Pierendra

Pierendra
Haru , Konyol



Saat ini Uma merasa seluruh isi kantin yang sedang dipadati oleh murid dari kelas satu sampai kelas tiga itu sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan selain image jelek yang melekat di dahinya. Lisa dan dayang-dayangnya sudah berhasil merendahkan dirinya dimuka umum .


" Aku butuh air untuk membasuh mukaku atau rasanya aku ingin membenamkan wajahku kedalam air saja." batin Uma.


Tak cukup berhenti di situ, tiba-tiba mbak Arin datang dari kejauhan dengan langkah yang tergopoh-gopoh mendatangiku . Wajahnya memendam seribu amarah.


Dalam hati kecil Uma berkata, " kamu tidak tahu apa yang baru saja aku alami mbak. Seharusnya kamu ada di sisiku sebagaimana biasanya. Kamu akan menjadi orang yang pertama membelaku saat ada yang menyakitiku. "


" Tapi, sejak aku tahu kebusukanmu aku pun berusaha untuk bangun dari tidurku yang selama ini sudah membiusku. " batin Uma yang tidak kalah geram kepada Arin .


" Dasar ! Tidak bisa dipercaya ! " Kata mbak Arin mengawali luapan emosinya.


" Hheh...! Memangnya apa kesalahanku ? " kata Uma kembali bertanya.


Bukannya menjelaskan duduk perkaranya, justru mbak Arin malah memberikan sebuah Kardus bekas air mineral berwarna coklat besar.


" Apa ini ? " tanya Uma heran.


" Inilah sumber masalah diantara kita ! " jawab Arin sambil menggebrak meja sehingga membuat Uma terkaget.


Kemudian tanpa menunggu lama Uma langsung membukanya. Dia mengira itu berisi apa, namun saat dibuka ternyata...


" Surprise... ! " mereka kompak mengatakannya bersama. " Happy birthday Uma.... ! " tambah mereka.


Suara riuh tepuk tangan mereka tak sanggup mengalahkan rasa tertegun yang memenuhi hati Uma. Dia mencoba tersadar kalau ini adalah nyata. Sebuah kenyataan bahwa mereka semua sedang senang dan peduli terhadap dirinya.


Lalu wajah yang pertama kali menjadi sasaran kebingungan Uma adalah mbak Arin. Nampak jelas senyum simpul yang sejak pagi tadi ingin dilihatnya namun hanya mendapatkan tatapan mata Arin yang sinis.


" Kemudian saat tadi di kelas, mbak Arin juga sengaja menggangguku. Rupanya dia hanya ingin memberiku kejutan dengan membuatku kesal di hari ulang tahunku meskipun terlambat satu hari. Atau jangan-jangan.... kemarin itu waktu kami berempat jalan-jalan ke air terjun Ngairan, baik mbak Arin, Azi maupun Riyan juga ingin memberikan kejutan kepadaku, tapi.... pantas saja mereka marah karena rencananya gagal." batin Uma.


" Hhuuuu~~~ " Uma merengek dan menangis sejadi jadinya setelah semua yang dialaminya.


"Betapa bodohnya aku yang dengan mudah menyimpulkan sikap mereka tanpa berfikir panjang. Dan kenapa juga aku harus termakan oleh omongan Dika, orang yang baru saja ku temui pagi tadi di toilet cewek pula. Dasar ! Si setan mesum itu. Huhh...awas kau Dika ! "Uma merasa geram dalam hati.


Uma merasa menyesal karena telah berfikiran buruk kepada mereka. Padahal kalau dipikir-pikir, dirinya juga yang terlalu sibuk sampai-sampai mengabaikan perasaan mereka.


" Maafkan aku mbak ! Aku kira mbak Arin lupa, dan... marah sama aku . hiks...hiks..." Uma sesenggukan sambil menyeka air matanya mengalir begitu saja .


" Ssshhhtt.....! hei, Aku nggak mungkin lupa, dan nggak mungkin juga marah sama adikku ini." hibur Arin .


Mbak Arin memeluk Uma lalu berkata, " Maaf juga ya , sudah membuatmu menangis..."


" Iya... sama-sama mbak . " lalu kami berdua melepaskan pelukan kami dan Uma menghapus air matanya.


" Yeeiii... Sudah dong nangis-nangisnya ! Sekarang kita potong kuenya dan makan bersama..." kata Ita yang dari tadi sudah memegang pisau roti di tangan kanannya lalu menyerahkannya kepadaku.


" Ini Uma . Silahkan ! " kata Ita.


" Makasih Ta. Sukses ya kamu, bikin aku sedih." Jawab Uma sambil mencubit kecil lengannya Ita karena sedikit kesal.


" Hehehe...maaf..? ." kata Ita cengengesan.


Kami bergegas menuju kelas. Ditengah perjalanan Mia membuka obrolan.


" O iya Uma. Mengenai tugas bahasa Inggris tadi, itu termasuk bagian dari rencana Arin lho ! " kata Mia membocorkan.


" Apa ?" kata Uma heran sambil melirik mbak Arin yang tengah menahan senyumnya itu.


" Pantesan, perasaan aku nggak pernah ingat kalau ada tugas. Tapi, kalian dan teman satu kelas mengerjakan dan mengumpulkan tugas itu kan ? " tanya Uma lagi.


" Kamu memang melihat kami mengumpulkan buku , tapi kamu nggak memperhatikan jawaban kami kan ?" tanya balik mbak Arin kepada Uma.


" Pplak..." Uma menepuk jidatnya. " Jadi...itu semua cuma settingan ? Bisa-bisanya kalian ya, membuat aku harus membersihkan toilet di pagi hari ?" Uma Seakan tidak percaya.


" Tapi , kamu hebat Uma . Apa kamu nggak takut ? katanya toilet itu kan ada hantunya?" Mia bertanya sambil wajahnya terlihat sedikit takut.


" Memang. Aku bahkan ngobrol sama hantunya itu. " kata Uma pamer keberanian.


" Serius kamu Uma ? " Ita mencoba memastikan.


" Iya. Malahan dia sekarang menjadi temanku dan akan membantuku membalas perbuatan kalian dengan mendatangi kalian malam ini. Iii...hi....hi....hi.... " Uma menirukan tertawa Susana dalam film horor.


" Uma... ! Jangan konyol, bikin takut aja ! " Mbak Arin mencoba menghentikan cerita Uma.


" Kalian nggak percaya ? Nanti malam itu kalian akan merasakan .... Ini ya...!." Uma menggelitik pinggang mereka dan sesekali mencubit kecil secara bergantian supaya mereka merasakan kekesalannya.


" Aduh...aduh..Uma... hentikan... maaf.... ampun.... " Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut mereka karena refleks.


" Ehem...." Suara Bu Rima seketika menghentikan kekonyolan kami . Lalu kami tersadar kalau kami tengah melewati ruang guru. tanpa menunggu aba-aba kami pun langsung menata barisan dan menundukkan kepala lalu meminta maaf atas perbuatan gaduh kami. " Ehmmm.... Maaf Bu.... "


" Selamat ulang tahun Uma... " Ucapan Bu Rima menambah daftar keterkejutan kami waktu itu. Uma pun memberanikan diri untuk memasang tampang melongo di hadapan Bu Rima.


" Maaf ya... tadi pagi saya ikut permainan Arin yang ingin memberimu kejutan. " Bu Rima mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Uma. kemudian diapun membalas dengan mencium tangannya seraya mengucap, " Terimakasih Bu... atas ucapannya. dan mengenai tugas tadi, saya ikhlas kok Bu...".


" Aaahhh...yang bener ? " mbak Arin, Mia dan Ita kompak meledek dan mempermalukan Uma didepan Bu Rima .


" Ssshhhtt....Ckk ! Apaan sih !" Uma memberikan kode kepada mereka supaya ikut mendukung ucapannya tadi untuk meyakinkan Bu Rima.


Seketika Bu Rima tertawa terpingkal-pingkal karena sebenarnya beliau tahu kalau Uma berusaha keras menutupi kekesalannya itu dengan mimik yang mengancam mereka bertiga.


" Ya sudah kalian masuk ke kelas sana ! jangan bercanda terus !."kata Bu Rima.


" Iya Bu. Permisi Bu." Kami berjalan dengan membungkukkan badan hingga kami berlalu dari ruang guru itu.


POV Bu Rima


Senangnya melihat mereka , anak-anak remaja yang penuh semangat tinggi. Sukanya cengengesan dan selalu ceria. Memang, persahabatan di masa sekolah pasti sangat berkesan dan akan selalu terkenang.