu besok ! " jawab Lisa.


" Have fun...!! " kompak semua teman Lisa melepas kepergian dengan suka cita.


Disepanjang perjalanan Riyan justru tengah memikirkan Uma. Seharusnya ini menjadi hari terindahku bersamanya. Kami bisa mengungkapkan perasaan kami masing-masing. Tapi, gara-gara Lisa, "Hhuuh...." Riyan berhembus kasar.


" Apa yang sedang mereka lakukan ya ? Azi memang beruntung. " Batin Riyan bertanya - tanya . Lalu diapun memijit kepalanya yang terasa pusing karena harus mendengarkan celotehan Lisa yang tidak terlalu dia perhatikan.


" Apa kau senang honey...? Nanti kita naik wahana yang ada disana ya...? Aku pengen naik gondola sama kamu , kayaknya seru deh..! Habis itu aku mau merasakan menu spesial di Mall lantai tiga itu ya honey..?" Lisa tetap berusaha mengajak bicara hingga tibalah di tempat dia memarkir mobilnya.


" Iya honey , hari ini aku milikmu ." kata Riyan dengan wajah terpaksa senyum dan ramah. Riyan berusaha se-gentle mungkin dengan apa yang pernah dijanjikannya kepada Lisa.


Dulu Lisa pernah mau meminta maaf dan berjanji tidak akan mengganggu Uma dengan sebuah syarat yang harus dipenuhi. Saat inilah Lisa menagih janjinya itu.


" Yuk kita turun ! " ajak Lisa.


Sepanjang perjalanan lengan Riyan tak sekalipun terlepas dari Lisa. sesekali Lisa menyandarkan kepalanya di pundak Riyan dengan tanpa malu-malu mengumbar kemesraan ditempat umum.


" Apa kamu nggak malu ? Semua orang sedang memperhatikan kita Lisa ! " kata Riyan mengingatkan.


"Eh...pasangan itu serasi sekali ya ? cowoknya tinggi dan keren , ceweknya juga kece abis, hihihi...." celoteh beberapa gadis remaja usia SMP yang juga sedang bermain ke Slash mall .


" Tuh kan... nggak papa kali kita kayak gini. " Lisa semakin mengeratkan pelukannya ke lengan Riyan.


Mereka sudah menaiki lantai lima tempat beberapa wahana yang bernuansa salju seperti rumah dan boneka dari es ,gondola, kereta seluncur setinggi delapan meter serta ice skating. Disana juga terdapat beberapa penguin dan anjing laut untuk menjadi ikon sebagai edukasi dan hiburan untuk anak-anak.


" Honey, Ayo dong cepetan antreannya semakin panjang tuh ! " Lisa semakin mempercepat Langkahnya untuk memasuki antrean.


" Huuuuhhhh...." Lisa menghembuskan nafasnya yang mulai mengeluarkan asap karena suhu ruangan yang disetel minus 3 derajat Celcius untuk mendapatkan efek dingin yang sama seperti di daerah kutub .


Sedari tadi Riyan memperhatikan Lisa yang semakin kedinginan dan sibuk sendiri untuk menghangatkan badannya.


" Kamu kenapa ? kalau tidak kuat, kita keluar saja ! " Riyan mengingatkan.


" Hhhhuuuhhh.... Aku nggak nyangka kalau akan sedingin ini. " Kembali Lisa mendekapkan lengannya agar terasa lebih hangat.


Melihat keadaannya, jiwa kebaikan yang ada pada diri Riyan menjadi tidak tega lalu memberikan pelukan untuk Lisa dari belakang. " Begini lebih hangat ?" tanya Riyan .


Lisa sangat terkejut mendapatkan pelukan dari Riyan. Dia sangat senang dan bertanya dalam hatinya, apakah ini mimpi ? " tanya Lisa dalam hatinya, namun dia tidak ingin terbangun dari mimpinya .


" Hey..Lisa , ayo maju ! "kata Riyan.


"Ap apa ? " Lisa kebingungan dengan kata-kata Riyan barusan.


" Ayo kita majukan langkah kita ! di depanmu sudah kosong. Jangan sampai kita diamuk oleh pengantre di belakang kita ! " tegas Riyan.


" Oh...iya . " dengan perlahan Lisa memajukan langkahnya meskipun masih dalam dekapan Riyan .


" Riyan ! " panggil Lisa.


" Hem...? " Riyan menjawab pelan.


" Terimakasih. Kamu telah bersikap baik kepadaku, seperti dulu. " kata Lisa tersipu.


" Ah...bukan apa-apa ! Maaf kalau selama ini aku cuek. Aku sedang banyak pikiran. " jelas Riyan.


" Iya, nggak papa. Akhirnya ini giliran kita masuk gondola kita . " kata Lisa antusias.


" Awas hati-hati ! pelan-pelan saja ! " Riyan memegangi kuat tangan Lisa saat menaiki dan mengencangkan sabuk pengaman.


Lagi-lagi lengan Riyan mendekap Lisa memastikan aman.


" Aku takut honey ! " Lisa memejamkan matanya dengan rapat


"Kalau kamu terus saja menutup mata kamu, bagaimana kamu bisa merasakan sensasi melayang di udara dengan pemandangan dibawah yang begitu indah. " kata Riyan mencoba membujuk lisa.


" Iya, tapi aku takut honey ! " Lisa bersikeras tidak mau mendengarkan bujukan Riyan.


" Iya, ayo coba kamu bisa ! Percaya deh, kan ada aku ! " Riyan mencoba meyakinkan lebih.


" Baiklah, aku coba ." sedikit demi sedikit Lisa membuka matanya. Semakin terang cahaya memasuki bola matanya sehingga nampaklah dari atas nuansa salju buatan menyelimuti seluruh permukaan yang terlihat putih dan amat dingin, orang-orang yang berada di bawah terlihat begitu kecil dan jauh berbeda dibawah sana. Kakinya terasa mengambang, tubuhnya juga terasa terbang di awang-awang.


" Waaah.....luar biasa....! meskipun sedikit takut, aku menyukainya. I love you Riyan ..." kata Lisa senang.


" Thanks ! " Riyan tersenyum senang. bagaimanapun juga, dirinya adalah manusia biasa yang memiliki rasa empati dan simpati terhadap semua yang bersikap baik kepadanya.