Pierendra

Pierendra
Apes



POV uma


Kenapa sih pagi ini begitu berat ? Orang-orang yang akhir-akhir ini dekat denganku justru menjauhi dan memusuhiku. Riyan, mbak Arin bahkan Azi. Apakah kesalahanku kemarin begitu fatal hingga mereka sebegitu marahnya kepadaku.


Kalau aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mau ikut dengan kak Rendra pulang. Tapi nggak mungkin juga, karena kepulanganku kemarin juga ada hal yang penting untukku.


Huhh.... jadi kepikiran kak Rendra dan.....


Ahh... tidak.. tidak.... aku tidak boleh memikirkan hal itu. Aku harus fokus menghadapi ujian. Aku tidak boleh lemah hanya karena sikap para sahabatku yang tiba-tiba berubah. Karena memang wajar dalam suatu hubungan terjadi kesalah pahaman . Uma menyemangati diri sendiri dan segera mengubah air mukanya. Meskipun terpaksa harus tetap semangat dan ceria.


"Ayo teman-teman, kita sudah hampir terlambat ! " ajak Uma sambil menggandeng tangan kedua temannya Ita dan Mia.


Kali ini baik Ita maupun Mia dibuat bengong dengan kelakuan Uma yang tidak ambil pusing dengan apa yang barusan Azi katakan dengan menyebutnya buta dan suka meninggalkan temannya.


Tanpa banyak kata mereka berjalan menuju kelas supaya tidak terlambat.


"Ah...untung saja kita masih ada sisa lima menit sebelum bel berbunyi. Setelah mengalami perdebatan dengan si Azi yang nggak penting itu..." lagi-lagi Ita masih teringat kejadian tadi.


" Sudah.... jangan di pikirkan.... " kata Uma mencoba meredam emosi Ita.


" Bukannya, Azi itu dulu ngefans banget sama kamu ya ? kenapa sekarang tiba-tiba berubah ? " Tanya Mia polos.


" Berubah jadi, musuh pahlawan bertopeng.. hahahaha...... " goda Ita .


"Iiiihhh....Ita ! Serius nih...!" Mia merasa kesal dengan candaan Ita yang nggak pernah menganggap dirinya serius. Tapi itu juga yang membuat Ita sayang kepada Mia karena sifatnya yang manja dan polos.


" Kamu memang benar Mia, kalau ada istilah benci lama-lama jadi rindu, sedangkan aku ngefans kelamaan jadi haters." jawab Uma.


" O iya ngomongin haters, nanti pas jam istirahat aku kasih tahu rencana haters Kamu, oke ! Sekarang kita masuk kelas dulu, Bu Rima sudah keluar dari ruang guru tuh ! " Kata Ita


" Iya. Ayo cepetan ! " sahut Mia.


Tidak bisa dipungkiri bahwa saat pertama Uma melangkahkan kaknya memasuki kelas, yang pertama dia lihat adalah mbak Arin yang tengah duduk sambil menyibukkan diri dengan membaca buku pelajaran. Uma tidak berani lagi untuk menyapanya setelah apa yang dialaminya tadi. " Mungkin mbak Arin sedang tidak ingin berbicara denganku. Lebih baik aku tidak mengganggunya dan kuberikan waktu untuknya hingga amarahnya mereda." batin Uma.


Dengan perlahan Uma menggeser kursi tempatku duduk supaya tidak mengenai meja mbak Arin yang berada di belakangku. Dan saat Uma hendak meletakkan pantatnya untuk duduk, tiba-tiba mbak Arin menggeser pelan kaki kursinya sehingga Uma pun kehilangan keseimbangan karena berusaha duduk tidak tepat di atas kursi.


" Gubrak....Awww.... " Uma terjatuh dan kepalanya sedikit membentur meja mbak Arin.


" Hahaha.....riuh tawa teman satu ruangan" pecah seketika.


Tega sekali mereka semua menertawakan aku yang sedang kesakitan ini. batin Uma.


" Masih ngantuk Bu....". kata Yessi enteng.


" Uma.... kamu nggak papa ?" tanya Ita yang langsung lari menghampiriku dan disusul Mia untuk membantuku berdiri.


" Jahat banget kamu Rin ! Ita marah.


" Apa ? Aku kan cuma bercanda , buat nyenengin semua teman. lihat, mereka semua tertawa kan ? Kamunya saja yang nggak bisa di ajak bercanda. Cepet tua lho ! " jawab mbak Arin enteng.


" Kamu nggak papa kan Um ? " tanya mbak Arin dengan tanpa merasa bersalah.


" Eeng.... Nggak papa kok... " jawab Uma sambil menahan rasa sakit di pantatnya. Baginya , dia sudah merasa senang karena mbk Arin sudah mau menanyakan keadaannya meskipun ini semua karena ulahnya.


Sebenarnya Ita ingin menjawab omongan mbak Arin barusan, tapi berhubung Bu Rima sudah masuk kelas , akhirnya Ita memilih kembali ke tempat duduknya. Begitu juga Mia dan Uma.


" Selamat pagi anak-anak.... Sapa Bu Rima " kepada para murid.


" Selamat pagi Bu..." jawab murid kompak.


" Kan memang hari Minggu Bu. " Celetuk salah satu murid.


" Ibu harap kalian tidak lupa mengerjakan tugas yang ibu berikan ya....? Sekarang serahkan tugasnya ke meja saya . " Perintah Bu Rima.


Apa...? Tugas. ? Yang mana ? perasaan nggak ada tugas ? Masa aku lupa ? Nggak ah ! Semua pertanyaan itu muncul dalam benak Uma yang masih belum bisa mengingat kalau ada tugas karena seingatnya dia hanya ada tugas bahasa Indonesia yang sudah dikerjakannya semalam.


Uma masih berusaha membolak-balik satu persatu halaman buku tulisnya berharap menemukan tugas yang dimaksud. Dia bahkan mengeluarkan seluruh isi tas nya berusaha keras mencari namun tetap saja tidak menemukannya.


Ita menghampiri Uma dan berkata,"Sini ! biar aku bawakan ke depan. "


" Yang mana sih Ta ? Aku belum ngerjain tugas. " jawab Uma dengan kebingungan.


" Apa ? Kok bisa ? Nggak biasanya kamu tidak mengerjakan tugas ? Ya sudah, aku ke depan dulu ya ? " kata Ita.


" Aduh.... gimana nih....?" Uma kebingungan.


Bu Rima mengecek jumlah buku yang terkumpul. " kok ... kurang satu ya ? Siapa ini yang belum mengumpulkan ? tanya Bu Rima.


Dengan sangat terpaksa dan lumayan takut Uma mengangkat tangannya dan berkata, " Ss... saya Bu... "


" Oh....kamu Uma, coba maju ke depan !" Kata Bu Rima.


Dengan perasaan siap menerima hukuman, Umamaju ke depan menuju meja Bu Rima.


"Siap-siap bersihin toilet lu ! " celetuk Dena. Anak yang duduk di meja paling depan.


Bu Rima memang sudah sangat dikenal selalu memberikan hukuman bagi muridnya yang tidak mengerjakan tugas untuk membersihkan toilet.


" Jelaskan apa masalahmu hingga kamu tidak mengerjakan tugas ?! " tanya Bu Rima.


" Eng...anu...itu Bu... yang saya ingat saya tidak pernah merasa kalau ibu memberikan tugas, Bu. " Uma menjawab dengan kikuk.


" Braakk....!! " Bu Rima menggebrak meja karena mulai merasa kesal.


" Apa ? Kamu kira saya mengada-ada ? Itu nyatanya teman kamu semua bisa mengumpulkan, kenapa hanya kamu saja yang tidak bisa ?Pake alasan tidak ingat lagi. Terus yang kamu ingat itu apa ? " desak Bu Rima.


" Riyan Bu..." jawab salah satu murid yang bernama Sella.


Uma menunduk untuk menutupi rasa malunya setelah mendengar Sella menyebut nama Riyan


" Siapa itu Riyan ? " Bu Rima menanyakan balik.


" Cowoknya Bu.Huuu.....! "sorak semua teman kelasnya.


Bu Rima hanya menggelengkan kepalanya kemudian menasihati kami semua dan menjadikanku sebagai contoh yang buruk didepan kelas." Anak-anak, Ibu tahu kalau kalian memasuki usia remaja. Usia dimana kalian mulai dekat dengan lawan jenis. Tapi, hendaknya kalian bisa mengendalikan diri kalian. Jangan sampai kalian terlena sampai-sampai melupakan tanggung jawab kalian sebagai pelajar. Utamakan dulu pelajaran kalian . Apalagi kalian sudah kelas tiga, sebentar lagi sudah ujian. Jadi, kesampingkan dulu pacarannya, dan fokuslah belajar ! Siap anak-anak...?."


" Siap Bu !! " semua menjawab dengan lantang.


" Bagus, saya suka dengan semangat kalian.


Dan kamu Uma silahkan keluar untuk membersihkan toilet ! " Perintah Bu Rima.


" Baik Bu..." Uma menjawab dengan lesu.


" Huuu..... Rasain tuh ! "mereka saling bersahutan.